
Sakit karena merindu itu benar adanya, buktinya kini tampak jelas Ardi mulai membaik hanya dengan kehadiran sang putri.
Walau masih sedikit lelah kini Ardi sudah mau untuk sarapan bersama di meja makan, berbeda dengan kemarin, mulutnya terasa pahit walau hanya menegak seteguk air mineral.
Dan kini, ruang makan itu terasa kembali hidup setelah lama mati. Kehadiran Radha seakan menjadi penyejuk dalam benar Ardi sebagai papanya.
"Makan yang banyak, Pa."
Dan perhatian Radha yang kini terfokus pada Ardi membuat Gian menghela napas kasar. Entah kenapa walau kepada mertuanya Gian benar-benar tak rela berbagi.
Ia terlampau mencintai Radha, hingga ketika Radha harus membagi kasih sayangnya dia mulai merasa Radha tidak memintainya lagi, aneh memang, namun begini lah yang Gian rasakan.
"Gian kamu kenapa?"
Wajah sendunya menatap lesu sang mama, makanan di piringnya sama sekali belum tersentuh. Radha paham namun sengaja untuk sementara tak ia perlihatkan.
"Nasi gorengnya pedas, lidahku perih."
Mencari perhatian adalah bakat Gian yang paling luar biasa, Ardi yang paham watak putra sahabatnya itu memilih mengalah.
"Cukup, Sayang ... perhatikan suamimu sana," tutur Ardi menolak suapan Radha, perutnya juga terasa kenyang, dan sungguh ia tak tega melihat Gian yang kini justru murung dan hanya terdiam.
Radha menatap sekilas ke arah suaminya, matanya memang tampak menuntut waktu. Setelah Gian berlalu keluar kamar Radha memang tak mengikuti kemana langkah suaminya, melainkan ke kamar papanya.
"Coba lihat," ujar Radha memeriksa mulut suaminya, rasanya kejadian itu sudah cukup lama, dan juga sejak kemarin Gian tampak baik-baik saja, tidak ada gejala sariawan, pikir Radha.
"Nggak ada kok, Kakak sehat-sehat aja perasaan."
Bibir Gian menampilkan senyum tipis, setidaknya perhatian Radha kembali padanya. Persetan dengan anggapan Jelita dan Ardi padanya, karena pada faktanya manjanya Gian bukan hanya ketika dia berdua saja, melainkan di segala situasi, tak peduli apa penilaian orang terhadapnya.
"Tapi perih, kamu cuekin dari pagi lidah aku baperan."
Radha memejamkan matanya, entah kenapa pria ini semakin gila dan membuatnya ingin berguling tiba-tiba. Jika diurutkan, terkadang Gian melebihi kedua buah hatinya.
"Ya udah sini aku suapin, ini kan yang Kakak mau?"
Lama kelamaan Radha terbiasa, tak ada lagi rasa malu terutama di depan orang tuanya. Karena bagi Radha selama Gian tak bersedih maka tak mengapa.
Jelita menganga, kenapa putranya kini kembali seperti beberapa tahun lalu. Terakhir kali dia manja adalah tahun terakhir di sekolah dasar, setelah itu dia tak lagi merasakan manjanya Gian.
"Hoel, kamu nggak malu sama Kalila? Dia sudah bisa makan biskuit sendirian tanpa perlu di suap-suap."
Seperti biasa, satu-satunya orang yang berani mengungkapkan risihnya terhadap sifat Gian hanyalah Jelita.
"Mama kenapa? Iri ya?"
__ADS_1
Sama sekali Jelita tak iri, ia hanya merasa malu pada Ardi karena kini Radha justru menjadi istri seseorang yang pantas disebut bocah.
Sempat khawatir karena perbedaan usia antara Gian dan Radha, berbagai hal mengganggu pikiran mereka terutama masalah sifat Radha yang dikhawatirkan akan kekanak-kanakan dan tidak cocok jika dipasangkan dengan pria dewasa seperti Gian, nyatanya kini semua itu berbanding terbalik.
"Maafkan aku, Ardi ... sepertinya memang putraku kekurangan kasih sayang mamanya."
Mereka berbisik, menatap Gian yang kini sarapan dan harus dari suapan Radha. Pria itu bahkan bersedekap dada dan duduk santai persis anak SD yang hendak berangkat ke sekolahnya.
"Tidak, Jelita ... mereka saling mencintai, wajar saja jika Gian semanja itu," ucap Ardi mengerti mengapa seseorang bisa berubah seperti itu, jika dikatakan berlebihan sebenarnya tidak juga.
"Aku merasa gagal punya anak laki-laki, dia dulu tidak begini, sekarang berubah melebihi Kama ... aku juga heran."
Memang ada baiknya, mengingat dahulu Gian secuek itu bahkan menganggap Radha sebagai batang pohon yang sempat tak ia izinkan tidur di kamarnya, dan kini pria itu seakan terbunuh jika tanpa Radha di sisinya.
"Justru kalian berhasil, aku berterima kasih Radha bisa mendapatkan penamping sebaik Gian."
Jika mengingat kesalahannya, sebenarnya mungkin saja jika karma justru berbalas kepada putrinya karena telah menyakiti hati mantan istrinya. Akan tetapi, melihat Gian yang menjadi alasan putrinya tersenyum, Gian yakin jika kebahagiaan Radha adalah air mata yang telah Tuhan bayar tuntas melalui Gian.
-
.
.
.
