Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Manis Sekali


__ADS_3

"Masih mau di sini?"


Dengan setianya, Gian membiarkan istrinya menikmati suasana yang ia mau. Banyak anak kecil di taman ini, dan sejak tadi Radha duduk di bangku taman sembari bersandar nyaman di pundak Gian.


Suasana hari yang semakin sore, senja takkan lama lagi. Matanya masih saja terfokus menatap kehangatan keluarga kecil tak jauh dari sana. Ia mengangguk pelan, jawaban atas pertanyaan Gian sejak beberapa detik lalu.


Seragamnya bahkan masih membalut rapi, Radha tak peduli siapa yang memandangnya. Yang ia pikirkan hanya tenang, ia mencari damai usai goresan luka yang sang Papa sebabkan ketika ia berniat baik menuntaskan rindunya.


"Hm, baiklah jika kau mau," ujar Gian mengelus pelan surai hitam istrinya.


Meski, sudah kesekian kalinya beberapa orang mempertanyakan tujuan Gian membawa gadis SMU ke taman bermain anak-anak.


"Kak," ucapnya terdengar lesu, Radha dalam tatapan sendu ia terpaksa mengubur rindu, terutama untuk sang Mama yang mungkin takkan pernah ia kunjungi.


"Apa, Ra?"


"Kita ... apa akan jadi seperti mereka?"


Gian terdiam, mengikuti arah telunjuk Radha kala ia melontarkan pertanyaan. Senyum tipisnya tak dapat Gian sembunyikan, kenapa Radha mempertanyakan hal semacam itu? Apa mungkin maknanya ia juga mengingikannya, atau apa sebenarnya, pikir Gian menerka-nerka.


"Mereka?"


Pura-pura bodoh, ia tak mau terlalu percaya diri dan menganggap Radha memang benar menginginkan anak darinya. Menjadi sosok ibu dan juga istri yang Gian rasa tak mungkin Radha inginkan saat ini.


"Iya, mereka ... manis sekali kan?"


Ia mendongak, menatap manik indah Gian yang juga memperhatikannya. Wajah polos Radha membuat Gian terpukau sesaat, ia diam sembari meneliti makna tatapan itu.


"Kakak, aku bertanya."


"Ah? Iya, sangat manis, kau mau?"


"Hm, mau."


Cup


Geplak!! Bukan itu yang dia maskud, dasar tidak waras, bagaimana bisa Gian mengecup keningnya tiba-tiba. Walau masih tergolong aman, tetap saja ia menjadi perhatian dari pandangan yang tak sengaja menatapnya.


"Hahaha, kau bilang mau."

__ADS_1


"Ya tapi bukan itu maksudku," celetuk Radha begitu kesalnya, ingin ia colok kedua mata Gian yang kini begitu genit dengan sengaja menatapnya semakin dekat.


"Oh, bukan ... hm lalu, apa yang kau mau, hm?"


"Lolipop itu sepertinya sangat manis, aku mau itu, Kak!! Now ...."


Gian menarik sudut bibir, ia tarik paksa pergelangan tangan sang Istri agar kembali duduk di sisinya. Gian paham istrinya tengah berusaha lari dari pembicaraan, dan takkan ia berikan kesempatan untuk Radha menjauh kali ini. Karena pembicaraan yang bersifar serius dari Radha sendiri adalah hal paling langka dalam hidup Gian.


"Aww, sakit."


"Maaf, tapi kau belum menjawab pertanyaan Kakak dengan benar."


"Huft, apa lagi? Kan tadi sudah aku jawab, Kak."


"Hm, itu bukan jawaban yang sesungguhnya, Zura, ayo katakan apa sebenarnya yang kau maksud."


"Lupakan, aku tidak bicara apa-apa."


Dari banyaknya jalan, pura-pura marah adalah cara Radha untuk membuat Gian diam. Meski ia terpaksa kembali duduk di sisi sang suami, minumannya belum habis, bahkan baru berkurang sangat sedikit. Dan tentu saja amarah yang terlintas membuatnya menegak minuman itu hingga tandas.


"Zura, jangan terlalu banyak, kau bisa gendut nantinya."


Ia begitu sensitif dengan kalimat itu, entah mengapa bak hinaan satu kampung menyerbu dirinya. Ia tak lebay, hanya saja memang sedikit sensian. Terlalu lama menghabiskan waktu di sana, Radha mengantuk dan menguap tanpa ia sengaja.


