
“Papa bisa kemari?”
Gian tak melepaskan Radha sedikitpun dari pandangannya, wanita itu benar-benar menghubungi Ardi. Dan hal itu jelas saja membuat Gian tak karuan, jujur saja ia benci jarum suntik dan obat-obatan. Mendengarnya saja ia bergidik apalagi jika harus merasakannya.
“Zura, kau ….” Ucapan itu tertahan karena ia takut Ardi akan mendengar bisikan ghaibnya berhati-hati namun tetap dengan tatapan tajam penuh ancaman itu.
“Iya, Pa … kak Gian, bukan aku, Pa.”
Baru saja hendak memgambil alih ponselnya, Radha beranjak meninggalkan Gian beberapa langkah. Apa yang ia lakukan benar-benar nyata, dan kini tanpa sedikitpun ia tutupi, Radha menceritakan semuanya pada Ardi.
“Astaga!! Zura … kau jangan bercanda,” tutur Gian begitu paniknya, dengan sisa tenaga ia masih mampu menopangnya, pria itu berdiri dan memeluk istrinya itu dari belakang agar tak bisa lari.
Radha terperanjat namun ia masih berusaha mempertahankan ponsel yang berada di tangannya, Gian berusah amerebutnya namun hingga akhir Radha takkan memberikannya sama sekali. Apa yang Ardi katakan hanya Radha yang mengetahui, dan nampaknya pria itu tengah menjelaskan apa yang harus dilakukan Radha sementara Ardi masih di rumah.
“Iya … kami hanya berdua, Mama keluar sama Pa….”
“Ehm, hallo Papa.”
Belum sempat Radha menyelesaikan pembicaraanya, Gian kini berhasil mengambil alih ponsel istrinya. Karena baginya sakit akan mampu sembuh sendiri tanpa harus ia merasakan sakit yang lain lagi jika bertemu seorang dokter.
“Iya, sebentar, Gian … Papa segera kesana, kau tunggu ya, Nak.” Tuuut tuuut
Gian menelan salivanya pahit, baru saja hendak menolak dengan seribu alasan namun Ardi sudah memutuskan sambungan teleponnya. Sedangkan Radha yang mengetahui papanya telah memutuskan telepon menatap Gian dengan senyum tipis penuh kemenangan. Nyatanya meski sudah sebesar itu usahanya untuk menahan Radha, tetap saja Ardi akan tetap kemari.
“Hahah … sebentar lagi ya, Sayang … Papa bilang gitu tadi.”
Ia menarik ponsel dari tangan Gian begitu pelan, namun karena pria itu telah kehabisan tenaga belum lagi tegang karena akan Ardi datangi membuatnya pasrah tanpa melakukan apapun ketika istrinya berlalu sembari mengibaskan rambut panjangnya.
“Aaaaakkkkhh,” keluh Gian lagi-lagi menahan perutnya, matanya terpejam sesaat, benar-benar datang di saat yang tidak tepat, ia kembali berlari ke kamar mandi untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
“Ngeyel banget si dia ya Tuhan.”
Radha kasihan sebenarnya, tak tega jika menunggu Gian di tempat tidur, wanita itu mendekat dan bermaksud menunggu Gian di pintu kamar mandi, beberapa menit ia tunggu, sekaligus menunggu kedatangan Ardi yang hingga kini masih sangat ia harapkan.
Ceklek
Wajah pucat itu kembali Radha lihat, pria itu meringis dan kini melangkah begitu lelahnya. Gian memeluk Radha menunjukkan betapa kini ia sangat lelah, tapi minum obat itu membuatnya mual. Gian memejamkan matanya, sebenarnya posisi seperti ini sangat sulit mengingat perbedaan tinggi mereka cukup jauh.
“Mau tidur, Ra,” pintanya dengan suara serak dan Radha hanya mengusap lembut punggungnya. Paham betul bagaimana tersiksanya Gian, dia yang kuat makan pedas saja kadang tersisa jika sedang sialnya, sedangkan Gian memang tak bisa sama sekali.
“Iya, Kakak tidur ya.”
Ia membantu Gian melangkah, pria itu tak menolak ketika Radha memintanya untuk berbaring. Sebenarnya hal ini ia lakukan untuk membuat Gian tenang jika nanti Ardi tiba, karena Radha tentu tidak menginginkan suaminya ini sampai harus di rawat di rumah sakit.
