
Tak berhenti di sana, karena pada faktanya Evany juga merasakan hal yang berbeda. Tidak ada sapaan dan kalimat apapun yang keluar dari bibir Gian. Jika biasanya ada saja yang ia bahas, kini pria itu benar-benar bungkam.
"Ehm, Pak ... maaf baju istri bapak belum sa...."
"Tidak perlu, buang saja jika tidak berguna lagi."
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Gian sudah memotong pembicaraan Evany dengan nada datar namun entah kenapa rasanya itu seperti jarum yang menancap dalam tubuhnya.
Pamitnya Evany yang hendak keluar dari ruangannya pun tak mendapat respon sama sekali. Wanita itu merasa ada yang janggal, tapi apa dan dia tidak paham akan hal itu.
Jika biasanya Evany akan keluar dengan perasaan kesal bukan main, kini berbeda. Di merasa kacau dan hal ini tak dapat dikatakan baik-baik saja.
"Apa aku keterlaluan ya kemarin?"
Evany kembali mengingat apa yang dia ucapkan pada Gian, apa mungkin ada yang membuatnya tersinggung. Tapi rasanya selama ini dia kerap melakukan hal itu dan Gian tidak mempermasalahkannya begitu jam kerja.
"Mas!!"
Evany curi kesempatan untuk bisa menemui Reyhans. Mencoba mencari jawaban kenapa bosnya menjadi sedemikian rupa.
"Hm? Kenapa wajahmu panik begitu?"
"Pak Gian kenapa? Dia tidak seperti biasanya, apa dia tersinggung dengan ucapanku kemarin, Mas?" tanya Evany benar-benar bingung karena hal ini baru pertama kali ia rasakan.
Reyhans terdiam, memang belum bisa dipastikan Gian marah hanya karena itu. Namun yang jelas, penyebab utama dia marah adalah karena dia yang merahasiakan perkawinan itu.
"Sebenarnya ...."
"Apa?"
Reyhans belum mengatakan pada Evany jika Gian sudah mengetahui pernikahan mereka. Karena semalam memang Gian tak menunjukkan reaksi berlebihan terkait hal ini.
"Gian tau apa yang kita lakukan," ungkapnya kemudian dan sontak membuat mata Evany membulat sempurna.
"What?!! Kenapa tidak bilang!! Kamu tau aku hampir mati karena sikapnya lebih parah dari biasanya," desis Evany mencubit pelan lengan Reyhans, andai saja dia tahu mana mau dia masuk ruangan Gian.
__ADS_1
"Maaf, Eva ... Mas pikir Gian tidak akan semarah ini," tutur Reyhans jujur, karena memang semalam semua baik-baik saja, Evany dan Gian bahkan sudah berbincang apa adanya.
Dugaan Reyhans salah, dia benar-benar mengira bahwa Gian tak ambil hati terkait tindakannya. Namun jika sudah begini, dapat disimpulkan kemarahan pria itu diatas rata-rata.
"Terus kita harus gimana? Aku nggak berani kalau minta maaf, bisa-bisa diludahin sama dia," ungkap Evany memang sangat takut untuk kembali meminta maaf pada Gian.
"Perintahnya sudah jelas, salah-satu dari kita harus mengundurkan diri, karena memang di kantor ini tidak mengizinkan hal itu terjadi."
Evany bungkam, meski sempat mengatakan jika ia tsk mengapa kehilangan pekerjaan, setelah benar-benar terjadi barulah ia menyesal.
Keputusan belum mereka ambil, karena jujur saja Evany mencintai pekerjaannya, bukan bosnya. Akan tetapi, sulitnya mencari pekerjaan membuat Evany takut untuk melepaskan tanggung jawabnya kini.
"Apa tidak ada toleransi, Mas? Dia kan sahabat kamu?"
"Mas mengenal Gian sejak lama, Eva ... dan biasanya jika sudah begitu, keputusannya benar-benar tisak bisa diganggu."
Keduanya kini terjebak perasaan bersalah. Kenapa tidak meminta izin Gian dulu terkait pernikahan itu. Setidaknya, Gian akan memberikan pengecualian terhadap mereka.
Namun sayang, nasi sudah menjadi bubur dan hal ini sama saja dengan percuma. Meminta maaf juga bukan lagi jalannya.
