Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 180. Perlahan Membaik


__ADS_3

Meninggalkan hiruk pikuk dan megahnya pesta Celine, di sebuah ruangan lain, Maya tengah membereskan pakaian suaminya. Terkadang ia tersenyum kelu, mengingat cara Wira mencintainya.


Radha, sempat bertemu dengannya walau sesaat justru membuat Maya semakin rindu. Entah bagaimana kabarnya saat ini, namun yang jelas Maya yakin Radha tengah bahagia bersama Gian.


Ia percayakan semua pada Gian, dan juga ia yakin Jelita akan memperlakukan putrinya dengan baik. Radhania Azzura, nama yang dulu ia sematkan untuk putrinya, berharap akan putrinya akan secerah birunya langit. Meski sadar dia sendiri yang membuat hidup Radha dipenuhi awan hitam.


"Mama."


Suara itu lembut menyapanya, Arunika yang kini mulai mengerti perihal dunia ia paham mamanya sedang tak baik-baik saja. Wajah sendu Maya menjelaskan bagaimana dirinya, dan gadis kecil itu mengerti siapa yang menjadi alasannya.


"Kamu kenapa belum tidur?" tanya Maya dengan lembutnya, membelai pelan wajah mungil Arunika yang kini menatapnya penuh tanya.


"Kangen Mama, nggak boleh?"


"Boleh dong, masa nggak."


Arunika menampilkan senyum manisnya, setelah tadi sempat menenangkan sang Papa, kini ia beralih pada mamanya.


"Mama sama Papa berantem lagi ya?"


Maya mengernyit heran, pasalnya ia selalu berusaha menyembunyikan apapun masalahnya dengan Wira di depan anak-anak mereka. Dan kini, kenapa Arunika tiba-tiba bertanya demikian.


"Nggak, kamu kenapa tanya gitu?" Maya menarik sudut bibirnya, salah satu alasan dia kuat dengan pernikahan ini adalah kedua putrinya.


"Papa nangis di pinggir kolam, Mama apain?"


Pertanyaan Arunika membuat bola mata Maya membulat sempurna. Sejak kapan suaminya suka memperlihatkan tangisnya, dan juga hari ini ia tidak terlibat pertengkaran sama sekali dengan pria gila itu.


"Kolam?"


"He'em, Papa nangisnya kayak om Artis yang di TV."


Penggemar berat Randy ini benar-benar mengingat persis adegan yang pernah Randy lalui. Entah ngidam apa Maya hingga Arunika justru begitu menggilai mantan kekasihnya.


"Hm, ada-ada saja kamu, Mama temuin Papa dulu ... kamu balik ke kamar sana, udah malem, Aruni."


Putrinya mengangguk patuh, yang harus jadi perhatiannya kini adalah Wira. Sekasar-kasarnya Wira, entah kenapa ada saja alasan Maya untuk tetap peduli padanya.


Berjalan pelan menyusuri rumahnya yang kini tampak remang, Maya menghela napas perlahan kala menatap punggung suaminya yang kini menatap nanar langit kelam.


"Kamu liat apa?" tanya Maya kini duduk di sisi Wira.

__ADS_1


"Kamu kenapa keluar?" Wira mengalihkan pandangan, membuang air mata yang sialnya hampir jatuh di pelupuk mata.


"Mas kenapa belum masuk?"


Mereka akan terus saling bertanya, percakapan macam apa ini. Seakan keduanya baru bertemu di kali pertama, tak ada tawa maupun canda, hanya ada suara yang sama datarnya.


"Lagi tanya sama Tuhan," jawabnya kembali menatap lekat lengit kelam tanpa bintang.


"Hah? Tanya apa memangnya?"


"Tanya, sebesar apa cinta istriku, dia sering melawan akhir-akhir ini."


Sudut bibir Maya tertarik tipis, entah apa sebabnya namun ucapan Wira terasa hangat sekaligus sindiran keras padanya.


"Udah ketemu jawabannya?"


"Belum, lagi nunggu ... tapi yang datang malah kamu," tuturnya tampak lesu, ia menarik napas perlahan, merenungi ucapan Maya malam itu berulang-ulang, bahkan terbawa mimpinya.


"Kamu sebenarnya kenapa sih, Mas? Banyak masalah ya?"


Tak biasanya Wira seperti ini, bahkan bisa dibilang baru kali ini. Keras, tegas dan memaksakan kehendak, hanya itu yang melekat dalam diri Wira yang dapat Maya pahami.


"Banyak, bahkan rasanya kepalaku hampir pecah ... kamu, putri kita, dan putrimu, kalian menari-nari dalam kepalaku, sakit sekali rasanya."


