
Radha tampak berbincang-bincang pada pria berkumis tipis itu. Entah bagaimana cara istrinya bergaul hingga Radha terlihat akrab dengan siapapun yang berada di sana.
"Kakak jangan di sana, nanti kena minyaknya."
Gian yang melongo Radha tarik dan membuatnya sejenak terkejut. Pria itu hanya heran melihat proses menggoreng makanan yang Radha inginkan itu. Dahulu mungkin ia pernah menikmatinya, tapi Gian tidak seingat itu.
"Kakak minta uang dong, aku nggak pegang uang," tuturnya sembari menengadahkan kerua telapak tangan, persis anak SD yang berjumpa orang tuanya di pasar malam.
"Mau berapa?" tanya Gian baik-baik dak menimbulkan pikiran macam-macam dalam benak Radha.
"Ih kok pakek nanya sih, satu lah."
"Satu apa? Satu porsi atau satu yang bagaimana?"
"Satu gerobak!!"
Radha mencebik, ia kesal lantaran Gian bertanya demikian, harusnya cukup dengan memberi tanpa bertanya, padahal sebagai sumber uang wajar saja ia bertanya.
"Mas, saya beli semuanya."
Pria itu terkejut kala Gian mengatakan untuk membeli seluruh dagangannya. Jelas aja agar Radha tidak jajan yang lainnya. Tak hanya penjual tersebut yang terkejut, Radha juga demikian.
"Ih Kakak, kok gitu," cetusnya menatap wajah Gian yang terlihat biasa saja, tanpa sedikitpun amarah dan itupun tak bercanda.
"Katamu segerobak, salahku apa?"
"Ya aku kan cuma bercanda, masa gitu aja dianggap serius, terus nanti giamana coba."
"Ck, sudah terlanjur ... kenapa kau bingung."
"Ya jelas dong aku bingung, nanti makannya gimana?"
"Pakek mulut dong, masa lewat hidung."
Jawaban simple Gian membuat Radha hanya menghela napas pelan. Hendak berkata pada sang penjual bahwa suaminya bercanda, Radha tak setega itu.
Pria itu sudah terlanjur bahagia, bahkan ia mengeluarkan seluruh tempe yang baru saja ia buka itu. Sungguh rezeki yang tak terduga memang datang tanpa ia sangka, pikir pria itu.
Radha yang ingin meminta banyak hal menjadi enggan, ia hanya takut Gian takkan lagi memberinya uang karena sebelumnya tempe mendoan sebanyak ini ternyata menguras dompet juga bagi Radha.
"Mau apa lagi, Sayang?"
Gian menenteng plastik besar berisi kumpulan tempe mendoan yang cukup untuk sekeluarga besar itu. Dengan santai dan tanpa sedikitpun sadar jika kini ia menjadi tontonan banyak orang.
"Udah kok," jawab Radha menampilkan gigi rapihnya, ia benar-benar menyesal telah asal bicara pada Gian sebelumnya.
__ADS_1
Tempe mendoan segerobak, alhasil benar Gian membelikan dia sebanyak itu. Entah bagaimana cara dia menghabiskannya, sedangkan orang di rumah hanya ada beberapa saja.
"Serius? Katakan saja, sebelum nanti kamu menyesal."
Gian sungguh-sungguh, menatap langkah ragu Radha ia yakin istrinya itu menginginkan sesuatu. Namun ditanya berkali-kali Radha memang tak mau.
"Zura yakin?"
Pria itu menanyakan kembali kepastian akan hal ini, ia takut jika hal seperti kejadian makan siang itu kembali terulang. Sebelum Gian tiba di rumah, sebaiknya ia bertanya lebih dulu.
"Yakin, Kak ... ayo pulang," tutur Radha yang kini sedikit pasrah, membayangkan bagaimana mertuanya nanti jika ia ketahuan membeli makanan yang hanya satu jenis dan sebanyak itu.
"Baiklah, kita pulang sekarang ... jika kau berubah pikiran katakan sebelum lima menit kita dalam perjalanan, paham?"
Ia hanya was-was jika nanti ketika sudah tiba di rumah Radha justru merengek minta ini dan itu pada Gian. Dan ia tak mau hal semacam itu terjadi nantinya.
"Iya, udah kok beneran."
Gian menghela napas pelan, berharap jika apa yang Radha katakan memang benar adanya.
Perjalanan mereka lalui, tentu saja dengan Radha yang sudah mulai menikmati tempe mendoan panas sesuai keinginannya. Meski Gian sudah meminta agar istrinya itu makan ketika nanti di rumah saja.
"Kakak mau?"
"Enggak, kenyang."
