Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 294. Cobaan Puasa


__ADS_3

"Julit sekali," batin Evany kala Gian melewatinya sembari melemparkan tatapan bak kilatan listrik.


"Kenapa? Ada yang salah, Evany?"


Idih, benar-benar menabuh genderang perang rupanya. Sejak tadi dia yang menatap sinis Evany, akan tetapi justru dia yang marah ditatap balik.


"Tidak, Pak ... apa ada yang Anda butuhkan?"


"Tidak ada."


Dasar tak tentu arah, dia benar-benar seakan tak punya tujuan. Berlalu cukup jauh kemudian dia kembali lagi. Entah apa maunya namun Evany semakin kesal saja.


"Ada apa, Pak?"


"Huft, ck kenapa aku tidak fokus sama sekali," keluh Gian memijit pankal hidungnya, pikirannya masih kacau lantaran ponselnya belum juga ditemukan.


"Sepertinya bapak haus, bagaimana kalau saya ambilkan air mineral," tutur Evany sopan sekali, memberikan pelayanan penuh pada bosnya ini.


"Astafirullahaladzim, Evany ... kau?"


"Atau bapak mau makan siang sekalian? Bibir bapak pucat itu," tambahnya lagi, Gian yang memang sejak tadi pusing dan tidak fokus makin tidak fokus tentu saja.


"Ayam bakar atau ayam pop ya?"


Evany susah payah menahan tawa, padahal tadi dia yang sampai istighfar begitu Evany menawarkan minum dan makan. Dan kini dia justru memilih menu.


"Ayam bakar aja, Pak ... saya males ke restoran padang kesukaan Bapak, kejauhan."


Dia mengangguk, dalam keadaan yang tak begitu sadar Gian mengiyakan tawaran Evany. Padahal sebelumnya dia bersiap untuk mengumpat Reyhans yang dia yakini mengunjingkan dirinya.


"Heh!! Dasar kurang ajar!! Saya puasa, kamu apa-apaan, Evany."


Matanya kembali menelisik tajam, beberapa saat lalu sempat bersahabat dan kini semakin kacau lagi. Di tengah emosinya lantaran Evany menawarkannya makan siang, Reyhans datang di waktu yang tepat.


"Sebentar, ada apa ini?" tanya Reyhans baik-baik, meski Gian adalah atasannya, tetap saja dia kesal jika Evany terus-terusan diserang manusia ini.


"Ck, pacarmu ini menawarkan ayam bakar ... sinting kan?"


"Ya kan kau bisa tolak jika memang tidak mau, dia hanya menawarkan karena memang kau terlihat lemas dan tidak bertenaga, Gian," ungkap Reyhans apa adanya, kali ini dia bertindak sebagai teman.


"Ck, kau kira ini di rumah? Aku bosmu, Reyhans."


"Halah terserah, ini jam makan siang ... bukannya bebas?"


Peraturan baru dan Reyhans sendiri yang ciptakan. Gian tak bisa berkata-kata, dua orang ini kenapa kadang-kadang jadi berkuasa, pikirnya.

__ADS_1


"Bebas dengkulmu, sudah sana cari ayam bakarku."


"Heh??"


Kedua orang itu dibuat heran dengan pernyataan Gian, sepertinya orang ini memang lapar dan tak kuasa lagi menahan lapar.


"M-maksudku ponsel!! Kalian berdua bisa tidak memahami aku sekaliiiii saja ...."


Dramatis sekali, Gian memasang wajah melas seakan dirinya manusia paling menderita. Bibir pucatnya bukan karena lapar, tapi membayangkan ponselnya jatuh ke tangan orang yang salah.


"Masalah itu, beli baru saja, Gi."


"Iya, Pak, kan kaya ... masa gak kebeli," tutur Evany membenarkan ucapan Reyhans, benar-benar tak bisa dipercaya, kedua manusia ini membuat Gian pusing kepala.


"Mulut kalian berdua sepertinya perlu dijahit, solusi paling tidak berguna yang pernah aku dengar."


Dia berucap sembari berusaha menahan emosinya agar tidak meledak-ledak, Gian memejamkan mata dan menarik napasnya dalam-dalam sebelum mengeluarkannya pelan-pelan.


"Sabar, Gi, kan lagi puasa."


"Huft, baiklah ... untuk kali ini kalian selamat, habis ramadhan jangan harap aku akan lupa hari ini."


Pendendam sekali, sudah pasti dia merencanakan hal lain untuk keduanya. Dan hal itu takkan jauh-jauh dari tugas double atau potongan gaji, hanya dua pilihan itu yang biasanya dia berikan sebagai hukuman untuk Reyhans maupun Evany.


