Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Om, Artis Kan?


__ADS_3

"Artis kan?"


"Bukan, mirip aja."


Jelita mengkhawatirkannya, sedang makhluk ini masih saja sibuk membangun istana pasir dengan bentuk tak jauh berbeda dari rumah patrick.


Masa kecil kurang bahagia? Tidak juga, Randy sangat bahagia ketika kecil. Menggapai cita-cita di usia muda adalah hal paling indah yang ia berikan untuk kedua orangtuanya.


"Eh bener kok, Om Artis."


"Dibilangin bukan juga, saya itu nelayan daerah sini, tapi lagi libur aja."


"Idih, sejak kapan nelayan ada liburnya Om?"


Gadis kecil itu menatap lekat Randy yang sedikitpun tak menghiraukannya. Bahkan dengan tanpa berpikir dua kali, Randy berbalik dan memilih membelakangi mereka dalam sekejab.


"Sombong banget sii, Om itu punggungnya gosong, pakek sunblock makanya."


"Dasar cerewet, anak siapa kau ha?"


"Anak Mama dong, masa anak Om."


Benar juga jawabannya, jawaban spontan gadis kecil itu membuatnya tertawa. Memang semudah itu Randy merasa lucu, bahkan yang mengatakan hal itu tidak tertawa sama sekali, dan dia bahkan tak bisa cara berhenti.


"Hahahah iyalah, bisa saja kau menjawab."


Randy melepas kaca mata hitamnya, manik hitam nan indah itu terlihat tulus menatap gadis kecil di depannya. Masih begitu terlihat muda, mungkin beberapa orang takkan percaya jika pria itu sudah berusia 42 tahun.


"Sekarang Om balik tanya, kenapa mainnya sendiri?" tanya Randy serius sembari menatap sekelilingnya. Terlihat sepi dan tak ada bayangan bahwa gadis ini pergi bersama keluarganya.


"Karena ga ada temennya, Om, Mama sama Papa gak tau dimana, ini juga lagi di cari."


What? Randy melongo, jadi anak itu terpisah dari orang tuanya. Dan bisa-bisanya di usia sekecil itu dia tampak tenang. Jika anak lain mungkin akan menangis sekeras-kerasnya.


"Sama Om dulu mau? Om bantuin cari Mama sama Papanya ya," ujar Randy seakan siap jika harus repot hingga malam hari.


"Iya, sama Om artis dulu."

__ADS_1


"Om bukan artis astaga kau ini," tutur Randy menempelkan telunjuk di bibirnya.


Ia tak menggubris ucapan Randy, tanpa perintah gadis kecil itu duduk di pasir menirukan bagaimana posisi Randy. Deburan air yang terkadang menyapanya membuat gadis itu berteriak kegirangan.


"Aaaaaaaahhhh Om rambutku jadi basah," keluhnya kala menyadari rambut panjangnya basah.


Randy menarik sudut bibir, entah mengapa hatinya begitu menerima kehadiran pemilik rambut pirang itu. Dengan hati-hati dan keterampilan yang ia miliki rambut panjang gadis itu kini ia ikat dengan gelang hitamnya.


"Kan cantik, kamu gak takut hitam keliling pantai pakek baju begini?" tanya Randy yang memang penasaran lantaran pakaian anak kecil itu amatlah pendek.


"Namanya pantai, Om ... kalau pakai piyama berarti akunya mau tidur."


"Buahahahah!! Iya juga." Randy menggeleng pelan, jawaban anak itu benar-benar mengocok perutnya.


Randy tak melepaskan sedikitpun gadis itu dari pandangannya. Beberapa tahun lalu ia juga kerap merasakan hal ini bersama putrinya, Caterine. Pria itu tersenyum begitu dalam, ia merindukan anak itu lagi dan lagi.


"Kamu buat apa?" tanya Randy kini fokus pada istana pasir yang tengah gadis kecil itu bangun.


"Istana buat Mama," tuturnya menampilkan gigi rapihnya.


"Mama kamu ... cantik ya?"


"Iyalah, Om ... kalau ganteng itu Papa."


Aarrrrgggh, anak itu terlalu menggemaskan baginya. Sungguh sebegitu penasarannya Randy pada sosok ibu dari anak itu.


"Udah jadi, Om!! Bagus kan, Om?"


"Iya, bagus sekali."


"Hm, boleh Om tanya?" Randy mengalihkan perhatian anak itu, dan dengan santunnya anak itu selalu menatap kala Randy mengajaknya bicara.


"Apa?"


"Namanya siapa?"


Randy menopang dagunya, rambutnya yang mulai panjang sedikit acak-acakan dan justru membuat Randy semakin terlihat tampan.

__ADS_1


"Aruni," jawabnya singkat kemudian kembali dengan kegiatannya.


"Lengkapnya dong, masa segitu doang."


"Arunika Wiratmaja," tambahnya sama singkat seperti jawaban pertama.


"Cantik namanya," tutur Randy masih saja takjub mendengar nama gadis itu.


"Umurnya berapa?"


"Delapan tahun, Om umurnya berapa?" ia bertanya balik dan membuat Randy bungkam.


"Aru-ni-ka," ujar Randy mengeja nama gadis itu, mencoba mengalihkan pertanyaan Aruni untuknya.


Sungguh indah, sama halnya seperti paras Aruni yang bahkan sangat cantik sejak dini. Dan begitu jahatnya pikiran Randy yang berharap anak itu belum berjumpa kedua orangtua nya hingga beberapa saat lagi.


"Om, dingin."


Hatinya terasa hangat kala Arunika mengadu dengan wajah memelasnya. Hembusan angin pantai akhirnya membuatnya dingin jua, Randy menggegam tangannya dan mengajaknya meninggalkan tempat itu.


"Kita tunggu Mama kamu disana, mereka pasti khawatir."


"Iya, Om ... Aruni juga haus, Om sih nggak nawarin aku minum."


"Om lupa, harusnya tadi kamu Om kasih air laut ya." Ia bercanda, beraninya anak itu membuatnya kesedihannya akibat ucapan Gian seakan hilang begitu saja. Secepat itu, hadirnya Aruni menjadi obat laranya Randy.


"Aruni!!!!!"


Teriakan itu terdengar jelas dari jarak beberapa meter di depan sana. Randy menghentikan langkah namun genggaman tangan pada Aruni semakin erat saja. Sungguh jika harus secepat ini ia belum rela.


"Mama?!!!"


"Aah tunggu," ujar Randy kala Aruni mencoba lari dan melepaskan genggaman tangan Randy, hatinya terhenyak kala genggaman itu terlepas karena lemah begitu ia tatap wanita yang menghampiri anak itu.


Bersambung❣️


Mohon dukungannya temen-temen❣️ Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2