Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 262. Pengasuh (Sementara)


__ADS_3

Sudah kian larut akan tetapi Radha belum tidur juga, bahkan Gian sudah sempat tidur beberapa menit sebelumnya. Menyadari istrinya masih sibuk mengutak atik ponselnya, Gian berdecak dan meraih ponsel itu kemudian menyembunyikannya di bawah bantal.


"Kenapa? Nggak bisa tidur ya?" tanya Gian dengan suara khas orang ngantuk yang sudah siap berlabuh di pulau kapuk, dan Gian berusaha menahan itu untuk sementara waktu.


"He'em, kangen Papa."


Radha mencebik, kerinduan pada Maya kini semakin jelas ia rasa. Kekhawatiran yang sejak tadi berujung pada kerinduan pada Ardi. Sudah hampir satu minggu papanya tak kembali, padahal biasanya Ardi tak bisa berpisah lama dari Kama dan Kalila.


"Besok kita kesana ya, sekarang kamu tidur, udah mau pagi, Ra."


Gian menatap jam digital di atas nanas, benar saja sudah selarut itu. Berapa jam lagi yang bisa Radha gunakan untuk dapat tidur dengan baik, sedangkan kini ia bahkan belum mau tidur sama sekali.


"Nggak ngantuk, mataku masih melek begini."


Radha memperlihatkan betapa segar kedua bola matanya. Dan Gian yang kini ngantuk berat terpaksa meladeni istrinya. Dengan segala usaha ia berharap akan bisa bertahan dan mampu menemani Radha.


"Kak, jangan tidur dulu, temenenin."


Gian menggosok matanya pelan-pelan, cara ini ia gunakan karena biasanya akan berguna untuk menghilangkan rasa kantuk.


"Temenin apa? Kamu mau Kakak buat tidur nyenyak, Zura?"


Pertanyaan dengan makna tersirat dan Radha paham tentu saja. Setelah permintaan Gian tadi siang sempat ia tolak dengan cara sehalus mungkin kini pria itu mendapatkan celah untuk dapat merealisasikan kehendaknya.


"Katanya ngantuk," ujar Radha menarik sudut bibir, karena kini suaminya bahkan lebih segar dari kucing masuk kolam, matanya bahkan memancarkan sinar dan menjelaskan bahwa dirinya tidak mengantuk.


"Udah hilang," tutur Gian dengan usilnya menempelkan wajah tepat di dada Radha yang lembut bak bolu kukus itu.


Kali ini ia takkan menolak, toh memang Radha merindukannya walau terkadang kerap ia tutup-tutupi dengan alasan lelah akibat menjaga kedua buah hatinya.


Istri solehot yang patut diapresiasi, gelak tawanya menguasai kamar sebelum serangan itu benar-benar serius. Ada saja hal yang membuat Radha tertawa, seakan baru pertama kali melakukannya.


Cukup sulit mencuri waktu, semenjak memiliki anak Gian memang harus rela kala istrinya lebih banyak menghabiskan waktu bersama Kama dan Kalila. Belum lagi jika anaknya rewel, pria itu kerap kali harus mengubur dalam-dalam kehendaknya.


Dan malam ini, kecil kemungkinan buah hatinya akan terjaga. Hari sudah sangat larut dan biasanya mereka akan bangun jika sudah menjelang pagi.


Tubuh Radha kembali langsing, sebuah kebahagiaan bagi Radha namun kabar duka bagi Gian. Karena jujur saja ia lebih suka jika perut istrinya bisa dicubit.


Perihal buka membuka Gian adalah ahlinya, karena tak butuh waktu lama istrinya sudah sepolos itu. Kecantikan istrinya tergambar jelas dengan sedikit penerangan dari lampu tidur.


"Sampai subuh ya," bisiknya sesuka hati dan membuatnya mendapat cubitan kecil di perut suaminya.


-


.


.


.

__ADS_1


.


Menjelang pagi kali ini berbeda, Radha masih bergumul di dalam selimut sedangkan Gian tengah memandangi wajah istrinya. Sengaja tak ia bangunkan karena sudah pasti Radha telanjur nyenyak.


Terbukti cara yang Gian lakukan memang ampuh untuk membuat istrinya terlelap senyenyak itu.


"Ehem, kenapa nggak bangunin aku?"


Radha membuka matanya Pelan-pelan, wajah tampan suaminya untuk pertama kali ia lihat sebelum matahari menyapanya seperti biasa.


"Nggak tega, kamu nyenyak banget tidurnya ... lanjutin lagi, Ra."


Masih cukup pagi, matahari belum menampakkan diri. Radha hendak beranjak, mengingat ada Kama dan Kalila yang biasanya sebentar lagi terbangun, ia Hany ingin bersiap lebih cepat.


"Mau kemana?"


Gian menahan istrinya, bahkan kini mengunci tubuh Radha dengan kakinnya. Khawatir sebenarnya, karena Radha takut Gian yang begini ialah tanda membunyikan genderang perang untuk kedua kalinya.


"Mau mandi, nanti mereka cari-cari aku."


Tak peduli alasan istrinya, Gian tetap menahan Radha hingga pada akhirnya yang waras mengalah. Gian terlalu sulit untuk dilawan, apalagi ditentang.


