
Ada-ada saja, drama cincin hilang itu berbuntut panjang. Gian bahkan meguras tenaganya demi menggeser tempat tidur yang beratnya melebihi beban keluarga itu.
"Nggak mungkin di sana, Kak," ujar Radha sama sekali tak yakin, pasalnya tempat itu sudah terlalu dalam dan tidak memungkinkan jika benda itu akan jatuh kesana.
"Terus dimana lagi? Kamu tau nggak sih itu cincinnya cuma ada sepasang, Ra," tutur Gian meratapi nasib cincin pernikahannya.
Cincin pernikahan yang dahulu ia siapkan untuk Haidar memang sengaja dibuat khusus dan hanya untuk mereka. Walau tidak tersemat inisial dan sebagainya, akan tetapi benda itu Gian sendiri yang memilihnya.
"Nggak, baru tau detik ini," ujarnya polos padahal Gian tengah gusar luar biasa.
Mendengar itu, Radha jelas semakin sedih. Padahal ia merasa cincin itu sangat pas di jemarinya, aneh sekali jika terlelas tiba-tiba.
"Coba ingat-ingat lagi, dimana terakhir kamu masih pakai cincinnya."
Radha memijit keningnya berkali-kali, beberapa waktu terakhir memang dia sedikit pikun. Dan Radha paham akan hal itu.
"Dimana ya?"
"Kok malah nanya, inget-inget dong," ujarnya luar biasa culas, cincin Radha yang hilang tapi Gian yang naik darah.
Keringatnya sudah bercucuran, begitu banyak cara yang ia coba untuk menemukan cincin itu. Dan di titik pasrahnya kini Radha duduk di sofa dekat pintu kamar.
Sspertinya ia perlu ketenangan, karena nampaknya Gian tak menerima kata maaf untuk hilangnya benda itu.
"Eh bentar," ujar Radha mengingat sesuatu, sepertinya ia mengingat sesuatu, dan meraba kalungnya.
"Taraa!!!!! Di sini ternyata, Kak!!"
Gian sudah kehabisan tenaga, sedangkan Radha dengan cerianya memperlihatkan cincin yang kini ia jadikan liontin di kalungnya.
Ia baru ingat malam itu Ardi memberinya kalung baru, namun karena ia merasa terlalu polos, Radha menyatukan perhiasan dari dua orang yang ia cintai itu.
"Ya Allah, Zura ... kenapa tidak dari tadi, Sayang."
Ingin marah, namun Gian tak bisa. Apa yang istrinya membuatnya bahkan kehilangan separuh tenaga. Gian lelah, dan kini menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Maaf, Kak, aku lupa."
-
.
__ADS_1
.
.
"Selamat gaji kalian naik bulan ini!!"
Angin segar, meski Gian kini dianggap pilih kasih tapi tak mengapa. Karena bagi Evany selagi itu uang maka tak ada hal yang membuatnya harus ragu.
"Kalian sudah bekerja keras, dan mulai minggu depan Evany akan mendapatkan meja kerja baru sebagai fasilitas pendukung agar lebih semangat dalam bekerja."
Heboh sekali, memanggil Evany dengan sengaja dan meminta untuk rapat tiba-tiba adalah hal yang paling random dalam hidup Gian.
"Naik berapa, Pak?"
Reyhans menatap sekilas sang kekasih yang berani menanyakan hal itu para Gian. Dirinya saja hanya diam karena tak ingin Gian berubah pikiran. Walaupun sebenarnya Reyhans tak berharap lebih, karena baginya mustahil Gian akan membuat seseorang senang semudah itu.
"2,5 persen, bagaimana? Menguntungkan bukan?"
Alisnya terangkat dan senyumnya menunjukkan betapa dirinya seakan menjadi pahlawan bagi Evany. Nominal yang cukup membuat Evany terpaksa menampilkan senyum.
"Sangat menguntungkan, saya tidak menyangka Bapak sebaik ini."
"Itu dia intinya, karyawan baru seperti kamu, apalahi pengalaman masih minim, dan kamu saya berikan kesempatan untuk merasakan hal itu walau sekali seumur hidup."
Ingin rasanya Evany berteriak, Gian tengah menyamakan kenaikan gajinya seperti zakat fitrah. Sebagai bawahan yang butuh uang, Evany hanya bisa mengucapkan terima kasih berkali-kali, lumayan, pikir Evany.
