
Cukup lama, hingga akhirnya wanita yang ia tunggu itu selesai juga dengan urusannya. Gian melirik sejenak kedatangan Radha yang hanya mengenakan handuk putih membalut tubuh mungil dan tak lupa rambut yang selalu terbungkus handuk kecil yang Gian anggap lebih mirip candi.
Tanpa suara, Gian memperhatikan gerak gerik istrinya. Dengan ditemani benda pipih di tangannya, Gian tak sadar bahwa game yang ia mainkan telah berakhir.
"Ays!!! Dasar curang!! Aku belum siap hey, harusnya aku yang menang!!"
Yayaya, kadang kala sikapnya memang bisa berubah bak anak kecil yang membuat Radha menggeleng beberapa kali. Ia terdiam dengan tangan masih terjebak di dalam lemarinya, Radha tak bisa berkata melihat Frustasinya Gian hanya karena hal sepele itu.
"Yaaaa!!! Aku baru mau mulai bergerak, sial!!"
Kali ini teriakannya membuatnya Radha terkejut, tak ia duga pria itu nyatanya memiliki suara lebih besar dari toa masjid. Dasar bodoh, apa dia tidak sadar umurnya, pikir Radha.
Radha bahkan menghentikan aktivitasnya, suaminya benar-benar membuatnya bertanya-tanya. Kini dengan tanpa dosanya ia melempar ponselnya ke atas tempat tidur dengan kasarnya.
"Kakak kenapa?"
"Hahaha tidak, Sayang. Kakak membuatmu terganggu ya?"
Gian mendekat, entah ia hanya ingin dekat-dekat saja. Akibat keributan panas yang ia ciptakan rasa bersalah itu sungguh luar biasa. Radha menelan salivanya, ia terdiam dan jantungnya lagi-lagi berdegub kencang.
Tanpa ia duga, pria itu kini memeluknya begitu erat seakan takut kehilangan. Gian mendaratkan kecupan beberapa kali di keningnya begitu lembut, punggung polos itu begitu indah dan Gian selalu merasa berdosa lantaran sempat menginginkannya secara paksa.
Senyum itu menguasai dirinya kala pelukan itu Radha balas meski tak seerat dirinya. Keduanya terdiam untuk waktu yang lama seakan tengah bicara dari lewat perasaannya. Gian melonggarkan pelukannya, dan kini ia tertarik pada lemari dimana pakaian Radha tersusun rapi.
"Pakai ini saja, ya?"
"Kenapa harus itu?" tanya Radha mengerutkan dahi sembari menatap piyama yang Gian pilihkan.
"Di rumah ini bukan hanya ada aku, tapi banyak orang. Kakak tidak mau kau memakai pakaian pendek, Ra."
Pria itu berucap sembari mencari apa yang Radha perlukan lagi, bahkan hingga dalaman yang membuat Radha memerah namun tak dapat menahannya.
"38?"
Gian tersenyum, ia menatap sejenak istrinya dan ada keinginan untuk terbahak sebenarnya. Ia menyerahkan pakaian yang telah ia pilih dan Radha dengan polosnya menerima layaknya anak kecil yang dipilihkan pakaian oleh orang tuanya.
"Kenapa memangnya kalau 38?"
Ia tak tuli, jelas saja ia mendengar jelas apa yang ucapkan tadi. Dan kini tatapan suaminya membuat Radha bertanya-tanya. Sadar betul Gian kini tengah menahan tawanya, dan tentu saja Radha menganggap ini sebagai salah satu cara Gian mencari ribut.
"Lumayan," ujarnya sembari mencuri kesempatan mencium singkat bibir istrinya yang kini maju beberapa centi.
Pria itu mulai menjauh, tapi tentu saja akan tetap berada di dalam kamar itu. Lanjut dengan game yang sempat membuatnya naik darah, Gian kembali dengan petualangannya.
"Kakak, keluar dong."
"No, kenapa kau mengusirku?"
__ADS_1
"Aku mau ganti baju, Kak," jelasnya sedikit merengek, tentu saja ia malu jika harus ganti baju di depan Gian.
"Ganti saja, Ra, aku juga sudah melihatnya."
Jawaban paling menyebalkan sekaligus membuat Radha malu bukan kepalang, ia lebih baik mengalah dan dia saja yang pergi.
"Mau kemana kau?"
"Ganti baju lah, mau apalagi," jawabnya sembari berlalu pergi.
"Stop!! Berani kau ganti baju di tempat lain, kakak tidak akan mengizinkanmu pergi kemanapun selama sebulan selain ke sekolah, mau?!!"
Sudah biasa, ancam dan ancam. Entah sejak kapan dan sampai kapan Gian akan bertahan dengan sikap semaunya namun membuat Radha terkadang merasa lucu.
"Hm, tapi kakak berbalik, jangan lihat sini."
"Iyaa, Sayang iya."
Begitu patuh terhadap ucapan wanita kecilnya, Gian kini membelakangi Radha. Wanita itu sedikit tenang karena Gian menurut, tapi ia tak mengetahui alasan Gian mau menurut perintahnya lebih menyebalkan dari sebelumnya.
"Tubuhmu hanya milikku, Ra," ucapnya dalam hati sembari menatap pantulan tubuh Radha di kaca yang berada di depannya. Kaca itu tak dapat berbohong, dan Radha tak sadar akan hal itu.
*******
"Ayo turun," ajak Gian menarik pelan jemari Radha.
Waktunya makan malam, sudah pasti hal wajib jika ia sedang berada di rumah untuk makan bersama. Jika tidak tentu saja Jelita akan patroli keliling kamarnya.
