Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Ketakutan Radha


__ADS_3

“Duh, kak Haidar ngadu gak ya? Mati gue kalau dia beneran bilang, lagian ngapain pakek acara nemplok segala sii.”


Wanita itu mondar mandir tak jelas layaknya setrika panas. Ketakutan akan hal itu membuatnya sama sekali tak tenang. Seberapa marahnya Gian dan hukuman apa yang nanti akan ia dapat jika Gian benar-benar marah selalu menjadi tanya sejak tadi.


Sudah hampir setengah jam dan Gian belum juga Kembali, bagaimana keadaan Haidar hingga suaminya itu tak usai dalam waktu yang singkat.


“Ck, lama banget lagi … apa tulangnya ada yang patah ya? Mampush kalua beneran, mama marah gimana,” celotehnya sembari berkali-kali menatap pintu berharap Gian akan segera muncul dari balik pintu itu.


Selain ketakutan akan marahnya Gian, ia juga takut Jelita akan berubah karena membuat putranya celaka. Radha tak ingin kehilangan sosok itu, baru saja ia mendapat kasih sayang seorang ibu, dan jelas ia tak rela jika karena hal yang tak ia sengaja membuat kasih sayang Jelita berkurang.


Tok tok tok


“Ra.” Panggilan itu terdengar jelas lantaran kamarnya memang begitu sunyi, tak menunggu lama Radha segera berlari dan meraih handle pintu itu.


“Kak, kenapa lama?” tanya Radha cemas dengan suara yang sedikit bergetar karena ketakutannya makin menjadi, sungguh menatap manik elang suaminya itu Radha semakin kalut.


“Hm? Tak apa, kau kenapa?”


Gian menatap kejanggalan di wajah istrinya, dadanya memanas tiba-tiba. Tampaknya Radha mencari sosok lain yang masuk Bersama dirinya, dan kecemburuan yang masih saja berkuasa tanpa mampu ia kendalikan itu jelas menafsirkan bahwa yang Radha cari adalah Haidar.


“Dia di kamarnya, kau mencarinya kan?”


Radha menggeleng cepat, yang ia cari bukan Haidar, melainkan Jelita. Ia berharap mertuanya itu akan ikut Bersama Gian dan menanyakan keadaannya. Karena memang walau posisi Haidar yang terbentur cukup kuat, dirinya juga tetap merasakan sakit.


“Mama,” jawab Radha dengan wajah sendunya, beberapa kali kerap terjadi hal-hal yang melukainya Jelita selalu ada, namun tidak untuk kali ini.


“Mama bersama Haidar, anaknya lagi manja … kau bersamaku saja,” tutur Gian sembari menarik pergelangan tangannya.


Radha tersenyum lega, setidaknya Gian kini tak marah. Ia tak menolak kala pria itu mengajaknya naik ke tempat tidur. Wajah Gian yang menenangkan membuat Radha dapat bernapas tanpa ketakutan, karena bagaimanapun lembutnya Gian trauma akan kemarahan pria itu masih membekas dalam diri Radha.


“Kau tidak apa-apa kan? Apa ada yang sakit?”


Pertanyaan Gian ia jawab hanya dengan gelengan sembari tersenyum manis, maniknya begitu jujur, dan kekhawatiran suaminya itu memang benar-benar nyata.


“Kenapa tadi harus lari sekencang itu, Ra? Kalau kau berhati-hati mungkin cecunguk itu takkan bersentuhan denganmu.”

__ADS_1


Layaknya orangtua yang khawatir bagaimana keadaan putrinya, Gian bertanya sebegitu lembutnya. Yang ia sesalkan bukan kejadian yang membuat adiknya terluka, melainkan hal itu membuat Haidar sedikit meredakan rindunya.


“Aku tidak tahan, Kak, sudah di ujung tanduk … untung saja belum terlambat,” ujarnya terlihat begitu lega, walau tetap saja tragedi itu cukup menghalangi jalan Radha menuntaskan keinginannya.


“Sebentar,” ucap Gian menyadari ada yang salah, kening istrinya terlihat sedikit merah, dan bisa dipastikan itu terasa sakit karena terlihat seperti goresan benda tajam.


“Aaakh, perih, Kak.”


Benar saja, nyatanya memang perih, Gian menatap teliti luka gores itu. Seingat dia Radha tak berjumpa seekor kucing sejak awal liburan, dan juga sepertinya di pantai luka itu belum ada.


Jelas saja ia berpikir keras, jika sebelumnya taka da kemungkinan yang menyebabkan luka itu ada, maka pasti luka itu ia dapat karena tabrakan maut istrinya bersama Haidar.


“Kenapa bisa? Ini bukan karena pecahan gelas kan, Ra?”


Ia hanya takut jika itu adalah luka akibat pecahan gelas yang juga membuat adiknya terluka. Walau tak sebesar itu yang namanya luka, bagi Gian tetap saja akan sama sakitnya.