"Dan untuk mejamu, mungkin bulan depan akan sampai, sengaja aku pilihkan kayu terbaik di dunia, agar kau sekuat mejamu itu nantinya!!" serunya bersemangat, sengaja ia mengeluarkan uang dengaj jumlah fantastis demi memberikan yang terbaik pada sekretaris kebanggaannya itu.
"Satu bulan, lama sekali, Pak ... kenapa tidak pesan di tukang kayu dekat rumah saya, bagus kok."
"Tidak!! Harus dari sana."
Gian tidak menerima protes, karena pilihannya sudah bulat dan tidak Bis diganggu gugat. Reyhans yang sejak tadi terdiam membuat Gian heran, padahal gajinya juga naik 1,5 persen, lantas kenapa kini Reyhans seakan tak berterima kasih padanya.
"Kau kenapa? Bonusmu kurang?" tanya Gian menatap Reyhans begitu tajam.
"Tidak, Gian ... sudah lebih dari cukup, terima kasih."
Mengalah adalah jalan ninja bagi Reyhans. Ini lebih baik jika dibandingkan tidak sama sekali. Ia bukan mempermasalahkan bonusnya, akan tetapi pasrahnya Evany yang membuat Reyhans khawatir.
"Nah begitu dong, aku bangga memiliki kalian ... pasangan kompak dengan etos kerja setinggi monas, keren sekali."
__ADS_1
Tak peduli seberapa tinggi pujian Gian, karena yang Evany tahu pria ini tak lebih dari bos paling membebani pundaknya dan memberikan harapan sebesar gunung namun yang ia dapat hanya gundukan tanah.
"Saya izin keluar, Pak, terima kasih atas penghargaannya."
Gian mengangguk berkali-kali, perginya Evany tanpa dia usir adalah hal yang baik. Dan kini dengan wajah tanpa rasa bersalahnya, pria itu menyandarkan Tubuhnya di kursi kekuasaan.
"Aakkh lelah sekali," keluh Gian seakan usai mekakukan kerja keras, padahal Ia baru masuk hari ini setelah dua hari tidak muncul dan membebankan pekerjaan pada Reyhans.
"Apa perlu aku panggilkan tukang pijat, Gian?" tawar Reyhans mencoba memberikan solusi terbaik untuk bosnya.
"Menarik, tapi aku tidak mau bapak-bapak, maunya ibu-ibu saja," ujarnya yang tiba-tiba tertarik begitu mendengar tawaran Reyhans.
"Mbok Yati?"
"Terserah, yang penting sudah tua,
Begitu banyak keburukan Gian, kesetiaannya membuat Reyhans kagum. Pria tampan itu menjaga hati istrinya sedalam itu, hanya tukang pijat saja dia memilih dan kriteria yang sesuai keinginannya.
"Akan aku carikan."
Tanpa pikir panjang, Reyhans segera berlalu demi menuruti kehendak pangeran kuda poni itu. Meski jujur saja yang seharusnya butuh jasa pijat adalah dirinya, bukan Gian.
"Apa Hulya mau menerima makhluk itu ya."
Dalam kesendirian kini Gian berpikir keras, setelah mendengar ungkapan hati Randy tadi malam, hal itu terus saja menghantui pikirannya.
Jujur ia tak yakin, walau sempat berhubungan dekat tapi Gian tak megetahui dengan jelas perihal asmara seperti apa yang Hulya inginkan.
"Samperin atau gak ya," tuturnya menimbang keputusan, karena jika ia ingat, Randy sama sekali tak menutupi niatnya untuk mengenal wanita itu lebih jauh.
Baru kali ini Gian merasa ketampanan dan popularitas Randy seakan tak berguna, karena Hulya jelas tak tertarik dengan kehidupan seperti yang Randy jalani.
"Ck, kenapa jadi aku yang pusing." Beberapa menit dibuat sakit kepala lantara Randy yang kembali mengagumi wanita, Gian baru sadar jika hal ini membuatnya seakan gila.
🌻
Senin, ditunggu gift dan vote buat Gian bayar kang pijat.
Btw mampir ke lapak aku di sebelah yak, kalau ada yang baca novel di sana.
__ADS_1