Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Bantu Aku (Haidar)


__ADS_3

"Ya Tuhan ... bagaimana ini?"


Radha menatap cemas pintu kamar mandi, ia tengah melarikan diri dari ancaman Gian. Kelembutan Gian yang sejenak membuainya seakan tak mampu Radha tolak. Dengan sejuta alasan ia berlalu dan berhasil keluar dari jerat cinta Gian.


"Huft, oke ... tenang Radha, sekarang saatnya keluar."


Sembari mengelus dada dan menarik napas dalam, tak ingin terlihat nyata bahwa ia tengah menghindari sang Suami.


Perlahan ia buka pintu itu, sengaja ia memperhatikan sedikit melalui celah yang ia buat.


"Kenapa kau lama?"


Suara itu terdengar menuntut, wajah tegas itu kini menatapnya tajam. Gian mendorong pintu kamar mandi seenaknya, membuat Radha yang tak memiliki kekuatan lebih hanya mampu pasrah.


"Kakak, kenapa ikut masuk?"


Mata polos itu menatap takut ke arah Gian, suaminya yang kini semakin mendekat dan terus mendekat membuatnya gemetar.


"Awww!!"


Radha mengernyit sakit kala tubuhnya tak memiliki ruang lagi untuk menjauh, Gian menarik sudut bibir. Habislah sudah, kini ia mengunci jalannya Radha dan membuat istri kecilnya itu terjebak di depannya.


Adegan romantis seperti ini kerap Radha lihat di Drama kesukaannya, namun jika ia yang merasakan rasanya Radha belum terlalu sanggup.


"Kau belum memberikan apa yang Kakak minta, Zura."


Tatapan itu masih sama, Gian tak melepaskan netranya dari bibir ranum Radha. Pria itu benar-benar terobsesi sore ini, mungkin baginya suatu hal yang wajib ia dapatkan sebelum hari berganti.


"La-lalu?" tanya Radha mulai kalut, ia berusaha menahan diri dengan mendorong dada Gian.


Tenaganya tak sekuat itu, pun ia mendorong dengan sekuat tenaga Gian takkan berpindah. Dengan sisa keberaniannya, Radha berpikir keras bagaimana caranya bisa bebas dari tuntutan suaminya.


"Kau masih bertanya? Lakukan perintah Kakak."


"Lakukan, Zura ...."


"Atau kau mau tidur bersamaku di sini hingga pagi? Hem?"


Radha menelan salivanya, Gian tak main-main, pria itu benar-benar menginginkan dirinya. Dengan perasaan gugup luar biasa dan detak jantung yang mulai tak terkendali Radha mencoba melakukannya. Ia tak sanggup jika benar sampai pagi ia akan dalam dekapan Gian di kamar mandi.


Radha mulai berjinjit, tubuh Gian terlampau tinggi untuk dirinya. Suaminya itu mengerti dan dalam satu gerakan Radha telah berada di gendongannya.

__ADS_1


"Cepat, tidak ada alasan kau sulit melakukannya."


Benar, Gian memang pintar. Radha tak memiliki kesempatan untuk menyangkal dengan alasan kesulitan melakukannya. Mata bertemu mata, napas Gian bahkan dapat ia rasakan menyentuh kulitnya.


Keduanya kini tanpa celah, Gian mengeratkan tangannya, selain takut Radha jatuh ia hanya tak mau istrinya berhasil melepaskan diri.


"Gak masalah, Ra, toh dia juga suami sendiri bukan suami tetangga."


Radha membatin, bukan masalah semisal Radha memberikannya. Kini perlahan ia mendekatkan wajahnya, Gian yang juga tak berhenti memperhatikannnya membuat Radha semakin gemetar.


Drrrt Drrrttt


"Kak, telepon."


Gian mengeraskan rahangnya, bahkan jaraknya dan Radha sudah amat dekat, tapi dering ponsel itu membuat Radha menghentikan niatnya.


"Ck, nanti saja, cepat lakukan tugasmu."


Lagi-lagi ponsel itu berdering kembali, tampaknya seseorang tengah mengusiknya dan mengganggu kesenangannya.


"Siapa tahu penting, coba Kakak lihat dulu."


"Ck, dasar menyebalkan."


"Jangan berpikir untuk kabur, Zura."


Melalui ekor matanya dapat ia pastikan bahwa Radha tengah berusaha mencari celah, wanita itu mendadak ciut dan memilih diam sembari menautkan jemarinya.


