Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 170. Kesalahan (Tak Utuh Lagi)


__ADS_3

“Ya terus maunya apa?”


Gian menggaruk kepalanya yang tak gatal, meski itu istrinya sendiri jujur saja Gian merasa malu karena ketahuan pikirannya sekotor itu. Belum lagi ia mengucapkannya cukup kuat hingga dapat terdengar oleh ketiga temannya.


“Makanya kalau keramas yang lama, Gi … biar menyerap ke otakmu yang kotor itu,” tutur Andrew tanpa sedikitpun segan, baginya mengejek Gian adalah hal yang cukup sulit dia dapatkan.


“Kau mau mati?!”


Benar-benar gampang termakan emosi, hanya sebuah candaan dan Gian hampir melempar gelas yang sejak tadi berada di tangannya. Kebiasaan, sikap tanpa pikir panjang Gian masih melekat. Sebagai penengah, Heru memisahkan dua pria dewasa itu.


“Dasar gila! Kalian mau diusir? Erick pasti malu punya teman seperti kalian,” celetuk Reyhans yang sejak tadi hanya menonton tingkah dua sahabatnya.


“Diam kau!!”


Bersamaan, Gian dan Andrew kini terlihat lucu bagi Radha. Sebenarnya umur berapa suaminya ini hingga harus terjadi keributan sengit hanya karena tak terima Andrew ejek.


“Hahah kalian kompak sekali, ternyata benar ikatan batin kalian benar-benar sangat erat,” ujar Heru sembari bertepuk tangan.


“Hentikan tingkah bodohmu, Heru … kau mau aku om Willy aku pecat?”


Heru terdiam, Gian memang benar-benar tak asik untuk diajak bercanda. Sepertinya pria itu semakin semena-mena, tiada ancaman lain selain pecat dan pecat. Andai saja dulu Raka tak memberikan Gian kekuasaan, mungkin setidaknya takkan begini, pikir Heru kesal bukan main.


“Hahaha, tidakkah ada ancaman lain selain itu, Pak Dirgantara?”


Hanya Andrew yang berani mengomentari masalah ancaman Gian. Tentu saja karena dia tak berada di posisi Reyhans maupun Heru. Orang tuanya merupakan rekan bisnis Raka, dan sudah pasti status mereka seimbang hingga ancaman itu bagi Andrew adalah hal yang pantas ia tertawakan.


“Huft, menyesal aku bergabung bersama kalian,” ujarnya mencebik tak suka, berhadapan bersama mereka terkadang hanya membuat tekanan darah Gian naik.


Sebelumnya memang Raka memintanya untuk bergabung dan tidak mencari tempat sendiri, namun karena niat untuk menyombongkan bidadarinya itu Gian memutuskan untuk tak duduk di satu meja bersama orang tuanya.


Radha hanya menatap datar ketiga pria dewasa yang ia sendiri bingung dewasa dari sisi mananya. Kalau Gian yang jelas dari segi otaknya, namun sifat sama sekali tidak mencerminkan pria dewasa saat ini.


Sudah cukup lama, dan Radha mulai merasa tak nyaman. Duduk terlalu lama membuatnya pegal bukan main. Belum lagi ia merasa wajahnya sedikit tak nyaman, bedak apa yang Jelita pakai hingga seberat ini di wajah Radha.

__ADS_1


“Kak, aku ke toilet dulu boleh ya?”


“Kakak temenin ya?” Gian menawarkan diri, karen tak ingin istrinya tersesat di hotel ini, meski sebenarnya ini tampak berlebihan, namun bagi Gian tidak sama sekali.


“Nggak usah, Kakak tunggu aja di sini,” tutur Radha menolak begitu manisnya, karena memang menurutnya ia tak butuh Gian temani jika hanya buang air kecil.


“Jangan khawatir kawan, istrimu takkan hilang.”


Benar-benar salah memilih, andai saja Gian tak bertemu tiga makhluk ini di pesta pertungan sahabat karibnya, mungkin suasana hati Gian akan lebih baik. Meski mengizinkan Radha untuk pergi sendiri, namun sorot matanya masih menatap punggung istrinya yang kian menjauh.


“Kau benar-benar mencintainya, Gi?”


Pertanyaan serius terlontar dari bibir Heru membuat Gian mengernyit heran, ia fokus menatap Heru yang kini tengah menuntut penjelasan darinya.


“Apa maksudmu mempertanyakan itu?” Gian mulai tak suka, sangat tak suka ketika teman-temannya mulai masuk dalam kehidupan asmaranya.


“Aku hanya bertanya, jika memang iya … baguslah,” ucap Heru menatap Reyhans sejenak, dan Andrew hanya berpura-pura sibuk dengan gawainya.


