Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Jangan Perlihatkan Padaku (Gian)


__ADS_3

Gian kini duduk di sofa untuk menghilangkan sejenak penatnya. Pria itu memijat pangkal hidung sembari menoleh sejenak ke arah kamar kecil, suara pintu yang di dorong cukup keras oleh istrinya membuatnya terkejut.


"Hadeeuh, bisa-bisanya manusia kecil itu menjadi istriku."


Ia menggeleng pelan sembari menarik sudut bibir, Gian tidak menyalahkan keadaan maupun orangtuanya. Terkadang ia hanya merasa hidupnya lebih berwarna dengan rengekan dan berbagai celoteh gadisnya.


Tak butuh waktu lama, gadis kecil yang ia maksud kini berjalan menghampirinya. Tentu saja dengan seragam yang memang tak rapi lagi, dan membuat Gian mulai berpikir macam-macam.


"Kenapa pakaianmu harus seperti itu, Zura?"


Gian tak menatap istrinya kini, penampilan Radha yang memang tak serapi harusnya membuat Gian tak dapat menghindar. Hanya sekadar buang air kecil, kenapa bisa pakaiannya menjadi sedemikian rupa, pikir Gian.


"Memangnya kenapa?"


Wajah tanpa dosanya menatap Gian sengit, tidak ada yang salah bagi Radha. Hanya saja, ia merasa gerah dan sengaja membuka kancing seragam, dan mengikat rambutnya asal.


"Ck, benarkan bajumu, Ra."


Dih, dasar otaknya saja yang rusak. Bukankah tubuhnya masih terbalut kaos tipis, pikir Radha sembari menatap bagian dadanya.


"Aku gerah, Kak, lagian aku tidak telanjang hello."


Bibir mungil dan mata sengitnya berpadu sembari melipat tangan mengucapkan tantangan gila itu di depan Gian. Karena kali ini memang dasar Gian yang repot dengan tingkahnya.


"Berani sekali dia menjawabku," batin Gian menatap tubuh istrinya dari atas hingga ujung kaki.


"Berapa umurmu?" tanyanya singkat dengan nada datar penuh tanda tanya.


"Heih ... Umur? Kenapa kakak selalu bertanya umur, tidak ada pertanyaan lain kah? Nomor sepatu atau ukuran bajuku misalnya?"


Habis, otak Radha benar-benar tak dapat Gian hadapi. Pria itu mengepal tangannya erat sembari memejamkan matanya kuat-kuat. Bagaimana bisa pertanyaannya Radha jawab dengan sesukanya dan bahkan membuatnya pusing hendak bicara apalagi.


"Bu-bukan itu maksudku, bukankah umurmu sudah diatas 15 tahun? Harusnya kau bisa melakukan apa yang seharusnya bukan."


Radha mengerut, apa salahnya. Ia melakukan sesuatu yang wajar, bukankah jawabannya benar, pikir Radha kini terdiam menatap dalam suaminya.


"Kalau gerah ya mandi, Zura, bukan dengan memperlihatkan sedikit tubuhmu seperti itu di depan Kakak, paham?!!"


Pria itu beranjak dari sofa dan berlalu begitu saja menuju kamar tidur. Ia tak sedang marah, namun ia takut hal sedemikian rupa akan terjadi lagi kedepannya.


Meski secara hukum dan agama, Radha miliknya. Melakukan apapun selagi itu baik bagi Gian sah-sah saja. Namun, tak mungkin ia mengabaikan keinginan Ardi dan juga Raka yang memang ia sepakati beberapa saat setelah akad usai.

__ADS_1


Sejenak Radha terdiam, merenung apa yang Gian maksud dari ucapan-ucapannya. Pintu kamar telah tertutup, namun tetap saja Radha merasa aneh. Dia tidak terlalu polos, teman-temannya memiliki pengetahuan luas tentang dunia pernikahan.


Entah darimana mereka mendapatkannya, namun hal-hal yang terjadi ketika menikah dapat Radha ketahui sedikit banyak. Ia telah menikah dengan Gian beberapa waktu, namun sama sekali belum ia alami apa yang ia bayangkan.


Terkadang ia merasa lucu, bahkan untuk tidur bersama Radha merasa geli, apalagi harus lebih, pikirnya. Tak ingin terlalu lama, ia mungkin akan terbenam dalam bau badan yang cukup membuat Radha meringis.


"Astaga, ni pasti bau badannya nempel di gue."


Usai mengumpat tak jelas yang bahkan tergolong dalam fitnah, Radha masuk ke kamarnya. Mendorong pintu perlahan berharap Gian belum tertidur, karena biasanya pria itu hanya dapat tertidur jika kamar gelap gulita.


*******


Ia melangkah perlahan, dan kini matanya terkunci pada sosok pria yang tengah terbaring sesukanya di tempat tidur dengan lengan menutup mata dari kilauan cahaya lampu kamar.


Radha sejenak tertegun, mungkinkah suaminya selelah itu hingga bisa tertidur semudah itu. Bahkan pakaiannya masih lengkap, untung saja sudah lepas sepatu, pikir Radha menatap sekujur tubuh Gian.


