Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 214. (Hanya) Orang Asing


__ADS_3

Lima menit hanya Ardi habiskan untuk memandang wajah Maya. Masih seperti dulu, nyatanya Ardi masih berdebar walau hanya menatap matanya. Wanita cantik yang dulu ia pinang dengan baik-baik, dan ia lepas dengan cara paling hina kini terlihat jauh lebih cantik.


Tidak ada lingkar hitam dimatanya akibat menangis seperti kala bersamanya, dan wajahnya terlihat amat segar. Mungkin jika dia duudk di sisi Radha, keduanya akan terlihat seperti adik kakak.


“Apa kabar? Kamu … baik-baik saja?”


“Langsung saja, bagaimana dengan Radha?”


Tidak ada panggilan Mas, ataupun semacamnya. Kali ini Maya benar-benar menganggap pria didepannya ini tak berguna sama sekali. Hanya seonggok masa lalu yang bisa menggoreskan luka, sakitnya masih sama bahkan bekasnya tiada terkira. Mana mungkin Maya bisa terlihat baik-baik saja di hadapannya.


“Putri kita baik-baik saja, dia bahagia … sebelumnya aku sudah mendapat kabar dari Raka, kita sebentar lagi punya cucu, May.”


Hanya senyum tipis, Maya bukan bahagia lantaran ucapan Ardi yang seakan sedekat itu padanya. Akan tetapi ia bahagia lantaran kabar baik yang jelas adalah kebahagiaan Radha.


Sempat bertemu secara langsung bersama Gian, membuat Maya yakin bahwa putrinya jatuh dalam pelukan lelaki yang tepat.


“Syukurlah, semoga Radha baik-baik saja, meski umurnya masih semuda itu,” tutur Maya pasrah.


Karena mau marah dia juga tak memiliki hak. Walau tetap saja kekhawatiran itu ada. Mengingat dirinya dulu masih sibuk mengejar cinta Randy kala seumuran Radha. Namun, dengan Gian sebagai suami putrinya, setidaknya ia tak perlu secemas itu.


“Kamu, apa tidak berniat untuk menemuinya, May?”


“Mungkin suatu saat, jika Tuhan mengizinkan.”


Niat Ardi justru menjalar, melihat Maya di depannya, ia berniat membawa Maya bersamanya agar bisa mendatangkan sosok mama untuk Radha. Tanpa Ardi ketahui bahwa Maya sudah lebih dulu berusaha untuk hadir dalam hidup Radha.


“Kalau bisa luangkan waktu kamu untuk dia, May … sudah lama Radha tidak berjumpa mamanya kan.”


Pernyataan Ardi sontak membuat Maya ingin muntah dalam sekali waktu. Sungguh lucu, bagaimana bisa Ardi mengatakan hal itu sedangkan dulu dia sendiri yang membuang Maya dan memberikan batas setinggi itu untuk mengunjungi putrinya.


Dipaksa berpisah, dan tak memiliki ruang untuk kembali adalah cara paling hina. Dan kini melihat Ardi yang justru terlihat menyedihkan, Maya menatapnya dengan penuh kemenangan.


“Kenapa? Bukankah dulu kamu yang meminta untuk pergi jauh dari kehidupanmu, bahkan hanya untuk bertemu Radha aku tak bisa, kurang jahat apa hidupmu, Ardi.”

__ADS_1


Ardi menunduk lemah, memang benar ucapan Maya. Dia sempat membuat kehidupan Maya hancur sehancur-hancurnya. Dibutakan cinta dan dia merasa dunia hanya tentang Dewi saja hingga membuat Maya seakan tak berharga.


“Maaf, May, aku memang bersalah … dan benar kata Raka, aku gagal menjadi suami sekaligus ayah dalam keluarga yang aku bangun.”


“Baguslah kalau sadar, tapi kamu sudah terlanjur memilih dongengmu bersama Dewi, dan kamu memaksa dongeng kita berakhir tanpa aba-aba … aku harap ini pertemuan terakhir kita, kalaupun nanti bertemu lagi, anggap itu kali pertama dan kita memang tidak pernah mengenal sebelumnya.”


Bagaikan hunusan pedang, menusuk dada dan kenapa sesakit itu rasanya. Ardi bahkan sejenak kesulitan untuk kembali bernapas normal. Ucapan Maya lebih sakit dari apapun, bahkan matanya membasah hanya karena ucapan mantan istrinya.


“Kamu mau kemana?” Meski sempat membeku, Ardi menyadari kini Maya hendak berlalu meninggalkannya.


