
Istri? Tunggu, Juan tak salah dengar kan? Pria itu menatap Radha penuh tanya. Sudut bibirnya perih luar biasa, pakai jurus apa Gian sebenarnya dia juga tak mengerti. Yang ia rasakan kini bukan hanya sakit, tapi juga malu.
“Berani kau menatapku?”
Juan berdecih, setelah berhasil membuatnya terlihat lemah di mata orang-orang, kini Gian semakin membuatnya terpojok. Berusaha untuk terlihat baik-baik saja, Juan merapikan pakaiannya yang sebenarnya biasa saja.
“Maaf semua, ini hanya masalah kecil … tidak perlu khawatir,” jelas Erick pada tamu-tamunya yang kini tertarik dengan keributan tiba-tiba itu.
Jika ditanya Erick malu atau tidak, ya tentu saja ia malu. Karena yang kini berada di sini bukan hanya teman-temannya saja, melainkan rekan kerja dan orang penting lainnya. Kedua temannya ini, pertemuan pertama yang sangat berkesan, ingin rasanya Erick mengucapkan selamat pada Juan, selamat karena tidak pingsan maksudnya.
“Huft, Juan … karena kau yang lebih tua, mengalah untuk sekali ini ya,” pinta Erick memohon pengertian pada sahabat kecilnya itu.
Tak ingin memperumit keadaan, Juan mengalah dan meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan apa-apa. Manik tajamnya menatap Gian dan Radha bersamaan, ada dendam yang mungkin takkan pernah usai pada pria yang baru pertama kali ia temui itu.
“Ya Tuhan, Gian … kau lupa tempat atau bagaimana?”
Andrew dan Heru menepuk bahu Erick pelan-pelan, memberikan kekuatan agar Erick tak darah tinggi dengan ulah sahabatnya itu. Mereka enggan untuk mengomentari apa yang Gian lakukan, karena memang sejak dulu Gian tak pandang bulu jika pria lain menyentuh wanitanya.
“Ck, diam kau! Salahmu mengundang penyair stress itu.”
Mengingat Juan, puisi sialan itu masih terbayang jelas di benak Gian. Hal yang mungkin membuatnya akan membenci sastra kedepannya, melihat kata demi kata yang Juan kirim membuat Gian trauma.
“Penyair?” Ketiga saling menatap, bingung apa yang Gian maksud. Karena setahu Erick, tidak ada penyair yang ia kenal, Gian semakin terdengar mengada-ngada di telinganya.
Untuk saat ini, tujuan paling benar adalah rumah, Gian tak lagi peduli Erick akan melarangnya atau bagaimana. Tanpa suara ia menarik pergelangan tangan Radha dan berjalan santai keluar seakan tak terjadi hal apa-apa.
“Dia masih sama, kapan tobatnya?” Andrew menggeleng pelan, tidak ada yang berubah dari Gian, terutama emosinya.
“Mana mungkin dia berubah, malah jika aku perhatikan Gian lebih parah daripada ketika bersama Adinda dulu.”
Erick buka suara, nama wanita yang sejak lama menjadi pantang disebutkan dalam lingkungan pertemanan mereka kini terdengar lagi. Sebagai teman yang sejak lama bersama Gian, alur kehidupan Gian seakan ia tahu hampir keseluruhan.
“Berhenti menyebut nama itu, kau tak mau lidahmu terpotong jadi tiga bagian kan?” Andrew hanya mengingatkan, sebelum terjadi lebih baik dihindari, pikirnya.
“Hm, aku rasa aturan itu tidak berlaku lagi,” cetus Erick menenangkan sahabatnya yang kini khawatir jika pria yang mereka gunjingkan mengetahui segalanya.
“Menurutmu, tapi belum tentu menurut dia akan begitu.” Heru lebih setuju akan pernyataan Andrew dibandingkan dengannya, meski Gian memiliki kehidupan baru tapi yang harus mereka tahu bahwa pria gila itu pendendam luar biasa.
__ADS_1
-
.
.
.
“Ehem, marah ya?”
Sepanjang perjalanan, Gian hanya fokus mengemudi tanpa menatap istrinya walau sejenak. Amarah membuncah dalam batinnya membuat Gian seakan buta, bahkan kini Radha sadar bahwa jalan pulang menuju rumahnya telah Gian lewati sejak tadi.
“Masih saja bertanya,” celetuk Gian dingin, dan irit tentu saja.
Wajah kusutnya benar-benar tergambar nyata, pikiran Gian saat ini terlampau kacau. Apa yang tadi ia lihat sungguh membuatnya terluka, bahkan secepat itu amarah menjalar di sekujur tubuhnya.
