
Rencana pulang terpaksa di undur, dan urusan sekolah Radha terpaksa Gian meminta Rey untuk mengurusnya. Usai tidur begitu larut tadi malam, kini pria itu masih asik bergemul dalam selimut.
Radha menatap lekat wajah tampan itu, rahangnya yang tegas dan hidung bangir yang membuatnya menarik sudut bibirnya tanpa sadar.
Hingga wanita itu menarik wajahnya cepat-cepat kala Gian terlihat terganggu oleh tetesan air dari rambut basahnya. Ia baru saja selesai mandi, menghabiskan waktu tanpa gangguan Gian adalah pagi yang indah bagi Radha.
"Jam berapa?" Suara serak khas mengantuk itu membuat jiwa Radha bergelora.
"Delapan, Kak."
Gian menyipitkan mata, menyesuaikan cahaya yang menelisik dalam kamarnya. Pria itu merenggangkan otot sembari menatap wajah Radha dengan senyum tipisnya.
"Kok nggak bangunin?"
"Nggak tega, Kak."
Wajahnya tampak tulus, pria itu masih mengumpulkan nyawa. Dengan wajah bantal dan muka mengantuknya, ia menguap berkali-kali.
"Tumben," tutur Radha menatap heran Gian yang kini beranjak ke kamar mandi, karena biasanya pria itu akan menunda waktu dan melibatkan dirinya.
"Zura, jangan pakek baju dulu."
Baru saja ia tenang, nyatanya sama seperti kemarin. Bedanya hari ini Gian menunda waktu seakan tak ingin.
"Udah kepakek!!"
"Lepas!!"
Pria itu sengaja tak mengunci pintu kamar mandi agar suaranya dapat Radha dengar. Entah apa maksud permintaannya, yang jelas kini pria itu berteriak persis ibu-ibu yang memaki putranya kala hari mulai gelap.
"Ih enak aja, aku laper!! Sarapan duluan ya, Kak."
"Jangan macam-macam kau, Zura!!"
Gemericik air tiba-tiba terhenti, dan kini ia memunculkan kepalanya yang penuh busa. Radha membeliak menatap ulah suaminya, bagaimana bisa ia berniat keluar dengan keadaan seperti itu.
"Berani keluar kamar tanpa Kakak, habis kau."
"Dasar jorok, sudahi dulu mandimu!!"
"Kau diam!! Jangan melakukan apapun, Zura."
Pria itu bertitah dengan kharisma yang sama sekali tidak ada. Gosok gigi yang kini berada di tangannya, dan mulut penuh membuat Radha ingin menyiram wajah suaminya sekarang juga.
"Tunggu Kakak ya, Sayang."
Tidak ada Gian yang menakutkan seperti dulu, yang ada kini hanya anak kecil yang memohon untuk ikut kemanapun, bahkan kini Radha belum selesai memakai bajunya. Berdiam diri dengan menunggu Gian hanya dengan pakaian dalam saja sepertinya akan sangat dingin.
__ADS_1
"Kenapa masih di situ? Kakak kapan kelar mandinya?"
"Menyesal tidak bangun pagi," celetuknya mengutuk diri sendiri.
Andai ia bangun bersamaan dengan Radha, maka sudah pasti ia akan mandi bersama wanita itu. Dan menatap kecantikan istrinya membuat Gian lupa dirinya sedang apa.
Tok tok tok
"Yes, Mama!!"
Radha menarik kembali handuknya, melilitkan di tubug mungilnya dengan secepat kilat dan berlari untuk membuka pintu kamar. Gian kesal bukan main, ingin rasanya ia maki Jelita yang mengganggu paginya.
"Sepertinya aku memang harus membawanya sendirian," tekad Gian sembari menikmati guyuran air yang menyegarkan tubuh atletisnya.
Mandi pagi yang terburu-buru, lantaran tak ingin Radha meninggalkannya pagi ini. Pria itu bahkan tak mengeringkan rambutnya sama sekali.
"Sayang, Kakak selesai."
Gian melangkah panjang dengan handuk yang melilit di pinggulnya. Dan benar saja, kini Jelita masuk ke kamarnya dengan pakaian yang sudah sangat rapi dan sepertinya akan pergi.
Jelita membeliak, nampaknya kesempurnaan dalam diri Gian kini hilang begitu saja. Tubuhnya yang masih begitu basah, bahkan mungkin tak ia gosok sama sekali dengan handuk keringnya itu menghampiri tanpa malu sedikitpun.
"Mama ngapain masuk?"
"Sebelum kau bertanya, coba selesaikan mandi mu itu dengan baik, Gian, astaga."
"Memangnya aku kenapa?" tanya Gian dengan wajah polos dan menatap Radha meminta penjelasan.
"Kakak buru-buru ya?"
Radha menarik sudut bibirnya, memberikan senyum terbaik dan menggosok rambut Gian yang masih terdapat busa shampo di sana. Ia tengah menahan tawa, namun adanya Jelita membuat Radha diam sejenak.
"Ah ya ampun, airnya sangat dingin ... seharusnya aku tidak keramas pagi ini."
Ya, sudah tentu ia akan menyalahkan keadaan. Mana mau ia terlihat salah, Jelita menatap interaksi hangat putra dan menantunya. Gadis kecil yang dahulu Jelita terima begitu baiknya kini dapat memposisikan diri dan melakukan apa yang ia kerap ajarkan.
