
"Ayo pulang, kamu yang bawa motor bisa?"
Pertanyaan macam apa itu, nampaknya Gian tengah meremehkan kemampuan Istrinya. Dengan begitu yakin Radha meraih kontak motor dan menyerahkan bubur satu kantong yang saat ini lebih berharga dari nyawa Gian.
"Bisa!! Siapa takut," tuturnya, padahal dirinya tak begitu yakin, karena hanya sempat belajar beberapa kali dan itupun sudah lama.
"Okay!! Kita berangkat sekarang."
Sebegitu percayanya Gian pada tubuh mungil itu, padahal untuk naik saja Radha butuh usaha. Meski demikian bukan Radha namanya jika takut pada tantangan.
"Iket rambut aku," titah Radha menyadari rambut membahana badainya ini sudah sedikit longgar, ia tak mau jika nanti justru mengganggu dia berkendara.
Gian sudah cukup ahli kali ini, dia tidak menerima banyak protes dari Radha perihal kunciran rambut. Wanita itu memulai aksinya, tak lupa dengan segala doa ia lantunkan agar selamat hingga tujuan.
"Buruan naik," ucap Radha kala dirasa siap untuk tancap gas, firasatnya cukup baik, semoga saja memang baik.
"Bismilah, lindungilah Hamba dan istri Hamba pagi ini ya Allah."
Seperti biasa, Gian akan selalu komat kamit dan meminta pertolongan pada Tuhannya. Meski sebenarnya dia sendiri yang meminta, akan tetapi tetap saja ketakutan itu masih ada.
"Pelan-pelan ya, Sayang ... yang penting kita nyampe dengan selamat."
Menepuk pelan pundak Radha, sebelumnya dia sangat yakin untuk menantang Radha melakukan hal ini. Akan tetapi, jika sudah begini mengapa justru Gian yang gemetar.
"Diem dong, nggak usah meluk begitu pegangannya."
Posisi Gian membuat Radha kesulitan, kenapa harus menempel seperti itu, pikirnya. Dan tangan jahil itu dengan santainya memeluk Radha begitu erat takut jika nanti dia terbang.
"Kamu tiap pegangan begitu, masa Kakak nggak boleh."
Dia protes, perdebatan sepasang suami istri dari kalangan menengah ke atas tapi sedikit stres itu membuat beberapa dari mereka terdiam sejenak. Ada yang kagum, menganggap mereka lucu, namun, tak sedikit juga mereka menganggap Gian dan Radha kurang kerjaan.
"One Two Three, Go!!"
Melaju perlahan, Radha bahkan mampu berkendara lebih baik dari Gian. Tak sedikitpun ia berpontensi menabrak pagar tetangga, tampak tenang dan seakan menguasai sebaik itu, padahal sebenarnya terjadi adalah Radha gemetar kini.
"Lama banget nyampenya, kenapa jadi berasa jauh ya Allah."
Gian tengah asik di belakang lantaran istrinya memiliki bakat sebagai pembalap, sementara Radha tengag berusaha tetap fokus di sela kebahagiaan Gian yang sejak tadi tak berhenti memamerkan kepandaian istrinya.
"Pak Budi bukaaa!!!!"
Dari jauh Radha berteriak, ia melaju terlalu kencang bahkan Gian mulai panik karena mulai terasa oleng. Belum lagi ketika dia harus berbelok semetara Budi dengan bodohnya justru diam dan tak bertindak cepat.
"Waah non Radha benar-benar multifungsi," ujar Budi mengungkapkan kekagumannya pada Radha.
__ADS_1
"Multitalenta, Budi!!" Aryo memang menjadi manusia paling sabar yang berada di sisi Budi. Perdebatan mereka cukup lama sembari menungu tuan dan nona muda mereka tiba.
"Lihat Aryo!! Dia semakin cepat," tutur Budi bangga sembari bertepuk tangan dengan hebohnya.
Gian mulai merasa kecepatan kali ini berbeda, belum lagi jarak dari pagar sudah begitu dekat. Dia panik dan Radha tengah berusaha untuk berhenti.
"Zura, rem!!!"
Gubrak
"Haaah, aku udah bilang buka, Pak Budi ... kenapa malah tepuk tangan," rengek Radha kala motornya persis menabrak pagar, tragedi itu tak dapat terhindarkan sementara Gian meloncat sebelum motornya benar-benar menghantam pagar.
Tubuh tingginya berhasil menyelamatkan bubur itu, bahkan lebih kurang ajarnya lagi Gian justru menyempatkan memeriksa sejenak apakah bubur tersebut masih baik-baik saja.
"Kak!! Bantuin!! Kenapa diem aja," teriak Radha luar biasa kesal lantaran suaminya lebih mengkhawatirkan bubur daripada dirinya.
Budi dan Aryo tengah berusaha menyelamatkan Radha, motor itu cukup berat dan wajar saja Radha kehilangan kendali dibuatnya.
