Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 220. JUMPA


__ADS_3

“Bukalah,” ucap Jonatan menatap Mario sedikit ragu, ia takutkan jika hal seperti sebelumnya kembali terulang.


“Baiklah, kau tahan napas jika dan jangan berteriak seperti tadi.”


Dengan kekuatan penuh Mario membuka pintu itu secara paksa, dan betapa bodohnya ternyata tidak dikunci sama sekali hingga membuat kedua pria itu jatuh bersamaan. Sesaat mereka terdiam, saling menatap karena seseorang yang berada di tempat tidur hanya diam meski mereka menciptakan keributan.


“Siapa?”


“Ketemu, Tuan Muda, sepertinya hanya tertidur, Mario!!”


“Beritahukan pada bos Rey, cepat.”


“Kau yang punya nomor teleponnya, Mario, aku tidak punya,” tutur Jonatan menatap datar Mario yang kini justru berlari kea rah Gian, memeriksa keadaan tubuh bosnya sehingga lupa apa yang seharusnya ia lakukan.


“Ah iya, aku lupa.”


Mario segera merogoh ponselnya, mengabarkan hal baik ini pada Reyhans. Sungguh menjumoai tuannya dalam keadaan baik-baik saja walau terlelap dan hanya terpejam adalah hal yang patut mereka syukuri, karena jika dari apa yang Reyhans katakan, Mario sempat berpikir macam-macam tentang keadaan tuannya.


Tak butuh waktu lama, karena memang Reyhans adalah pria yang pandai mengambil langkah, dalam waktu tak sampai 30 menit mereka telah tiba. Tentu saja bersama Nona muda yang sejenak membuat mata Mario dan Jonatan membulat sempurna, kekaguman itu tak bisa mereka tutupi, cantiknya Radha seakan membuat mata mereka kembali suci.


“Jaga mata kalian, beruntung pemiliknya masih terpejam.”


Reyhans menatap tingkah anak buahnya, dan secepat mungkin ia sadarkan karena takut jika nanti mereka tertangkap basah oleh Gian, bisa-bisa mereka yang memilih loncat dari lantai 12 itu.


“Dia tidur?” tanya Reyhans menatap Gian sedikit aneh, anggukan Mario dan Jonatan sejenak tak dapat Gian percayai seutuhnya.


“Cari tahu siapa yang membawanya ke tempat ini, aneh sekali jika Gian memilih istirahat di tempat ini.”


“Baik, Bos!”


“Jangan teriak, suamiku tidur,” tutur Radha menempelkan jemarinya tepat di atas bibir.


Sepolos itu, Radha benar-benar percaya jika saat ini Gian tengah beristirahat. Reyhans yang menatap Gian penuh kecurigaan memilih diam untuk sementara, pria ini bukanlah tipe orang yang bisa tidur dengan tenang jika bukan di tempatnya, dan nyenyaknya Gian menimbulkan seribu tanya bagi Reyhans.

__ADS_1


Berbeda dengan Reyhans, yang kini Radha rasakan justru kelegaan tiada hentinya. Menatap lekat mata Gian yang tertutup begitu eratnya, jiwanya justru merasa bersalah. Mungkin jam tidur Gian terlalu kacau hingga ia memilih untuk beristirahat sementara tak bertemu dengannya, pikir Radha.


“Kakak ngapain?” tanya Radha kala Reyhans memeriksa denyut nadi Gian, bagaimanapun jelas saja wanita itu panik bukan main.


“Tidak ada, kalian harus pulang, akan lebih baik Gian tidur di rumah.”


“Tapi Kak Gian lagi nyenyak, nanti dia sakit kepala kalau kebangun, Kak,” tolak Radha yang tak mengerti maksud dari Reyhans, karena yang ia pikirkan kini justru lelahnya Gian yang mungkin tiada tara.


“Tidak akan, pria ini juga tidur sama dengan mati, aku bingung membedakannya.”


Reyhans tak peduli meski Radha tak mengizinkannya, dengan seluruh kekuatannya Reyhans membopong tubuh Gian, berat? Sudah pasti, bahkan pinggangnya terasa hampir patah.


Memang benar, suaminya ini cukup sulit untuk dibangunkan dari tidurnya jika sudah nyenyak. Bahkan Radha melakukan berbagai cara jika meminta Gian untuk menemaninya makan di malam hari.


“Hati-hati, Kak.”


Radha berlari kecil mengikuti langkah Reyhans yang cukup cepat, bukan karena dia kuat, akan tetapi karena pria itu ingin cepat-cepat menyudahi penderitaan ini. Kali kedua, ia harus mengeluarkan kekuatan lebih untuk mengangkat tubuh Gian yang luar biasa.