-
Reyhans mengusap wajahnya kasar, meski sebenarnya dia sudah mewanti-wanti hal ini sejak lama.
"Eva, sekalipun bagi kamu berat, tapi kali ini Mas Benar-benar minta kamu untuk mengundurkan diri sebelum kita dipecat sama-sama, Sayang."
Sebenarnya ini dapat dikatakan kabar baik, karena sejak menikah Reyhans meminta istrinya untuk beristirahat. Akan tetapi, karena rasa sayangnya, dia menuruti kemauan Evany untuk sementara bahkan rela membohongi Gian demi karir Evany dapat bertahan.
"Terus aku kerjanya dimana? Cari kerja susah, Mas." Dia berpikir bahwa Reyhans saja yang mengundurkan diri, karena jika Reyhans kehilangan pekerjaan di sini, masih banyak perusahaan lain yang menerimanya dengan mudah.
"No, anggap ini perintah ... Mas udah minta kamu nggak kerja itu dari lama, dan juga gaji Mas masih cukup untuk menghidupi kamu, Eva."
"Bukan masalah uangnya, aku suka kerja, Mas."
Geram sekali, sudah dalam keadaan terpaksa begini Evany masih saja memikirkan bagaimana karirnya. Di sisi lain, Reyhans takut jika istrinya bekerja di naungan yang berbeda, tentu saja cemburu dan khawatir Evany berbuat ulah adalah alasan utama.
__ADS_1
"Nurut sama Mas, Evany ... kamu terlalu lelah dan kamu ingat dokter bilang apa? Lelah kamu jadi faktor utama yang buat kita susah punya anak," ungkap Reyhans meminta pengertian agar istrinya ini menurut sekali saja.
"Mas kok bahasnya malah kesini? Masalah aku yang susah hamil bukan semata-mata karena ini, tapi Mas juga perlu dipertanyakan!!"
"Sshhutt, kecilkan suaramu, kamu lupa di sini bukan hanya ada kita, Eva."
Mata Eva kini mengembun, dia sesensi ini jika suaminya mulai membahas perihal anak. Baru juga menikah beberapa bulan dan Reyhans sudah seberharap itu sementara Evany belum mau.
"Egois banget sih, dari awal kita nikah kamu udah janji gak bakal ganggu karir aku, kenapa beda sekarang!!" Evany meluap-luap, ia lupa jika ini dikantor bukan lagi rumahnya.
"Eva, maafkan aku ... aku suami kamu, hargai sedikit saja."
Ini sisi lain dari Evany, wanita manis yang memang terlatih mandiri sejak dahulu. Salah satu yang Reyhans takutkan dari sosok wanita adalah ketika dia mandiri dan enggan turut perintah suami.
"Bukan berarti aku harus paham kamu doang, Mas!! Kamu juga harus...."
"Heeeehhh!! Kalian berdua kalau mau ribut pulang sana! Ini kantor, jangan pernah membawa masalah rumah tangga kalian ke tempat kerja."
Tanpa mereka sadari pria tampan yang sejak tadi pagi tersulut emosi membuka pintu ruangan Reyhans. Dan bodohnya Evany tidak menutup pintu itu dengan benar dan masih meninggalkan celah hingga suara mereka jelas saja terdengar dari luar.
"Gian?"
"Sepertinya memang kalian berdua tidak pantas bertahan di kantorku, terutama istrimu, Reyhans."
Tak peduli meski Evany kini tengah mengusap air matanya, Gian muak melihat hal sinting semacam ini. Melihat bagaimana Evany terhadap Reyhans tadi, lagi dan lagi dia kembali bersyukur memiliki istri sebaik Radha.
"Mulai detik ini, aku pecat kau secara tidak hormat karena membuat keributan di kantorku, Evany!! Kemasi barangmu hari ini juga." Itu adalah perintah, tidak ada yang boleh melanggarnya. Evany semakin tak bisa menahan diri, dia menatap Reyhans dengan tatapan menuntut agar suaminya memohon pada Gian.
Brak
Pintu itu Gian tutup paksa, kesal mendengar keriburan rumah tangga itu.
"Mas?"
"Maaf, Eva ... itu keputusan Gian, Mas nggak bisa bantu kamu."
__ADS_1
🐃🔨