Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 179. Papa (Kembali Padaku)


__ADS_3

Malas!! Satu kata yang kini melekat dalam diri Radha. Ternyata Dewi tak hanya mengundangnya, tetapi juga Gian. Andai saja Gian tak mengetahui hal ini, mungkin akan lebih baik Radha menghabiskan waktunya di rumah di rumah malam ini.


Sengaja berpenampilan semenarik mungkin, Radha tak ingin kalah saing. Jiwa kompetisinya terhadap Celine memang masih membara, karena satu hal yang memang menjadi obsesinya adalah membuat Celine kalah.


"Akhirnya kamu datang juga, ah menantu kita tampan sekali, Mas."


Cih, menantu siapa? Radha kesal bukan main mendengar Gian mendapat pujian dari Dewi. Sungguh batinnya memang semenolak itu tentang keluarga barunya, matanya hanya fokus pada sang papa yang sejak tadi menatapnya lekat.


"Iya, dan putriku cantik," ujar Ardi membuat Dewi panas bukan main, tentu saja Celine yang kini bak princes negeri dongeng juga merasa iri lahir batin.


Senyum Radha mengembang, Gian juga mengiyakan ucapan Ardi dengan tatapan lekat penuh makna. Sebagai seseorang yang memang sejak dahulu kalah darinya, Celine mendidih melihat papanya semakin terlihat berbeda.


Ya, sejak Radha menikah dan meninggalkan rumah, Ardi terlihat berbeda. Beberapa kali ia kerap salah memanggil nama, menanyakan Radha sudah pulang atau belum, dan lainnya. Entah itu rindu atau apa, hanya saja Celine cemburu bukan main dibuatnya.


"Kau apakan putriku sampai dagunya jadi dua begini, Gian?"


"Hahah, Papa bisa saja ... jangan begitu, Pa ... nanti pulang aku yang jadi bahan amukannya."


Candaan Gian terdengar renyah, namun tidak bagi Radha. Ia mencubit lengan Gian meski tanpa ekspresi sama sekali. Mendengar ucapan papanya, hati Radha menghangat. Bahkan Ardi yang mengacak rambutnya pelan sangat ia rindukan.


Selama pesta berjalan, yang menjadi fokus tamu undangan justru Radhania Azzura. Bagai ratu istana yang kini Ardi kenalkan kemana-mana, dengan bangganya dia menggandeng Radha dan lupa jika putrinya sudah punya suami.


"Ya Tuhan aku telat ternyata, dia sudah menikah?"


Wajah-wajah kecewa seseorang yang menginginkan Radha menjadi menantunya tergambar jelas di sana. Tidak ada hal yang Ardi tutupi saat ini, pendidikannya sudah hampir selesai, dan juga ketahuan sudah menikah pun bukan hal yang perlu di khawatirkan karena sekolah itu atas kekuasaan Gian sebagai suaminya.


Termasuklah Abraham, salah satu pengusaha kaya yang pernah meminang Radha beberapa waktu lalu lantaran putranya tak ada semangat sama sekali kala gadis pujaannya pindah sekolah, ia sempat berpikir dengan mengenalkan putranya pada putri Ardi, setidaknya anak semata wayangnya itu tidak stress dengan kegalauannya.


"Sebentar, kita pernah bertemu kan? Atau saya yang salah lihat?"


Abraham yakin betul pernah melihat Radha dulu, beberapa bulan lalu kala makan malam bersama rekan bisnisnya. Tapi, ia sedikit lupa karena memang faktor usia.


"Iya, sepertinya kita memang pernah bertemu."


Radha ingat betul pria ini pernah bertanya beberapa hal pada dirinya kala ikut makan malam bersama Gian. Dan memang ia sempat berpikir keras karena tampaknya pria ini seperti mengenalnya dahulu.


"Sayang."


Kehadiran Gian yang kini menghampiri mereka menjawab semua rasa penasaran Abraham. Dirgantara Avgian, dia mengenal Gian dengan baik. Sebagai salah satu rekan bisnis yang meneruskan papanya, Abraham mengenal Gian sebagai pemuda yang luar biasa dalam segala hal.


"Pak Abraham?"