Gian mulai terpejam, karena usapan jemari Radha memang membuatnya tenang perlahan, sejenak Radha merasa aman. Namun meski Gian terlihat lebih baik, ia takkan meminta Ardi untuk mengurungkan niatnya, karena melihat bagaimana Gian sepertinya sangat tidak memungkinkan cukup hanya dengan mengandalkan obat rumahan, belum lagi pria itu sejak tadi ogah-ogahan minum obat.
*******
Ardi datang dengan langkah cepatnya, bersama Layla yang mengantarkannya ke depan kamar Radha. Pria itu masih mengenakan jas putihnya karena memang Ardi baru saja pulang dari rumah sakit.
“Mungkin tinggal capeknya aja, Pa.”
Ia menatap Gian sekilas, belum mempersilahkan Ardi memasuki kamarnya. Dan sungguh kenapa ulat Nangka satu ini harus ikut, pikir Radha luar biasa kesal kala menyadari Ardi datang bersama Celine, saudara tirinya.
“Boleh Papa masuk sekarang?” tanya Ardi lebih dahulu, karena kini ekspresi putrinya itu berubah ketika Celine menyapanya, sebenarnya ia tak bermaksud membawa Celine untuk datang kemari, tapi karena gadis itu enggan pulang sendiri dan Ardi tak mungkin memaksa karena memang Celine juga menemuinya karena sakit di kepalanya.
“Iya, Pa,” tutur Radha singkat, karena untuk saat ini tak banyak yang harus ia pedulikan, kehadiran Celine hanya akan membuatnya sakit hati jika terlalu diperdulikan.
Ardi menghampiri menantunya yang kini perlahan membuka mata, reaksi kaget Gian membuatnya heran. Kenapa Gian tampak takut padanya, padahal pria ini begitu Tangguh dalam segala hal.
__ADS_1
“Pa, Papa kapan datang?” tanya Gian sedikit bergetar, belum lagi kini Ardi mulai mengeluarkan peralatannya membuat pria itu semakin takut saja.
“Barusan, bagaimana keadaanmu, Gian? Apa masih sama?” Gian menggeleng cepat, berusaha menunjukkan bahwa dirinya memang sudah lebih baik.
“Sudah lebih baik, Pa … Zura merawatku dengan baik,” jelas Gian namun membuat Ardi semakin cemas saja, ia menatap beberapa obat dan larutan masih cukup banyak di gelas kaca itu, Ardi yakin memang itu hanya Gian abaikan sejak tadi.
“Kau yakin? Tapi sepertinya kau sangat memprihatinkan, Gian … Papa khawatir jika dibiarkan kau harus benar-benar menerima perawatan lebih.” Penjelasan Ardi sama persis seperti apa yang Radha pikirkan, namun tetap saja pria itu masih berpura-pura terlihat sehat.
“Yakin, Pa … aku sudah minum banyak ob … aarrggh Papa mau apa?”
“Hanya memeriksamu, tidak akan Papa suntik.” Gian merasa malu, di hadapan istri dan iparnya Gian berteriak ketakutan persis anak kecil.
“Sayang, kau jangan di sana.” Bukannya berbatas, Gian justru semakin memperlihatkan bagaimana manisnya ia kepada Radha, semua hal itu natural terjadi karena memang ia takut jika tidak bersama Radha yang menenangkannya.
“Manja sekali kau ini, persis Papamu.”
Di sela-sela pekerjaannya, Ardi membahas hal ini. Sedangkan Gian yang menjadi pembicaraan Ardi hanya terdiam menerima apa yang Ardi lakukan pada tubuhnya, dengan Radha yang menggenggam jemarinya membuat Gian merasa sedikit tenang.
“Kak Gian baik-baik saja, Pa?” Ardi mengangguk, memang tak terlalu banyak yang perlu dikhawartirkan, tapi memang Gian harus mau minum obatnya, wajah malas Gian tak dapat ia sembunyikan, ternyata benar bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
“Kenapa banyak sekali, Papa.”
“Memang segitu, Gian … Ra, perhatikan apa yang suamimu makan, lambungnya bisa bermasalah jika hal semacam ini terulang lagi,” jelas Ardi pada Radha yang kini tengah di rundung kekhawatiran luar biasa.
Bersambung😚
Awww, mau tanya, kalau pasangan kalian gitu ga pas sakit? Kalau tingkahnya kek Gian gebuk aja asli😭Gebuk Sayang❣️ Tampol pakek cintaaah🦈
Oh iya, bagi yang belom mampir juga ya di Vino, dah end😚
__ADS_1