Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Ketinggalan Berita


__ADS_3

Buka bersama tak terduga, bisa dikatakan hasil pemaksaan. Gian memaksakan kehendak dan melarang Reyhans untuk pulang.


Sembari menunggu waktu berbuka, ketiga pria gagah itu berbincang di ruang keluarga. Raka banyak bertanya perihal Reyhans, sementara Gian sibuk dengan kedua buah hatinya yang sejak tadi cari perhatian.


"Oh iya, Reyhans ... bagaimana dengan pernikahanmu? Aku sudah mendengarnya dari Edi," ujar Raka menarik sudut bibir merasa keputusan Reyhans sudah amat benar.


Reyhans terdiam, matanya mencuri pandang pada Gian yang kini menganga di sampingnya. Matilah dia, sungguh Reyhans lupa bahwa Raka adalah teman dekat paman kandung Evany.


"Alhamdulillah, Om."


"Hah? Tunggu, aku yang tidak tau apa-apa disini? Kau menikah? Reyhans!! Kau gila ya? Evany bagaimana?"


Dia belum marah perihal dirinya tak mendapat kabar dari Reyhans, akan tetapi pria itu kini marah lantaran memikirkan nasib Evany yang Reyhans khianati.


"Ck, kau ini kenapa, Gian?" Raka bingung dengan perubahan sikap putranya yang kini lebih ribut dari Kama dan Kalila.


"Papa, Reyhans dan Evany berpacaran diam-diam sejak dahulu dan sekarang dia menikah tiba-tiba ... Katakan, kau menghamili anak gadis orang?"


Pertanyaan paling menyebalkan sekaligus fitnah paling kejam. Entah kenapa manusia itu masih selalu menganggap Reyhans sekotor itu.


"Aku tidak segila itu, Gian, kecilkan suaramu," bisik Reyhans seakan ini memang rahasia negara.


"Waw!! Dasar playboy jahannam ... padahal kau begitu manis padanya sampai-sampai Evany memanggilmu Mas."


Tunggu, Gian berhenti sejenak sebelum melanjutkan omelannya. Ada satu hal yang belum ia sadari, sesuatu yang sejak tadi ia pikirkan, hubungan Evany dan Reyhans sesungguhnya.


"Mas? Kau ... kalian sudah menikah?" tanya Gian bahkan sengaja melompat dan duduk di dekat Reyhans.


"Jadi kau tidak mengetahuinya, Gian?" tanya Raka sedikit curiga, pasalnya sebelum menikah Reyhanz justru sudah meminta izin dan Raka kira Gian sudah mengetahui hal itu.


"Tidak sama sekali, Papa!! Dia tidak mengabariku walau cuma seujung kuku semut," tutur Gian mulai tersulut emosi.


Dia bingung sendiri, kenapa semua orang kerap merahasiakan hal-hal sepenting ini darinya. Setelah dahulu mereka menyembunyikan pernikahan Randy dan Hulya, kini dia lagi-lagi ketinggalan berita.


"Maaf, Gi, aku hanya takut kau akan memecat salah satu diantara kami," ucap Reyhans mengungkapkan sesungguhnya alasan dia melakukan hal itu.


"Woah!! Kurang ajar sekali kalian berdua ... kau tidak menganggapku ada, Reyhans?"


Dia bertanya dengan suara begitu dinginnya. Suasana ruangan terasa sesak bagi Reyhans, walau detik ini dia akan terhindar dari sanksi potong gaji atau dipindahkan ke pabrik pupuk, tetap saja dia takut.


"Berhenti bertindak semaumu, Nak, sudah waktunya Reyhans menikah, lagipula mereka berdua sama-sama memiliki peran penting untuk pekerjaanmu bukan?"


Memang tidak seru jika ada Raka, dia tak bisa berkuasa dan Gian hanya bisa marah seadanya. Walau sekesal itu, dia tak bisa mengutarakannya karena memang Reyhans mendapatkan perlindungan dari Raka.

__ADS_1


"Tapi, Pa ... sudahlah, sepertinya aku memang tidak diharapkan siapapun."


Gian mundur dan duduk ke tempat semula, masih bingung kenapa Reyhans bahkan tak mengundangnya. Padahal, dia tidak akan menghabiskan makanan di pesta, pikir Gian merasa semua bukan salah dia.


"Biasa, dia memang begitu, Reyhans ... nanti berhenti sendiri."


Memberikan keyakinan pada Reyhans, walau sebenarnya Raka sendiri tak yakin jika putranya akan luluh segera. Jujur saja ia tak menyangka semua ini akan terjadi, karena setahu Raka kepergian Gian kala itu memang menuju pernikahan Reyhans, mana dia tahu jika Gian justru pergi ke kolam pemancingan.