Berulang kali Gian meyakinkan diri bahwa Radha hanya miliknya, bagaimana dulu dia sempat kehilangan menjadi alasan kenapa Gian setakut itu.
Memutuskan untuk pulang ke apartemen untuk sementara, sebenarnya Radha karena sudah lama ia tak kemari. Dan jelas suasananya akan terasa berbeda, pikirnya.
"Kamu mau aku di sidang Mama, Ra?"
Mungkin jika di urutkan, salah satu yang Gian takuti di dunia setelah Tuhannya, adalah kemarahan Jelita. Karena sudah jelas mamanya menyaksikan bagaimana kelakuannya tadi di keramaian, membuat mamanya malu sudah cukup alasan bagi Jelita mengutuk putra sulungnya itu.
Sebagai istri yang untuk malam ini tak banyak tanya, Radha hanya mengangguk patuh. Tak ingin membuat Gian semakin di posisi salah, karena ia tahu semua memang salah Juan yang main comot milik orang.
Kamar yang begitu lama tak Radha temui, dengan perasaan berbeda kini ia kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur empuk ini. Tidak ada debu, dan semua masih baik-baik saja, pikir Radha.
"Kakak mandi dulu, kamu nggak ikut, Ra?"
"Enggak, dingin."
Jawaban singkat yang sukses membuat Gian mencebik, sedikit tak ikhlas telinganya mendengar penolakan Radha.
Masih sempat mematung, berharap istrinya itu akan merubah niat. Namun bagaimana, Radha sama sekali tak terlihat peduli padanya, wanita itu kini beralih membuka tirai kamar, pemandangan malam di luar sana lebih indah dari tubuh Gian.
"Dasar tidak peka," bisiknya namun masih dapat Radha dengar walau tak jelas.
__ADS_1
-
.
.
Gemericik air mulai terhenti, Radha yang kini tengah membersihkan sisa make-up di wajahnya menoleh sekilas ke arah pintu kamar mandi. Pria dengan emosi lebih besar dari badannya itu menghampiri dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
Entahlah, dia memang sudah dewasa atau bagaimana, Radha menatap kagum Gian, bahkan tak satu detikpun ia mengedipkan matanya. Tadi sempat acuh namun kini matanya tak bisa berbohong.
"Biasa aja lihatnya, kamu mau lihat yang lain, Ra?" Tawa itu terdengar renyah, Radha mencebik dengan wajah yang sudah memerah, menyesal ia menatap pria itu.
"PD banget sih, orang aku nggak sengaja, itu di perut Kakak kenapa ada bekas lukanya," tutur Radha mengalihkan pembicaraan yang memang nyata adanya.
"Oh iya? Apa iya lihat bekas luka sampe melongo gitu?" goda Gian semakin mendekatinya, kebiasaan, setelah mandi bukannya ganti baju.
"Iy-iyalah, emang apalagi." Menjadi istrinya bukan berarti Radha tidak lagi memiliki rasa malu, acap kali tertangkap basah tengah menatap kagum Gian adalah hal yang berhasil membuatnya susah bernapas.
Gian tak menjawab, wajah itu terlihat murung namun tak terlalu membuat suasana berubah. Ia menggosok rambut basahnya itu, dan terjadilah percekcokan duniawi, Radha yang takut basah mengeluarkan kata-kata mutiara lantaran Gian membuat meja itu dipenuhi percikan air.
"Kakak kenapa sih, caper banget!" Cukup kasar, tapi Gian hanya menanggapinya dengan senyum tipis.
"Caper? Apa caper, Ra?"
"Cari perhatian!! Ini contohnya, ngapain Kakak begini coba." Radha mengacak rambut suaminya, tidak kasar namun bukan berarti gerakan tangan yang mengutarakan kasih sayang.
"Kamu istri aku, wajarlah cari perhatian ... kamu mau Kakak capernya ke bi Asih?" tanya Gian mencubit wajahnya cukup kuat, tidak sakit tapi cukup membuat jaringan kulitnya meronta.
"Ya gak gitu juga," tuturnya menghempas pelan tangan usil Gian.
"Sayang, mandi dong," pinta Gian dengan suara yang terdengar mengiba, memohon agar Radha benar-benar melakukannya.
"Kakak kenapa nyuruh mandi? Dingin, Kak."
"Tangan kamu, ada pria lain yang menyentuhnya .... Kakak gak rela, mengerti, Azzura." Senyum yang Gian berikan sebelum berlalu, lebih kepada ancaman agar ia menuruti kemauan suaminya. Dan tak punya cara lain, ia harus ke kamar mandi meski nantinya mandi bebek.
Bersambung🏺
__ADS_1