Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 236. Hari Apes (Reyhans Gara-Gara Gian)


__ADS_3

"Kenapa lagi?" tanya Reyhans kala Gian berhenti melangkah, sepertinya ada yang ia lupakan karena pria itu bahkan terdiam beberapa saat.


"Reyhans, antar aku pulang lagi," titah Gian sesukanya, padahal karyawan sudah berdatangan dan bisa-bisanya dia ingin kembali ke rumah.


"Kenapa memangnya? Apa ada yang tertinggal, Gi? Jika ada, biar aku sendiri yang pulang."


Reyhan memberikan saran paling baik diantara pilihan, karena memang khawatir Gian terlalu lelah karena jadwal pria itu hari ini cukup banyak. Karirnya semakin baik dan tentu banyak perusahaan yang mulai menjalin hubungan kerja sama dengannya.


"Aduh, tapi ini tidak bisa diwakilkan, Rey ... harus aku yang benar-benar pulang."


Gian menggigit bibir bawahnya, nampaknya memang hal ini cukup mendesak. Dan Reyhan tak bisa berkata apa-apa kala Gian kembali memerintah.


"Baiklah jika memang harus begitu, tapi kalau boleh tau, apa yang kau khawatirkan, Gian?" tanya Reyhan karena memang dia juga khawatir menatap raut wajah Gian yang sangat amat berbeda.


"Nanti juga kau tau, sekarang ayo cepat antarkan aku, kita harus cepat."


Segawat itu, belum lagi wajah Gian yang sangat serius membuat Reyhans semakin tegang saja. Pagi-pagi Gian sudah membuat Reyhans uring-uringan.


Selama perjalanan, Gian menatap fokus kedepan dan Reyhan menambah kecepatan. Khawatir jika ada sesuatu yang salah pada Radha, karena memang selain Gian, Radha adalah orang yang sangat amat penting bagi Reyhan.


"Tenang, Gi ... semua akan baik-baik saja," tutur Reyhans, padahal dirinya sendiri yang tak bisa tenag sama sekali.


Tak butuh waktu lama, mobil memasuki gerbang rumah bak istana itu. Aryo dan Budi tampak akur sekali, bahkan gerakan mereka menyambut kedatangan Gian.


"Kau tunggu disini, aku tidak akan lama," ucap Gian buru-buru dan segera turun meninggalkan Reyhan, akan tetapi belajar dari pengalaman Reyhan tak ingin sesuatu terjadi di luar pengawasannya, segera pria ini ikut turun.


Langkah Gian sangat cepat, setengah berlari. Jelas saja membuat Reyhan khawatir bukan main, pikirannya sudah macam-macam.


Belum lagi keadaan Radha yang tengah hamil, Gian buru-buru dan sama sekali belum menjelaskan alasan dia untuk pulang, jadi wajar saja yang ada dalam pikiran Gian seburuk itu.


"Astaga dia cepat sekali," keluh Reyhan kala pria itu kini meniti anak tangga dengan langkah panjangnya.


"Sayang," teriak Gian yang semakin membuat Reyhan justru senam jantung, apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Gian sepanik ini.


Hampir tiba di kamar mereka, Radha justru sudah membuka pintu kamar, mungkin kebetulan dia akan turun.


"Kak? Kenapa?" tanya Radha menatap khawatir Gian dengan napasnya yang memburu.

__ADS_1


Menyaksikan mereka sudah bertemu, dan Radha tampak baik-baik saja, Gian bertahan dengan posisinya. Berdiri tak jauh dari mereka, dan sialnya dugaan Reyhan salah besar.


Adegan manis itu kembali ia saksikan, setaan!! umpat Reyhan kesal bukan main kala menyaksikan Gian tengah mencium bibir istrinya selembut itu. Sontak Reyhan membelakangi mereka.


"Dasar kurang ajar, aku kira hal genting apa."


Baru kali ini Reyhans menyesali keputusannya, kekhawatiran berlebihannya justru membuat dia panas dingin pagi ini. Terlalu manis dan membuat mata Reyhans terasa sakit.


"Rey?" panggil Gian dengan suara datarnya.


"Aku tidak melihatnya, lanjutkan saja, Gian ... aku akan menunggumu."