"Bisa saja kau," tuturnya menatap lembut Gian, karena bagaimanapun juga mau sedewasa apapun Gian tetap putra kecilnya.
"Mama cantik, mau kemana?" Gian kembali bertanya, suara lembutnya begitu sopan dan begitulah manisnya Gian.
"Pulang duluan, tidak apa kan kalian Mama tinggal?"
"Hah? Pulang? Memangnya ada apa?" Wajah Gian seakan tak ikhlas, padahal ia bahkan bersyukur jika memang mereka hanya berdua saja.
"Papa ada urusan mendadak, dan Mama tidak mau Papa kalian sendirian,"
"Halah, bilang saja mau bulan madu di tempat lain,"
__ADS_1
"Heh!! Sembarangan kau," ucapnya memukul lengan putranya.
"Hahaha ... Papa masih saja, urusan apa memangnya? Kenapa aku tidak tau?"
"Ya adalah, kau banyak tanya ... bukankah kau harusnya senang Papa memberimu waktu lebih banyak untuk bersama Radha?"
Gian tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal, memang itu inginnya. Dan kini Radha terjebak dalam situasi hanya berusaha tak memperlihatkan betapa malunya ia kini.
"Ya aku hanya khawatir karena Papa sudah tua, tapi jika keputusan Papa demikian aku bisa apa."
Padahal kini hatinya merasa merdeka, bebas untuk beberapa waktu di luar pengawasan kedua orangtua nya. Tapi tunggu, mereka tidak hanya berdua. Wajah Gian mendadak datar dan menatap Jelita lagi.
"Tunggu, dua cecunguk itu ikut pulang kan, Ma?" tanya Gian cemas dengan harapan Mamanya akan menjawab iya.
"Ya enggak dong, Sayang ... Haidar sakit, begitu juga sama Randy. Mama gak tega ajak mereka pulang sekarang, kamu jaga mereka ya."
Gian memukul lehernya kuat-kuat, pria itu memejamkan mata lantaran sakit yang tiba-tiba saja menyerang.
Lain halnya dengan Gian, kini Radha susah payah menahan tawa. Wajah tak bersemangat Gian benar-benar lucu di matanya. Dan sungguh, pria itu merubah wajahnya persis bayi yang tak mendapat apa yang ia mau.
"Menyebalkan, Mama bawa juga dua makhluk itu, kenapa aku harus menjaganya?"
"Jangan gitu, Gian ... kamu gak sendiri kok, mang Udin nanti kesini."
Dasar menyebalkan, kenapa tidak pulang saja sekalian, pikir Gian. Ini liburan, bukan tempat pengungsian, sungguh ingin rasanya ia membawa Radha kabur detik ini juga.
"Iyaya," tutur Gian pada akhirnya menyerah pasrah, tak apa jika memang ia tak punya pilihan lain.
"Nah begitu dong, kau tampan sekali ya Tuhan." Pujian kali ini seakan tak mempan, wajah Gian masih sama kusutnya, ia berlalu dan mencari pakaiannya segera. Menikmati sisa liburan dengan hati kacaunya.
...........❣️
Hai-hai, eps ini aku ngetik sore, 31 Desember 2021. Dan up tanggal 01 Januari 2022. Ga berasa, secepat itu waktu berlalu. Setahun lebih aku nulis di MT, dan bukan hanya perihal tulisan aku dapatkan di sini. Banyak hal yang tidak bisa aku dapatkan di duniaku tapi aku dapatkan di sini. Kalian semua baik sekali, saat yang mengenalku bahkan mengganggap remeh apa yang aku lakukan, tapi di sini aku mendapat dukungan dari orang-orang yang bahkan tak mengenalku, walaupun itu sebatas nama.
**Terima kasih 2021, tahun panjang yang mengajarkan banyak hal. Jatuh, bangun, luka, tawa, hilang dan kembali. Ya, enam hal penting yang bisa aku petik dan jadi pelajaran di tahun selanjutnya tentang memaknai hidup, menghargai waktu dan tak menyia-nyiakan kesempatan.
Dan terkhusus untuk kamu, yang selalu mendengar apapun keluhku dalam keadaan sulitmu, semoga selalu dalam rangkulan bahagia dan lindungannya. Terima kasih, kisah manisnya, mengukir senyum dengan caramu, dan hal sekecil itu menjadi candu.
Kamu adalah lembaran termanis yang akan selalu aku baca kalaupun nanti kita usai. Takkan pernah habis cerita tentangmu, dan sampai di titik terakhirku, kamu adalah hal terindah yang Tuhan berikan dengan makna seluas itu**.
**Sengaja nulis ini di karya, karena ini akan terukir lama dan ribuan orang yang sempat baca tulisan ini dapat tahu aku sebangga itu punya kamu. Jangan pernah anggap dirinya sebab hancurku, karena pada nyatanya, kamu adalah cara yang Tuhan berikan dalam membangun prosesku.
Love You, Habibie❣️**
Semoga baik-baik selalu untuk kalian semua, semoga kita lebih baik lagi, love you All.
**Tungguin karya-karya aku selanjutnya Beibyyy❣️ Mari ukir sejarah di 2022 lebih baik lagi.
__ADS_1
Selamat tahun baru semua🤗 Harapan baik, semoga dipermudahkan**.