“Bukan, Kak, aku tidak tau ini karena apa,” jawab Radha seadanya, karena memang ia tak mengetahui sebab pasti lukanya itu, namun yang jelas memang usai dirinya terjatuh bersama Haidar luka itu ada.


“Ck, pasti karena anak itu.”


“Tidak salah lagi, pasti karena kalung anak kecil itu.”


Pria itu mengeraskan rahang, segera ia beranjak dan akan menyingkirkan kalung Haidar yang berliontinkan pedang kecil yang sama sekali bukan seleranya itu. Namun belum berhasil membuka pintu kamar, Radha meraih pergelangan tangannya dan meminta pria itu untuk Kembali duduk dengan tenang.


“Aku harus memusnahkan benda sialan itu,” tutur Gian menatap Radha dengan manik tajamnya.


“Benda sialan apa? Lagian lukanya cuma kecil, Kakak jangan berlebihan.”


“Tapi istriku terluka karena itu,” ucapnya seakan tak ikhlas goresan sebesar benang jahit itu berada di kening mulus istrinya.


“Tapi kan gak ada darahnya, gapapa dong,” jawab Radha setengah bercanda berharap Gian akan memilih kalah dan mengabaikan luka itu.


“Tetap saja itu luka, hatiku menangis melihatnya,” tambahnya lagi yang berhasil membuat Radha tersenyum lebar kali ini.


“Besok juga hilang, Kak, tak perlu sekhawatir itu.”

__ADS_1


Ya memang dia berlebihan, bahkan mungkin jika ia bisa debu yang membuat kulit Radha ingin ia hajar juga. Pria itu menarik napas perlahan, amarah lantaran sempat adu mulut berama Haidar beberapa saat lalu menjadi salah satu alasan pria itu berambisi menghancurkan benda kesayangan Haidar.


“Ehm, Kak … aku boleh tanya?”


“Boleh, tanyakan saja,” jawab Gian yang tetap saja fokus meniup luka Radha begitu pelan.


“Kak Haidar bagaimana?”


Gian berhenti sejenak, nama itu keluar dari bibir istrinya. Dan pertanyaan itu bentuk khawatir Radha pada adiknya, pria itu menatap lekat Radha yang tampak menyesal memberikan pertanyaan itu padanya.


“Sudah baikkan, lukanya sudah di bersihkan dan juga Kakak obati dengan bantuan Mama,” jawab Gian biasa saja layaknya memberi penjelasan pada umumnya.


“Huft, syukurlah … aku merasa bersalah, Kak.”


“Tak apa, bukan salahmu, Zura … salah dirinya sendiri kenapa berdiri di depan pintu,” tutur Gian membuat Radha tergelitik, sungguh jika terus begini ia tak dapat menahan tawa lebih lama lagi.


“Tapi tetap saja itu kar ….” Belum usai bicaranya, Gian menempelkan telunjuk di bibir istrinya, pertanda bahwa istrinya harus diam tanpa boleh berucap lagi.


“Shuut, kau tidak salah, paham?”


Tak ingin berdebat, Radha hanya mengangguk menanggapi perkataan Gian. Baginya mengalah lebih baik, dan pria ini memang akan selalu menang dengan argumennya.


“Makasih ya,” ucap Radha tiba-tiba ketika Gian hendak berlalu ke kamar kecil di sudut kamarnya.


“Untuk?” Gian menghentikan langkah, menoleh sekilas dan menatap istrinya dari jarak yang tak begitu jauh.


“Hari ini,” jawab Radha melukis senyum tulus, baiknya Gian, lembutnya Gian dan bagaimana Gian memperlakukannya akan terus menjadi alasan Radha berterima kasih.


“Sama-sama.” Gian membalas senyumnya, walau entah kenapa Radha berucap demikian terasa sedikit aneh baginya.


……… Bersambung❣️


Wait ya, baca dulu ini. Buat yang risih banget sama Haidar masih stuck di situ-situ aja, sabar ya, Wak. Ini waktu dalam kehidupan mereka belum selama itu, Randy aja sampe tua kagak risih ente"😂 Itu udah ya, dia juga udah sadar posisi dia siapa, Radha siapa, bukti dari cara dia bilang ke Gian kalau ini kesalahan bini Kakaknya. Selagi gue ga buat Haidar balik lagi mau rusak rumah tangganya gue rasa gapapa ya. And then, gue gabisa dong buat tiba-tiba dia lupa dan bahagia, kalau saat itu udah ada ya artinya end ni cerita. Mereka dah hampir end kok santuy gak bakal bosen lagi, Love You❣️ Terima kasih buat yang vote, huuu pasangan ini belom pernah dapat segitu ewkwkwk jadi norak die gaes😂


Fyi niatnya mau crazy up kemaren, tapi keknya ga jadi, up biasa aja aja ntar yu' pada komen bosen bacanya kalau up banyak".

__ADS_1


Saranghaee ughteaaa❣️


__ADS_2