
Malam ini, dugaan Gian benar adanya. Apa yang yang menjadi kekhawatirannya kini nyata ia saksikan di depan mata. Beberapa lama ia menunggu, hari ini tiba juga, meski ia tak mampu menyaksikan Radha terlalu lama menahan sakit.
"Pegang Kakak kuat-kuat."
Rela menjadi sasaran empuk cengkraman Radha yang memang sangat menyakitkan. Wajah Gian bahkan memerah, tapi tak mengapa selagi itu bisa mengurangi sakitnya.
"Ya Tuhan, aku sudah minta maaf sama Mama, kenapa masih susah."
Sempat drama sejak sore, Gian berulang kali meminta maaf pada Jelita karena merasa Radha kesulitan adalah karena dirinya yang terlalu menyebalkan selama Radha hamil. Padahal tidak juga, hal itu hanya opini Gian yang membuat suasana semakin rusuh saja.
"Memang begini, Pak, cukup kuatkan istrinya."
Sejak tadi dokter itu sudah menjelaskan pada Gian bahwa memang wajar jika seseorang yang melahirkan secara normal akan seperti ini, dan itu adalah pilihan Radha sendiri.
"Kuatkan bagaimana, dia sudah begini ... fokus saja pada pekerjaanmu," tegas Gian justru semakin buas, dia tidak sesabar itu, mana mungkin Gian bisa tenang melihat istrinya tengah berjuang antara hidup dan mati.
"Papa," rintih Radha terpejam, tak bisa ia pungkiri mungkin ini adalah saat paling sakit yang pernah ia alami.
"Malah nyebut Papa, Kakak yang nemenin ... Papa di luar, mau Papa?"
Radha menggeleng, ia hanya memanggil. Dan sejak tadi mulut Gian tak bisa diam, telinganya bahkan terasa sakit mendengar ucapan Gian.
"Diem, Kak, ini sakit gilaaa!!!"
"Iya tau sakit, Sayang ... siapa yang bilang enak," tutur Gian menenangkan istrinya.
"Kalau bisa diwakilin, Kakak aja yang lahirin bukan kamu, Ra."
Dokter yang menangani Radha hanya mampu menggeleng mendengar ucapan Gian, selama ini memang kerap ia temukan suami seperti Gian, akan tetapi tidak separah ini yang berpikir bahwa kelahiran bisa digantikan.
Mencoba tenang, andai saja dokter yang menangai sama sifatnya seperti mereka mungkin Radha tidak akan baik-baik saja.
"Tarik napas ........ buang."
"Dokter, kenapa lama sekali bilang buangnya, istri saya bisa kehabisan napas."
"Memang begitu caranya, Pak, kalau ngos-ngosan bayinya semakin malas untuk keluar."
"Ya Tuhan, jangan males-malesan, Sayang ... kalian ngapain di dalem, kasihan mamamu," ucap Gian yang dapat didengar jelas oleh Radha, ia sempat menatap wajah Cemas Gian, air mata itu mengalir dan tanpa malu sedikitpun Gian tetap membiarkannya.
"Kakak kenapa nangis?" tanya Radha dengam suara yang terdengar lemah.
__ADS_1
"Ya Allah, Zura ...jangan lihat, Kakak, Sayang."
Cukup lama berperang dengan rasa sakit yang menyiksa, hujan deras malam itu menjadi saksi pengorbanan hidup Radha. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, bersamaan dengan napas yang Radha rasa adalah yang terakhir, ia sudah tak mampu lagi jika harus mengulangnya.
Genggaman tangan itu kian erat, matanya terpejam, tangis bayinya terdengar bersamaan dengan petir yang menggelegar di luar sana.
"Ha, udah keluar, Dok?" tanya Gian yang secepat itu melepaskan genggaman tangannya, penasaran ingin melihat anaknya yang baru saja terlahir tersebut. Jika saja Radha tak lelah, mungkin akan ia pukul saat itu juga.
"Sebentar, satu lagi."
Gian lupa jika istrinya hamil anak kembar, karena memang sesuai hasil pemeriksaan terakhir sudah dipastikan bayi dalam kandungan Radha kembar, tapi untuk jenis kelamin mereka lebih memilih agar menjadi rahasia, karena Gian tak siap jika ia tahu anaknya laki-laki.
-
.
.
.
"Kok bisa dua, emang keluarga kita ada yang kembar, Kak?" Randy yang sejak tadi menggendong putra Gian masih merasa heran dengan kejutan segila ini.