“Suamiku sudah menunggu, terima kasih kabar baiknya pagi ini.”


Tak habis pikir, Ardi terkejut dengan Maya yang benar-benar menganggapnya sebagai orang asing. Sengaja menyebut suami, Maya mempertegas jika diirnya memiliki kehidupan lain dan tidak lagi mengharapkan Ardi dalam hidupnya.


“Hati-hati,” tutur Ardi lembut, namun tak mendapat jawaban lagi dari Maya, wanita itu telah berlalu pergi, meninggalkan pria yang kini hanya menghela napas panjang menatap punggungnya yang kian menghilang.


“Aku pernah menyia-nyiakan dia.”


Terlambat, semua tidak lagi menjadi milih Ardi. Sama sekali, karena memang apapun yang kini ia rasakan adalah imbas dari apa yang telah ia lakukan di masa lalu.


-


“Apa kamu tidak keterlaluan, Gian?”


“Pa … memangnya aku salah?” Gian menatap wajah papanya bingung, keputusannya tadi pagi sudah sangat benar, dimana salahnya, pikir Gian.


“Andai, sesuatu yang kamu sayangi hilang dan tidak bisa kembali, apa kamu tidak akan marah, Gian?”


Masih tak habis pikir, rekaman CCTV yang menunjukkan ulah Gian pagi-pagi masih membuat Raka sedikit emosi. Entah kenapa putranya seusil ini, seakan benar-benar lupa usia.


“Minta maaf, jangan kurang ajar, Gian.”


“Hm, iya.”

__ADS_1


Matanya tetap fokus pada tumpukan berkas yang kini ada di depannya, ia lupa jika semua yang terjadi di rumah dapat tertangkap basah oleh papanya. Dan dengan bodohnya, Gian tak sadar jika hal semacam itu akan terjadi.


“Kamu sudah dewasa, lebih baik fokus pada pekerjaan dan keluargamu, kamu bukan lagi seseorang yang berhak melakukan segala hal semaumu, Gi, sudah menikah … ingat itu.”


Raka sudah memberikan yang terbaik, didikan macam apa yang belum ia ajarkan pada Gian. Akan tetapi memang tingkah kurang ajarnya masih saja melekat bahkan sangat sulit untuk Gian hilangkan.


Sementara di rumah, berbeda dengan Gian yang tengah mendapat ceramah dari Raka. Kini Radha hanya berusaha memberikan semangat untuk Budi yang tengah dirundung duka, mungkin pria itu takkan bisa melakukan segala hal dengan baik dalam beberapa hari kedepan.


“Sabar, Bud … mungkin memang sudah seharusnya Hercules hidup bebas,” ujar Aryo merasa kasihan, walau ia memang benar-benar sempat kesal dengan peliharaan Budi tetap saja melihat temannya bersedih ia tak tega.


“Iya, Pak, ikhlaskan yang pergi, kalau memang takdirnya kembali, dia takkan berlari.”


“Aduh, Non, Hercules bukan manusia, dia hanya burung biasa … mana ada takdir-takdir kembali begitu,” keluh Budi, ia tak memiliki semangat untuk saat ini, baru saja senang ternyata hanya sesaat, sungguh malang nasib dirinya.


“Iya juga sih, ah tapi tenang aja … nanti saya minta kak Gian buat beli burung yang sama, jangan sedih, Pak.”


Drrt drrrt drrrt


“Bentar saya angkat telepon dulu,” pamit Radha kala ponselnya berdering, sedikit buru-buru karena dia takut yang menelpon justru Gian.


Belum sempat terhubung, panggilan itu sudah terputus. Aneh, namun Radha tak terlalu ambil pusing dengan nomor yang mengubunginya itu. Tak juga berniat menelpon balik, karena ia tak ingin hal macam-macam terjadi padanya.


Bisa kembali memegang ponsel adalah hal yang cukup sulit ia dapatkan, dengan rayuan maut Radha memintanya baik-baik pada Gian, dan pria itu tentu saja takkan memberikan ponsel itu tanpa syarat.


Ting


Notifikasi pesannya muncul, Radha menggigit bibirnya, sejenak terdiam dan membuka pesan itu dengan perasaan yang sedikit berbeda.


“Hai … aku di depan rumahmu, keluar sekarang! Aku tunggu.”


“Depan rumah? Siapa?” Radha sedikit bingung, pasalnya ia tak pernah memberitahukan pada siapapun alamat rumahnya, baik itu ke teman sekolah atau siapapun.


Tbc

__ADS_1


Lanjut, aku ngetik Bab selanjutnya abis ini ❣️


__ADS_2