Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 278. Bidadari


__ADS_3

"Pengantin baru, yang nikah siapa yang bulan madu dadakan siapa," ujar Andra menyambut kedatangan Gian, wajah Radha terasa tebal lantaran kini mendapat ejekan dari Andra.


"Hahah, kenapa memangnya, Om?"


Sudah dia duga, mana mungkin Gian punya malu. Sama sekali memang dia tak punya rasa itu. Radha sudah berpura-pura tak mendengar dan mengalihkan perhatian pada kedua buah hatinya.


"Sabar ya, Ra," bisik Rhania mengedipkan matanya, padahal dia juga turut tertawa mendengar ucapan suaminya.


Hanya senyum tipis Radha berikan, wajahnya sudah memerah. Sungguh rasanya sangat malu kini, seakan dia adalah pengantin baru yang tengah disambut keluarga suami di pagi hari.


"Kama ngantuk kayaknya, Ra, tidurin gih."


Kama memang anak yang baik, dia sangat paham keadaan mamanya. Mata putranya terlihat sendu, belum lagi sejak tadi Kama mulai menguap.


Setidaknya dia bisa pergi dari tempat ini bersama Kama. Sementara Kalila masih betah menghabiskan waktu bersama mereka, apalagi di ruangan ini Gian ikut bergabung.


"Istrimu cantik sekali, wajar saja kau seakan tak peduli ada aku di sini, Gian."


Andra tak menyangka kini Gian sudah sedewasa ini, rasanya baru kemarin dia mendapatkan keponakan gila ini. Kehadiran putra Raka yang dulu sempat menjadi kejutan dan seakan menjadi harta paling berharga bagi keluarga Wijaya, kini Dirgantara Avgian benar-benar tumbuh menjadi pria yang bertanggung jawab.


"Om bisa saja, aku hanya tidur, tidur di kamar Haidar hanya membuat kepalaku semakin sakit," ucapny benar-benar tak tau diri, Haidar yang berada di dekatnya hanya menatap nyalang sembari berdecak kesal.


"Dasar gila, kau yang memaksa masuk dalam kamarku, aku tidak memintamu sama sekali ya, Kak."


Entah kapan putranya bisa damai, meski sekarang mereka bukan perang dingin yang saling menyakiti. Akan tetapi perdebatan mereka memang tiada hentinya, entah karena berebut Kama dan Kalila ataupun karena masalah lainnya.


"Terserah, yang jelas kamarmu tidak nyaman."


Benar-benar tidak tahu balas budi, padahal Haidar sudah baik hati mengizinkannya tidur bersama. Akan tetapi kini pria itu begitu santainya berucap sembari hendak meraih satu batang rokok milik Andra.


"Zura, Gian merokok," teriak Haidar dan membuat pria itu panik, segera ia lepaskan rokok itu dan duduk menghimpit Haidar.


"Sssstttt, Haidar?!!"


Dia tidak sadar jika istrinya tak lagi berada di dekatnya. Gian setakut itu, hanya karena niatnya menyesap satu batang rokok itu diam.


Perintah Radha perihal itu memang sudah sangat lama, dan istrinya tak memberikan toleransi sedikitpun saat ini. Mengingat kini dia sudah punya anak, dan Radha tak mau jika nanti kedua buah hatinya justru bau rokok.


"Dasar aneh, kalau mau lakukan saja," tutur Haidar yang kini seakan mengejeknya suami takut istri, dan memang nyata dia takut.


"Gian perokok?" tanya Andra menatap heran keponakannya, mengingat Raka bukanlah pria seperti itu, lantas dari mana Gian bisa memiliki kebiasaan yang tak seharusnya itu.


"Enggak, Om ... hanya sesekali," jawab Gian santai, sadar jika tatapan Andra menunjukkan rasa tak percaya.


"Ck, papamu saja tidak lagi, kenapa kau masih begitu? Belajar dari mana kau, Gian, papamu tidak melarang?"


Raka menghela napas panjang, bukan tak melarang, tapi memang putranya itu keras kepala dan kerap mencuri kesempatan dengan berbagai cara.


"Dia sudah dewasa, Andra ... dan aku tidak sesabar itu menasehati umbi-umbian seperti dia."


What? Gian menganga, sedangkan Haidar susah payah menahan tawa. Ternyata papanya diam-diam menghanyutkan, bahkan ucapannya lebih menyakitkan.