"Enak banget padahal," tuturnya dan Gian hanya mengedikan bahu sebagai responnya.
Bibirnya penuh dengan minyak, makan satu ternyata tak cukup juga. Duduk dengan posisi bagai di warung kopi sembari sesekali Radha menggerakan tubuhnya mengikuti alunan musik membuat Gian hanya tersenyum lagi dan lagi, lumayan topeng monyet gratis, pikir Gian.
Tak hanya di jalan ternyata, wanita itu kini heboh bukan main ketika tiba di rumah. Ia berlari dengan sekantong besar tempe mendoan yang menggoda selera itu, jelas saja tujuan utamanya adalah dapur.
"Mama!!!"
"Ya ampun, kamu darimana? Apa itu?"
Jelita yang memang penasaran terhadap segala sesuatu menatap apa yang Radha bawa dengan manik antusiasnya.
"Oleh-oleh," jawabnya singkat sembari menebar senyum hangat.
"Aah Mama suka, udah lama nggak makan ginian, Gian yang beliin?" tanya Jelita sedikit ragu, karena sepengetahuannya Gian tak pernah mau makan tempe dari kecil.
"Kak Gian yang bayarin, aku yang minta dong."
"Sebanyak ini? Kamu yang minta, Sayang?!" Jujur saja, awalnya Jelita terkejut melihat jumlahnya yang sebanyak ini.
__ADS_1
"Aku mintanya satu, tapi Kak Gian beliin segerobak, Ma."
Radha menjelaskan dengan polosnya, mengingat bagaimana tadi cara Gian memutuskan untuk membeli tempe seakan cukup untuk di bagi satu kelurahan.
"Ck, ada-ada saja kalian ini."
Jelita menebar senyum manis, ia menggacak rambut menantunya itu. Jelita yang mengerti apa maksud menantunya segera mengeluarkan beberapa piring untuk membagikan tempe sebanyak itu.
"Ini buat pak Budi, yang ini buat pak Aryo, ini buat bi Asih ama mba Layla, terus yang lain baru buat kita."
Wanita paruh baya itu tersenyum hangat kala menatap menantunya ini berhati sangat amat manis. Ia bahkan mengingat semua yang bekerja di rumah, penjaga rumah, sopir pribadi Jelita yang juga terkadang mengantarnya, dan juga kedua asisten rumah tangga yang sejak tadi tak ia lihat dimana keberadaannya.
"Bi Asih ada kan, Ma?"
"Ada, Sayang ... baru tiba beberapa menit lalu, mungkin dia lelah."
Jelita memberikan penjelasan, kedua asisten rumah tangganya memang berbeda usia cukup jauh. Asih yang memang sudah memiliki keluarga terkadang tak bisa jika terus bekerja di sana, sesekali ia pulang karena harus mengurus anak dan cucunya.
Di tengah kesibukan kedua wanita itu, Gian menghampiri mereka. Mata itu menatap lekat Radha dan tanpa malu ia mengecup pipinya tiba-tiba.
"Ehem, masih ada Mama loh, Gian."
"Memangnya kenapa? Papa juga sering melakukan hal semacam ini di depanku dulu."
Jelita memerah, mulut anaknya ini luar biasa menyebalkan. Sedangkan Radha yang kini berada di samping Jelita juga merasakan hal yang sama, walau hanya kecupan di pipi tetap saja ia malu.
"Bisa saja kau menjawab, Gi."
"Ya bisalah, fakta berbicara Mama." Gian menarik sudut bibir,
"Kakak mau apa? Lapar ya?" Radha mencoba bertanya karena pria itu kini justru memainkan rambutnya.
"Ehm, lapar memang."
"Pengennya makan pakek apa? Aku siapin ya," tutur Radha melepaskan pekerjaannya, namun Gian sudah lebih dulu menahan pergelangan tangannya.
"Pengen kamu," jawabnya polos dan membuat Jelita membeliak mendengar jawaban yang keluar dari mulut putranya.
"Is Kakak apaan sih, orang serius juga." Wajahnya sudah benar-benar bagaikan tembok kali ini, di depan Jelita ia malu luar biasa.
"Udah sana, Ra ... biar Mama yang siapin, kamu temenin aja tu suami kamu, masih sore udah minta kelon."
"Mama sewot!!"
"Kurang ajar kau ya," celetuk Jelita kala putranya ini menjawab demikian dan mencubit dagu sang Mama.
__ADS_1
💦
Aku nulis dari jam 2 malem, tapi baru kelar pagi ini. Sorry gaes, aku usahakan akan lebih maksimal lagi. Kalau ga bisa tiga, insya Allah aku tetap usaha setidaknya bisa up dua. Babay💞 Salam hangat