Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 247. Kehidupan Sempurna (Dimulai)


__ADS_3

Menjalani peran sebagai orang tua memang tak mudah. Beberapa kali Radha bahkan menangis, bukan karena lelah fisiknya, melainkan kekhawatiran tak mampu menjaga kedua buah hatinya secara sempurna adalah hal yang paling nyata.


"Capek ya?"


Anak-anaknya sudah tertidur begitu lelap, Radha masih memandanginya bergantian. Temaram lampu tidur masih dapat membayangi wajah menerangi wajah mereka dengan jelas.


Tawa, duka dan seluruh kebahagiaan menyatu dalam jiwanya. Putra putrinya tengah aktif-aktifnya, tak lepas dari Gian yang selalu sigap dalam mendampingi Radha sebagai istrinya.


Merawat, bahkan tak jarang pria itu nekat membawa putranya yang masih berusia 6 bulan ke kantor dengan alasan tak bisa berjauhan dari mereka. Meski mendapat larangan dari Radha, akan tetapi ia masih tetap pada pendiriannya.


"Enggak, Kak, lega aja mereka tidur juga."


Sejak tadi siang Kalila memang rewel luar biasa, dan Radha yang memang masih begitu muda ia ikut menangis karena Kalila tak henti menangis. Diikuti dengan Kama yang juga terkejut, jelas menangis juga.


"Tidur, Ra ... mata kamu udah sekecil itu."


Gian menarik istrinya lembut, malam sudah larut. Tak ingin jika yang justru kelelahan adalah Radha. Devisa mungkin Gian membuat istrinya dapat merasakan kenyamanan.


Walau terasa berat, akan tetapi Radha menolak begitu Gian menyarankan untuk mencari pengasuh untuk kedua anaknya. Radha lebih memilih dan percaya pada dirinya sendiri, karena semenjak Layla yang dulu pernah mencelakainya ketika awal pernikahan, Radha yakin jika tidak semudah itu menemukan orang tulus dalam hidupnya.


"Cukup, Kak, tidur aja, kan capek juga." Pijatan di tubuhnya itu memang nyaman sekali, tapi Radha tahu suaminya juga sama lelahnya.


Gian tak tega jika harus tidur dengan melihat istrinya selelah ini. Ia yakin dibalik kata baik-baik saja itu, tersimpan sejuta lelah yang ia sembunyikan.


"Nggak, Ra, Kakak nggak capek."


Bohong sekali, padahal hari ini dia pulang malam. Pekerjaan yang menumpuk tak bisa Gian tinggalkan terus-terusan. Reyhans juga tak mungkin mengambil alih seluruh tugasnya.


"Tidurlah, sudah malam," ucap Gian begitu lembut, meski dia lelah, akan tetapi takkan pernah ia memejamkan mata lebih dulu.


-


.


.


.


Hari beganti, beberapa bulan telah berlalu, keduanya saling menguatkan dalam menjalankan peran. Meski terkadang Radha harus naik darah dengan ulah Gian yang juga sama manjanya dengan Kama dan Kalila.


Bayinya belum bisa bicara, tapi percayalah saat ini yang ia jadikan teman cerita adalah Kalila. Karena hanya bayi perempuannya yang akan menatap manik Gian sembari terkadang tersenyum mendengar ocehannya.


Lain halnya dengan Kama yang kerap menangis begitu merasa terganggu. Gian kelewatan, dan hal-hal yang ia lakukan kerap menjadi sumber kemarahan Kama. Yang tentu saja Radha akan mendukung putranya.

__ADS_1


"Dasar tidak seru, Kalila ... Kakakmu tidak asik ternyata." Gian mengadu pada putrinya, genggaman tangan mereka terjalin begitu eratnya.


Di atas tempat tidur, Gian merebahkan kedua anaknya bersebelahan. Niatnya ingin bercerita panjang lebar, akan tetapi Kama sepertinya tidak ingin diganggu hari ini.


"Kakak yang kelewatan, bayi di cubit-cubit ya nangis lah."


Radha yang baru selesai berganti pakaian hanya menggeleng. Entah kenapa suaminya ini juga berubah, bahkan lebih parah dari sebelumnya.


"Tapi Kalila ketawa, ganteng-ganteng jangan cengeng, Sayang."


Gian mengecup punggung tangan putranya, dan hasilnya sama saja. Baru disentuh saja, Kama sudah menangis. Dan Gian merasa serba salah, karena tak tahan, putranya terlalu menggemaskan.