"Pak Gian kenapa frustasi banget, Mas? Kan cuma HP," ucap Evany kala memastikan manusia itu telah kembali ke ruangannya.


-


.


.


.


Jika Gian pusing di kantor, Radha kini pusing lantaran Kama dan Kalila bertengkar hanya karena masalah sepele. Berebut balon, dan pecah di tangan Kalila.


"Aduh ... Kama, kan bisa diganti, Sayang, jangan nangis ya," tutur Radha sehalus itu, ia takut jika putranya tak henti menangis seperti ini.


"Gamau, Mama."


Dengan suara kecil dan sesenggukan, dia menggeleng dan enggan menerima penggantinya. Sementara Kalila menatap bingung Kama sembari memegang robekan balon itu dengan kedua tangannya.


Dia tidak menaruh cemburu meski Radha kini memeluk saudara kembarnya, namun tangis Kama membuat dia turut mencebik dan tak kuasa menahan air mata.


"Mama," panggilnya lembut mendekati dengan langkah kecil berharap Radha akan turut memeluknya.

__ADS_1


"Apa, Sayang ... Kalila bilang maaf sama Kama sini," titah Radha lembut seraya menarik pergelangan tangan putrinya.


Tatapan tulus dari bola mata yang suci itu membuat Radha tenang sebenarnya. Anak sekecil itu sudah memperlihatkan jika dirinya memang menyesal, dan Radha tak mungkin mengeluarkan amarah pada bidadari kecilnya ini.


"Maaf, Kama."


Jemarinya mencoba menyentuh pundak Kama, saudaranya kini masih sesenggukan dalam pelukan mamanya. Kalila memberikan robekan balon berwarna ungu yang itu, ingin tertawa rasanya, namun Radha tak bisa melepasnya karena takut Kama akan salah paham.


"Ini aku balikin!!! Sini liat akuu!!"


Dasar pemaksa, padahal tadi dia lembut sekali lantas kini kesal lantaran Kama mengabaikannya.


"Eeeuuuuhhh!! Kama liat aku!!" desak Kalila sembari menghentakkan kakinya.


Radha hanya menarik sudut bibir, dan memang membujuk putranya sangatlah sulit. Kama memang sosok yang kerap memilih diam jika marah, berbeda dengan Kalila yang justru memilih mengadu dan melibatkan seisi rumah harus memahaminya.


"Sayang, maafin Kalila ya, nanti minta beliin lagi sama Papa balon yang banyak," ujar Radha lembut berharap anaknya akan mengerti.


"Kalila juga ya Mama!!" pinta Kalila yang kini seakan lupa jika bahwa misinya untuk minta maaf belum diterima.


"Iyaa, Kalila juga."


Baru saja sejenak tenang, Kama yang mulai tersenyum dan mau menerima uluran tangan adiknya, kini Radha kembali dikejutkan oleh kehadiran Asih yang tiba-tiba menghampirinya.


"Nona!!! Gawat!!!" Asih panik sekali, wajahnya terlihat jelas jika gugup dan Radha mulai berpikir macam-macam.


"Kenapa, Bi? Ada yang gosong?"


"Ini lebih parah dari gosong, Non!! Aduh, bisa digiling pakai mesin cuci saya sama den Gian!!" ucap Asih benar-benar sepanik itu.


"Kenapa memangnya?"


Kama yang mengerti jika kini tengah ada masalah, ia tak marah begitu Radha memintanya untuk lepas. Wanita itu berlari kecil mengikuti langkah Asih ke belakang.


"Hah?!!! Kok bisa!!!"


"Maaf, Non, saya beneran nggak sengaja ... karena biasanya barang-barang sekecil apapun nggak bakal ada di baju den Gian."


Radha menganga, ponsel yang Gian cari tadi pagi kini sudah basah kuyup dan sama sekali tak bisa hidup lagi. Karena ini bukan hanya masuk ke dalam air, melainkan ikut terombang ambing bersama pakaian kotor.


"Astaga, kok dia nggak sadar HP nya masih ke kemeja ya?" tanya Radha bingung sendiri, karena biasanya Gian adalah pria yang teramat teliti dalam segala hal.


"Non, gimana dong? Saya takut nanti den Gian ngamuk dan saya dipecat gimana?" Takut sekali, sejak kepergian Layla beberapa waktu lalu karena keputusan Gian, kini Asih memiliki trauma mendalam pada Gian.


"Nggak, Bi, nanti saya bantu jelasin ... dia nggak mungkin marah kok," ucap Radha sebenarnya tak yakin 100 persen, karena emosi pria itu tak dapat dibendung jika dia benar-benar marah.

__ADS_1


đź‘˝


__ADS_2