Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Guru Baru (What?!!"


__ADS_3

"Zura, tolong ubah ekspresimu, Mama bisa membunuhku kau tau?!!"


Gian menahan langkah Radha, wajah kusut istrinya merupakan ancaman jika sang Mama bertanya. Kejadian paling menyebalkan yang membuat Radha berteriak sekuat tenaga masih melukiskan senyum usil di wajah tampan Gian.


"Awww, sakit, Kak."


Ia meringis, genggaman tangan Gian terlalu kuat. Tatapan manik hazelnya memang membunuh, namun tak sedikitpun membuat Radha takut. Yang ada hanya kekesalan luar biasa, semburat malu menutup penuh wajahnya.


Masih memerah, bahkan ia merasa tak memiliki wajah lagi di hadapan Gian. Tak bisa dipungkiri, tubuh polosnya tanpa busana telah tersaji di depan mata Gian. Tentu saja itu karena kebiasaan Radha yang belum berhasil beradaptasi.


"Kau tau kan, Kakak bisa lakukan hal yang sama seperti tadi jika mulutmu berani macam-macam!"


Gian menekan kalimatnya, penuh ancaman dengan mata dinginnya. Luar biasa menakutkan, Radha tiba-tiba saja terdiam, ia menunduk dan menarik napas sebegitu dalamnya.


Berusaha terlihat senormal mungkin, Radha mengiring di belakang pundak Gian. Di meja makan sudah ada mertua dan juga iparnya, Haidar.


"Ayo, Sayang," ujar Gian kala mereka telah berjarak begitu dekat ke meja makan.


Senyum penuh kehangatan dengan berbalut sandiwara itu benar-benar menutup kesalahan Gian. Ia perlakukan Radha begitu baik, lembut bak ratu dalam hidupnya.


Ia genggam erat jemari Radha, sengaja memperlihatkan kemesraan di depan Haidar. Meski Radha sebegitu kakunya, namun Gian membuat semuanya terlihat sempurna.


"Ma, mana susu untuk istriku."


Haidar yang mulai mengangkat sandwich-Nya mendadak berhenti, ia kehilangan selera makannya. Sungguh ucapan Gian luar biasa menyebalkannya, mungkin bisa mengacaukan hatinya.


Penuh tanya Radha melongo menatap Gian yang begitu cekatan melayaninya. Bahkan sebatas mengoleskan selai di rotinya harus dengan tangannya sendiri.


"Makan yang banyak," ujar Gian menatap Radha begitu dalam, tak lupa ia membelai wajah mulus Radha.


Pemadangan yang begitu menyesakkan tergambar jelas id mata Haidar, ingin ia hancurkan meja makan saat ini juga. Wajah cantik kekasihnya yang terlihat pasrah menerima perlakuan Gian membuat Haidar semakin tersayat.


"Ehem, Gian ...."


"Iya, Pa? Ada apa?"


"Mengenai perjalanan bisnis yang harus kau lakukan bes_"


"Tidak bisa, Pa, aku tidak bisa meninggalkan istriku."


Raka menghela napas panjang, baru kali ini Gian berhasil memotong ucapan Raka. Entah karena faktor apa, mungkin saja karena Haidar yang kini berada di depannya.


"Lalu bagaimana?"


"Papa minta saja dia, bukankah Haidar sedang tidak punya pekerjaan di sini?"


Belum puas kekesalan Haidar, Gian menambahnya. Kini pria itu mengepalkan erat tangannya. Rahangnya mengeras dengan mata yang menatap tajam wajah menyebalkan Gian.


"Hanya kau yang bisa, Gian."


"Ck, baiklah, lalu bagaimana dengan Radha?"


"Radha tetap di sini bersama Mama."


Haidar menarik sudut bibirnya tipis bahkan hampir tak terlihat, wajah tampannya berbinar seakan menemukan secercah harapan. Ia berseru "Yes!!" dalam hatinya sembari menatap lekat Radha.


