Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Dia Adikku


__ADS_3

Senyum itu kian hangat kala wanita cantik dengan hijab yang begitu anggun itu mendekatinya. Radha sesaat terdiam, kagum hingga mulutnya melongo lantaran wanita itu benar-benar menggetarkan hatinya.


Jika ia lihat, wanita itu tampak seumuran dengan Gian. Dewasa namun kecantikannya luar biasa, jika mereka tengah bertiga sudah pasti orang akan mengira Radha keponakan dari salah satu di antaranya.


"Apa kabarmu, Ulya?"


Gian kini berdiri, menyambut kedatangan wanita cantik berdarah Aceh itu. Cantik, bahkan bisa dikatakan Gian tertarik, dulu beberapa tahun lalu lebih tepatnya.


"Alhamdulillah baik, Mas, bagaimana denganmu?"


Jawaban yang sama Gian berikan, sedang Radha hanya menatap dua orang dewasa yang kini tengah berbincang secara bergantian. Wajah polosnya tak dapat dibohongi, benar-benar lucu.


Bahkan ia masih saja memperhatikan wajah ayu Ulya kala wanita itu mengajaknya duduk di sofa, rasanya tidak nyaman jika berbincang dengan berdiri, pikir Ulya.


"Air liurmu hampir jatuh, Ra," ujar Gian tiba-tiba seraya menyentuh bibir Radha yang masih saja melongo.


Malu, secepat mungkin ia menepis tangan Gian. Benar-benar kurang ajar, pikirnya. Bagaimana bisa Gian rela menjadikannya bahan lelucon saat ini, bahkan beberapa pengurus panti di buat keram perut lantaran ulah Gian yang membuatnya malu.


"Hahah ya Allah, Mas, siapa yang kau bawa, kenapa lucu sekali."


Ulya tak mampu menahan tawa kala Radha menginjak kaki Gian sekuat tenaga. Mungkin bentuk protesnya lantaran Gian menjadikannya bahan lelucon.


"Seingatku ... Mama tidak punya anak perempuan, siapa dia?"


Pertanyaan itu sejenak membuat Gian terdiam, ia gamang hendak menjawab apa. Menatap sekilas Radha yang juga turut terdiam bersandar di sofa, Gian menarik napas perlahan, tak ingin jawabannya melukai salah satu pihak.


Ulya yang begitu antusias menanti jawaban Gian bahkan memicingkan mata lantaran Gian benar-benar memgundur jawabannya.


"Dia adikku," jawab Gian singkat sembari merangkul bahu Radha.

__ADS_1


Senyum itu, Radha tidak menyukai senyuman Ulya yang menjadi jawaban dari ucapan Gian. Sungguh ia tak suka, entahlah, seketika anggapan bahwa wanita itu cantik dan anggun gugur begitu saja.


Sedikitpun ia tak sakit dengan pengakuan Gian tentangnya, sama sekali tidak. Hanya saja mengapa yang tampak merdeka di sini adalah wanita itu, pikir Radh melayang jauh mencari jawaban.


"Oh adikmu, sudah kuduga."


Radha hanya tersenyum kaku kala Ulya membelai rambutnya, ah sangat lebay, bahkan papanya saja tak pernah melakukan hal semacam itu, pikir Radha memutarkan bola matanya malas.


Perbincangan Gian dan Ulya begitu menyatu, berbagai hal dan hanya mereka yang paham. Sedangkan Radha kini mengalihkan perhatian pada dua bocah yang sempat memanggil Gian Papa.


Entah untuk apa, hanya saja kali ini ia sedang meneliti setiap inci wajah suaminya. Tentu saja ia samakan dengan raut wajah kedua anak kecil itu, sejenak Radha menggeleng sembari menghela napas kasar.


Tidak ada kesamaan, pikirnya. Ia tenang sesaat, tidak ada yang aneh meski sudah berkali-kali ia pastikan. Pun dengan Ulya, dalam secepat itu Radha memanfaatkan waktu, murni dua anak itu tampak bukan putra dari salah satu orang dewasa di sisinya itu.


"Oh iya, berapa tahun umurnya, Mas?" tanya Ulya kini mengalihkan pembicaraan dan beralih membahas Radha.


Radha tak jua menjawab, toh yang ditanya bukan dia, pikirnya. Sedari tadi begitu banyak canda tawa, dan setelah habis pembahasan ialah yang dibawa-bawa. Sungguh menyebalkan, gerutu Radha yang sudah mulai tak betah berada di tempat ini.


