
"Kok lama banget sih? Kakak carinya dimana sih?"
Gian tak berani menjawab lebih dulu, karena di sini ada Jelita yang nantinya akan membuat posisinya bahaya. Jika Gian jujur tentu Radha akan marah, namun jika dia bohong dia akan semakin marah.
"Apa iya lama? Perasaan belum lama," elak Gian seakan tiada yang salah tentang dirinya.
"Perasaan kamu, kenyataannya lama."
Benar kan, Jelita pasti akan turut bicara. Gian memutar bola matanya malas. Jujur saja ia sedikit takut jika Radha mengetahui ulahnya. Niat hati ingin memberikan kepuasan pada Kalila yang tampak penasaran dengan apa yang dia lihat namun justru ketahuan oleh Jelita.
"Jangan mengadu, Mama, please!!!"
Gian berteriak dalam hatinya, tatapan Radha saat ini saja sudah membuatnya ciut, belum lagi nanti jika Radha benar-benar marah, mungkin Gian takkan berani menelan nasi sebutir pun.
"Hoam, Mama ke kamar dulu ya, ngantuk banget."
Gian menghela napas lega, ia merasakan oksigen Benar-benar mencukupi pernapasannya. Angin segar ini memang ia butuhkan, adanya Jelita hanya membuat dia terancam.
"Iya, Ma, selamat malam."
Radha hanya menarik sudut bibir, sepertinya sang mertua memang cukup lelah. Wajahnya terlihat sangat mengantuk, mungkin karena tadi siang ia menghabiskan tenaga yang cukup banyak karena Kama yang mulai banyak keinginan.
"Jagain anak kamu, Ra, jangan 100 persen percaya kalau bayi sama Papanya," ujar Jelita sebelum berlalu, sontak angin segar yang tadinya menghampiri Gian rasanya hilang begitu saja.
"Maksud Mama apa, Kak?"
Radha menatap Gian yang kini pura-pura fokus dengan makan malamnya. Jelita telah menghilang dari pandangan mereka.
Bersama Kalila yang duduk di pangkuannya, Gian mulai mengambil nasi dan lauk pauknya cukup banyak.
"Kak, denger nggak sih?" tanya Radha kesal lantaran Gian justru tiba-tiba tuli, jurus andalan Gian karena kini tatapan tajam tak lagi berpengaruh pada Radha.
"Apa?" sahutnya masih pura-pura tak mengerti, padahal kini ia tengah berusaha menutupi perbuatannya.
"Nggak jadi, udah lanjutin makannya," tutur Radha kini duduk di hadapan suaminya.
Kalila sangat tenang, seakan mengerti jika sang papa tengah mengisi tenaga. Berbeda dengan Kama yang justru hendak naik meja.
__ADS_1
"Kamu mau apa, Sayang? Laper juga ya?"
Gian bertanya pada putranya yang terlihat hendak mengambil sesuatu di atas meja. Dan jiwa-jiwa hendak menyuapi anaknya kini muncul tiba-tiba.
"Heeih!! Jangan sembarangan, Kak," cegah Radha kala Gian hendak memberikan sepotong ikan untuk putranya, kemana otak Gian hingga menganggap Kama sudah sebesar itu, pikirnya.
"Oh iya, lupa."
Radha segera meraih satu buah pisang yang sebenarnya tidak akan Kama makan juga pada akhirnya.
"Ih masih kecil mainin pisang," cibir Gian seakan tengah menggunjingkan Kama bersama Kalila, putrinya hanya menatap heran Gian yang berbicara dengan mulut penuhnya.
"Kakak mau Kama pukul lagi, Kak?" tanya Radha dengan tatapan nyalangnya, entah dendam atau apa, sejak kejadian itu Gian kerap membicarakan Kama bersama Kalila yang hanya menanggapi ucapan Gian dengan tawa renyahnya.
"Hahaha damai sayangnya Papa, jangan marah ya," ucapnya mengedipkan mata, Kama dengan senyum hangatnya seakan menerima permintaan damai Gian.
"Jangan mau, Sayang, dia akan membicarakan kamu lagi nanti."
"Jangan diajarin begitu, Ra, nggak baik namanya."
Radha hanya mengangkat satu alisnya, ia merasa tak salah sama sekali. Karena memang apa yang Kama lakukan membuatnya sakit perut jika kembali ia ingat.
-
Tak jauh berbeda dengan keluarga kecil Gian, malam ini Evany tengah merasa menjadi wanita bahagia seperti yang pernah dia idamkan.