Heru tersenyum tipis, ada kelegaan dalam benaknya mendengar sahabatnya ini kembali mengucapkan kalimat itu dengan mantap. Setelah sejenak menatap Reyhans yang kini tertunduk tanpa berani mengankat wajahnya, Heru menepuk bahu Gian berkali-kali sebagai bentuk bangganya.


“Kau tidak bercanda kan? Seorang Gian jatuh cinta lagi, kalian berdua dengar kan?”


Suasana yang tadinya gaduh, kini kembali hening tanpa ada suara Andrew yang berani mengejeknya. Kaku, seakan baru pertama bertemu. Reyhans semakin diam dan manik tajam Gian menatap tingkah sahabat sekaligus asistennya itu.


Hanya satu pertanyaan Heru berhasil membuat situasi berubah 180 derajat, hingga keheningan itu terhenti kala Erick menghampiri mereka tanpa pasangannya tentu saja.


“Hai … kalian sejak kapan di sini?”


“Sejak minggu lalu, kemana matamu, Erick?!”


Menyadari situasi semakin suram, Heru yang tadi memulai perkacakapan suram itu harus mengembalikan suasana. Sedangkan Erick yang baru saja sempat menghampiri mereka jelas merasakan hal yang tak wajar pada sahabatnya itu.


“Huft, kalian kenapa?”

__ADS_1


“Biasa, kisah lama mungkin,” sahut Andrew tanpa beban dan membuat Heru kini menggigit bibir, menyesal ia menanyakan hal seperti tadi pada Gian jika akhirnya akan begini.


“Astaga, Gian … bukankah itu sudah lama? Kalian berdua tidak lelah?”


Erick mengusap kasar wajahnya, Gian dan Reyhans persis ABG yang tengah memperebutkan cinta. Sebuah kisah lama yang Erick sendiri sudah kehabisan cara untuk kembali menyatukan dua sahabatnya ini. Berbagai cara mereka lakukan, akan tetapi tetap saja Gian tak sepenuh hati menerima maaf dari Reyhans.


“Bisakah kalian berhenti membahas hal yang sama sekali aku tidak mengerti? Jika tidak, aku permisi,” ujar Gian sembari beranjak berdiri namun secepat mungkin Erick tahan.


“Santai, Bos … jangan kemana-mana, istrimu nanti kehilangan pangerannya.”


“Andrew … kau tidak lihat matanya sudah setajam itu? Kau mau mati atau bagaimana?” bisik Heru seraya mencubit lengan pria berambut coklat itu.


Reyhans yang merasa semakin tak nyaman memilih untuk berlalu agar suasana tak semakin memanas. Hal yang selama ini berusaha ia tata dan mencoba kembali pada Gian demi kata baik-baik nampaknya akan semakin sulit setelah kejadian malam ini.


“Aku harus pergi, adikku di rumah sendirian … permisi, selamat atas pertunganmu Erick,” tutur Reyhans sebelum benar-benar pergi dari tempat itu.


Pria itu melangkah, namun batinnya ingin sekali tetap berada di sana. Duduk berlima dan saling melempar canda adalah hal yang ia impikan sejak lama. Gian masih menatapnya seperti dulu, dapat Reyhans lihat kemarahan dan kebencian di dalam sorot tajam temannya itu.


“Sesulit itu kau menerimaku kembali, Gian?”


Jika menangis tak merendahkan dirinya sebagai pria, mungkin detik ini juga Reyhans akan melakukannya. Namun sayang, di tempat ini terlalu ramai dan akan menimbulkan banyak pertanyaan jika dia menangis saat ini juga.


Rhadania Azzura, berita Gian sudah memiliki wanita dalam hidupnya adalah hal yang membuat Reyhans bahagia luar biasa. Sebuah kekhawatiran tentang Gian akhirnya terpatahkan ketika ia melihat sendiri bagaimana Gian mampu menerima wanita itu dalam hidupnya, meski Gian kerap semena-mena dan membuat Reyhans mengurut dada setiap hari, baginya itu tak apa.


BRUGH


“Aaawww!! Jalan jangan nunduk dong, liat tu ke jalan, Bang … bukan ke sepatu!”


Suara itu membuat Reyhans buru-buru membantu wanita cantik yang kini jatuh akibat kesalahannya yang tak memperhatikan jalan dengan benar.


💦


Btw gaes, itu udah 170 eps. Belum pernah aku nulis sampe sepanjang ini, aku takut yang baca bosen aja wkwk. Komen di bawah ya yang harus kita selesaikan secepatnya apa, soalnya nulis Gian beneran ga berasa. Tau-tau dah sebanyak ini eps nya.

__ADS_1


__ADS_2