"Kama stop!! Jangan, Sayang ... ikannya bisa mati."


Gian bergerak cepat ketika menyadari langkah putranya hendak menuju akuarium mini itu, jelas saja ia tak mau hal itu terjadi kedua kalinya.


"Gitu-gitu aja kerjaannya kalau di rumah, rebutan sama anak, teriak-teriak ... kau punya anak mungkin akan begitu juga," ucap Raka merasa lucu melihat tingkah putra dan kedua cucunya.


"Semoga, Om ... aku harap juga begitu," timpal Reyhans mengangguk pelan, dia sedang memikirkan nasibnya esok hari jika dia hanya bersama Gian seorang.


-


.


.


.


Radha merasa risih melihat Evany bertahan dengan pakaian formalnya. Meski wanita itu sudah melepas blazernya, tetap saja Radha Meras pakaian itu tidak nyaman sama sekali.


"Iya, Eva ... kamu nggak panas pakek baju begitu?"


Jelita turut mendukung ide menantunya, walau memang sopan, tetap saja itu sedikit ketat di tubuh Evany.


"Nggak apa-apa, Tante, sebentar lagi kan pulang, aku nggak enak ngerepotin," ujar Evany merasa tak enak jika harus memakai pakaian Radha.


Bukan karena apa, dia hanya tak mau berhadapan dengan Gian jika nanti dia memakai baju milik bos sintingnya itu.


"Ganti, Evany. Hari masih hujan dan kemungkinan kamu pulang masih lama, nurut ya," titah Jelita lembut namun ini terkesan memaksa, sekarang dia tahu dari mana sikap bos tengilnya itu berasal.


"Apa nggak masalah, Ra?" tanya Evany ragu.


"Enggak, aku ambilin ya, Kak ... tunggu sebentar."


Baik sekali, sungguh Evany dibuat kagum dengan sifat yang melekat dalam diri Radha. Dan ini berbeda 180 derajat dari Gian, tak mengerti kenapa manusia seperti Gian mendapat istri selembut Radha, pikir Eva.


"Ehem-ehem!! Ambilin apa?"

__ADS_1


Sudah Evany katakan, yang kerap merusak suasana pasti manusia ini. Ingin ia jawab, tapi tak mungkin.


"Baju buat kak Eva, biar sedikit nyaman," jawab Radha baik-baik, lagian kenapa juga Suaminy ini muncul detik ini.


"Oh yaudah ambilin, baju kamu ya ... jangan baju Kakak."


Idih, siapa juga yang berminat meminjam bajunya. Evany memilih diam meski dia kesal detik ini, manik polos Kama yang kini berada dalam gendongan Gian membuatnya sejenak melupakan amarah.


"Itu aunty Eva, Sayang."


Mengejutkan, Gian berucap lembut kala mengenalkan Eva pada putranya. Eva yang sejak tadi merasa Gian sangat mengganggu justru menyesal kini.


"Onty," ucap Kama menirukan sang papa dan mensapat senyum hangat dari Evany, dia benar-benar lupa kesalahan Gian sebelumnya.


"Hai, Sayang ... siapa namanya?" tanya Eva lembut, meski dia sudah pernah mendengar siapa nama kedua buah hati Gian, dia ingin berbasa-basi tentu saja.


"Givendra Kama Mahendra," jawab Gian tegas tanpa diminta.


"Saya nggak tanya bapak loh, saya tanya anaknya," ujar Evany membuat mental Gian seakan turun seketika.


"Sialan, kau mau aku bakar hidup-hidup?"


"Papa!" sentak Kama sembari menatap wajah tampan papanya.


"Apa?"


"Kama mau jawab sendili," ucapnya seakan berada dj pihak Evany, dasar anak tengil.


"Iya, Sayang, jawab lagi sendiri ... ulang pertanyaanmu, Eva," titah Gian pada Evany, terdengar konyol namun hal ini benar-benar lucu.


"Siapa namanya, Sayang?" Pertanyaan itu memang benar Evany ulang lagi.


"Kama, Onty," jawab Kama kemudian menutup wajahnya yang kini tersipu malu lantaran tatapan Evany.


"Ya Tuhan lucu sekali," puji Evany apa adanya. Sementara Gian kini mengalihkan pandangan pada sang istri yang kembali dengan pakaian untuk Evany.


"Sayaaaang, jangan yang itu ... Kakak suka kamu pakai itu," protes Gian kala menyadari bahwa pakaian yang hendak Radha berikan adalah piyama kesukaannya. Mana mau dia menatap piyama itu membalut tubuh wanita lain.


"Terus yang mana?"


"Yang lain, jangan yang itu titik."


🌪🌪🌪

__ADS_1


__ADS_2