
"Mas, udah!!!"
Sudah Maya katakan, tapi Randy tetap tak peduli. Kini, melihat suaminya membabi buta Maya hanya bisa berteriak histeris. Pantai tak lagi seramai itu, dan beberapa orang yang jaraknya cukup jauh dari mereka tak menyadari bahwa Randy tengah dalam bahaya.
"Kau membelanya?" Mata hitam itu menatap Maya nyalang, jemarinya kirinya masih erat mencekik Randy yang kini hampir sulit bernapas.
"Kamu bisa bunuh orang, Mas."
Suara Maya bergetar, melihat Randy yang hanya menatap datar Wira tanpa perlawanan sedang Wira menguasai kesempatan. Wajah Randy tak lagi seperti beberapa saat lalu, darah mulai keluar di sudut bibir dan hidungnya. Namun anehnya, pria itu tak berniat membalas serangan Wira sedikitpun.
Bunuh? Wira menarik sudut bibirnya ngeri. Ini berbeda, bukan senyum yang menunjukkan dirinya ramah pada Randy. Melainkan, wajah tersiksa Randy yang kini berada di bawahnya membuat pria berdarah jawa itu puas sekali.
"Mas tolong lepaskan, ya Tuhan!!"
Susah payah Maya menarik tubuh suaminya agar melepaskan Randy, namun tenaganya tak sekuat itu. Diamnya Randy yang menerima begitu saja pukulan demi pukulan membuat Maya frustasi.
"Bang Randy jangan diem aja, Begok!!"
Manik sendu Randy masih sempat ia tatap kala paniknya mencoba menjauhkan Wira, namun kesalnya hanya ada senyum tipis yang Randy berikan dengan bibir merah yang tak wajar lagi itu.
"Tolong, temen saya bisa mati."
Maya berteriak, manakala dua orang pria yang masih bingung baru menghampiri mereka. Sejak tadi keributan yang terjadi memang telah memancing keduanya, namun sempat berpikir bahwa ini adalah urusan pribadi yang harusnya tak perlu mereka ikut campur.
Tapi tunggu, kedua orang itu mengurungkan niatnya kala pria yang menjadi penyerang menatap dengan tatapan dinginya. Wiratmaja Wulan Danu, pria yang terkenal sebagai pengusaha kaya sekaligus penguasa dunia hitam, mereka tak punya keberanian untuk menolong seseorang yang kini tengah dalam amukannya.
"Kalian kenapa bengong?!! Cepat bantuin!!"
Maya kesal luar biasa menatap mereka yang terlihat ketakutan dan memilih mundur, belum lagi Arunika yang sejak tadi meminta agar papanya berhenti tak sedikitpun Wira gubris. Nampaknya ia makin marah kala putrinya kini berpihak pada Randy yang ia anggap sebagai penghancur utama Maya.
__ADS_1
"Badjingan ... kau lihat sekarang, bahkan putriku bisa menangis hanya karena pengecut sepertimu."
"Cih, pengecut kau bilang? Bukankah kau yang pengecut, Wira? Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Maya dan ...."
Bugh Bugh
Belum usai Randy bicara, pria itu kembali membabi buta. Tak sedikitpun ia beri kesempatan untuk Randy benar-benar melawan.
"Berani kau bicara? Aku hancurkan hidupmu sekarang juga, Randy."
"Hancur? Hahaha!! Aku sudah hancur sejak dulu, Wira ... kau mau menghancurkan yang mana lagi? Hm, lakukanlah!"
Perkataan menantang yang keluar dari bibir Randy membuat darah pria dengan manik hitam tajam itu mendidih. Ingin rasanya ia habiskan Randy tanpa sisa, namun tak mungkin ia lakukan ini di tempat terbuka.
"Mas aku mohon, udah ... aku yang salah, Mas.
Maya mengiba, bagaimanapun ia hancur melihat Randy yang sudah tak berdaya. Sudah ia duga, Randy akan menerima sakit yang seluar biasa ini. Wira belum juga berubah, dalam hidup Maya hanya miliknya, tak peduli bagaimanapun dunia menilai buruk dirinya.
******
Brugh
Beruntung saja Gian segera datang dan menyerang Wira dari belakang hingga pria itu hampir tumbang. Tak tanggung, dengan kekuatan maksimal dan keahlian bela diri yang di turunkan sang papa padanya membuat Wira kehilangan keseimbangan untuk sesaat.
"Dasar begook!!! Lawan kenapa diem aja!!!"
Gian menatap wajah Randy yang teramat menyedihkan, ingin ia caci karena tubuh pamannya tumbang selemah ini namun tak memberikan perlawanan sedikitpun.
Arrrrggghhhh
__ADS_1
"Mas!!" Maya sedikit lega Randy berhasil lepas dari cengkraman Wira, namun kini suaminya terlihat lemah usai mendapat serangan tak main-main dari menantunya.
"Papa!!" Jelas Arunika menangis, belum usai tangisnya karena Randy kini melihat papanya merasakan sakit ia meneteskan air mata juga.
Tepat sasaran, Gian menendang tepat di titik kelemahan Wira. Mungkin kini tulang punggung pria itu retak akibat ulahnya, namun Gian tak peduli. Karena saat ini, Randy terlihat takkan bisa tersenyum seperti tadi pagi.
"Udah dibilangin pulang!! Ngapain pakek sok jadi anak senja, udah tua juga." Omelan Gian hanya terdengar samar oleh pria lemah itu, ia hanya diam namun tergelitik ingin tertawa mendengar keponakannya.
"Dasar kurang ajar kau," tutur Randy yang sembari terbatuk-batuk dan meringis menahan perih.
"Terserah, ayo pulang ...."
Sempat kesal lantaran Randy menjadi penghalangnya untuk dapat beristirahat dengan tenang, Jelita yang terus mengganggu putranya dengan alasan khawatir pada sang adik membuat Gian terpaksa mencari manusia ini.
"Pulanglah, aku tidur di sini saja, Gian."
"Ays!!! Kenapa kalian benar-benar membuatku sial?!!"
Bagaimana tidak dia kesal, Randy menolak uluran tangan Gian untuk membantunya berdiri. Jelas ia ingin mengamuk, berapa banyak waktu yang ia buang karena pria kurang waras ini.
"Aku tidak kuat bahkan hanya untuk berdiri," tuturnya begitu lemah tanpa membuka mata, nampaknya memang benar ia akan tertidur.
"Baiklah!! Ini kali terakhir," ucapnya kesal bukan main, mengapa pamannya kini semakin manja.
Setelah Gian berada di antara mereka, barulah kedua orang yang sempat diminati pertolongan oleh Maya berani bertindak. Karena mereka juga mengetahui sosok Gian dari berbagai media yang menjelaskan bahwa pengaruhnya juga cukup besar di negeri ini.
"Aaarrrrgghhh," teriak Randy kala dua orang itu mulai membantunya, entah itu bagian dari seni peran atau bagaimana.
Gian hendak segera berlalu, namun Maya dan Arunika masih saja menangis menatap suaminya lemah dengan beberapa orang yang menolongnya membuat hati Gian tergerak untuk melangkah kesana. Namun, entah mengapa niat itu hilang seketika kala ia mengingat bagaimana Maya memperlakukan istrinya beberapa waktu lalu.
__ADS_1
"Persetan, air mata istriku lebih dari itu," ujarnya tersenyum miring menatap Maya dengan ekor matanya.
🌻