“Kau benar-benar berat, Badjingan … kenapa bisa dia selemah ini,” tutur Reyhans dalam hati, jika saja tidak ada Radha bersamanya, mungkin Reyhans akan sedikit membanting tubuh Gian.


-


“Kak Rey, kenapa Kak Gian senyenyak ini?”


“Katamu dia ngantuk, sudah berapa malam dia tidak tidur, Ra?” Reyhans mengalihkan pembicaraan, dari nada bicara Radha, bisa dipastikan bahwa kini Radha sangat mengkhawatirkan Gian yang berada dalam pangkuannya.


“Dia tidur tiap malam, Kak … cuma memang jam tidurnya sedikit berbeda dari biasanya,” jelas Radha sedikit kaku, takut jika pertanyaan Reyhans sebenarnya tengah mengejeknya.


“Oh iya? Nanti dia bangun sendiri, Gian memang rajanya tidur, Ra … dulu bahkan hitungan bulan dia tidur,” tutur Reyhans serius, jika ia ingat hal itu, sakit dalam benaknya hanya mampu ia wakilkan dengan napas pelan.


“Itu koma, bukan tidur.”


Radha paham kemana arah pembicaraan Reyhans, meski sedikit kesal akan tetapi dia bisa paham bahwa memang salah satu yang paling peduli pada suaminya adalah Reyhans seorang.

__ADS_1


“Haha iya, koma.” Reyhans terkekeh, respon Radha yang sedikit membentak membuatnya merasa lucu.


“Kak, boleh aku tanya?” Sejak lama Radha ingin bertanya, karena jika bertanya dengan Gian ia tak mendapatkan jawaban sama sekali.


“Iya, apa?”


“Kalian berdua, sebenarnya punya masalah apa? Kenapa Kak Gian sensi sekali kalau aku menanyakan tentang Kakak?” tanya Radha tanpa sedikitpun keraguan, karena kini pria bawel yang kerap menatapnya tajam seperti ingin membuat kulitnya terkelupas hanya terpejam begitu damainya.


“Hm, itu kisah lama, Ra … suamimu hanya salah paham, makhluk pencemburu seperti dia memang menyebalkan.”


Reyhans menatap jauh, berusaha tetap fokus dengan kemudinya. Kemarahan Gian masih ia ingat jelas, bagaimana dahulu kesalahpahaman kecil yang berujung pada berakhirnya eratnya persahabatan mereka.


“Adinda ya?” tanya Radha yang membuat Reyhans sejenak terdiam, nampaknya Radha sebenarnya sudah tahu, tapi tak sedetail itu.


“Kamu tau, Ra?”


“Hm, dari Mama … tapi aku belum tau kebenarannya, karena kalau tanya Kak Gian dia mana mau jawab.”


Ya, memang Gian tak pernah mau menjawab pertanyaan Radha perihal bagaimana hubungannya dengan Reyhans di masa lalu. Kalaupun ia menjawab, Gian hanya akan mengatakan jika dirinya dan Reyhans hanya sebatas sahabat kecil, tak lebih.


“Kau yakin mau dengar?” tanya Reyhans memastikan, karena jika ia lihat istri bosnya ini memang benar-benar penasaran.


“Hm, ceritakan, Kak! Selagi dia masih di alam mimpi, buruan.” Kesempatan emas, dan Radha enggan jika harus mati penasaran.


Sejenak Reyhans terdiam, mengambil napas terlebih dahulu dan entah kenapa dirinya justru tak menutup diri dari Radha dari kisah yang sejak dulu ia putuskan menjadi masa lalu.


“Semua hanya salah paham, aku melalukan apa yang Gian mau, menjaga Adinda selama dia tidak bisa ada, tapi sayang apa yang Gian lakukan justru membuat persahabatan kami kacau di tangan seorang wanita yang baru masuk dalam kehidupan Gian, dasar budak cinta.”


“Kacau?”


“Iya, Gian datang di saat yang tidak tepat waktu itu, dan bodohnya aku malah melakukan hal yang justru membuat Gian yakin bahwa memang aku berbuat curang padanya.”


Gacukup 1 Eps, aku bagi jadi dua.

__ADS_1


Karena kemarin ada yang minta dengan jelas masalah Reyhans dan Gian, oke kita bahas lagi. Biar jelas, dan kalau end kita gak merasa ada yang kurang yak.


Gian, lu diem dulu yak, lu pada hati-hati … ghibah depan orangnya, gabisa ditebak dia bangun kapan ini.


__ADS_2