"Pa?"


"Hm, Andra ... apa kau tidak berpikir untuk kembali ke sini?"


Baru kali ini, Gian merasa tak dianggap. Raka mengalihkan pembicaraan tiba-tiba tanpa mendengar Gian lagi. Dan kini, Andra dan Raka benar-benar berbincang layaknya tidak ada pria itu di sini.


-


.

__ADS_1


.


.


Seharian, Gian hanya duduk di depan televisi. Menikmati kue bawang yang sejak tadi ia peluk. Menikmati waktu bersantai sepertinya, bersama Kalila yang kini bersamanya, mereka terlihat seperti anak dan papa yang begitu manis.


"Kalila lebih suka papanya ya, Ta?"


Rhania menangkap hal unik sejak dia berada di rumah ini. Kama lebih kerap bersama Haidar ataupun Jelita dan Raka, sedangkan Kalila mutlak miliknya dan tidak ada yang boleh mengambil alih selagi ada dirinya.


"Iya, Kama kabur-kaburan kalau sama Gian, cocok lah mereka."


Gian sayang mereka, akan tetapi memang tak mungkin dia memegang keduanya, terutama saat ini anaknya sudah seaktif itu.


Dan begitu sebaliknya, Kama kecil kadang lebih memilih ikut orang lain daripada berdiam bersama papanya. Jika terlalu lama, tangan gempalnya akan bergerak memberi Gian pelajaran.


"Lucu sekali, mereka terlihat sangat bahagia," tutur Rhania kagum, interaksi mereka terlalu manis untuk dikatakan manusia.


Begitu manis terlihat di mata orang lain, padahal nyatanya kini Gian tengah meringis lantaran Kalila menggigit perutnya.


"Astaga, nakal sekali ... Kalila kenapa, hm?"


Sungguh, hal yang paling Gian herankan. Kama dan Kalila sama-sama tengah mengalami pertumbuhan gigi. Akan tetapi kenapa Kalila seganas ini, meski tidak luka tetap saja giginya itu membuat sakit.


Jika Gian tutup perutnya, Kalila akan marah dan berteriak dengan segala jurusnya. Masih sekecil ini tapi Kalila sudah ahli, tawa renyahnya ketika berhasil menggigit Gian membuat pria itu bergidik.


"Jauhkan kepalamu, Kalila! Aaawww ... Ra, tolong dong, cuma diliatin."


Bukan hanya perut, kini Kalila justru mencari target lain, dan tentu saja gigitan itu semakin kuat. Gian bahkan meringis menahan sakit akibat salah satu asetnya jadi korban keganasan gigi Kalila.


"Sayang, jangan digigit papanya," tutur Radha lembut, namun percayalah itu dia lakukan ketika sudah puas dengan tawanya.


Tak tahan, Radha yang terlahir sebagai kaum receh jelas saja terbahak mendapati putrinya melakukan hal demikian. Sebagai ibu yang menyusui memang Radha kerap merasakannya, akan tetapi sepertinya Gian lebih berasa.


"Nggak tau, perih banget, Ra."


Gian membuka bajunya agar bisa melihat dengan jelas, sempat berpikir nantinya akan putus karena gigitan Kalila tak main. Ia terlalu gemas atau kesal, pikir Gian.


"Sesekali, Kak, aku sering dia gigit."


Menormalisasikan hal semacam itu, Gian menatap heran Kalila yang justru berani menatapnya tanpa dosa, lahir sebagai anak perempuan dan sebar-bar itu, sedangkan Kama juga demikian.


"Satunya main pukul, satunya main gigit ... kalian kejam sekali," keluh Gian mencebikkan bibirnya, anak-anaknya tumbuh sebagai preman.


"Maaf papa ...." Tentu saja kalimat itu Radha yang mengungkapkan, mana mungkin Kalila yang minta maaf.


"Heih Kalila, dengerin Papa sini ... ini nggak ada isinya, Sayang, punya mama baru ada."


Penjelasan halus dan hanya mendapat senyum lebar dari Kalila. Giginya yang mulai terlihat itu memang menggemaskan, tapi percayalah itu sangat menyakitkan.


"Senyam senyum, Papa marah tau nggak?"