"Tuh kan, memang dia yang sensi, Ra."


Susah payah Radha membuat Kama tertidur beberapa menit lalu, kini Gian pulang dan mengganggu tidur pangerannya. Jelas saja anak itu marah, dan kini Radha harus memperbanyak stok sabarnya, Gian terkadang membuatnya murka.


"Dia lagi tidur, Kakak ganggu."


Orang dewasa saja tentu merasakan hal yang sama. Dan kini Gian membuat Kama berada di posisi itu. Dengan lembut, terpaksa Radha kembali turun tangan.


Menenangkan kembali putranya, sejak tadi memang Kalila tertidur lelap, sebelum Gian pulang Radha menghabiskan waktu banyak bersama Kama yang tak tidur siang ini.


"Jangan ganggu lagi, dia mau tidur, Kak."


Peringatan Radha sudah cukup tegas, namun Gian tak mengizinkan putranya Radha tidurkan di tempatnya. Ia masih ingin memandangi kedua buah hatinya secara bersamaan.


"Awas ya, aku aduin sama Mama kalau Kama nangis lagi."


Gian mengangguk pelan, wajah pria itu sangat meyakinkan. Namun tidak pada faktanya, baru saja Kama berada di sisi Kalila, Gian sudah mendaratkan kecupan berkali-kali yang membuat Kama mulai tak nyaman.


"Ehem."


"Iyayaya enggak," ucap Gian cepat sembari menepuk pelan tubuh Kama.


-


.


.


.


Puas bicara banyak, Gian baru berhenti kala putrinya kini tertidur juga. Mungkin ceritanya terlalu banyak hingga kini membuat Kalila lelah sendiri.

__ADS_1


Dan bahkan ia tak sadar bahwa kini istrinya telah lelap tertidur lebih dulu. Gian memindahkan kedua bayinya, dengan pelan-pelan tentu saja. Karena jika salah satunya mengamuk, tentu yang akan kesulitan adalah Radha.


"Tidur yang nyenyak, Sayangku ... see you," tuturnya seakan masih kurang mengganggu, terutama Kama. Bahkan saat tidur pun putranya seakan menyimpan dendam pada Gian.


Gian belum terlalu mengantuk, ia merasa perutnya sedikit lapar malam ini. Mungkin makan malamnya terlalu buru-buru hingga berakibat seperti ini.


Tak bisa ditunda, ia harus menuntaskan keinginannya segera. Sebab tak mungkin ia akan tidur dengan perut berisiknya, dengan langkah pelan ia meninggalkan kamar, menutup pelan pintu kamar takut jika nanti mereka terganggu dengan pergerakannya.


Hingga tiga puluh menit berlalu, tentu saja bukan hanya makan. Pria itu sempat memeriksa keadaan di sekitar rumahnya. Hal ini biasa ia lakukan, walau sudah ada Budi dan Aryo ia merasa tak nyaman saja jika belum melakukannya.


Kembali ke kamar dengan perut kenyang, mata yang mulai mengantuk dan tubuh yang mulai meminta untuk segera diistirahatkan. Sebelum tidur ia memastikan terlebih dahulu putra dan putrinya, dan ia terkejut begitu melihat posisi tidur Kalila.


"Astafirullahaladzim, Kalila ... Benar-benar seperti Mamanya, kenapa kalian tidur harus seperti ini."


Gian membenarkan posisi kaki Kalila, wajar saja Radha selalu tidur dengan posisi kaki terangkat sebelah kala hamil. Ternyata bawaan Kalila, berbanding terbalik dengan Kama yang selalu tenang namun pantang buat diganggu



5 Besar pendukung Vote/Hadiah



Nur Aeni \= 50 K


Arum Ambar Sari \= 50 K


Cut Naira \= 50 K


Wen's \= 25 K


Nada Hidayat \= 25 K



3 Komentator terpilih



Ardiansyah Gg \= 15 K


Rahmie mirae \= 15 K


Civiliza Queena \= 15 K

__ADS_1



Follow back aku buat 8 akun itu ya, langsung ketik nomornya ya. Buat kali ini aku baru bisa kasih pulsa. Belum bisa Tf uang gkgk, ntar ya mungkin di karya lain. Buat yang ga masuk, makasih juga bukan berarti aku bedain, tapi mau bagi semuanya belum bisa, maafin yak.


__ADS_2