
Seribu pagi yang Gian lalui, namun kini ia merasa istimewa. Dunia seakan berpihak padanya, bahkan mentari seakan tersenyum hanya untuknya. Radhania, wanita mungil yang dulunya ia anggap gadis pubertas kini bak bidadari penyempurna hidupnya.
Masih tenggelam dalam lelap tidurnya, wanita cantik berkulit putih itu mengikat pandangan Gian seakan enggan menatap objek lain. Tiada yang terindah, hanya ia sang pujaan yang telah membuatnya jatuh cinta tanpa ia duga.
Teduhnya wajah pemilik netra indah itu membuat Gian lupa bahwa setelah ini, mungkin ada luka yang nantinya semakin berdarah dan jiwa yang semakin patah.
Haidar, tapi untuk saat ini jelas egois menjadi pilihannya. Tak peduli dengan kesepakatan dan janji yang dahulu ia ikat kepada Ardi sebelum akad nikah paksa itu. Terserah, Gian tak memikirkan hal itu. Karena baginya, saat ini Radha hanya miliknya.
"Eenggh," lenguh dari bibir indah itu membuyarkan lamunannya, pandangannya tak berpindah, ia hanya memastikan apakah istrinya telah membuka mata.
"Ssttt, masih pagi, Ra."
Berusaha membuat istrinya kembali terlelap, Gian bak seorang ayah yang berusaha menidurkan bayinya. Mengusap pelan kelopak mata dengan jempolnya berkali dengan harapan Radha akan kembali bermimpi.
"Hhmmmpp!! Sana," ujarnya tanpa membuka mata, wajahnya tampak kesal walau tak terlihat seberapa ganas tatapannya.
Gian mengulum senyum, reaksi spontan Radha membuatnya salah tingkah padahal tak terjadi apa-apa. Sentuhan dari jemari Radha yang terasa hangat membuat hatinya berbunga bak musim semi saja.
"Masih ngantuk ya?"
Pertanyaan konyol sebenarnya, namun melihat Radha yang menyipitkan mata lantaran cahaya di sana membuat Gian ingin segera mengajaknya bicara. Mungkin hari ini Gian hanya akan bicara pada wanita satu ini.
"Hm," jawabnya singkat.
Memang, matanya masih terasa berar. Bukan hanya mata, bahkan seluruh persendiannya terasa berbeda. Radha masih berusaha mengingat, apa yang sebelumbya ia kerjakan hingga membuat tubuhnya selelah ini.
"Tidur lagi kalau masih ngantuk, kita juga gak akan kemana-mana hari ini," ucap Gian menatap lekat wajah ngantuk yang masih cemberut itu, ia lihat Radha berusaha menggeliat dan meregangkan otot-ototnya.
Tak ada jawaban, mungkin Radha memang masih setengah sadar. Rasa kantuknya memang benar-benar luar biasa, dan Gian sabar menanti istrinya dapat waras beberapa menit lagi.
"Aaarrrrrggghhhh!!! Kenapa bisa gini??!"
__ADS_1
Radha yang sejak tadi berusaha menahan kantuk dan lelahnya, tiba-tiba sadar akan dunia yang tak seharusnya begini. Usai menyingkap selimutnya sedikit, wajahnya panik dan mulutnya tak bisa di kondisikan tentu saja.
Bergantian menatap Gian yang sejak tadi memandanganinya, senyum tanpa dosa itu membuat Radha memerah mengingat dirinya kini polos seperti bayi.
Ia ingat, dan tidak salah lagi. Yang ia katakan mimpi itu ternyata bukan mimpi, ini nyata dan wajah Gian dapat mengartikan bahwa itu memang telah ia alami.
"Kenapa? Panas?" Gian mengerutkan kening manakala wajah Radha berubah bak kepiting rebus, semakin ia pandangi wanitanya itu semakin berusaha menyembunyikan wajah ayunya dengan rambut yang lebih mirip sapu ijuk itu.
