
Berdua, di hadapan Reyhans dia masih menatap tajam. Menunggu penjelasan dari pertanyaan yang ia lontarkan, Evany tak banyak meminta, ia hanya butuh kepastian. Jika memang gosip tentang Reyhans benar adanya, maka tak apa bagi Evany.
"Kamu butuh penjelasan yang bagaimana?"
Reyhans menghela napas pelan, nyatanya memahami wanita lebih sulit daripada memahami Gian. Pertanyaan yang sama sekali tidak pernah Reyhans pikirkan akan terlontar dari mulut Evany.
"Kenapa balik tanya? Pertanyaanku sudah cukup jelas bukan?"
"Langsung saja ke intinya," tutur Reyhans tetap terlihat tenang, walau memang apa yang Evany tanyakan membuat harga dirinya seakan ternodai, bisa-bisanya dia mempertanyakan hubungan lain antara Gian dan dirinya.
"Baiklah jika memang kau lebih memilih dia, tanpa kau menjawab aku bisa menyimpulkan sendiri, Rey."
"Tunggu, apa yang kamu pikirkan sebenarnya? Cemburu?"
Reyhans menghela napasnya kasar, kenapa harus ia berada di posisi ini. Sungguh, pekerjaannya sudah cukup menyulitkan, ditambah lagi dengan Evany yang membuatnya pusing tujuh keliling.
"Jika aku jawab iya, apa kamu marah?"
Wanita ini tengah merasa dirinya di posisi yang tak Reyhans inginkan. Pria itu memang lebih kerap mengorbankan waktu untuk Gian, bahkan rela mempersingkat waktu bersamanya demi selalu ada untuk Gian. Lelah? Iya, bisa dikatakan memang hal itu ia rasakan.
"Tidak, tapi jika memang itu yang kamu rasakan, tolong buang pikiran kotornya itu, Eva ... siapa yang mencuci otakmu ini, hm?"
Reyhans paham, sebenarnya wajar saja jika Evany merasakan hal itu. Selama ini hubungan mereka baik-baik saja, akan tetapi entah siapa yang membuat Evany justru berpikir bahwa dirinya dan Gian saling menyukai.
"Terus tadi apa? Aku lihat pakai mata aku sendiri, nggak minjem ... kamu elus-elus kepalanya pak Gian, mana yang lihat bukan aku sendirian, butuh bukti apalagi?"
Ingin tertawa, tapi Reyhans berusaha menahannya. Hingga senyum tipis itu terbit dengan sendirinya. Wajahnya bahkan memerah, wanita ini membuat pagi harinya seakan gila.
"Begini?"
Bukan menjawab dengan penjelasan, Reyhans justru mempraktekan hal itu pada Evany. Di saat hati sedang panas-panasnya, dan jiwa tengah bergemuruh, Reyhans justru secepat itu Membuat Evany terlena.
"Ja-jauhkan tanganmu," ujarnya gugup dan berusaha menyingkirkan tangan Reyhans dari puncak kepalanya.
Pria itu hanya menarik sudut bibir, kesalahpahaman yang melekat dalam jiwa Evany membuatnya berpikir terlalu macam-macam. Bahkan Reyhans hanya bisa terdiam ketika Evany menuduhnya hanya menjadikan wanita sebagai tameng untuk menutupi aibnya.
__ADS_1
"Maunya dimana?"
"Rey cukup," ucapnya memejamkan mata, niat hati marah-marah namun kini justru ia terlena.
Wajahnya memerah, ia berdebar seakan tengah diperlakukan lebih, padahal Reyhans hanya menyentuh rambut dan wajahnya saja, itupun tak lama. Hanya beberapa detik saja, semudah itu tunduk dan luluh, sungguh Evany tengah mengutuk dirinya sendiri.
"Hentikan pikiran burukmu, aku tidak akan merayu ataupun menjelaskan panjang lebar bagaimana perasaanku ... yang jelas aku memilihmu menjadi wanitaku."
Tatapan mereka sejenak tertahan, Reyhans memang tak sepandai itu merayu, dia juga bukan pria yang biasa melakukan hal-hal manis demi membuat wanitanya merasa tersanjung, apa yang Reyhans jalani hanya cinta sederhana yang ia berikan dengan aksi walau memang terhalang karena Gian kerap menyita waktunya.
"Kamu dengar aku, Eva?" tanya Reyhans kala Evany justru memilih terdiam.