"Waw, kebetulan sekali kita bertemu ... apa kabarmu?"


"Baik, bagaimana dengan Anda?"


"Seperti yang kau lihat, sangat baik."


Sebagai seorang yang saling mengenal, keduanya berinteraksi cukup dekat. Gian yang juga menghormati Abraham sebagai orang yang lebih tua menyapanya dengan hormat.


"Kalian saling mengenal?" tanya Ardi yang sedikit heran melihat hangatnya interaksi Abraham dan juga Gian.


"Iya, Pa ... kami saling mengenal, Pak Abraham salah satu rekan bisnis, Papa."

__ADS_1


Ardi mengangguk mengerti, ia tersenyum hangat kala sadar jika memang hubungan mereka cukup dekat.


"Kau tidak bilang dia menantumu, aku sangat mengenalnya, Ardi."


"Maaf, waktu itu pernikahan mereka cukup cepat dan hanya dihadiri keluarga inti saja," jelas Ardi seadanya, karena memang status Radha belum terlalu ia buka waktu itu.


Pembicaraan hangat mereka masih berlangsung, dan kini Ardi berkuasa atas Radha. Meninggalkan Gian yang merasa hampa karena tak menggenggam tangan istrinya. Cemburu? Bisa dibilang iya, pasalnya kini ia seakan kalah saing bersama Ardi yang tengah menunjukkan kasih sayangnya untuk sang putri.


-


.


.


.


Masih sama, pun di pesta ulang tahun saudara tirinya, yang Radha cari justru makanan. Seakan lupa papanya tadi memuji dagunya yang jadi dua, kini yang Radha pikirkan hanya perutnya saja.


BRUGH


"Ays!! Kue gue, mana baru seutil gue makannya ... makanya kalau jalan tu liat-li ...."


Radha terhenti meratapi kuenya yang kini menggelinding di lantai, ia tidak salah lihat kan? Laki-laki yang kini di depannya, masih fokus membersihkan kemeja yang terkena noda akibat minumannya.


"Abian?"


"Hah? Zura!!! Aku nggak lagi mimpi kan?"


Tak terbayang betapa senangnya Abian bertemu Radha di tempat ini, rasanya ingin ia umumkan berita kegembiraan ini untuk semua orang yang ada di sini.


"Sama seperti kamu," jawab Abian dengan wajah sumringahnya.


Bahagia? Sangat!! Abian mencari Radha cukup lama. Sejak Radha pindah sekolah ia benar-benar putus asa bahkan membuat papanya murka. Dan kini, ia menemukan Radha yang terlihat berbeda dan cantik berkali lipat.


"Sendirian?"


"Enggak, aku ikut Papa, katanya harus banget ikut, padahal aku nggak usah pesta ginian, udah kek Shopia The First tau gak," celotehnya panjang lebar, ia tak bisa menggambarkan bagaimana rindunya dia pada Radha.


"Oh, mana papanya?"


"Itu, lagi ngobrol sama yang punya pesta, gatau tu bahas apaan."


Radha menatap ke arah mana telunjuk Abian, ia menelan salivanya. Sekecil itu dunia? Bukankah tadi pria itu yang memujinya, dan bahkan sejak dahulu Radha telah mengenal pria itu.


"Pak Abraham?"


"Iya, kok kamu tau nama Papa?"


"Iya tau, temennya Papa sekaligus rekan bisnis kak Gian."


Gian? Nama itu masih membuat Abian emosi. Pria yang menjadi musuh paling ingin ia tenggelamkan. Gugu baru tanpa kejelasan yang membuatnya sial selama sekolah, belum lagi bertindak sebagai kakak dari gadis yang ia suka dan membuat sulit hidupnya.


"Oh Kakak kamu yang kek kampret itu kan?" Masih ia ingat bagaimana dulu dirinya dan Radha menjadi korban kegarangan Gian dalam berkendara.

__ADS_1


"Ish, jangan gitu lah ...."


Radha mencebik, ia tak suka suaminya disebut begitu. Karena tetap saja Gian telah meluluhkan hatinya sejak lama, mana mungkin ia terima seseorang menjelekkannya.


"Hahah udah lama nggak liat kamu, makin cantik, Ra ... kamu pindah kemana sih? Kek ditelan bumi."