"Tidak, Radha akan tinggal di Apartemenku bersama Layla, dan tidak ada yang boleh menemuinya sebelum aku kembali."


Dasar licik, Gian benar-benar paham makna tatapan Haidar. Ia tersenyum sinis dan menatap nyalang wajah sang Adik, dia terdiam berusaha menahan amarah yang begitu membuncah di benaknya.

__ADS_1


Dalam keadaan kedua putranya tengah bersitegang, Jelita tersenyum di atas luka. Perubahan sikap Gian yang tertangkap matanya memang membuatnya melukis senyum indah, namun hancurnya Haidar jg menjadi lukanya.


"Papa serahkan padamu."


Haidar kalah telak, ia tak punya kekuatan yang mendukungnya. Meski tekadnya takkan pernah kalah, dalam memiliki Radha kembali, ia tak peduli bagaimana caranya. Nanti ia akan pikirkan dengan caranya, sendiri tanpa bantuan dari pihak manapun.


******


Dasar pembohong publik, Gian benar-benar berbeda kala dengan tadi pagi. Tidak ada pembicaraan, ia hanya diam sembari fokus menatap ke depan. Hari ini ia begitu tegas meminta Aryo untuk berdiam di rumah, dan Radha menjadi tanggung jawabnya.


"Ra, tunggu."


Radha menghentikan gerakannya, pintu mobil hampir saja terbuka. Gian menahannya dan menimbulkan tanya di benak gadis cantik berseragam putih abu itu.


"Apa, Kak?"


"Ehm, jangan kemana-kemana kalau tidak bersamaku."


Tatapan itu penuh makna, namun Radha tak mampu membacanya. Ia terdiam, wajah teduh Gian tampak enggan melepaskan istrinya.


"Iya."


Ia mengangguk pelan, memperkecil masalah dan enggan untuk bertanya. Radha dapat merasakan kecemasan Gian melalui hembusan napas Gian yang terdengar begitu berat.


"Sebentar,"


"Apa lagi, Kak?"


Radha mulai cemas, pasalnya jam sudah menunjukkan pukul 07:05. Yang artinya, hanya tersisa beberapa menit lagi bel akan berbunyi.


"Tidak ada, pergilah ... hati-hati," ujar Gian dingin namun begitu tenang menyelami lubuk hati Radha.


"Ck, apa yang ku khawatirkan ...."


Gian menyandarkan tubuhnya, sejenak ia berpikir keras apa yang sebenarnya kini ia rasakan. Bukankah seharusnya hal baik jika Haidar akan mengembalikan keadaan sebagaimana rencana awal.


Bukankah ia juga memiliki cinta, lantas mengapa hatinya begitu terikat untuk Radha yang secara nyata masih menjadi cinta adiknya.


Teet teet teet


"Adoh!! Liat-liat dong, Nisa!!"


Panik, keduanya sama-sama panik kala bel tanda masuk mulai terdengar. Kekhawatiran mereka sama, PR yang menggunung itu belum sempat mereka selesaikan.


Baik Radha maupun Nisa, keduanya saling menatap nyalang dan berusaha kembali beranjak dan berlari masuk ke kelas sebelum Bu Retno masuk dan melenyapkan keduanya dari kelas.


"Ya Tuhan ... PR gue!! Mana lagi."


Radha membuka paksa tasnya, hanya ada beberapa waktu lagi. Sembari beberapa kali ia menoleh ke arah pintu kelas, Radha cemas bukan main. Belum lagi teman-temannya tampak mendiamkan Radha entah apa masalahnya membuat Radha semakin kalut.


"Ra, kenapa?"


"Ah, PR gue, Bi ... gimana dong."


Jujur saja, respon Radha yang begitu manja berbalut kepanikan membuat senyum Abian mengembang. Tidak sia-sia dia rela masuk ke kelas pujaan hatinya, padahal ia sendiri memiliki mata pelajaran yang hampir saja dimulai.


"Mana-mana Pr-Nya? Sini, gue bantu."


