
"Sayang? Kau sudah bangun?"
Keributan mereka cukup mengganggu dan membuat wanita cantik itu terpaksa membuka matanya, kepalanya sedikit pusing dan matanya terasa panas.
"Bagaimana perasaanmu? Apa kau lapar? Mama siapin ya?"
Kekhawatiran Jelita begitu jelas di matanya, jelas saja ia takut menantunya ini terkena masalah. Belum sampai satu minggu, dan tentu saja ia merasa gagal sebagai mertua untuk Radha.
"Ma, satu-satu, otaknya tak secerdas itu untuk menjawab semua pertanyaan Mama."
Jelita mendelik, ucapan Gian benar-benar seenak jidatnya. Bukankah tadi dia sekhawatir itu? Lantas mengapa kini ia seakan tak khawatir sedikitpun pada istrinya.
"Apa? Tidak ada yang salah dengan ucapanku."
Gian berlalu usai menatap lekat mata tajam yang kini hendak mengulitinya. Radha dengan sejuta kekesalan mengumpat dalam hatinya, Gian memang suami siaga, ia sadar jika yang memindahkannya ke tempat tidur adalah Gian. Tapi melihat ulahnya sekarang sungkan rasanya ia mengucapkan terima kasih.
"Gian ... jaga bicaramu, Nak."
Radha tersenyum menang, pikirnya selama di rumah ini ialah yang berkuasa. Dan setiap ulah Gian yang dalam pengawasan Jelita akan membuatnya tetap selalu di bela.
"Ehm, maaf, Ma."
Pria itu menghempaskan tubuhnya di sofa, melonggarkan dasi yang sejak tadi masih melekat rapi di lehernya. Rahang tegas dan mata tajamnya memang terlihat sempurna, namun tidak bagi Radha.
Begitu banyak rayuan Jelita agar menantunya mengangguk setuju jika perkara makan, Gian merasa Radha benar-benar bak anak kecil yang sedang berusaha membangkang.
Hadirnya Radha sebagai menantu membuat Jelita seakan baru memiliki anak bungsu yang ia jaga sepenuh hati dan melindunginya dari mulut tajam Gian.
Senyumnya mengembang kala Radha mengiyakan maunya, bibir pucat itu membuat Gian khawatir sebenarnya, namun kehadiran sang Mama membuat pria itu berusaha tak peduli sedikitpun.
"Ck, dasar manja."
Radha mencebik tak suka kala suaminya itu berucap tanpa menatapnya. Ponsel itu benar-benar menyatu dalam dirinya, tak peduli apa yang Gian pikirkan, toh Jelita yang melarangnya melangkah walau hanya sekadar turun dari tempat tidur.
"Zura," panggil Gian kini menatapnya tajam dengan tangan yang ia lipat di perutnya, persis bak guru yang tengah mewawancarai muridnya.
"Ehm, kenapa?"
Suara itu terdengar malas, membuat Gian merasa tersinggung dan memutuskan untuk beranjak. Jika dibiarkan Radha akan semakin sering seperti ini, tidak sopan dan terlampau berani tentu akan membuat martabatnya jatuh sebagai suami.
"Kenapa bisa sakit? Hem?"
__ADS_1
Radha berdesir kala Gian menunduk dan mendekatkan wajahnya, aroma maskulin dari parfum Gian benar-benar menyeruak menusuk indera penciumannya.
"Katakan, apa karena tugasmu itu?" Gian menunjuk tumpukkan buku Radha yang telah tersusun rapi.
Ia menghela napas panjang, sebelum menjawab dan memberikan keterangan. Memang benar adanya, tugas yang Radha terima begitu banyak dan diberikan dalam waktu bersamaan. Jelas saja membuat gadis itu kesulitan.
"He'em, dan masih ada dua lagi."
Layaknya remaja yang terlampau jujur, Radha menjawab dengan polosnya sembari menunjukkan mata sipitnya. Gian mengangguk mengerti dengan rahang yang kini mengeras, benar dugaannya, takkan ia benarkan semua ini berlanjut.
Ceklek
Gian segera menjauh kala Layla dan Jelita masuk membawakan makanan untuk Radha. Tanpa Gian sadari Jelita menangkap ulahnya, sejenak ia terkekeh dan merasa putranya benar-benar lucu.
"Gi?"
"Ehm, teruskan saja, aku akan keluar sebentar, Ma."