"Ada deh, kamu kenapa tanya-tanya?" tanya Radha cuek dan kini kembali mengambil kue yang lain.


"Ya aku nyariin kamu lah, aku kek orang ga waras semenjak kamu pindah ... nanya ke temen-temen kamu gada yang tau, aku hubungin kamu susah banget, ada si di angkat, tapi malah suara cowok nyebelin yang malah bahas-bahas nilaiku, ngeselin kan?"


"Hahaha masa iya?" Radha terbahak mendengar keluhan Abian, dan ia yakin betul itu adalah ulah Gian.


Siapa sangka, pembicaraan mereka telah terpantau mata singa di ujung sana. Gian yang tak suka melihat siapapun mendekati istrinya, kini berjalan dengan cepatnya.


"Sayang, kamu kemana aja?"


Pertanyaan itu ia lontarkan begitu manisnya, tak lupa langsung memeluk lembut Radha di depan Abian yang kini tengah menatapnya dengan tanya.


"Kak, lepasin ... malu," pinta Radha karena pelukan itu benar-benar tak layak dinikmati mata laki-laki polos seperti Abian.


"Hm, Hai ... sudah lama kita tidak bertemu, apa kabarmu anak kecil? Bagaimana nilaimu? Sudah lebih baik sekarang?" Tak ada emosi dan keinginan untuk menghantam wajah Abian kali ini, berbeda dengan ketika dia mendapati Juan menyentuh istrinya.


"Ra?" Abian yang bingung menuntut penjelasan Radha, jelas ia heran sebenarnya hubungan mereka apa. Mana ada kakak yang memeluk adiknya semesra itu.


"Kenapa? Kau merindukan istriku, Abian? Ck, aku pikir sebaiknya kau fokus dengan pendidikanmu saja ya, pikirkan papamu yang menaruh harapan besar di sini," ujar Gian menepuk pundak Abian beberapa kali, nyatanya Gian lebih dulu mengetahui siapa Abian. Itulah yang membuatnya tak main tangan kali ini.


"Ra? Kok kamu gini?" suaranya terdengar lemas, berita macam apa ini, kenapa semuanya begini, pikir Abian.


"Karena tidak begitu," jawab Gian asal, jiwa Radha yang receh luar biasa ingin tertawa, tapi wajah Abian membuatnya tak tega.


"Maaf ya, Bian ... aku nggak bilang sejujurnya dari awal."


🌻


Babay❣️


Terima kasih komentar positifnya, dan maaf jika aku terlalu banyak membahas para tokoh dan belum ada yang selesai. Aku selesaikan satu-satu, dan itu pasti aku bahas semua kalaupun tidak sesuai harapan pembaca.


Caterine-Harry hanya akan aku bahas sedikit di sini, tidak mungkin seluruhnya. Aku udah siapin Harry-Caterine dengan cerita yang berbeda (Novel Lain)


Haidar, entah dia sama siapa tapi yang jelas Haidar udah selesai dari dulu ya, karena aku memang cuma bahas dia sampai rela dan lupa, bukan sampai punya JODOH. (Alesan lu, bilang aja mau buat novel lain awowkwk)


Randy-Maya, hubungan Maya-Radha, semua bakal aku tuntasin, tapi suabar ya, ini aku udah mulai buat alur cepet.


Layla yang kita usir/kemana


Dewi/Celine yang mau kita buang atau nantinya gimana sama Ardi


Reyhans-Gian-Adinda itu udah kebuka, nanti aku perjelas biar Aunty pada puas.


Banyak yang takut kalau bakal ada pelakor, gaes baik Di Raka maupun Vino aku paling anti buat pemeran cowoknya belok kalau udah nikah.


Btw iya kebanyakan yang di bahas yak, gkgkgk ... tapi gapapa ini novelnya kalian judulin sendiri dah.

__ADS_1


Aku mau buat novel baru tu males beneran deh, kek mulai dari awal tu susah aje gitu. Tapi aku tegasin lagi, Harry-Caterine/Hadiar-Rury itu gak aku bahas banyak ya, Wak sekian baby❣️ Aku up cepet, tapi kalau typo maapin ya bok.


__ADS_2