"Mama yang jaga mereka, tadi aku udah minta Mama," ujar Gian membuat Radha mengerjapkan matanya berkali-kali.


Pandai sekali Gian mencari solusi, menjadikan Jelita sebagai tempat meminta ketika butuh dan menganggapnya penculik yang harus disingkirkan dalam beberapa situasi.


Gian menggeleng, mana mungkin Jelita akan marah ketika dia meminta untuk menjaga Kama dan Kalila. Sedangkan biasanya dia rela bertengkar demi bisa bersama cucunya walau hanya sesaat.


Masih ada sedikit waktu untuk mereka bisa bercumbu dan menuntaskan rindu. Karena memang Gian butuh waktu untuk hanya sekadar berdua bersama istrinya.


Berbeda dari kamar Gian, di kamar anaknya Jelita tengah sebebas itu menghabiskan waktu bersama Kama dan Kalila. Sempat heran lantaran pagi-pagi sekali Gian mengetuk pintu kamarnya hanya demi menjaga Kama dan Kalila.


Tapi tak apa, apapun alasannya Jelita tak peduli. Yang penting ia bisa lebih puas bersama kedua malaikat kecil ini.


"Aduh Kalila, ini anak perempuan kok bangunnya kalah sama Kama," tutur Jelita karena memang Kalila lebih lama bangun dibandingkan Kama.


Sembari menunggu Kalila bangun juga, Jelita menghabiskan waktu bersama Kama. Anak laki-laki pintar yang membuat Jelita begitu senang kemaren sore lantaran berhasil membawakan jambu monyet kesukaannya.


-


.


.


.


"Ehem-ehem, leher kamu kenapa, Ra?"


Radha hanya terdiam kala Jelita mempertanyakan tanda merah di lehernya. Beruntung Raka sudah keluar rumah, jika tidak habislah wajah Radha.

__ADS_1


"Wajar saja sampai bela-belain bangunin Mama, ternyata lagi pacaran."


"Mama nyinggung aku ya?" tanya Gian menatap tajam Jelita yang kini tengah memangku kedua buah hatinya.


Sengaja Jelita membawa kedua cucunya ke ruang keluarga, karena kini mereka sudah selesai mandi dan berganti baju, lebih tepatnya mereka tengah menunggu kehadiran Radha dan juga Gian yang baru turun kala matahari sudah meninggi.


"Siapa yang nyinggung, kan fakta."


Gian yang diusik tapi Radha yang kini memerah. Ia tak bisa menutupi betapa malu dirinya, belum lagi tanda kepemilikan itu benar-benar nyata tergambar di leher Radha.


"Terserah mama saja lah, terima kasih sudah menjaga anakku, Nyai."


Dengan tanpa rasa bersalahnya Gian bahkan menundukkan kepala hingga 90 derajat para Jelita. Sebagai ungkapan terima kasih karena telah merelakan tenaga dan waktu di pagi hari demi menjaga kedua malaikat kecilnya.


"Berhenti menyebutku Nyai, Gian."


Jelita bisa memaafkan panggilan yang lain tapi tidak dengan panggilan ini. Belum lagi dia bicara di depan Kama dan Kalila yang kerap merekam apa yang ia dengar, tentu saja Jelita tak mau jika nanti Kama memanggilnya dengan panggilan keramat itu.


"Itu gelar kehormatan, Mama, masa nggak mau."


"Kehormatan dengkulmu," celetuk Jelita sembari menghela napasnya pelan-pelan. Berharap jantungnya tidak bermasalah.


"Mama jangan suka marah-marah ah, cepet tua nanti."


"Kan memang sudah tua, udah punya cucu begini," jawab Radha santai karena memang pada faktanya dia tak semuda itu lagi.


"Hem, benar juga. Mama ikut kita ya sekalian," ujar Gian menawarkan waktu untuk Jelita agar bisa bersama cucunya lebih lama.


"Mau kemana? Piknik ya? Ikut ya!!!" seru Jelita membuat Kama yang berada di pelukannya kaget, tubuhnya bahkan bergetar, beruntung saja tak menangis.


"Ya Allah, Sayang ... maaf."


"Ke rumah Papa, Zura kangen katanya, semalem sampai tidak bisa tidur, Ma."


Gian menjelaskan bagaimana kacaunya Radha, sampai hari ini juga Radha masih sama kacaunya.


"Ardi kenapa? Dia baik-baik saja kan?" tanya Jelita tiba-tiba merasa tak enak hati, pasalnya wajah Radha menjelaskan jika ada kekhawatiran di sana.


"Semoga, aku berharap Papa baik-baik aja, Ma."


Radha menarik sudut bibirnya tipis, bagaimanapun juga feelingnya sebagai anak tetap menyatu. Sudah lama ia tak merasakan hal seperti ini, biasanya kalaupun rindu ia tak sesesak ini.


"Ya sudah, Mama siap-siap dulu ... kalian sarapan sana."


Jelita buru-buru ke kamar, setelah sebelumnya meminta Asih menemani kedua cucunya untuk sementara.


Begitu semangat Jelita menjadi pengasuh sementara untuk Kama dan Kalila. Karena bagi Jelita, waktu bersama mereka adalah harta karun yang harus dipertahankan selagi bisa, dan kini Gian memberikannya cukup leluasa, jelas saja Jelita sangat suka.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2