Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 158. Belum Usai (Guci China Sialan)


__ADS_3

Untung saja, Radha tak menunggu Gian untuk melakukan ibadahnya. Suaminya benar-benar tak bercanda, ibadah menjelang Isya baru kali ini Gian minta. Tepatnya mencuri kesempatan untuk meminta haknya.


Rambutnya bahkan belum kering, dan kini terpaksa ia mandi lagi. Senyum tipis di bibir Gian tak henti-henti menghiasi. Masih setia dalam posisinya, Gian seakan enggan melepaskan tubuh mungil istrinya.


Mendapat kesempatan semacan ini sangatlah sulit bagi Gian, matanya terasa lelah, permintaan Radha untuk dia segera mandi nampaknya belum akan ia lakukan.


"Kak," panggil Radha menepuk pundak polos Gian yang sedari tadi memeluknya.


"Hm, kenapa? Kau mau lagi?"


Matanya yang sudah 5 watt itu masih menatap istrinya genit. Radha yang sedikit kesal lantaran Gian yang sejak tadi mempermainkannya tak sengaja mendaratkan talapak tangannya tepat di pelipis Gian.


Plak


"Kakak apa-apaan sih, mandi sana ... aku risih, lengket semua."


Gian menggeleng dan mengeratkan pelukannya, benar-benar tak ikhlas ia lepaskan Radha. Tubuh mungil istrinya itu takkan pernah ia berikan kesempatan untuk lepas.


"Lima menit lagi, tetap diam seperti ini, Ra."


Matanya kini terpejam, tak peduli meski keringat membuat rambutnya kini lembab. Ia hanya ingin menikmati waktu berdua bersama Radha, bahkan ajakan makan malam dari Jelita ia abaikan tanpa menjawab sama sekali.


"Kakak bohong banget sih, risih banget sumpah ... kalau udah mandi baru boleh peluk lagi."


Radha masih berusaha meminta pengertian pada suamianya ini. Gian benar-benar enggan lepas, sedangkan malam terus berjalan. Ia lapar, sedangkan Gian tak juga mau mengerti.


"Kalau udah mandi beda cerita, kamu pakek baju Kakak kurang suka."


Seketika pipinya memerah, ucapan pria ini benar-benar gamblang dan tak sedikitpun ia perhalus. Tujuannya tak memberi izin Radha untuk mandi semata-mata hanya karena agar dapat memeluk tubuh polos istrinya lebih lama.


"Kakak apaan sih," cetusnya menenggelamkan wajah di dada suaminya, tak ingin jika rona kemerahan itu terlihat jelas.


Meski terpejam, pria itu kini tertawa sumbang. Jemarinya membelai lembut surai indah Radha. Seakan sialnya hari ini terbayarkan tuntas dengan apa yang kini Gian dapatkan.


Kepalanya yang terasa penat, dan pikirannya yang begitu padat kini lega seketika. Nyatanya benar apa kata Raka, bahwa istri adalah tempat pulang paling nyaman bagi seorang suami.


Napas Gian mulai teratur, pria itu tampaknya pulas tertidur. Radha melepaskan perlahan pelukan suaminya, hati-hati karena takut pria itu akan terbangun.

__ADS_1


Butuh sedikit usaha agar benar-benar lepas dalam pelukan Gian. Radha menggigit bibirnya sejenak, sungguh ketakutan tersendiri jika nanti Gian membuka mata.


"Huft, akhirnya."


Radha bernapas lega kala bisa lepas dari pelukan Gian. Ia berjalan menuju kamar mandi dengan tubuh polosnya sudah pasti, mana mungkin ia menarik selimut, bisa jadi suaminya itu akan kembali menggila.


Tubuhnya benar-benar tak nyaman, Radha mandi untuk ketiga kalinya hari ini. Tak ingin berlama-lama, ia ingin segera tuntas sebelum Gian masuk dan mengacaukan semuanya.


"Berani-beraninya dia meninggalkanku tanpa izin," tutur Gian dengan mata yang masih terpejam, gemericik air itu terlalu jelas di telinganya.


----


.


.


------


Sementara di ruang tamu, penghuni rumah itu masih fokus dengan benda aneh yang berada di atas meja. Sejak tadi putranya tak turun-turun, Jelita mencoba paham lantaran Gian dan Radha memang masih di tahun pertama pernikahan.


"Dia beli?" tanya Raka yang hingga saat ini belum berani menyentuh guci itu.


Jelita menggeleng, karena memang ia tak mengerti darimana Gian mendapatkan benda aneh itu. Sungguh ia terlampau heran, kenapa benda tua itu tiba-tiba ada setelah Gian pergi tadi sore.