Ragu, namun mau bagaimana, Gian tak punya pilihan lain kala Haidar jelas-jelas menghubunginya. Panggilan ketiga barulah Gian mengangkat teleponnya.


"Ada apa?"


Gian berucap sembari sedikit menjauh dari Radha, tak ingin pembicaraannya di ketahui oleh istrinya. Tingkah Gian membuat Radha sejenak mengerutkan kening, pasalnya kenapa Gian sampai rela meninggalkan dirinya yang secara nyata tak boleh pergi beberapa saat yang lalu.


******


"Kak, uangku habis."


Haidar berucap ragu sembari menatap gerbang rumah mewah di depannya. Ia bahkan tak turun dari mobil lantaran takut orangtua-Nya mengetahui bahwa ia berada di sini.


"Segera turun, aku butuh bantuanmu," rengek Haidar pada sang Kakak.

__ADS_1


Ia takkan mampu untuk melangkah masuk, dan rasanya sangat amat bersalah pada Jelita nantinya. Saat ini ia butuh bantua Gian, beberapa perlengkapannya berada di kamar. Dan tak mungkin Haidar masuk dengan sendirinya.


"Kau gila?!! Lalu kalau Mama tahu aku membantumu pergi lebih bebas bagaimana, Kunyuk?"


"Kak, aku tak peduli ... bukankah kau yang mengatakan bahwa aku telah bebas untuk pergi kemana aku mau?"


Haidar mengeratkan jemarinya, bagaimana ia merealisasikan keinginannya jika semua tertahan di rumah mewah itu.


"Jika kau mau, ambil sendiri ... kau tak perlu takut, Papa tidak berada di rumah."


Meski tetap kesal, namun setidaknya Haidar sedikit tenang. Sang Pala tidak akan menghajarnya. Ia paham betul, jika Gian telah berkata tidak maka tidak akan ada kata iya setelahnya.


Mau tidak mau, Haidar memang harus masuk ke rumah itu. Dengan sejuta keraguan ia mulai melajukan mobilnya, meski sedikit takut penjaga rumah tak terlalu mengenalnya, namun mobil yang ia gunakan takkan membuat penjaga rumah bimbang.


"Baiklah, hanya ada Mama, tenang."


Jujur saja, Haidar memang amat takut pada sang Papa. Raka terlampau keras padanya, bahkan semasa kecil Haidar tak di berikan izin secara bebas dalam berkarir dengan gaya yang di buat-buat sehingga membuatnya tampak imut.


Haidar membuka pintu mobil, pria itu turun dan kini melangkah perlahan. Tidak ada sambutan dari pelayan ataupun Gian dan Mamanya, hanya ada kesunyian yang Haidar temui.


"Benar-benar sepi ternyata," ujar Haidar menyapu ruangan dengan pandangan matanya, wajah tampan dengan memar yang sudah hampir hilang itu kini dapat melangkah lebih tenang.


Perlahan, Haidar meniti anak tangga. Kamarnya tak lama lagi ia gapai, usai dari semua ini ia akan segera berlalu kembali. Baru kali ini ia rasakan bak pencuri di rumah sendiri.


"Gian ...."


Suara itu ia kenal, bersamaan dengan derab langkah yang semakin mendekat. Haidar panik, itu adalah Jelita, sang Mama. Ia bingung harus melangkah kemana, jika sampai Mamanya sadar tentu ia takkan punya kesempatan untuk kabur.


"Mama?"


"Itu benar-benar Mama."


Haidar mempercepat langkahnya, jaket tebal dan topi yang ia gunakan memang sekilas akan membuat wajahnya terlindungi, namun bagaimana jika Jelita benar-benar menganggapnya pencuri.


"Ays!! Kenapa Mama ikut naik?"


Langkah kaki Jelita cukup jelas tengah meniti anak tangga jua, ia harus segera sampai ke kamarny sebelum Jelita mengetahui keberadaannya.


"Ck, gila!! Kenapa harus terkunci!!"


Haidar panik kala pintu kamarnya tak bisa terbuka, dan mana mungkin ia akan bersembunyi ke kamar Gian. Langkah itu semakin mendekat, dan Haidar tak punya pilihan lain.

__ADS_1


"Ah, terserah!! Jika tidak begini Mama takkan melepaskanku."


Tbc


__ADS_2