Dengan sejuta penyesalan, Reyhan memilih turun tangga dengan perasaan malu dan kesal yang menjadi satu. Entah mimpi apa dia hingga melihat hal semacam ini di pagi hari.


"Ck, sudah kukatakan tunggu masih saja."


Masih dapat Reyhan dengar omelan Gian, akan tetapi dia enggan untuk berucap karena memang salah dia. Tanpa perdebatan.


-


.


.


.


"Kamu dengar sendiri kan, dia nggak lihat."


Gian menghela napas pelan, sudah pasti ia sudah menciptakan omelan panjang sebelum bertemu Reyhan.


"Kakak sih, kenapa nggak masuk dulu kalau mau begitu, nggak lihat-lihat tempat."


Radha mencubit perut suaminya cukup kuat, karena memang Gian tak memberikan dia kesempatan bahkan untuk bernapas lebih dulu. Menjawab pertanyaannya saja belum dan Gian secepat itu ******* bibirnya.


"Hahah salah sendiri, kamu belum cium Kakak hari ini." Gian menempelkan keningnya, mengeluhkan hal semacam ini yang menurut Radha adalah hal sepele.


"Kan sebelum pergi udah, Kakak pamit seperti biasa, aku cium tangan, Kakak cium kening," jelas Radha merasa tidak ada yang kurang dari mereka.

__ADS_1


"Iya tapi cium di sininya belum, bibir Kakak kan kaku."


Bisa saja membuat alasan, Gian memiliki sejuta alasan untuk membuat dirinya berada di posisi benar. Dan kini Radha hanya bisa tersenyum melihat kelakuan suaminya.


"Ini bisa ngomong, nggak Kaku."


Radha menyentuh bibir yang merasa kurang kecupan itu, tangan Gian masih melingkar di tubuhnya, dan tentu saja pria itu memilih untuk kembali masuk ke kamar dibandingkan segera turun menemui Reyhan yang ia perintahkan untuk menunggu.


"Eh, mau apa? Kakak harus kerja, jangan aneh-aneh deh."


Wajib waspada, karena biasanya berawal dari yang begini Gian akan meminta yang begitu. Radha memang merindukannya, tapi tidak setiap waktu seperti Gian.


"Satu jam, Kakak masih punya waktu buat sama kamu, Sayang."


Seakan Radha yang memintanya, padahal dia yang mengambil kesempatan. Dasar sinting, pikir Radha berusaha menjauhkan tangan Gian yang mulai kemana-mana.


"Ya satu jam mau ngapain? Kak Rey nunggu di bawah ya, Kakak jangan macem-macem deh," tuturnya sedikit gugup karena kini suaminya bukan hanya fokus di wajah, melainkan turun ke leher.


"Wangi banget sih, kamu baru mandi ya?" Telinganya tak berfungsi untuk sementara waktu, ia tengah fokus menciptakan tanda kepemilikan di leher Radha.


"Ck, pake ngalihin pembicaraan lagi ... astaga, Kak ini masih pagi, nanti malam kan bisa," ucap Radha sembari mencubit suaminya lagi dan lagi.


"Hahaha, kangen, Ra ... Kakak nggak bisa kerja kalau nggak kamu turuti."


"Bentar, awas lama."


"Hm, bentar, janji," tuturnya, kalimat paling bohong pada kenyataannya.


Pagi-pagi, matahari kian meninggi. Nyatanya bukan hanya matahari, akan tetapi bira*hi Gian juga yang meninggi. Sebelumnya ia hanya menginginkan bibir Radha, akan tetapi aroma tubuh Radha yang menjadi candu justru membangkitkan jiwanya sebagai laki-laki dewasa dan juga normal.


Pasrah, mana mungkin dia berteriak dan meminta tolong seseorang demi bisa menjauhkan Gian. Tak butuh waktu lama bagi Gian, sentuhan lembut itu berhasil membuat istrinya luluh pada akhirnya.


Melemparkan jas di sudut ranjang, menyusul dasi dan juga kemejanya. Tak peduli bagaimana pikiran Reyhans tentangnya, namun yang pasti ia ingin menuntaskan belenggu rindunya lebih dulu.


TBC


Vote" nya kasih dulu 🧞‍♀

__ADS_1


Makasih kata Gian.


__ADS_2