Radha terdiam, ia menatap Abian sejenak dari ujung rambut hingga ujung kaki. Baru sadar kehadiran pria ini sama saja, tak ada gunanya.

__ADS_1


"Ck, mana ngerti. Ngapain ke kelas gue, udah sana."


Ia tertawa sumbang, ternyata Radha baru menyadari kejanggalan yang terjadi. Namun tetap saja, pertemuan dengan Radha pagi ini begitu berkesan, andai saja ia benar-benar sekelas. Mungkin Abian akan merasakan kebahagiaan ini lebih lama.


Tidak, ia takkan pergi begitu saja. Kala Radha kesulitan, mana mungkin ia akan tega. Tak peduli meski saat ini mungkin namanya telah terlewat dari absen.


"Hah?"


Radha mengerutkan keningnya bingung, ia tak mengerti mengapa wajah pujaannya tiba-tiba saja berubah. Entah itu senang ataukah berita buruk, Abian masih bertanya begitu dalam benaknya.


"Apa, Ra? Kenapa?"


"Eh? Eh enggak, Bi, udah sana ... noh bu Retno dah mau kemari."


Radha berucap pelan, meminta Abian segera pergi tanpa banyak bertanya. Hal itu sukses membuat pria tampan berwajah tegas itu berlari keluar kelas, sama seperti siswa lainnya, Abian juga takut luar biasa.


Sepeninggal Abian pergi, Radha masih tetap dengan kebingungannya. Ia masih bertanya-tanya menatap PR-Nya telah terselesaikan begitu sempurna, seingatnya kemarin ia hanya sempat menyelesaikan separuhnya.


"Ck, apa dia? Ah gak mungkin!!"


Radha mencebik, mana mungkin Gian mau mengorbankan otak dan pikirannya untuk sebuah tugas anak SMA, pikirnya.


"Guys!! Hari ini kita kedatangan guru baru!!"


Nuara menambah suasana semakin gaduh, gadis centil itu begitu antusias menyampaikan kabar itu. Sedangkan Radha yang sedari tadi termenung memikirkan siapa yang menjawab PR-Nya kini hanya berdecak kesal dengan ulah temannya.


"What?!! Guru baru?!! Serius lu?"


"Serius!! Cakep banget gilaaaaaa!! Gantengnya ngajak meninggoy tau gak!!!"


Kepala Radha semakin pusing kala teman-temannya semakin histeris kala Naura sibuk menggambarkan sosok guru barunya.


"Masih muda, kan?"


"Iyalah masih!! Lebih muda dari pak Rigo!!"


Hah? Apa iya guru olahraga idaman Radha kini ada saingan. Sungguh tak dapat dibiarkan, Radha turut mencuri dengar percakapan mereka.


"Ck, apa siih gajelas banget," ujar Radha kesal sendiri kala teman-temannya diam sembari menatap ke arahnya bersamaan.


"Selamat pagi anak-anak!!"


Suara menggelegar kepala sekolah membuat para siswa kalang kabut kembali ke kursi masing-masing. Derab langkah tegas yang mengiri Rosydah selaku kepala sekolah membuat Radha mengangkat wajahnya, tubuh tegap dan mata tajam di balik kaca mata itu membuatnya semakin terlihat tampan.


"What?!"


Spontan Radha menganga, ia bahkan berdiri saking terkejutnya. Hal itu sukses membuat teman-temannya menatap tajam penuh pertanyaan.


"Radhania Azura, kenapa kamu?"


"Tidak, Bu." Sial, Radha tak dapat menjaga dirinya.


"Duduk!!"


"I-iya, Bu."


Tbc


Maaf ya baru bisa Up, ni up agak banyakan moga terobati penantiannya. Aku usahakan besok up lagi, boleh kasih saran ceritanya gimana temen-temen. Kalau mau masuk GC-Nya juga sangat di perbolehkan, disana kita bisa lebih saling mengenal, kadang Author cuma sempat ke GC. Langsung klik profil aku ya❣️❣️🤗

__ADS_1


__ADS_2