Hendak pergi, namun Jelita menarik pergelangan tangan Gian. Ini sudah tugasnya, dan Jelita tetap fokus akan misinya untuk menyatukan dua orang ini.
"Mama saja yang pergi, kau jaga istrimu."
Perintah Jelita bak bencana bagi Radha, namun tentu tidak bagi Gian. Pria itu menatap datar sepiring nasi dan wajah polos Radha, ia menarik senyum tipis yang bahkan tak terlihat sedikitpun.
"Gi? Apa yang kau pikirkan?"
"Ck, Mama aku sebenarnya sibuk sekali, tapi bagaimana ya?"
Pria itu menatap Radha sekali lagi, terlihat tengah menimang keputusan yang teramat sulit. Sungguh pandai ia terlihat berbeda, hati dan bibirnya selalu berbeda pendapat.
"Ya sudah kalau kau sib_"
"Ays dasar merepotkan, baiklah hanya untuk kali ini."
Radha tercengang, ada apa dengan Gian. Jelita pun demikian, apa yang tengah anaknya rencanakan, sungguh di luar dugaan kini pria itu telah duduk di tepi ranjang sembari membawa makanan yang telah Jelita siapkan.
"Aaaaaa ... jangan manja, aku tidak suka, Zura."
Apa yang salah? Bahkan Radha belum berucap dan melakukan apa-apa. Mengapa pria itu sesewot itu, pikir Radha memaki dalam hatinya.
Jelita merasa keduanya akan lebih baik di tinggalkan, segera ia mengajak Layla berlalu. Ia paham bahwa sebenarnya Gianlah yang ingin bersama Radha lebih lama, dengan sejuta cara agar tak terlihat bahwa ia menginginkan wanitanya.
__ADS_1
"Apa makanmu selama ini, Ra?"
Gian menarik sudut bibir, betapa sabarnya ia menyuapi istri kecilnya itu. Baginya ini adalah kali pertama, Gian bukanlah tipe pria romantis yang memperlakukan pasangan layaknya puteri kerajaan, dan kini Radha perlahan mendapatkannya.
"Aku tidak nafsu, Kak, mulutku pahit."
Radha menyudahi makannya, masih ada setengah namun mulutnya benar-benar menolak. Gian memberikan segelas air dengan begitu lembutnya, sungguh berbeda dengan perlakuannya jika ada Jelita.
"Sudah, Kak."
Radha mengembalikan gelas kosong itu, sejenak Gian menelan salivanya pahit, sebesar apa lambung Radha hingga air itu tandas sekali minum.
"Sudah?"
"Ehm, sudah."
"Kau tidak berterima kasih padaku? Kau telah menyita waktuku hampir tiga puluh menit, Zura."
"Ahaha iya lupa ... terima kasih, Kak."
"Cih, kau pikir itu cukup?"
Matanya tak lagi fokus, bibir ranum Radha yang kini basah akibat tersapu air membuatnya kembali menginginkannya. Memang ia baru sempat merasakannya sedikit, dan sangat singkat, namun Gian tak dapat melupakan kesannya.
"Lalu Kakak mau apa?" tanya Radha benar-benar tak mengerti, bukankah ucapan seharusnya sudah cukup?.
"I want your lips," ujar Gian tanpa kaku menyentuh bibir Radha dengan jemarinya, tatapannya datar namun jelas sangat menginginkannya.
Radha terdiam seribu bahasa, ia tak sebegitu bodohnya. Tentu saja ia paham untuk hal satu ini, seketika dada nya berdebar lebih kencang, sedangkan Gian belum melakukan apa-apa.
"Zura, kau dengar Kakak?"
Suara khas itu membuat jiwa Radha goyah, tidak!! dia masih SMA bagaimana nantinya jika hal semacam ini menjadi kebutuhan untuknya.
Gian mendekat, tanpa sedikitpun melepaskan Radha dari pandangannya. Wajah Radha kian memanas bersamaan dengan helaan napas Gian yang kini menyentuh kulit.
"Kak," ujar Radha dengan suara yang mulai berbeda, dan jelas membuat Gian semakin bersemangat untuk melanjutkannya.
"Hem?" Begitu lembut, ia menatap lekat wajah Radha yang kini hanya terpejam menghindari tatapannya.
"A-aku ...."
__ADS_1
............Bersambung😙