"Sayang, kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan paling konyol sejagat raya, hari ini Radha double marahnya. Memang benar, jika Gian sudah ikut campur biasanya dia celaka. Ini terbukti, andai saja dia tidak menyusul, hal semacam ini takkan terjadi.
"Nggak, Kak, cuma kepalaku sepertinya terbentur, aku dimana ya?"
Suami istri sama saja, Budi dan Aryo saling menatap menyaksikan drama yang lebih menarik dari ftv masa kini di depan mereka.
"Minimal terkilir," tutur Aryo menatap punggung Gian yang kian menjauh, pria itu menghela napas pelan dan turut masuk demi mengangtarkan bubur itu.
Masuk, sudah tentu mereka disambut seribu satu pertanyaan dari Rhania dan Jelita. Diminta untuk membeli sarapan Radha justru pulang dengan keadaan yang sedemikian rupa.
"Ya Tuhan, kenapa bisa begini?" tanya Jelita tak tega menatap menantunya, Gian tampak bersalah namun sebisa mungkin dia mencoba tenang agar tak menjadi sasaran amukan Jelita.
"Biasa, Ma, anak muda."
Jawaban Radha seketika membuat Gian tenang, pernah berpikir bahwa Radh akan mengadu macam-macam, namun, nyatanya tidak demikian.
"Harusnya hati-hati, Ra, sakit?"
Radha menggeleng, akhir-akhir ini memang dia kerap memilih diam dan tak ingin banyak bicara apapun yang Gian lakukan terhadapnya, bagi Radha, selagi tubuhnya masih utuh maka tak masalah.
"Ya sudah kita makan dulu," ajak Jelita usai menerima bubur sekantong besar itu, tinggalah kini Gian dan Radha di sofa ruang tamu.
"Heh!! Jangan harap dapet maaf dari aku ya, ntar malem Kakak nggak boleh peluk aku."
Ternyata Gian salah, istri diam bukan berarti memaafkan. Akan tetapi marahnya kini lebih bahaya. Dan tentu saja yang akan ia salahkan kini adalah Budi yang tidak membuka pagar tepat waktu.
__ADS_1
-
.
.
.
.
Hari berlalu, sebagaimana jarum jam yang terus berputar maju, begitupun dengan kehidupan. Gian sedari tadi hanya tersenyum menyaksikan kedua buah hatinya.
Dua tahun berlalu setelah pengorbanan Radha sebagai ibu untuk anaknya, Gian menatap mereka dengan sejuta kebanggaan. Hidupnya terasa benar-benar sempurnya, langkah kaki di kecil yang tiada lelahnya membuat hati Gian berbunga.
"Sayang, jangan jauh-jauh!" teriak Gian tak ingin mereka terlena dan justru lupa tempat kembali.
Kemarin cukup menjadi pengalaman bagi Gian, bagaimana putrinya justru tiba-tiba hilang karena salah masuk mobil orang.
Aneh? Memang, begitulah Kalila. Terlalu heboh dan sifatnya yang mudah akrab membuat Kalila kadang lupa dengan siapa mereka pergi sebenarnya.
Gian duduk manis memandangi istri dan kedua buah hatinya dari jarak yang tak begitu jauh, untuk ikut bermain dia terlalu malas, kakinya yang banyak gaya lebih tepatnya.
"Papa, come here!!"
Kurang kencang apalagi suara Kalila, bicaranya sudah cukup lancar. Putrinya tumbuh menjadi anak yang pintar, bahkan Gian saja bisa dia bohongi.
"Kamu aja, Papa capek."
Radha mengerutkan dahi, dasar pria malas. Mengajaknya keluar saja sudah cukup sulit, dan kini Gian juga malas hanya untuk menemani Kalila.
Kalila yang merasa tak lega jika tak bersama Gian, kini memilih untuk berhenti dan kembali ke sisi Gian. Membiarkan Kama yang kini tengah asyik bermain bersama Radha.
Putra Gian itu memang tak begitu peduli sekalipun papanya tak bisa bermain bersamanya, karena bagi Kama yang penting itu adalah Radha, sang mama.
"Kenapa? Mainnya sama Mama aja, Sayang ... papa nanti ikutan." Gian membelai rambut putrinya, senyumnya terbit begitu sadar Kalila memilihnya.
"Nggak mau, duduk aja."
Gian menyambut kedatangan putrinya dan kini duduk di pangkuan Gian, piknik kali ini terasa hangat meski mereka lakukan tanpa terencana.
"Kamu capek, Kalila, tidur ya," ucap Gian menyadari jika putrinya memang terlalu aktif sejak tadi, berbeda dengan Kama yang sejak tadi hanya bermain bersama Radha dan tak kesana kemari.
Mama with Kama.
__ADS_1
Jangan lupa dukung keluarga ini👉👈 Babay, terima kasih.
Masih mau lanjut? Sementara aku ada karya baru muehehe.