"Eeeh jangan mendekat!!!"
Ia sadar Gian semakin mendekatkan wajahnya, jangan sampai pria itu menyingkirkan rambut yang sengaja ia jadikan penutup wajahnya kini. Malu, tentu saja ia akan malu. Belum lagi mengingat apa yang ia katakan pada Gian semalam "Arrrrggghhh itu memalukan!!" teriak batinnya.
"Kau kenapa? Kakak membuatmu sakit? Atau kenapa, Ra?"
Jelas saja ia khawatir, karena bagaimanapun ia adalah pelaku tunggal jika Radha tidak baik-baik saja. Bisa jadi Raka akan membuatny sengsara jika hal yang tak di inginkan terjadi pada menantunya.
"Mana bajuku?"
"What?"
Sejauh itu? Perbuatan siapa itu, tak dapat ia bayangkan baju tidurnya terkapar di sana sini. Ya, lebih mirip kamar akibat amukan massa menurut Radha, pakaiannya dan sang Suami bertebaran bak lembaran kertas tak berguna.
"Hahaha maaf, Kakak terlalu bersemangat, untuk saja tidak terlempar keluar, Ra."
Tawa sumbangnya mendominasi kamar itu, Radha hanya menganga menatap ulah Gian yang benar-benar di luar nalar. Dan lagi-lagi, matanya kembali membulat ketika Gian hendak beranjak.
"Heeh!! Kakak mau apa?" tanyanya sembari menahan pergelangan tangan Gian, semua ini Radha pikirkan, bisa jadi suaminya kini sama saja dengannya.
"Ambil baju kamulah, apalagi?" Keningnya berkerut merasa serba salah.
"T-tapi kan, Kakak juga ga pakek baju?"
__ADS_1
"Oh iya, lupa," jawabnya tengil sembari menyingkap selimut semaunya dan membuat Radha berteriak sekuat tenaga.
"Dasar stres!!! Kenapa di buka gila!!!"
Sebelum melihat hal yang ia hindari, Radha telah menutup mata serapat-rapatnya. Apa yang Gian lakukan benar-benar membuatnya gila di pagi hari.
"Memastikan, Radha ... dan ternyata tebakanmu tidak meleset, Baaam!!" ucapnya sembari menepuk bahu polos Radha.
"Haaaaaa, Mama ...."
"Ssshuuut, jangan teriak, kamu mau mama masuk dengan kondisi kamar kita yang begini?"
"Makanya situ jangan banyak tingkah!!"
"Hm, sebentar ya ... tunggu disini, Kakak ambilkan."
"Iya." Tentu dengan matanya masih tertutup rapat, sudah dipastikan Gian tak memiliki rasa malu di depannya, baru saja terbangun tapi Radha telah merasakan malu bekali lipat.
"Nih," tuturnya memberikan baju pada sang Istri, tak lupa dengan dirinya yang ternyata memiliki pikiran juga untuk mengenakan pakaiannya tanpa Radha minta.
"Ck, buka matamu atau selimutnya Kakak tarik mau?"
"Diam, aku yang akan melakukannya."
Tegas, Gian mengambil alih tugas untuk ini. Tak peduli bagaimana penolakan istrinya, Gian akan tetap melakukannya. Karena ia tahu, sejak tadi wajah istrinya tak dapat menyembunyikan hal sekecil apapun. Meski ia telah berusaha untuk tidak meringis menahan sakit, tetap saja Gian menangkapnya dengab mudah.
"Jangan membantah, Radha, kau hanya perlu menurut apapun yang Kakak lakukan, mengerti?"
Begitu lembut, namun dingin dan kalimat itu menusuk bak ancaman yang harus ia iyakan dalam keadaan apapun. Walau demikian, Radha dapat rasakan bagaimana tulusnya wajah suaminya melakukan hal ini padanya.
............... 🌻
__ADS_1