"Astafirullah, Zura ... tutup, kau mau lebah bersarang di mulutmu?" tanya Gian gemas sembari menutup mulut Radha dengan telapak tangannya, pasalnya istrinya menguap layaknya di rumah dan tak peduli bagaimana lingkungannya.


"Ah kakak lebay, kalau ada lebahnya nanti mulutku manis dong," ujar Radha yang lagi-lagi memancing pria dewasa itu berpikir tak beres.


"Ayo pulang, di sini bahaya, Sayang."


"Bahaya? Bahaya apanya, Kak?"


"Hm, aku tak bebas ... bisa-bisa besok kita bisa viral akibat mesuum di tempat umum." Jawaban paling jujur Gian, karena memang ia berpikir yang macam-macam dari setiap kalimat Radha yang bersifat memancingnya.


"Ih, Kakak saja yang viral, toh aku tidak mesum sama sekali."


"Heh!! Sembarangan kau ini," sergah Gian lantaran istrinya mengejek dengan begitu puasnya.


*******

__ADS_1


"What? Ngapain mereka di sini? Mampuus!! Bisa mati gue di wawancara si Nisa."


Gian tampak kebingungan, seharusnya ia berjalan santai karena mereka hendak pulang dan kembali ke mobil. Namun sikap Radha yang tiba-tiba bersembunyi di balik tubuhnya jelas membuat Gian penasaran.


"Kau ini kenapa?" tanya Gian heran lantaran istrinya lebih mirip kucing yang hendak melahirkan.


"Gawat, Kak ... ada mata-mata," ujarnya semakin menimbulkan tanya.


"Mata-mata apa?"


"Mata-mata ajaib, Kak!! Kita bisa habis dan aku akan menjadi sasaran amukan mereka."


Gian menghela napas kasar, meski tak begitu kenal ia mengetahui salah satu di antara mereka adalah teman Radha. Dan tatapannya begitu sinis kala menyadari sosok anak itu berada di paling belakang.


Abian, wajah tampan yang tidak tampan sama sekali bagi Gian itu terlihat menyebalkan. Entah dalam acara apa mereka berada di sekitar sini, namun yang jelas takkan ia biarkan istri cantiknya di lirik Abian sedikit saja.


"Cepat sini," ujar Gian menarik istrinya dalam pelukan.


Meski Radha tersiksa lantaran tak mampu melihat jalan, Gian membuat istrinya bak seorang narapidana yang tengah berlindung dari para wartawan.


Tak jauh dari apa yang mereka lakukan, pemilik mata tajam yang menatap penasaran itu menghentikan langkahnya. Ia membiarkan teman-temannya untuk lebih dulu berlalu, walau sebenarnya mereka tak sengaja bertemu, namun ia memilih ikut ketika nama Radha menjadi buah bibir para teman-temannya.


"Apa mungkin dia?"


Abian menatap jauh, tas gendong dan sepatu yang gadis itu pakai sangat familiar. Walau keberadaan pria yang tak dapat ia lihat dengan jelas wajahnya itu membuat Abian cukup penasaran.


"Bian!! Ck, buruan! Ntar kesorean," teriak Nisa yang sedikit sebal lantaran pria itu berhenti tanpa bilang-bilang, padahal sudah jelas dialah yang meminta bergabung hanya karena penasaran prihal Radha.


"Kalian aja, gue pulang!"


"Nyebelin banget sih!! Kenapa gak bilang dari tadi, Bian!!"


Suara Nisa cukup melengking, mengejutkan beberapa orang di sekitar. Dan Radha yang sayup mendengar teriakan sahabatnya semakin mempercepat langkah.


Sialnya, Abian telah menangkap sosoknya walau Radha tak menyadari kebaradaannya. Dengan tanya yang semakin meluas, ia heran dengan seragam Radha. Berbeda dan sudah dipastikan itu bukan sekolah sembarangan.


"Mobil itu lagi, sebenernya apa yang elo sembunyiin dari gue, Ra."


Takkan pernah ia lepaskan, dengan inisiatifnya walau telat, Abian berlari hendak mengambil motornya. Ia berusaha untuk membuntuti gadis yang ia yakin 100 persen adalah Radha, pujaan yang sejak beberapa hari lalu ia nantikan keberadaannya.

__ADS_1


............Bersambung❣️


__ADS_2