Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 137. Lupa Ingatan (Amnesia Akut)


__ADS_3

Sudah melewati jam makan siang, namun Gian enggan menerima tawaran dari Reyhans untuk makan segera. Pria itu tampaknya benar-benar pada pendiriannya, makan bersama sang istri setelah nanti Radha pulang sekolah.


"Nanti kau sakit, Gian."


"Sejak kapan kau peduli padaku, Reyhans."


Ia menarik sudut bibir, nampaknya pria itu mencoba untuk berbicara bukan sebagai bawahan. Namun Gian enggan terlihat dekat ataupun membuat Reyhans kembali merasa dekat.


Setelah kejadian buruk beberapa bulan sebelum pernikahannya, Gian benar-benar tak menganggap Reyhans sebagai sahabatnya lagi. Dan karena sang Papa membuat kontrak yang telah Reyhans tandatangani untuk menjadi Asisten Gian membuat mereka mau tak mau tetap bersama meski memang tak bisa kembali sedekat itu.


Meski beberapa sifat Gian tak mampu dihilangkan, seperti minimnya kesabaran Gian yang hanya Reyhans dapat menerima dengan lapang dada menjadi alasan utama Raka memperpanjang kontrak dan menawarkan imbalan yang fantastis untuk pria itu.


"Aku hanya menjalankan tugasku, Gi ... om Raka mempercayakanmu padaku, itu saja." Penjelasan Reyhans membuatnya terdiam sejenak, hanya demi Raka, tapi entah mengapa ia justru berharap Reyhans melakukannya bukan hanya karena uang dari Raka.


"Kau hanya bertanggung jawab padaku prihal pekerjaan, Reyhans. Bukan urusan pribadiku," tuturnya kemudian beranjak dan meninggalkan Reyhans yang sejak tadi menunggunya di sofa.


"Tunggu di sini, ada beberapa file yang perlu ku periksa, tolong kau cek sekarang karena aku akan menjemput istriku."


"Baik, Pak."


Begitu lapang dada Reyhans, menerima perlakuan seseorang yang dulunya adalah sosok sahabat, kini hubungan mereka hanya sebatas pekerjaan. Namun tak apa, bagaimanapun hubungan mereka merupakan simbiosis mutualisme yang memang saling menguntungkan.


Gian berlalu pergi usai menatap jam di pergelangan tangannya, masih beberapa waktu lagi Radha pulang, dan ia tak ingin Radha akan terlalu lama menunggu nantinya.


Berjalan dengan langkah panjang dan tatapan fokus kedepan. Pria tampan bertubuh tegap ini benar-benar menjadi pusat perhatian, sosok pria sempurna yang di inginkan banyak wanita. Namun sayang, kabar bahwa Gian telah memiliki istri itu telah semakin jelas.


"Andai gue bisa berjalan di sisinya, bahagia banget nggak sih, Sonya!!!!" teriak Sabila mencubit lengan Sonya kala Gian telah berlalu ke luar kantor. Wanita cantik yang merupakan resepsionis ini memang di usia matang yang menginginkan sosok pria seperti Gian tentu saja.

__ADS_1


"Suami orang, Bila ... sadar lu, lebih baik sama mas Tomy aja udah."


"Ih enak aja, yakali lu jodohin gue sama tukang batagor si."


"Ya lu sih, pak Gian udah punya istri, jangan cari gara-gara."


"Hahah ya bodo, sekalipun dia punya istri, kalau misalkan cantikan gue, bisa jadi ada kesempatan kan?" Ia begitu bangga menyombongkan kecantikannya, pegawai baru itu terlalu lancang menurut Sonya.


Sonya tertawa renyah, rekan kerjanya ini belum mengetahui fakta bahwa mantan rekan kerjanya dulu bahkan sempat kehilangan pekerjaan lantaran membuat kesalahan pada perempuan yang mereka yakini sebagai istri Gian.


"Terserah lu dah," ucap Sonya merasa tak berguna walau bicara panjang lebar pada Sabila, toh jika ia terkena masalah Gian takkan memasukkan seseorang yang memilih untuk tak ikut campur, pikir Sonya mencari aman.


********


Gian fokus menatap ke depan, lalu lintas cukup padat siang ini. Udara cukup panas, dan bisa dipastikan menyengat kulit. Berulang kali ia menatap jarum jamnya, hanya tersisa beberapa menit lagi ia harus sudah tiba di sekolah istrinya.


