
Radha tak ingin membuat suasana semakin runyam, Gian yang dianggapnya lebay itu akhirnya menyerah dengan syarat kedepannya Radha hanya boleh potong rambut jika bersama dirinya. Benar-benar gila, hanya berkurang beberapa centi karena Radha memang merasa terganggu dengan rambut yang sudah seberat beban hidup itu.
“Pulang aja deh, Kak.”
“Hm, siapa yang akan mengajakmu pulang? Temani Kakak di kantor, bukan pulang.”
“Eh kok gitu?”
“Iya dong, Kakak kerja buat apa? Buat kamu kan, masa sendirian,” tuturnya serius, sebuah candaan yang ia lontarkan agar Radha tak punya alasan untuk menolak kemauan Gian.
“T-tapi Mama nggak tuh nemenin Papa segala, kenapa Kakak beda?”
“Yang kamu lihat cuma pas Papa tua, kamu nggak tau aja gimana Papa curi kesempatan biar Mama bisa dia kurung di kantor.” Jelas ia mengingat cerita maca mini, tentu saja ia dapatkan dari Andra, sang Paman.
“Jadi sekarang Kakak curi kesempatan juga dong,” ujar Radha membuat Gian salah tingkah, ia bingung menjawab apa karena memang niatnya telah diketahui oleh Radha.
“Hm, kenapa? Kamu keberatan, Ra?”
“Oho tentu saja tidak, sangat bersedia kok.”
-
.
.
“Ays! Kenapa kalian sebodoh ini? Ini tidak sesuai keinginanku.”
Sementara di tempat berbeda, salah satu pegawai di klinik kecantikan yang sempat Radha datangi itu tengah kesulitan karena Celine terus saja protes dan mengatakan mereka tidak professional sama sekali.
“Maaf, Nona … semua sudah saya lakukan dengan sebaik mungkin, tapi memang kembali pada kondisi kulit masing-masing,”
Jujur saja wanita itu sudah bosan dengan Celine yang selalu mengeluhkan hasil dari pekerjaannya. Kulit Celine yang memang tak seputih Radha tentu akan berbeda meski ia memilih perawatan yang sama. Permintaan dari Celine yang mengatakan bahwa hasilnya harus lebih baik dari kedua anak SMA tadi tak bisa mereka kabulkan.
“Ah Mama!! Kita pergi saja dari tempat ini.”
__ADS_1
Dewi yang juga masih kesal akibat Radha dan Helena menginjak harga dirinya, kini ikut tersambar emosi dan beranjak usai Celine melewatinya.
Tatapan heran dari pengunjung lain tertuju pada mereka, meski pemilik kecantikan itu telah meminta maaf atas kurang puasnya Celine, Dewi dengan angkuhnya menghina dan meminta uangnya kembali.
“Maaf, saya tidak mungkin memberikan kembali uang yang sudah Anda bayarkan, semua yang kami lakukan tidak ada yang berbeda ataupun kurang, mungkin putri Anda saja yang terlalu memaksakan untuk terlihat cantik padahal kulitnya tidak mendukung.”
“Maksudmu? Putriku tidak cantik begitu?”
Jika sebelumnya Celine berdebat bersama salah satu pegawainya, kini Dewi berdebat dengannya. Pemilik klinik itu jelas saja tak mungkin diam, karena di tempatnya kini bukan hanya Dewi dan Celine yang datang, melainkan banyak orang.
“Saya tidak mengatakan putri Anda tidak cantik, tapi coba pikir kembali, seberapa maksimal tim saya membuat putri Anda terlihat cantik seperti pelanggan sebelumnya, dan dia tak terima bahkan sampai meminta orang berbeda untuk mengerjakannya.”
Beberapa yang di sana tampak berbisik, toh memang mereka memaksakan kehendak. Sebelumnya tak pernah mereka temui pelanggan yang segila ini, baru hari ini tepatnya.
“Kembalikan uang saya atau saya tuntut kamu, jangan pernah bermimpi bisa lepas dari, putri saya menjadi korban malapraktik di klinik kecil seperti ini.”
“Cih anaknya yang nggak cantik pakek nyalahin dokternya, gila kali ya dia,” bisik-bisik mulai terdengar dari pelanggan lainnya, dan Dewi menatap nyakang ke sumber suara.
“Besok-besok ajak anaknya operasi plastik aja, Jeng … biar puas,” tutur seseorang yang sama sekali tak Dewi kenal namun kenapa begitu senang bisa berhasil menghinanya.