Wira tertunduk, ia berulang kali menghela napas kasar. Ketakutan akan kesendiria dan perginya Maya menghantuinya. Bertemu Maya bagai menemukan nyawa dalam diri Wira, saat orang keluarga dan temannya membuang dirinya, hanya ada Maya yang justru menerima.


"Kamu, masih berpikir untuk meninggalkan aku, May?"


"Sejak kapan aku punya pikiran begitu?"


"Aku hanya takut kamu kembali pada duniamu, sejak Raka dan Jelita datang membawa putrimu waktu itu, kamu berubah ... aku hanya takut kamu kembali pada pengkhianat itu," tutur Wira tanpa ia tutup-tutupi.


Memang sejak saat itu, meski Maya seakan tak menerima Radha akan tetapi perubahan itu nyata di mata Wira. Ia bimbang, harus melakukan apa dan kecemasan berlebih itu kembali menyerangnya.


Dan kala perasaan itu mendominasi, Wira bersikap kasar agar Maya takut dan tak berani pergi walau selangkah saja. Tapi, kemarin-kemarin Maya berbeda, bahkan dia melawan setiap ucapan Wira dengan kalimat menusuk yang membuat pria itu lemah.


Takut ditinggalkan, takut jika nanti Maya memilih Radha dan kembali pada Ardi yang dahulu menjadi pria paling Wira benci.


"Mas, aku tidak mungkin kembali pada Ardi ... apapun masalahnya, tapi untuk Radha, memang aku tidak bisa jika harus lupa seperti kamu meminta aku melupakan papanya."


Wira paham, setelah merenung cukup lama memang ia keterlaluan. Memisahkan Maya dari Radha harusnya bukan hak Wira, berhasil membawa Radha jauh ke tempat ini harusnya sudah cukup.

__ADS_1


"Kamu bisa pegang ucapanmu?"


"Hm, hentikan pikiran burukmu," tutur Maya sebegitu lembutnya, karena bagaimanapun suaminya ini adalah pria yang menemani pada saat terpuruknya, dibuang Ardi tanpa membawa apapun dengan hak asuh yang sama sekali tak Ardi berikan adalah luka tersakit bagi Maya kala itu.


"Maaf. aku terlalu membatasimu," ujarnya tanpa menatap wajah istrinya, salah, malu dan dosa yang luar biasa besarnya seakan membuat Wira ingin tenggelam dari muka bumi.


Maaf, adalah kalimat kerap Wira berikan ketika usai membuat Maya tersakiti. Tak jarang pelukan hangat akan Wira berikan ketika dia selesai membuat istrinya menangis, entah bagaimana, dirinya sendiri tak mengerti kenapa segila ini.


-


.


.


"Kak, jangan siul-siul gitu, pamali tau."


"Kenapa memangnya? Ini bagian dari seni, Ra."


Seni apanya, darimana siulan di tengah malam seperti ini di anggap seni. Perjalanan pulang yang cukup memuaskan, puas karena Radha mendapatkan banyak makanan dari pesta ulang tahun Celine.


Bahkan Gian heran, kenapa istrinya sebegitunya seakan tidak bisa membeli. Sepanjang perjalanan mungkin mulutnya tak pernah berhenti mengunyah, apa mungkin rahangnya tidak pegal, pikir Gian.


"Enak banget ya?" tanya Gian di sela-sela heningnya perjalanan, hanya ada dia dan Radha di jalan ini. Ini akibat Ardi yang tak memberikan izin putrinya pulang cepat-cepat.


"Kok gelap banget sih, ini jam berapa emang?"


"Ck, tenang dong, Ra ... kan lampunya terang," ujar Gian menenangkan Radha padahal dirinya justru tengah kacau lantaran suasana ini gelap gulita.


"Oh jam 01:00, Kak ... ih udah lewat tengah malem, wajar serem yak?" Bukannya diam dan menurut apa kata Gian, Radha justru memperkeruh keadaan.


"Zura, jangan macam-macam."


"Ih kan emang bener serem, macam-macam apanya."


Radha tak paham jika kini hati suaminya tengah bergemuruh, luar biasa takutnya. Sudah ia katakan pada Ardi untuk pulang sejak tadi, tapi mertuanya menahannya untuk pergi, sungguh Gian ingin sekali mengutuknya.


"Eh, Kak!! Stop bentar, sepertinya ada yang lagi cari tumpangan, apa nggak sebaiknya kita tolong? Ini udah malem, Kak."


Gian menelan salivanya, ini sudah larut malam, dan mengapa ada seseorang ada di pinggir jalan sendirian. Ketakutannya kini berbeda, banyak hal lain yang berperang dalam otaknya.


"Tenang, Ra ... jangan coba-coba menyapanya, Kakak yang akan turun memastikan itu orang atau bukan," tutur Gian menahan tangan sang istri yang hendak membuka pintu mobilnya.

__ADS_1


See You, Esok❣️


__ADS_2