Berkendara sedikit sabar, berbeda dengan tadi pagi yang seakan ia memiliki nyawa lebih dari satu. Kini yang Gian pikirkan tetap Radha, tapi setidaknya ia harus bertemu dalam keadaan baik-baik saja.


"Hah? Ngapain dia naik motor? Ck, dia lupa apa yang aku katakan atau bagaimana?"


Dalam keadaan begini, jelas saja ia kesal. Dan keanehan istrinya yang hingga kini masih ia pertanyakan, Radha kerap sekali ia temukan naik motor dan mengabaikan perintahnya untuk menunggu jemputan, dan ini terjadi sejak di sekolahnya yang dulu. Mendadak, Gian mengingat Abian, pemuda gila yang ia anggap baru belajar turun ke jalan itu memang menyebalkan.


Gian mengikuti sepeda motor itu, tampak Radha berbicara dengan perempuan di depannya. Beruntung itu perempuan, andai saja itu laki-laki, Gian takkan berpikir dua kali untuk menghalangi jalannya.


"Kenapa berhenti?"


Ia mengernyit heran kala Radha tampak meminta turun di sebuah halte yang tak begitu jauh dari sekolah. Temannya itu mengangguk dan melambaikan tangan berdada ria sebelum meninggalkan Radha.

__ADS_1


Usai anak itu berlalu, Gian kini melaju dan berhenti tepat di depan Radha. Sejuta pertanyaan telah ia siapkan untuk istri kecilnya ini.


"Zura, naik."


Radha yang tidak siap dan tak menduga bahwa Gian akan tiba secepat itu jelas terperanjat kaget melihat suaminya itu.


Tanpa banyak basa basi, ia naik dan mengulurkan tangan sebagai bentuk sopannya. Gian memberikan punggung tangan yang hendak Radha cium, namun ia masih diam dan tanpa senyuman.


"Kamu kenapa nggak tunggu Kakak di sekolah? Kangen naik motor seperti dulu?"


Radha terkejut, menduga bahwa Gian telah mengikutinya sejak tadi. Dan pria itu berhasil membuatnya diam sesaat kini.


"Bukan, tadi aku tunggu Kakak, tapi sepertinya gerbang sekolah gak sepi-sepi, jadi sekalian deh ikut Ele seperdelapan perjalanan."


Bisa saja istrinya menjawab, namun tetap saja hal semacam ini tidak Gian sukai. Ia tak mengizinkan istrinya wara wiri dengan kendaraan roda dua itu, seakan tak ada trauma sedikitpun meski sudah kecelakaan berkali-kali, aneh pikir Gian.


"Besok jangan lagi, kau tidak ingat berapa kali kau kecelakaan di jalan raya, Zura?" tanya Gian serius.


"Ingat tentu saja, Kakak yang lupa mungkin," jawab Radha mantap, yang justru seharusnya ingat itu adalah suaminya. Ia mencebik kesal lantaran Gian sendiri yang merupakan pelaku utama dari setiap kecelakaannya seakan tak sadar diri.


"Ingat apa?" tanya Gian yang tak berpikir bahwa kini Radha tengah membahas tentang dirinya.


"Kakak inget pertama kali kita ketemu? Kakak hampir nabrak aku sewaktu aku jalan kaki sendirian, setelah itu Kakak nabrak juga ketika aku naik motor sama Abian di awal-awal pernikahan kita. Ih memang ya pengendara mobil terkadang suka semena-mena."


Gian terdiam begitu istrinya membeberkan rekam jejak kriminalnya, sungguh ia tak ingat bahwa pernah melakukan hal semacam itu.


"Iya makanya perlu hati-hati, Sayang, beruntung Kakak yang nabrak, coba kalau orang lain? Mana mau mereka tanggung jawab." Kalimat membela diri paling luar biasa yang membuat Radha tak mampu berkata-kata.

__ADS_1


"Heh!! Dari sebuah kecelakaan apa untungnya, untung nggak mati iya, huft menyebalkan."


Ia mendadak emosi begitu Gian menganggap remeh kecelakaan yang dulu sempat membuatnya kesulitan berjalan, jika ia ingat bagaimana Gian dulua rasanya ingin menguliti pria itu hingga tuntas.


__ADS_2