Mendengar jawaban Reyhans, Evany hanya mengangguk mengerti. Ia tak bisa membantah ataupun mengatakan hal yang akan membuat Reyhans pusing sendiri.
-
.
.
.
"Jangan dekat-dekat, kau duduk saja di sana."
Tumben, Evany melirik Gian dengan ekor matanya. Untuk pertama kalinya, ia mengusir Reyhans dan memintanya untuk duduk di sisi Evany.
"Santai saja, aku tidak tertarik padanya."
Baru saja hendak mengunyah makan siangnya, Evany hampir tersedak. Andai saja dia tahu bahwa Gian akan mengatakan hal ini, tidak akan dia menerima tawaran makan siang dari Gian.
"Gian, berhenti membicarakan hal itu."
Reyhans sebenarnya heran, kenapa Gian justru menanggapi seseorang yang kerap menganggapnya ada hubungan apa-apa.
"Dia cemburuan, kau kurang kasih waktu soalnya."
__ADS_1
Andai saja bukan atasan, mungkin Evany akan memilih untuk berhenti makan dan berlalu detik itu juga. Dia semakin heran kenapa bisa Reyhans sebetah itu padahal nyatanya makhluk ini benar-benar menyebalkan.
"Terserah kau saja," jawab Reyhans memilih fokus dengan makan siangnya, selagi pria itu tak memberikannya perintah, itu artinya Reyhans tengah berada di titik paling bahagianya.
Pulang ....
"Aku pulang sendiri, kau sama Evany saja, kasian dari kemarin pulang sendirian."
Tanpa menjawab, dia berlalu pergi dengan langkah panjangnya. Baru kali ini, setelah beberapa lama ia memilih mandiri, walau Reyhans tak yakin bahwa Gian akan berkendara dengan kesabaran sepertinya.
Meninggalkan kantor dengan perasaan baik-baik saja, tentu saja karena kini yang ia tuju adalah senyum bahagia ketiga cintanya. Berpisah beberapa jam adalah hal yang cukup berat bagi Gian, jujur saja jika boleh memilih Gian ingin cuti kalau bisa satu tahun, pikirnya.
Tak butuh waktu lama bagi Gian untuk dapat tiba di rumah dengan selamat. Tentu saja hal itu terjadi karena dirinya menjadikan Radha dan kedua buah hatinya sebagai acuan agar pulang tepat waktu.
Dengan langkah panjang, Gian tak mengucapkan apa-apa kala memasuki ruang Keluarga. Biasanya jika sudah menjelang sore salah satu buah hatinya akan berada di sana. Tentu saja Jelita yang meminta, mereka memang seakan memiliki waktu-waktu tersendiri, karena Jelita tidak bisa puas bermain bersama cucunya Gian sudah pulang.
"Hai, Sayang ...."
Jelita terkejut, kesenangannya sebentar lagi dikacaukan putranya. Belum apa-apa, Jelita sudah mengeratkan pelukannya hingga Kama merasa tak nyaman.
"Jangan dipaksa, Mama ... mukanya kesel begitu," tutur Gian kini hendak mengambil alih Kama dari Jelita, dan seperti biasa, tentu saja akan terjadi drama berebut bayi yang membuat Kama pada akhirnya menangis.
"Mama kan, ish dia nangis, Sayang ... masa Papa pulang nangis," ucapnya lembut mencoba mengusap air mata Kama, namun sebelum itu terjadi Jelita segera menghempas tangan Gian.
"Cuci tangan, kamu kotor ... dari luar kan, sana." Sebenarnya itu salah satu cara agar waktunya bersama Kama lebih lama, karena biasanya Gian tak puas jika hanya bersama salah satu anaknya, dia harus bermain dengan keduanya.
"Oke!! Jangan kemana-mana, Ma."
Gian berlalu, hendak mencuci tangan dan kakinya. Dan ini adalah kesempatan paling baik Jelita untuk dapat menguasai Kama lebih lama, membawa anak itu kabur ke kamar tak lupa mengunci pintu adalah cara paling aman agar Gian tak mengganggu kesenangannya.
"Kama sama Oma ya, Sayang ...." Jelita menatap manik polos cucunya yang juga tengah menatapnya penuh tanya.
*****
"Mama!!!!"
__ADS_1
"Kebiasaan, dasar orangutan." Jelita menganggap teriakan yang bahkan ia dengar hanya sebagai angin berlalu, dasar sinting, bisa-bisanya Gian bahkan mengetuk jendela kamar Jelita dari luar meminta putranya kembali.