"Dia pamitnya kemana?"


"Ke kantor, tapi masa iya ke kantor sore-sore."


Raka tampak berpikir, kemungkinan apa yang paling pas dimana putranya mendapatkan benda itu. Apalagi setelah mendengar penuturan Asih yang mengatakan bahwa benda itu menjadi pemicu pasangan muda itu kejar-kejaran tadi sore.


"Sayang, sebenarnya Gian kenapa? Kau yakin putra kita itu tidak macam-macam kan?"


"Mas, Gian bukan anak yang begitu, sejak kecil kita didik dia perihal banyak hal terutama Agama, aku rasa ia tidak akan gila."


"Tapi bisa saja, Ta ... Asih juga tidak mungkin berbohong kan, kau yang mendengar apa yang mereka bicarakan ketika Gian pulang kan?"


"Iya, Pak ... ketika den Gian pulang memang Radha mempertanyakan guci itu, tapi den Gian tampak menyembunyikan sesuatu," jelas Asih lagi, ia telah menyamoaikannya secara detail beberapa waktu lalu, dan tentu saja hal itu sontak menjadi trending topik di kediamannya.

__ADS_1


"Menurutmu bagaimana Aryo? Kau yang lebih sering mengantarnya kemana-mana," tutur Raka menatap pria paruh baya yang berdiri paling jauh dari mereka.


"Saya tidak tau, Tuan, karena menang den Gian lebih sering bersama Rey saat ini."


"Kalau menurut saya teh, benda-benda begituan bisa jadi memang mistis, saya pernah lihat punya mendiang ayah saya, Tuan." Budi turut bicara, entah benar atau tidak tapi ia yakin guci itu memang mirip.


"Tapi sepertinya tidak mungkin, Budi ... Gian tidak mungkin melakukan hal kotor seperti itu." Aryo tampak membela, ia tak terima jika Gian dipandang seburuk itu kini.


"Tapi buktinya sudah ada, Aryo ... bahkan aku merasakan aura mistis dari dalam sana, sepertinya itu sangat kuat dan membawa pengaruh jahat di sekitar tempat ini," ujar Budi mendadak jadi paranormal.


Kedua orang itu tampak frustasi, bagaimana tidak, putra sulungnya telah menjadi pembicaraan seluruh pekerjanya. Dan tentu ini karena keributan yang terjadi padahal belum diketahui kebenarannya.


"Aku rasa ini guci biasa, kenapa kalian takut semua?"


Jelita menatap Raka dan juga para pekerja bergantian, rasanya sangat tidak mungkin seorang Gian menekuni praktik perdukunan. Dan yang jelas ia tak terima putranya dituduh macam-macam.


"Aku ingatkan pada kalian untuk menutup rapat-rapat apa yang kalian lihat ini, apa yang kalian ketahui cukup kalian simpan dan cukup berhenti di kalian, paham?!!"


Mereka terdiam begitu Raka mulai bicara, karena baginya walau belum yakin apa yang Gian lakukan tetap saja mulut para pekerjanya perlu dijaga.


"Hooaaam, ada apa ini?"


"Aaaaaaarrrrrgggghhhh!!! Siapa kau?!"


Kehadiran Gian yang tiba-tiba dengan rambut acak-acakan yang hanya mengenakan boxer dan telanjang dada itu membuat panik para pengamat guci itu. Di susul dengan Radha yang sudah tampak segar dsngan piyama tebalnya, tentu saja ia heran menatap keramaian yang tak biasa itu.


"Ck, lebay!!! Kalian semua kenapa?" Gian merasa pusing begitu mendengar teriakan dari mereka. Memang sekacau apa dirinya, pikir Gian.


"Gian, papa tanya sekarang, benda apa ini? Dari mana kau mendapatkannya, hah?!!"


"Hadeuh, Papa bisa lihat sendiri itu apa." Ia menguap dan menggaruk-garuk perutnya, dan Radha hanya memerah lantaran suaminya hanya mengenakan boxer bermotif semangka itu.


"Terus kau dapat dari mana?"


"Koh Malih, ck ... memang apa yang aneh dengan benda itu, aku hanya menerimanya karena jika menolak semakin tak sopan," tutur Gian kini hendak berlalu dan kembali pada tujuannya untuk mengambil air dingin, tenggorokannya sudah kering dan ia butuh sedikit energi agar bisa mandi.


"Siapa koh Malih? Dukunnya?" tanya Raka lagi dan membuat Gian menghela napas kasar, "Koh Malih, Siallan!!!" tutur batinnya tanpa menoleh dan melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Terengtengteng💦😎


__ADS_2