Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Titik Terang


__ADS_3

Pengaruh media sosial secepat itu, di sekolah barunya Radha tak mendapat tempat yang baik di hari pertama. Sejak usai jam pelajaran pertama ia sudah menjadi objek perhatian bagi siapapun yang mengenal sosok Haidar.


Dan sejak itu pula, Rey yang di tugaskan untuk mengawasinya berusaha menjadi pelindung utama Radha. Matanya memperhatikan dengan tajam nama-nama siswa yang menatap Radha dengan tatapan yang sulit di artikan.


Mereka belum saja mengenal latar belakang Radha, jika ia membuka siapa sebenarnya Nona mudanya itu, mungkin saja mereka takkan berani bahkan hanya untuk menatap wajah Radha, pikir Rey merasa tak dapat menahan emosinya.


Andai saja, Radha tak melarang Rey melakukan banyak hal apalagi mengadu pada Gian. Mungkin sejak tadi Gian akan memerintahkannya untuk bertindak, namun Radha memilih diam dan menahan. Karena jujur saja, Radha enggan jika harus pindah sekolah untuk kali keduanya.


"Tapi, Nona, mereka membuatmu terganggu kan?"


"Tidak, selagi Kakak di sampingku, takkan ada hal buruk yang akan terjadi."


Radha memilih tak peduli, toh tak lama lagi ia melanjutkan pendidikan disini. Dan apa yang membuat mereka memandangnya sebegitu tak suka, sedikitpun ia tak pernah memikirkannya. Terlalu peduli dengan pendapat orang lain akan menimbulkan bencana seperti yang sudah-sudah, pikirnya lebih baik memperkecil masalah.


Permintaan Radha menjadi sebuah perintah, begitulah pesan Gian sebelum ia di utus menjaga Radha. Meski jujur saja, ia tengah di selimuti ketakutan akan kemarahan Gian nantinya.


Dan benar saja, belum juga jam makan siang. Dering ponselnya sudah terdengar dan membuat Rey terpaksa mengangkatnya.


Rey terbeliak, wajahnya tetap datar namun dengan pandangan yang menyimpan segala kebingungan. Perlahan ia mulai mengerti kenapa beberapa di antara mereka memandang Radha begitu berbeda.


Apa yang Gian sampaikan membuat Rey sejenak terdiam. Tak puas hanya dengan mendengar dari Gian, Rey mencari pembenaran sendiri dengan memeriksa berbagai situs dan media sosial saat itu juga.


Faktanya, begitu banyak bahkan dengan judul yang sama. Haidar menjadi trending topik secepat itu, dengan memperlihatkan foto Radha sebagai bukti utamanya.


Wajah datar pria itu tak dapat ditebak, ia masih meneliti satu persatu. Dan ia simpulkan, bahwa pemberitaan itu terfokus pada opini untuk menghancurkan Haidar lewat Radha sebagai alasan utama.


Sebelum makin tersebar luas dan pemberitaan macam-macam, Gian meminta Rey untuk segera bertindak secepatnya. Jika terlalu lama, bukan hanya Haidar tapi juga Radha akan merasakan dampak negatifnya.


Sesekali ia menatap wanita yang harus ia jaga melebihi berlian itu, tampak tenang sembari menulis di bukunya. Pindah ke sekolah yang berada di bawah naungan Gian, sebenarnya Radha akan aman tanpa Rey di sisinya.

__ADS_1


Hanya saja, mana mungkin Gian memberikan pengumuman untuk seluruh siswa bahwa Radha adalah istrinya. Cukup memberitahu hal itu pada kepala sekolah dan beberapa guru inti saja, demi melindungi privasi Radha tentu saja.


"Kak, kenapa menatapku?"


"Tidak, teruskan pekerjaanmu."


Rey tertangkap basah tengah memperhatikannya, ia hanya tengah berpikir. Setenang itu Radha, apa mungkin ia akan kacau setelah tahu apa yang tengah terjadi sebenarnya.


********


"Aaaarrrrghh!! Lakukan apapun, tuntut mereka yang menyebarkan info sialan itu."


Setelah keluar dari ruangannya, Gian tak tinggal diam. Meski terlihat setakperduli itu prihal Haidar, ia berpikir jauh untuk mengambil langkah. Hanya dengan klarifikasi, takkan membuat nama kedua orang itu bersih seketika, pikir Gian.