Gian tak terima kala istrinya terlihat begitu cantik, padahal ia hanya menggunakan pelembab bibir yang bahkan tak berwarna, bibirnya yang memang cantik dari lahir semakin cantik dengan sedikit sentuhan lipbalm itu.
"Memang aku cantik, pertanyaan Kakak aneh."
Ia merasa tak ada yang salah dengan penampilannya, ia hanya memikirkan nasib bibirnya yang terasa begitu kering. Radha masih menatap suaminya yang seakan mencari kesalahan di wajahnya.
"Apa iya?"
Tanpa dosa Gian menghapus apa yang ada di bibir istrinya, ia menatap jemarinya, hanya berminyak dan tak berwarna sama sekali. Pria itu mengangguk beberapa kali dan kini mengembalikan apa yang telah ia hapus dengan menggosokkan pelan jemari yang ia gunakan untuk menghapusnya beberapa saat lalu.
"Benar-benar tak dapat di prediksi."
Radha membatin menatap suaminya, sangat tak bisa di simpulkan dengan kata-kata. Ia terdiam dan hanya menurut kala Gian mulai melangkah keluar kamar.
Menuruni anak tangga, Radha merasa gugup tiba-tiba. Sudah tentu Haidar juga berada di sana, ia mengenggam erat Gian entah apa yang ia takutkan.
Dan benar saja, pria tampan yang tengah berhadapan dengan kacaunya harapan itu menatapnya dari jauh, Haidar tak melepaskan pandangannya dari Radha yang terlihat sangat cantik di matanya malam ini.
"Lama sekali ya Tuhan," ujar Jelita mencairkan suasana, ia dapat menangkap situasi bahwa Gian dan Haidar mungkin masih tegang urat walau secara batin.
__ADS_1
"Maaf, Ma," sahut Gian melempar senyum manisnya, tak lupa pria itu meminta Radha untuk duduk di sisinya. Tepat di hadapan Haidar yang sedari tadi menatapnya.
Sungguh tatapan Haidar itu mengganggu Gian, ingin sekali ia tusuk mata itu dengan garpu yang ada di depannya.
"Bisakah kau berhenti menatapnya?"
Haidar berdecih sembari menatap Gian sekilas, hatinya masih miliknya, kenapa pria itu berkuasa seakan memang dia nyata pemilik Radha, pikir Haidar tak terima.
Ia tak menjawab, bahkan malam yang harusnya baik-baik saja harus di awali dengan hal gila semacam ini. Haidar memperhatikan setiap inci wajah Radha, hingga ia menangkap hal aneh dari Radha. Wanita itu terlihat sedang menahan sesuatu kala ia menyuap makanannya.
"Ra?"
Radha mengankat wajahnya, menatap balik Haidar yang sebegitunya khawatir akan hal yang terjadi padanya.
"Kau kenapa? Bibirmu ... kenapa?"
Haidar bahkan tak segan dan tanpa takut berdiri dan menyentuh bibir Radha dengan jemarinya, ia mengenali Radha begitu jelas, mana mungkin ia salah, pikirnya.
Brak!!
"Apa yang kau lakukan, Haidar?!!"
Melihat hal demikian tentu saja Gian tak diam, ia menghempas tangan Haidar yang dengan lancang memegang istrinya. Lagi dan lagi tegang, Raka hanya mampu memejamkan mata, harus bicara apa lagi dia, Haidar memang batu.
Ucapannya ketika ia pulang dari kantor ternyata tak juga Haidar realisasikan. Jelita mulai panik dan meminta kedua putranya untuk tetap tenang, sengaja ia duduk di sisi Haidar agar pria itu tak berbuat hal gila seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
"Katakan padaku, kau apakan dia?!! Kau menyakitinya kan?!" Emosi Haidar membuncah, sedikitpun ia tak pernah menyakiti Radha kala ia berada dalam pelukannya, jelas saja Haidar tak terima sama sekali.
"Lalu kau mau apa? Seujung kuku pun kau tak punya hak atas istriku!! Camkan itu!!"
Gian hendak berlalu, namun Raka sebisa mungkin menahannya. Kedua putranya benar-benar keras kepala, dan hal ini membuat ***** makan Raka hilang entah kemana.
"Bisakah kalian berhenti sesaat saja?!!"
"Haidar!! Apa kau terlalu bodoh untuk mengerti ucapan Papa?!"
Ya Tuhan, hanya karena satu wanita kedua putranya sekacau ini. Jelita diselimuti rasa bersalah, lama menanti kepulangannya, Haidar justru berperang dengan sakitnya kala ia kembali.
"Jangan ada yang berani meninggalkan tempat ini!! Dan kau Gian, tahan emosimu, jangan menjadikan istrimu sasaran amarahmu."
Gian terdiam, langkahnya yang hendak pergi meninggalkan ruang makan terhenti. Ucapan sang Papa membuatnya bertanya-tanya, apa mungkin Raka tahu apa yang ia lakukan.
"Kau ingat janjimu kan? Di depan Ardi kau berucap dengan bibirmu itu, Gian."
"Hm, maaf, Pa."
"Janji? Janji apa?," Dalam diamnya Radha masih mencari celah sebenarnya apa yang tengah mereka bahas, wajah Raka terlihat serius bahkan berhasil membuat Gian terdiam seribu bahasa.
__ADS_1
Memang dalam sebuah pernikahan, tak seharusnya orang tua turut campur. Namun untuk prihal putranya, Raka takkan tenang karena semua ini adalah kesalahannya. Namun, perlahan ia akan pastikan semuanya akan kembali baik.
............ Bersambung🕊