“Winda, panggil satpam, mataku sakit lihat wanita ini.” Wanita cantik yang tampak lebih muda dari Dewi itu mulai menyerah, ia berlalu usai mengatakan hal itu pada bawahannya.
“Saya bisa keluar sendiri.” Merasa kalah, Dewi kini keluar dengan langkah panjangnya, tak lupa ia menatap wajah-wajah yang berani menggunjingkannya.
*******
“Kakak rapat dulu ya, kamu di sini dulu.”
Jika sebelumnya Gian yang meminta Radha menemaninya, kini justru Radha yang merasa tak rela Gian meninggalkan ruangan itu. Wajahnya tertekuk begitu Gian pamit, dan tentu saja Rey sudah sangat amat sabar menunggu bosnya di depan pintu.
“Lama ya?”
“Hm mungkin 30 menit, tergantung situasi.”
Radha berdecak, bagaimana caranya menghilangkan rasa bosannya di tempat ini. Tanpa teman, dan sungguh suasana di tempat ini sangat mengerikan. Wajah-wajah menor para karyawan yang tadi menatapnya aneh masih membuat Radha bergidik.
__ADS_1
“Boleh ya?”
“Hm, kalaupun aku bilang gak boleh juga Kakak tetep bakal pergi,” tuturnya malas yang membuat Gian menarik sudut bibir, lucu sekali, pikirnya.
“Haha, bisa saja kamu, Ra … jangan kemana-mana, paham?”
“Iya Bos,” jawab Radha amat sangat malas, jangan kemana-mana, dan aarrgh itu sangat menyebalkan sekali.
“Kamu bisa nonton sepuasnya sementara Kakak rapat,” tutur Gian yang membuat Radha tampak berpikit, matanya menatap kursi kebesaran milik Gian di sana, sejak dahulu ia sangat ingin merasa sejenak berkuasa dan duduk di sana.
“Boleh di sana dong?” tanyanya polos sembari menunjuk meja kerja Gian.
“Hm, boleh. Lakukan sesukamu, selagi kursinya tidak kamu balik maka tidak masalah.”
Hatinya bersorak, jika gantinya adalah menggantikan Gian sementara tak apa meski suaminya rapat 2 jam, pikir Radha. Gian menghela napas panjang, menarik sudut bibir dan meraih jasnya yang sempat Gian lepas beberapa saat lalu.
“Hati-hati ya,” tutur Radha, hanya beda beberapa ruang saja, dan Radha menganggap Gian akan pergi jauh.
Radha menarik sudut bibir kala pintu itu sudah tertutup kembali, artinya Gian sudah pergi dan kini adalah saat bagi dirinya latihan untuk menggantikan Gian jika suatu saat suaminya malas bekerja, pikir Radha.
“Aah nyamannya … kenapa Kak Gian doyan banget pulang cepet-cepet, padahal enak begini.”
Seakan tak pernah, padahal bukan sesuatu yang baru baginya. Ruang kerja sang papa juga hampir sama, namun Radha tak pernah tertarik seperti ia menginginkan berada di kursi Gian.
“Hm, nonton … baiklah kita lihat, udah lama gue nggak nonton, mau liat mas pacar dulu ah.”
Radha mulai mencari, sudah lama ia tak berjumpa aktor favoritnya karena terlalu sibuk dengan ujian yang sebentar lagi akan ia lalui. Dan sungguh terkejut Radha melihat daftar series yang ada di sana, ia menganga, heran dan tentu saja merasa lucu sekaligus.
“What? Dia nonton ginian juga ternyata? Gue pikir kerja banting tulang taunya ….”
Sungguh tak ia duga, bahkan tontonan Gian mengalahkan koleksinya. Sempat bingung, Gian memang suka atau bagaimana, pikirnya. Ia tersenyum tipis dan kini menatap tajam foto terbingkai di mejanya, wajah Gian yang tampak dengan senyum manisnya kini Radha ejek dengan bangganya.
“Ih kamu ketauan, kemaren ngatain lebay taunya dia lebih pe’ak lebaynya. Wajar aja HP gue sampe disita, takut gue selingkuh ya,” tutur Radha dalam kesendirian, sikap Gian yang tiba-tiba berubah dan semakin posesif mulai dari hal-hal kecil dapat Radha simpulkan penyebabnya.
🌻
__ADS_1
Siap-siap, kita mo kasih Radha kejutan setelah ini.