Walau Reyhans sempat menekuk wajahnya kala Evany memilih tempat seperti ini untuk makan malam mereka. Sungguh, dari dahulu Reyhans belum pernah merasakannya.
"Biasa aja mukanya, kamu nggak suka?" tanya Evany tanpa basa basi, walau memang sulit ditebak karena wajah Reyhans memang seperti itu saja dan dia tak bisa membedakan Reyhans suka atau tidak.
"Suka, kenapa tanyanya begitu, Eva?"
Suaranya begitu lembut, padahal hatinya luar biasa tak nyaman karena keberadaan beberapa pria di dekatnya yang tak henti memperhatikan kecantikan kekasihnya.
"Sial, Ck ... kamu kenapa harus secantik ini?" Pertanyaan yang tak seharusnya, padahal bukan itu yang ada di otak Reyhans.
"Hah?" Karena ini adalah hal yang sangat tak biasa bagi Reyhans, pria ini sedang memujinya dengan tanpa sengaja.
__ADS_1
"Ti-tidak, maksudku aku saja yang di sana," pinta Reyhans karena tak tahan jika ia harus merelakan wajah cantik Evany menjadi pusat perhatian mereka.
"Kenapa? Kan gak ada bedanya," ujar Evany merasa takkan ada bedanya kalaupun mereka berpindah posisi.
"Ada, cepat sini, jangan membantah."
Reyhans tak ingin menunjukkannya alasannya, walau hatinya tengah bergejolak dan rasanya ingin menghantam beberapa pria yang duduk tak jauh dari mereka.
Menghabiskan malam di salah satu angkringan tempat Evany biasa berkumpul bersama teman-temannya sejak masih mengenyam pendidikan terakhirnya, Reyhans perlu waktu untuk menyesuaikan diri, bukan karena makanannya, melainkan karena orang-orang di sana membuatnya naik darah.
Pakaian Reyhans terlalu rapi, ia pikir Evany akan mengajaknya makan malam ke sebuah restoran mewah, maka dari itu penampilannya benar-benar sangat berbeda dengan apa yang Evany kenakan malam ini.
"Kamu suka tempat ini?" tanya Reyhans mulai membuka kembali pembicaraan, dan kini dia bisa mengawasi dengan jelas mata-mata yang sejak tadi memandangi kecantikan kekasihnya.
"Suka, kamu nggak suka ya?" Walau berusaha Reyhan tutupi, tetapi tetap saja sangat jelas jika memang ia tak senyaman itu.
"Apapun yang kamu sukai, aku akan suka," jawab Reyhans dan berhasil membuat Evany memerah, wajahnya memperlihatkan dengan jelas bahwa dirinya terbuai kalimat Reyhans, benar-benar lemah memang.
"Syukurlah, besok-besok kita ke tempat ini lagi mau?"
Sontak Reyhans menggeleng, ia menatap lekat Evany yang kini masih menikmati makanan yang menurut Reyhans tidak begitu enak.
"Kenapa? Katanya suka." Evany kecewa dengan apa yang Reyhans ucapkan, padahal ia berharap sekali bahwa ini bukan menjadi kali terakhir Reyhans menemaninya ke tempat ini.
"Di sini terlalu banyak laki-laki, aku tidak suka, Eva." Ia berucap dengan nada datarnya yang lagi-lagi membuat Evany salah paham.
"Maksud kamu? Maunya di tempat yang banyak wanita cantik gitu ya?" Pertanyaan jebakan dan membuat Reyhans memejamkan matanya, ia salah bicara.
"Bu-bukan begitu, Eva ... aku tidak suka kamu jadi pusat perhatian mereka," jawabnya sembari menghela napas panjang, sungguh ia bingung terhadap diri sendiri, sempat mengejek Gian berlebihan perihal wanita, kini Reyhans baru merasakan pelan-pelan menjadi Gian.
"Ah begitu? Berarti aku cantik dong, kok jadi nggak suka?"
"Ck, kamu pura-pura boddoh atau apa? Mereka melukai hatiku, Eva ... tolong mengertilah." Reyhans memijit pangkat hidungnya, kekasihnya ini tak peka atau memang sengaja membuatnya terlihat bodoh, pikir Reyhans.
"Buahahah kan cuma lihat, mereka nggak bisa peluk juga, lebay sekali."
Evany menarik sudut bibir, walau hanya sebatas percakapan seperti ini, akan tetapi ia benar-benar merasa tengah diperlakukan sebaik mungkin sebagai wanita dari Reyhans, tanpa perasaan takut kalah dari sosok Gian yang kerap menjadi penghalang kebersamaan mereka berdua.
__ADS_1
🧞‍♂