
"Alhamdulillah!!!"
"Heeih!! Belom, itu masih ngaji ... sabar."
Kecewa sekali, beruntung air mineral itu belum dia tenggak walau setetes. Jelita bergerak cepat lantaran Radha sibuk dengan kedua buah hatinya yang juga tak mau ketinggalan.
"Belum ya?"
Wajah bingung itu menatap mereka satu persatu, Radha yang baru sadar jika Suaminya salah dugaan terbahak tiba-tiba. Sungguh, apa yang Gian lakukan sebenarnya kerap ia alami ketika belum menikah dulu.
Sepertinya memang pria itu benar-benar lelah hari ini, padahal tak begitu banyak yang dia lakukan. Bahkan hanya beberapa hal dan itupun tak terlalu melelahkan.
"Makanya mata jangan fokus ke makanan, umur kamu berapa sebenarnya Gian?"
"Papa kurang kerjaan nanyain umur ke aku, kalau ke Kama iya masuk akal."
Dia sama sekali tak paham jika kini Raka tengah menyinggung tingkahnya yang tak sesuai umur. Bukan serius bertanya karena lupa atau alasan lain.
"Terserah kau saja," ujar Raka kini memilih diam, memang salah dia membuka pembicaraan bersama kudanil kehausan itu.
Gian yang tadi sempat kecewa lantaran tertipu, justru kembali dibuat bingung akibat Raka yang tiba-tiba mempertanyakan perihal usianya. Apa mungkin papanya ingin memberikan ladang sawit, pikir Gian sudah kemana-kemana.
"Lumayan, minyak kan mahal."
"Iya terus kalau mahal kenapa?"
Jelita yang sensi dengan harga minyak goreng itu turut bicara, ucapan Gian yang tiba-tiba membuatnya tertarik dan berpikir jauh tentang hal itu. Kedua orang ini sama saja, tidak ada bedanya sama sekali.
"Tidak apa-apa, Mama kenapa ikut-ikutan sih," ucapnya kembali fokus pada Kama dan Kalila yang kini sudah sibuk berbuka duluan.
"Sayang, belum buka ... kok udah duluan," tutur Gian dengan sengaja menyentuh pipi Kama dan membuat anak itu menoleh ke arah papanya.
"Papa mau?"
Kama belum mengerti, sekalipun Gian jelaskan berkali-kali tetap saja dia belum memahami itu. Yang ia tahu hanya niat baik dan percaya bahwa makanan harus dibagi-bagi.
"Nggak usah, buat Kama saja, Papa nanti."
Senyumnya manis sekali, dia memang bisa menempatkan diri sebagai papa yang luar biasa untuk Kama dan Kalila. Namun tidak sebagai suami dan Radha ataupun putra dari kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Sebental lagi ya, Papa?"
Iya, sebentaallllll lagi," ungkap Gian sengaja mengejek cara Kama bicara, satu hari saja dia tidak melakukan itu rasanya seakan sia-sia.
"Sebental, Papa."
"Iyaaa sebentaalll kan?" tanya Gian memastikan bahkan sembari menatap manik polos Kama yang sejak tadi heran dengan ulahnya.
"Bentall-bentall ... bentall-bental-bentall," lanjut Gian, tak hanya mulutnya yang berulah, melainkan jemarinya juga turut usil pada putranya.
Plak
"Gian, Kama belum bisa kenapa kamu ejek begitu."
Sudah tentu Jelita akan membela cucunya, Gian memang kerap sekali mencari masalah. Ingin rasanya Jelita masukkan wajah Gian ke dalam baskom es buah.
"Nggak ejek, Ma ... aku itu menyemangatinya, biar dia semangat."
Ada saja alasannya, bisa saja dia mencari jawabam dan berada di posisi aman. Bagi Gian, selagi Kama tidak meraung dan menangis sejadi-jadinya, maka tidak ada yang salah.
"Iya tapi kan ...."
"Allahuakbar-Allahuakbar ...."
Baru saja Jelita hendak turut bicara, kini justru terpotong kala azan berkumandang dan suara Gian lebih besar daripada toa masjid.
Kama dan Kalila bahkan kaget, begitupun dengan Radha yang sempat terdiam beberapa detik sebelum kemudian meraih segelas air mineral untuknya.
"Hm, Masya Allah!!! Syukurlah hari ini terlewati, tinggal 29 hari lagi," tutur Gian usai melegakan dahaganya.