Gian menatap dalam manik Radha, terdengar begitu tulus dan ikhlas. Seakan rasa sayang itu terpancar dalam diri Gian, dan ia memperlihatkan pada Ulya seberapa berbedanya hubungan mereka.


"Iya, kau benar. Dia memang cantik," ujar Ulya mengangguk berulang kali. Baginya pujian Gian hanya untuk seorang anak kecil, tak perlu dipertanyakan.


Terserah, mereka mau membahas apalagi Radha tak peduli. Kini ia memilih berlalu dan berkeliling di sekitaran panti. Ia suka, semua yang berada di tempat ini begitu ramah. Suasana yang masih terkesan pedesaan tenang membuat Radha sejenak melupakan kekesalamnya.


Entah itu pada Gian yang semakin menyebalkan, atau pada Haidar yang sejak beberapa hari lalu benar-benar tak ada kabar. Dalam tekadnya, Radha berjanji akan membuat Haidar menderita, cukup sabar ia menanti kepulangannya.


Berapa banyak waktu yang Radha habiskan hanya untuk menanti kehadiran Haidar. Namun sayang, walau ia telah memaksa Haidar pulang untuk pertemuan terakhir tetap saja Haidar lagi-lagi ingkar janji.


Radha tersenyum kecut, seberapa besar cintanya hanya sia-sia. Terkadang ia tak menyesali perjodohan yang membuatnya menyatu dengan Gian, karena dengan cara ini mungkin akan memberikan pelajaran berharga untuk kekasihnya itu.

__ADS_1


Satu menit, dua menit, hingga sepuluh menit berlalu Radha memejamkan matanya mencari ketenganan. Dering telponnya membuatnya terperanjat kaget lantaran volumenya yang terlampau besar.


Radha merogoh saku celananya, mengusap layar gawainya dan kini ia menghembuskan napas perlahan. Haidar memanggil, ingin rasanya ia berteriak kencang, mengapa baru sekarang, kemana saja kemarin, berbagai pertanyaan memburu tertahan di tenggorokannya.


"Hallo,"


Seformalitas itu, Radha menyapa seakan tidak memiliki hubungan dekat sama sekali. Hendak di katakan ngambek, bukan eranya lagi. Bahkan hal semacam itu takkan berguna lagi untuknya saat ini.


"Sayang, kau dengar Kakak? Kau ada dimana? Zura, kau tau seberapa kacau aku kemarin?!!"


"Satu-satu, Kak."


Radha berucap begitu halus, meski kini kemarahan memburu di benaknya. Namun ia sadar, seberapa besar ia marah nasi sudah menjadi bubur. Terlambat sudah!!


"Baiklah, Kakak mulai."


Haidar mulai bercerita panjang lebar tentang mengapa akhirnya ia memilih pulang, betapa rindunya dia dan sungguh ia masih berharap akan pertemuan menyatukan. Radha lagi-lagi tersenyum kecut, jika ia dengar dari suaranya, Haidar sesenang itu bisa menghubunginya.


Terlampau fokus Radha tak menyadari kehadiran macam yang kini tengah mendekat tanpa suara sedikitpun. Gian, pria itu berjalan pelan dengan tangan yang ia masukkan ke saku celana. Hilangnya Radha terlalu lama, karena itulah ia memilih untuk mencarinya.


"Zura," panggil Gian membuat Radha terperanjat kaget. Ia terkejut bukan main, jarak mereka terlalu dekat, bahkan sangat amat dekat.


Ponselnya kini ia abaikan sejenak, tak peduli seberapa banyak Haidar berusaha memanggilnya di seberang sana.


"Telpon dari siapa?" tanya Gian menatap tajam Radha, pria itu menatap Radha seakan hendak mengulitinya inci demi inci.


Ia bukan takut, hanya saja ia tak pernah tahu bagaimana Gian dalam memperlakukan seseorang jika orang itu ia anggap salah. Radha tak ingin kejadian seperti di rumah beberapa hari lalu terulang lagi, jika Gian memilih tak peduli tentangnya habislah dia.


"Zura, jawab Kakak."

__ADS_1


Takkan ia lepaskan sedikitpun istri kecilnya ini, baginya Radha telah membuat perangkap sendiri dan menyeretnya dalam masalah tanpa sadar.


Tbc


__ADS_2