
Menjadi babu dalam sehari, tak apa!! Yang penting bisa pulang, begitulah kata Randy yang kini tengah fokus menyetir sementara pengantin baru di belakangnya tengah bermesraan entah apa yang mereka bahas.
Rintik gerimis mendukung kemesraan Gian dan Radha, namun membuat keadaannya semakin miris. Hingga muncul ide gilanya untuk sedikit membuat kejutan.
"Aarrgghh!! Kenapa Om?"
Panik tentu saja, manakala pria itu berhenti mendadak dan bahkan mobilnya sengaja begitu menepi hingga mepet di pinggir jalan, sudah pasti tergores dan merusak kemulusan mobil baru Gian.
"Pipis, udah gak kuat."
Dengan tanpa dosa ia berlalu, meninggalkan Gian yang kesal luar biasa. Ingin ia pukul wajah itu, seakan tak punya waktu lain untuk menuntaskan hajatnya.
"Kau jangan berani-beraniny lihat ke luar, Zura."
Idih, berniat saja pun tidak, bisa-bisanya Gian menuduh Radha hendak mengintip Randy yang tengah buang air kecil. Pria itu bahkan menenggelamkan wajah istrinya di dada hingga sedikit sulit untuk bernapas.
"Kenapa harus berhenti mendadak, Om?"
"Astaga, kau ini seperti tidak pernah merasakan saja," ucapnya seraya mengacak-ngacak rambutny yang sedikit basah lantaran gerimis itu, melepas jaket dan melemparkannya sembarang arah yang membuat Gian jelas saja marah.
"Benar-benar berantakan hidupmu."
Sungguh ia sesali keputusan ini, adanya Randy bersama di sisinya sama halnya dengan parasit penghisap darah yang tak ada baiknya. Meski begitu, lain halnya dengan Radha yang justru merasa nyaman dengan adanya Randy di antara mereka.
Kembali dengan perjalanan panjang itu, berkali-kali ia meminta Randy untuk berhati-hati. Banyaknya berita tentang kecelakaan akhir-akhir ini membuat Gian sangat waspada.
__ADS_1
Sesekali Randy menghela napas kasar kala menatap betapa lelahnya Radha yang kini tertidur di pelukan Gian. Sungguh indah bila ia saksikan, dan senyum licik ponakannya itu membuat Randy mengalihkan pandangannya segera.
*******
Memasuki area perumahan itu, Randy bersiul-siul seakan kini bebas dengan tugas menyebalkan itu. Rumah itu terlihat sepi, sudah pasti hanya ada Jelita seorang di dalamnya.
Sedikit kesal ia mendengar betapa lembutnya Gian membangunkan Radha, Randy memilih turun lebih dahulu dan ia tak berniat menunggu dua manusia itu.
"Ck, kenapa harus di tinggal si Om?"
"Kau saja yang ambil, aku pelupa."
Tak ingin nanti menjadi bebannya lagi, Randy meninggalkan kunci mobil tanpa berniat mengamankannya lebih dahulu. Karena memang ia pelupa.
Kedatangan mereka sudah tentu di sambut nyonya rumah, wanita cantik dengan daster bolong di bagian pundak itu tampaknya tengah menyiapkan makan siang.
Gian tak dapat menahannya, hendak mencium punggung tangan Jelita namun ia urungkan karena hal itu. Wajahnya bisa sekusut itu dan menjadi sesuatu yang lucu bagi Radha.
"Ya amis lah, namanya juga potong ikan."
Jelita tak menyalahkan, namun ia memang tak meminta Gian untuk mencium tangannya. Wanita itu tak fokus pada Gian, yang ia rindukan itu justru menantunya ini, meski sempat terkejut karena kepulangan mereka nyatanya harus secepat ini.
"Cantiknya Mama baru pulang, istirahat ya, kamu capek kan?"
Gian membuang napas kasar, sejak ada Radha posisinya sebagai putra seakan hilang begitu saja. Dan Randy yang kini tengah mencari minuman hanya tertawa sumbang mengejek wajah Gian yang terlihat pasrah dengan perubahan dalam hidupnya.
__ADS_1
Suasana rumah sedikit berbeda. Ada sepi yang tak dapat Jelita pungkiri, kepergian putra bungsunya ke luar kota untuk turut kemana Rury pergi masih menjadi dukanya.
"Mama baik-baik aja?"
"Hm, baik kok ... istirahatlah kalian, Mama akan siapin makan siang."
"Aku bantuin ya, Ma."
"Hm, boleh deh kalau gak capek banget."
Memang benar, pada kenyataannya Jelita butuh teman. Hanya berdua bersama Siti membuatnya tetap kesepian, dan kini sungguh ia senang dengan kehadiran menantunya.
"Ehem!!"
Suara itu mengejutkan siapapun yang berada di sana. Bahkan di umur yang tak lagi muda, Randy masih kerap gelagapan jika tiba-tiba Raka datang begini.
"Papa?"
"Hm, sejak kapan kau datang?"
Pertanyaan datar yang kerap Gian terima, pria itu menatap dingin putranya. Entah apa yang ada di pikiran Raka, namun Gian yakin ada sesuatu di balik tatapan itu.
"Ikut Papa, kita perlu bicara."
Sontak Gian menatap papanya bingung. Ia menatap Jelita sekilas dan respon sang mama memintanya untuk segera ikut. Perasaan Gian tak nyaman, dan Radha yang tak mengerti apa-apa hanya menatap mertua dan suaminya itu penuh tanya.
__ADS_1
..................
Mau nulis banyak, tpi gatau kenapa akhir-akhir ini jariku sering tiba-tiba kaku dan ngilu di telunjuk kalau ngetik banyak. Kadang kesel sendiri, baru setengah eps udah sulit, yang ketik jempol, tapi telunjuknya rese sumpah!!!!đź’”