Tidak!! Kalila terlalu gemas, pria itu sudah luluh bahkan ketika rasa sakit itu masih ada. Dan Radha hanya menarik sudut bibir kala Gian mengacak rambutnya, ia tahu itu sakit akan tetapi Gian tak bisa membalasnya.


-


.


.


.

__ADS_1


Di kediaman Randy, suasana tengah hangat-hangatnya. Caterine yang biasanya bangun paling siang kini sedikit lebih pagi lantaran ada kehadiran Hulya sebagai mamanya.


"Morning, wah aku kesiangan ya, Ma?"


Hulya yang belum terbiasa, kaget dengan kehadiran Caterine. Umur mereka masih cocok menjalin hubungan sebagai teman, menjalani peran sebagai istri dan ibu sambung dari Caterine adalah sesuatu yang tak main-main.


"Pagi, enggak kok."


Hanya senyum tulus dan ucapan selembut itu, Hulya mencoba untuk tidak gugup. Di antara Jelita saja dia cukup malu, apalagi kini tiba-tiba Randy keluar dari kamar dan menghampirinya.


Cup


"Ih Papa!! Ada aku di sini, nggak liat atau gimana?!"


Caterine terkejut dengan kehadiran Randy yang tiba-tiba menghadiahkan kecupan di wajah Hulya, iya memang istrinya, tapi kan di sini ada putri cantiknya, pikir Caterine.


"Kenapa? Kamu mau juga Papa cium?"


"Enggak, makasih ... emang paling bener harusnya aku ikut Radha ke rumahnya."


Seharusnya Hulya yang malu ini justru berbalik, Caterine memerah dan berlari ke ruang tamu. Entah mau apa dia, yang jelas mungkin dia merasa terganggu.


"Pagi, kenapa nggak bangunin aku?"


Ini adalah pagi yang ketig setelah mereka sah sebagai suami istri. Hulya masih merasa gugup, apalagi kala sepasang mata indah itu menatapnya begitu lekat.


"Aku pikir kamu masih ngantuk, dan juga ini masih pagi."


Jawaban yang masuk akal, Hulya sedikit bergetar dan Randy menarik sudut bibir. Wajah imutnya tetap mempertahankan hijabnya, padahal di rumah hanya ada Randy dan juga Caterine.


"Begitu kah?"


Sudah lama Randy tak menggoda, dan wanita di depannya ini terlalu lucu untuk digoda. Mungkin karena tidak pernah berhubungan dengan pria lebih dalam sebelumnya membuat Hulya bahkan tak berani menatap manik suaminya.


Hanya mengangguk, sarapan kali ini sudah siap, tapi kenapa dia justru bingung harus melakukan apalagi. Berada dalam pengawasan Randy hanya membuat sendinya kaku.


"Hulya," panggil Randy sembari menatap lekat wajahnya.


"Iya, Mas?" Sedikit kaku, namun tetap berusaha untuk bisa mengimbangi Randy.


"Sayang," panggilnya lagi dengan sengaja berbisik karena jarak mereka sedekat itu.


"Iya ... apa, Mas?" sahut Hulya kian gugup, panggilannya berubah dan detak jantungnya seakan tak bisa diajak kerja sama.


"Buahahahah, kamu benar istriku kan?"


Pertanyaan konyol, Randy salah tingkah namun berhasil membuat Hulya lebih salah tingkah. Rona merah di wajahnya makin menjadi, Hulya menggigit bibirnya dan tawa Randy sama sekali tak lucu.


"Kenapa nanya gitu?" Hidup Hulya yang terlalu serius sedikit kaget dengan Randy yang dikit-dikit tertawa.


"Bingung aja, aku pikir bidadari." Gombal tahun kapan itu, masih saja setia Randy bawa.


"Apasi, Mas."


"Coba Mas liat matanya sini," ucapnya meraih wajah Hulya, seperti mereka kurang dekat saja, padahal sudah sedekat itu.


"Mau apa?" tanya Hulya panik, ia takut jelas saja, apalagi kini Caterine tak berada di dekat mereka.


"Memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi, dan meyakinkan wanita yang ada di depanku ini memang milikku."


Ucapannya tulus, mendapatkan Hulya yang tiba-tiba dan bersatu dalam ikatan suci secepat itu seakan masih menjadi mimpi bagi Randy.

__ADS_1


đź’™


__ADS_2