Gian menimpali, apa yang dia dan Radha harapkan Tuhan kabulkan secara bersamaan, Radha yang menginginkan anak laki-laki dan Gian menginginkan anak perempuan.
"Iya, Ran, memang punya."
"Tapi kok bisa, perasaan udah jauh banget deh," ujar Randy menolak fakta, padahal sudah jelas yang ada dalam pelukannya juga anak Gian.
"Iya bisa lah, tergantung benihnya ... kebetulan benihku bagus, iya kan, Sayang." Gian mengusap pelan wajah putranya.
"Udah kamu adzani?" tanya Jelita tanpa menatap ke arah Gian, ia terlalu fokus dengan cucunya yang kini begitu lelap dalam pelukannya.
"Udah dong," jawab Gian mantap tanpa ragu sedikitpun.
"Bisa?"
"Ya bisa, Mama kenapa nanya gitu?" Apa aku sebodoh itu di mata Mama." Gian mencebik, bisa-bisanya Jelita bertanya demikian, pikirnya.
"Hahah siapa tau lupa, iya kan, Sayang?" Jelita justru mengajak bayi yang bahkan sejak tadi terpejam untuk membicarakan papanya.
"Dia baru lahir, jangan diajak ghibah."
__ADS_1
"Enggak dong, masa ghibah," tutur Jelita santai, ia sangat suka membuat sedikit naik darah pada nyatanya.
Membiarkan anaknya bersama Jelita dan juga Randy, Gian justru beralih pada Radha. Istrinya masih lelah, mata itu tak dapat berbohong. Sejak tadi ia dapat melihat bagaimana interaksi mertua dan suaminya yang bahkan lupa jika dirinya mau putrinya juga.
"Kok senyum?"
Gian tak bertanya banyak, dia hanya mengecup kening istrinya berkali-kali sembari menampilkan senyum hangatnya. Sebagai ungkapan terima kasih atas perjuangan yang tak semua manusia bisa berikan.
"Masa mau nangis lagi, kan udah."
Gian menggenggam jemari istrinya, hari sudah menjelang pagi, namun matanya tak sama sekali mengantuk. Apalagi setelah kelahiran separuh jiwanya itu.
"Terima kasih, Ra, hidup Kakak sempurna semenjak ada kamu."
"Iya, tulangku rasanya remuk semua, Kak." Jujur sekali, Gian hanya tersenyum mendengar ucapan Radha.
"Maaf ya, Kamu harus sesakit ini," ungkap Gian kesekian kalinya.
Kali ini mereka lebih terlihat pasangan romantis, tidak ada teriakan ataupun mata yang saling mendelik. Radha lebih tenang, walau dirinya masih terasa sangat sulit.
"Hm, tapi kenapa ramai sekali, Kak? Aku malu," ujar Radha merasa tak nyaman kala menyadari yang berada di ruang perawatannya bukan hanya suami dan mertuanya, tapi seluruh anggota keluarga.
"Inisiatif, mereka sendiri ke sini, masa Kakak usir."
"Apa benar gitu? Ini kan malam-malam, kenapa mereka gak datang besok atau lusa aja?" tanya Radha sedikit tak yakin.
Kedatangan Maya bersama anak dan suami barunya, Ardi, serta Randy dan juga Caterine jelas membuat Radha bertanya-tanya.
"Sengaja, biar rame ... anak kita spesial, harus disambut banyak orang dong."
"Hm, terserah Kakak saja," timpal Radha tak mau kalah dari Gian.
Memang ini adalah hal baik, karena dia bisa merasakan betapa banyak orang-orang yang menyayanginya.
Gian sengaja menyiapkan segala sesuatu agar persalinan istrinya dapat berjalan dengan baik dan lancar, termasuk dengan memberikan kabar itu dari awal mereka pergi ke rumah sakit, dan tentu saja itu tanpa sepengetahuan istrinya, karena jika sampai Radha tahu, ia tak akan mau.
Walau Gian tahu, memang sangat sulit menyatukan se sesuatu yang sudah hancur sebelumnya. Randy dan Ardi saja sudah cukup sulit, apalagi jika Gian harus meminta kehadiran Maya.
Yang secara nyata ada Wira, sempat ragu karena takut akan terjadi peperangan antara pria dewasa itu, akan tetapi Gian mencoba untuk menahan Randy agar menyimpan kegilaannya untuk saat ini, semua dia lakukan demi Radha merasakan kembali kasih sayang utuh dari ayah dan ibunya di saat-saat seperti ini.
Bersambung.
__ADS_1