"Tumben, biasanya rewel banget kalau ga gelap," celetuk Radha kini meletakkan tas dan segala peralatan sekolah lainnya.


Tak ingin ambil pusing, Radha berlalu untuk membersihkan dirinya. Tentu saja dengan membawa pakaian ganti demi menghindari hal-hal yang tidak ia ingini.


Bukan Radha namanya jika mandi bisa selesai dalam hitungan menit. Entah apa saja yang ia lakukan, tetap saja mandi butuh waktu lama. Baju tidur pendek yang tidak terlalu tipis namun tak pula tebal benar-benar nyaman dan pas di tubuhnya.


Rambutnya masih terbungkus handuk kecil, aroma semerbak dari tubuhnya bahkan membuat Radha kagum sendiri. Merasa cantik dan kini menatap wajahnya sekilas di cermin besar itu.


Radha menoleh dan menatap Gian masih dengan posisi yanh sama, bahkan tak beralih sedikitpun. Sejenak ia terdiam, entah mengapa perasaannya mulai tak nyaman.


"Ya Allah, tidur apa kenapa dia tu," ujar Radha menggigit bibirnya, pasalnya Gian benar-benar diam tak berubah posisi.


Ia mandi cukup lama, namun posisi tangan suaminya pun tak berpindah. Ia mendekat, bahkan untuk mengeringkan rambutnya pun Radha tak memikirkannya terlebih dahulu.


Radha naik ke tempat tidur dan duduk di sisi Gian, menatap lekat wajah suaminya yang sebagian bersembunyi di balik lengannya. Radha mendekatkan wajahnya, jelas saja deru napasnya takkan terdengar sejelas itu.


"Ih tangannya berat Masya Allah!"


Radha mengalihkan tangan suaminya agar dapat menatap wajah Gian lebih leluasa. Jantung Radha berdegub kencang kala wajah tampan suaminya terlihat jelas dengan jarak yang begitu dekat.


"Tenang-tenang, Radha ...."


Ia menghela napas sejenak, sejenak ia merasa tenang usai mendengar deru napas Gian meski begitu halus. Mata itu terpejam namun masih dapat ia rasakan tajamnya, berbagai tatapan dingin dan menyebalkan dari Gian masih terbayang jelas meski kini ia terpejam.


"Ya Tuhan, kok cakep."

__ADS_1


Spontan ia menepuk bibirnya usai pujian itu lolos dari bibirnya, Radha sangat amat takut Gian akan mendengarnya. Namun jika ia perhatikan, Gian memang tengah terlelap dan tak mungkin ia dengar ucapan manis itu.


Di tengah kegiatannya, perutnya kembali merasa lapas. Jelas saja, ia bahkan tak menerima makanan sejak siang. Terlalu enggan Radha makan ketika di kediaman Laura.


Di tengah situasi sulit, ia membutuhkan Gian. Tentu saja takut menjadi alasannya, dan juga ia butuh makanan berat dan tak akan cukup jika hanya makan mie ataupun roti malam ini.


"Yaudah bangunin aja deh, gantengnya gak bikin kenyang."


Ia mengambil napas dalam-dalam dan mengumpulkan keberanian untuk membangunkan Gian. Sebisa mungkin ia harus membuat Gian tenang dan tidak marah sedikitpun.


"Ehem-ehem!!"


"Kak, bangun, jangan tidur dulu."


Gian hanya bergerak sedikit meski Radha menepuk wajahnya beberapa kali, ia memang sangat amat lelah sehingga tidurnya begitu lelap.


"Kakak!!"


"Ehm?" Gian bersuara namun begitu malasnya, kini ia membelakangi Radha dan kembali memejamkan matanya.


"Kak, belum mandi loh ya, belum makan juga, nanti Kakak sakit gimana?"


Pemaksaan berbentuk perhatian yang Radha berikan mulai berhasil membuat Gian beranjak, dengan mata yang sedikit merah dan wajah lesunya kini pria itu duduk dan menatap malas istrinya.


"Ada apa?"


"Widih, anu ..."


"Kau kenapa?"


"Lapar, Kak."


Gian menghela napas pasrah, sudah ia duga sejak awal Radha membangunkannya pasti menginginkan hal lain. Benar-benar menyebalkan namun tak dapat Gian bantah, memang benar, mana mungkin istrinya tak lapar, pikirmya.


"Tunggu di sini," ujar Gian beranjak dan mencuci mukanya sebentar.


"Yihaaa, makan-makan-makan-makan-makan." Terlampau senang membuat Radha demikian, bak anak kecil yang dijanjikan hal manis oleh orang tuanya.


"Bisakah kau diam, Zura?"


Suara Gian membuatnya terdiam, namun tak sedikitpun ia merasa takut. Dengan wajah polosnya ia tertawa tanpa suara, menutup mulutnya rapat-rapat namun rasa senangnya tak dapat ia tutupi sepenuhnya.

__ADS_1


Bersambung❣️


__ADS_2