Bukan sekadar ucapan, karena memang dia bersyukur bisa melewati hari yang terik ini. Walau sempat berdebat dan Radha mempermasalahkan dirinya yang berendam tadi siang, kini Gian melewati hari yang berat ini.
"Baru sehari dia udah ngitung jarak ke hari raya," tutur Raka tanpa menatap putranya, karena niatnya kini hanya untuk mengungkapkan tanpa meminta diladeni.
"Yee Papa, itu kan tujuan kita ... menyambut hari kemenangan, dan kita sekarang lagi meniti jalannya agar tiba di garis finish dengan pahala yang luar biasa," jelas Gian persis ustadz kondang lainnya.
"Bukannya itu materi ceramah malam ini?" pancing Raka asal, dan ternyata memang benar.
"Ck, nggak usah dibilang juga kali, Pa," ujar Gian mengacak rambutnya, entah kenapa dia merasa malu kala Raka kerap membuatnya tak berkutik dengan kalimat-kalimatnya.
__ADS_1
"Haha, sudah cukup kalian berdua ... Gian, sholat dulu sana, makannya nant," tutur Jelita mengingatkan, karena biasanya Gian akan mengantuk dan justru menunda sholat magrib dan sudah tentu akan terlewat hingga waktu isya tiba.
-
.
.
.
"Sayang, nanti sandalnya jangan diumpetin ya, biasanya makin ilang kalau kamu umpetin."
Nasihat macam apa itu, berangkat ke masjid demi memenuhi keinginan Gian tadi sore, dan kini justru pria itu membahas perihal sendal Radha.
"Memangnya taraweh juga bisa ilang sandalnya, Kak?"
"Iya bisalah, apalagi sendalnya kayak kamu begini, kan lumayan harganya ... tapi inget, jangan pernah kamu umpetin dengan sengaja kalau gak mau sandalnya beneran lenyap."
Hanya anggukan kecil Radha berikan, ia tak mau berdebat panjang. Untuk kali ini, tak apa dia menurut, toh sekalipun memang bukan rezeki Radha tak akan pusing hanya karena sepasang sandal itu.
Tiba di masjid dengan ornamen mewah dan benar-benar nyaman untuk beribadah itu, Radha berjalan dengan langkah pastinya. Setelah berpisah bersama Gian yang sejak tadi melarangnya melihat ke arah jamaah laki-laki dengan alasan maa mereka gatal dan mencari incaran di bulan puasa, kini Radha sudah berada di barisan para wanita.
Bisik-bisik mulai terdengar, entah kenapa sejak dulu tak pernah berhenti, kenapa anak-anak baru gede seperti yang berada di sampingnya masih saja kerap berbicara di saat-saat sekarang.
"Ih gue lupa bawa hp!! Padahal rencananya mau rekam suara ustadz Gian," ungkap salah satu gadis itu dan dapat Radha dengar dengan jelas.
"Lu yakin harini yang ceramah die?"
"Yakin lah, orang gue tau dari Abang gue, malem ini sama dua malem yang akan datang Bang Gian yang jadi penceramahnya."
"Ih kampret!! Bang Gian temenan sama Abang lu? Kok gabilang si, kan bisa minta wa nya ege."
"Dih gila!! Mana dikasih ama dia, bang Gian ada bini kalau kata abang Gue."
"Aelah, gapapa ... kan dia religius banget nih, bisa jadi kalau Bang Gian mau poligami, palagi sekarang banyak yang manggil dia ustadz," ujar Mita yang membuat mata Radha membulat sempurna.
"Lah iya juga ya, kenapa gue ga kepikiran kesana," ucap Kayra planga plongo tanpa dosanya membicarakan hal semacam itu.
Dasar stres, Radha hanya menggeleng mendengar pembicaraan kedua makhluk labil itu. Dan sekaligus dia juga mengepalkan tangannya kuat-kuat, ini baru dua orang, belum lagi yang lain dan tentu masih saja ada yang berpikir sama seperti dua bocah ini, pikir Radha.
__ADS_1
"Jangan-jangan dia sengaja ngebet mau ceramah biar jadi idaman cewek di sini ternyata, emang bener-bener tu suami, awas aja besok."
Radha mulai berburuk sangka, padahal dia sudah berwudhu dan masuk ke tempat yang seharusnya paling menenangkan, akan tetapi yang terjadi justru panas membakar dada.