Dan, jujur saja Gian tak ingin mendengar berita bahwa Radha memang kekasih adiknya. Sampai kapanpun ia takkan rela, pun tak begitu kebenarannya saat ini.


Gian menenangkan diri sejenak, sebelum kembali menemui Haidar di ruangannya. Dalam benaknya, saat ini nama Randy terbesit begitu saja. Entah, perasaan Gian mendadak tak nyaman saja.


Hilangnya berita tentang adiknya tak cukup, oleh karena itu Gian meminta Haidar untuk menyelesaikan semua itu dengan caranya juga. Sedangkan dia, berusaha menghapus hal tak baik yang tiba-tiba saja melekat di nama istrinya.


Gian melangkah masuk, menatap adiknya tanpa ekspresi sedikitpun. Haidar terlihat menyedihkan, ia menopang wajahnya yang begitu kacau. Dia masih muda, dan hal semacam ini baru terjadi untuk pertama kalinya.


"Kak," ujarnya lirih. Tak dapat Haidar pungkiri, ia juga korban di sini.


"Hm, kau tenang saja, kita lakukan bersama-sama."


Seakan angin segar, mendengar apa yang Gian ucapkan ia merasa titik terang semakin berada di depan mata. Walau ia tahu, Gian bergerak cepat mungkin karena nama Radha terseret bersamanya.


"Zura, apa dia masih lama?"

__ADS_1


"Ck, seperti tak pernah sekolah saja. Kau lihat ini jam berapa, Haidar."


Jawaban Gian terdengar meremehkan, ya seenak hati lebih tepatnya. Wajar saja, siapapun menganggapnya penjahat dari segala sisi. Bahkan mulutnya saja lebih sadis daripada wanita.


"Besok, Rey akan perlahan meredam berita yang membawa namamu dan juga Radha, dan kau berikan klarifikasimu sesuai faktanya, Haidar."


"Hm, baik, Kak." Sebuah rencana yang baik, karena sekadar klarifikasi rasanya takkan mungkin dipercayai secepat itu, pikir Haidar.


"Akui bahwa kalian memiliki hubungan keluarga, jangan pernah mengaku bahwa Zura-ku adalah kekasihmu. Hargai aku sebagai suaminya, mengerti?"


"Ck, dasar egois kau ini, aku harus bicara fakta, Kak. Saat foto itu di ambil kau bahkan masih sibuk dengan pendidikanmu di London, kau bahkan belum mengenalnya sama sekali gila."


Haidar tak habis pikir, bila sesuai dengan faktanya maka jelas klarifikasinya harus tepat.


"Aku tak peduli, yang kita bahas adalah saat ini. Berikan pernyataanmu sesuai kenyataan yang kita jalani sekarang. Kau dan dia memang bersaudara bukan? Tepatnya saudara ipar."


"Iya," jawab Haidar singkat, sungguh ia tak niat.


"Baiklah, lakukan sebaik mungkin Haidar ... ada karir dan juga masa depan kalian di sini. Kau salah bicara, dua-duanya takkan bisa hidup dengan sebaik-baiknya."


Merasa ada titik terang yang terbaik, Gian kini duduk di kursi kebanggaannya. Ia dengan ide paling buruk di semesta mencoba berselancar di salah satu media sosial. Mencari salah satu akun yang tengah menjadikan Haidar sebagai bahasan utamanya.


"Sialan!! Kenapa malah aku yang kalian hina, heey!!!"


Gian menggebrak meja lantaran merasa kesal ketika pernyataannya di serang para penggemar Haidar yang tengah kecewa berat. Belum juga lima menit, komentar yang ia berikan seketika mengundang banyak perhatian.


Bagaimana tidak, di saat orang lain menghujat Haidar, dia dengan santai dan percaya dirinya mengakui dan memuji kecantikan Radha. Tak satupun orang membahas betapa sempurnanya wanita itu, hanya Gian yang fokus kesana.


"Waw, Haidar ... penggemarmu lebih sadis dari pada penghuni hutan amazon."

__ADS_1


Merasa emosinya semakin terbakar, Gian menutup laptopnya segera. Jika terlalu lama, mungkin saja benda itu akan berumur pendek.


......... Bersambung


__ADS_2