Walau memang tidak ada hal yang begitu mendesak, tetap saja Reyhans harus mengeluarkan tenaga ekstra. Belum lagi dia harus mengantar jemput Evany yang sialnya justru pindah rumah dan itu cukup jauh.
"Reyhans," panggil Evany di sela heningnya perjalan mereka, wanita itu kerap mengeluh lantaran dirinya yang terus-terusan mencari topik pembicaraan.
"Apa?"
Seperti biasa, irit dan membuat Evany seakan bicara pada guru kimia. Semalas itu Reyhans bersuara, sungguh menjengkelkan, pikir Evany.
"Kenapa tidak jadi pengusaha saja, sepertinya kemampuanmu cukup mumpuni," ujar Evany menyampaikan idenya serius, namun hanya ditanggapi Reyhans dengan senyum napas pelan.
"Aku tidak bisa meninggalkan Gian, aku berhutang banyak pada keluarga Wijaya."
Bukan uang, melainkan budi. Reyhans adalah pria yang tercipta dengan kelembutan hati dan ia tahu terima kasih. Kala kehidupannya berada di titik terendah, hanya Raka yang bersedia mengulurkan tangan dan Gian tak pernah memandang statusnya dalam berteman.
Reyhans menyayangi Gian persis adiknya sendiri, walau mungkin Gian tak merasakan hal yang sama. Akan tetapi pria itu tak mengharap balasan dari apa yang tertanam dalam benaknya pada pria menyebalkan itu.
"Berapa milyar? Kok nggak bilang, padahal aku bisa jual lahan bapak, kan lumayan."
Evany dengan polosnya berbicara seenak jidat menganggap Reyhans terlilit hutang.
__ADS_1
"Kau pikir aku segila itu, bukan tentang uang, Eva ... tapi jasa om Raka padaku," jelas Gian dan kini diangguki oleh Evany, jika memang demikian wajar saja Reyhans sepatuh itu pada Gian, pikirnya.
"Kita sarapan dulu ya, perutku lapar sekali," pinta Evany tanpa basa basi, karena jika hanya kode Reyhans tak akan mengerti.
"Hm," jawabnya sesinggkat itu, ingin marah tapi tak bisa karena sejak lama dia sudah tahu watak Reyhan begitu.
"Irit banget, wajar aja bibirnya kecil begitu."
-
.
.
.
Nyatanya Gian tak hanya merepotkan satu orang, akan tetapi Randy juga turut menjadi korbannya. Hal yang paling tak Randy sukai dari Gian adalah ini, pria itu bebas istirahat sedangkan kewajibannya harus tetap berjalan ssbagaimana mestinya.
"Kau saja, aku malas sekali ... panti itu jauh, Gian."
Randy mengusap wajahnya kasar kala mendengar permohonan Gian untuk kesekian kali. Rutinutasnya setiap 6 bulan sekali itu tak ingin ia lewatkan, janji Gian pada Hulya dan anak-anak disana terasa berat ia langgar.
"Om!! Kapan lagi, ini adalah saatnya untuk kita sebagai manusia menabung bekal untuk kelak di akhirat, ini salah satu kunci surga, Om."
Ya, seperti biasa, ustadz dadakan itu akan mengeluarkan segala wejangan agar hati Randy tergerak. Padahal sudah Randy katakan jika dia sangat lelah.
"Kenapa tidak kau saja, toh besok masih bisa."
"Tidak bisa!! Hari ini adalah ulang tahun Sadam, kalau dia tidak menerima hadiahnya saat ini juga, dia akan kecewa."
Siapa lagi itu Sadam, sejenis garam laut atau apa, pikir Randy semakin kesal lantaran sejak tadi malam ia terus saja menyebut nama itu.
"Persetan dengan Sadam, kenapa harus kau, orang tuanya dimana, Gian?!!" Randy frustasi lantaran kini pria itu tetap kekeuh dengan kehendaknya.
"Om, itu panti asuhan, jadi simpulkan sendiri dimana orangtua mereka ... dasar kejam, bisa-bisanya mulutmu mengatakan hal sekurang ajar itu," cerca Gian seakan lupa yang minta tolong di sini siapa, dirinya benar-benar kelewatan.
"Baiklah, aku akan kesana tuan muda, dengan membawa semua mainan yang hampir memenuhi ruang tamuku ini, tak mengapa ... aku sangat rela keponakanku yang paling tampan."
Randy menahan kesalnya, semua yang Gian lakukan merusak suasana hatinya. Pria itu bahkan mendatangkan mainan berbagai jenis sebanyak itu yang ia amanahkan untuk diberikan ke panti asuhan.
Ingin marah tapi tak bisa, belum lagi ketika Caterine yang justru antusias kala mengetahui tujuan sang papa.
"Ikut ya, Pa," pinta Caterine menampilkan senyum manisnya, pasrah kini Randy mengangguk dan bersedia untuk mengajak putrinya.
"Ganti bajumu, kita mau ke panti asuhan ... yang ini tidak sopan, Sayang." Sebenarnya Randy tak begitu menyukai putrinya memakai pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuh, walau alasan Caterine hanya ingin mencintai diri sendiri terap saja Randy tak suka.
__ADS_1
"Okay, Papa ... tunggu ya," pintanya begitu memohon, jujur saja Caterine sangat ingin ke tempat semacam itu, selama ini Sheinna hanya mengajaknya bersanang-senang belaka.
"Hm, Papa tunggu."