
"Gian kenapa?"
Melihat putranya sedari tadi meringis, Jelita nampak bingung. Karena biasanya, kalaupun lelah Gian takkan seperti ini. Wajahnya sama sekali tak bersahabat, sempat mengira bahwa ada masalah dengan istrinya, tapi sepertinya tidak demikian.
"Nggak apa-apa, Ma, cuma rada sakit aja dikit."
Gian mengeluhkan sakit di tubuhnya, bukannya sembuh pria itu justru merasa semakin pegal-pegal. Dan jika sudah begini, siapa lagi yang patut ia salahkan. Menyesal dia menerima tawaran Reyhans yang memberikan ide seperti ini.
"Sakit? Kamu abis ngapain memangnya?"
Dia menuntut penjelasan putrinya, karena bagaimanapun juga Jelita perlu tahu apa yang terjaid sebenarnya.
"Abis dipijat, tapi kenapa berasa abis berantem ya, sakit semua."
Melihat putranya meringis, sepertinya itu memang terlihat nyata. Dan Jelita mendekati putranya yang kini duduk di sofa ruang tamu.
"Mana yang sakit?"
Seperti halnya seorang ibu yang menghkhawatirkan anaknya, bagi Jelita sedewasa apapun Gian, dia tetap sama. Dengan cepat dia menyingkap pakaian Gian, untuk memastikan sebab sakit yang ia rasa.
"Astaga!! Ini yakin abis dipijat? Pijat apa gimana sih, Gi?"
Kulit punggung putranya terlihat memerah, bahkan tak jarang Jelita melihat goresan luka akibat kuku yang terlihat dipaksakan. Dan Radha yang sejak tadi hanya sibuk bersama kedua buah hatinya, turut mendekat begitue mendengar kehebohan Jelita.
Dia belum sempat melihat semua kejanggalan itu, karena Radha tak berpikir bahwa suaminya justru akan terluka. Dikarenakan kulit Gian yang seputih itu, dicubit saja merah apalagi jika seseorang memperlakukan kulitnya dengan kasar.
"Kenapa jadi gitu? Perasaan tadi gak begini deh?"
Gian semakin panik, bukan hanya satu orang yang kini histeris, dan kesalnya dia tidak bisa melihat bagaimana keadaan punggungnya.
"Kenapa, Ma? Luka?" Dia khawatir pada dirinya sendiri, andai terjadi hal-hal yang tidak dia inginkan, maka sudah pasti gaji Reyhans yang sebelumnya ia naikkan, hangus.
"Hm, lagian kamu juga pakek acara manggil tukang pijat, Papa aja nggak pernah."
Membandingkan kesehatan Raka dan Gian, kalaupun memang karena mencari cincin Radha alasannya, harusnya Gian tak selelah itu. Karena dahulu Raka bahkan pernah mengubah total keadaan diruang tamu dan tidak selemah Gian.
"Reyhans yang merekomendasikan, aku pikir bakal enakan, ternyata makin parah begini."
__ADS_1
Gian mencebik, padahal ia tak pernah mengizinkan orang lain menyentuhnya. Sekalinya disentuh, Gian mengharapkan hal yang lebih namun justru sebaliknya, benar-benar menyebalkan.
Merasa penasaran, Gian menatap bayangannya di kaca untuk melihat dengan jelas seberapa parah luka di tubuhnya. Dan benar saja, dia bahkan lebih histeris dari kedua wanita itu.
"Yasalam!! Kenapa bisa begini?!!"
Gian menghubungi Reyhans secepatnya, sepertinya dia butuh penjelasan dari kegilaan ini. Kenapa bisa jasa yang Reyhans tawarkan lebih buruk dari apapun.
"Kau mau balas dendam padaku, Reyhans!!"
Belum apa-apa Gian sudah mengatakan hal gila yang mungkin membuat Reyhans panik luar biasa. Kemarahan Gian sangat nyata bahkan mengira pria itu hendak balas dendam.
"Apa maksudmu, Gi?"
Reyhans yang memang tak mengerti apa yang terjadi jelas saja merasa bingung lantara tuduhan Gian yang luar biasa mendebarkan.
"Tukang pijat itu, sebenarnya psikopat kan? Kau minta dia datang untuk membunuhku sepertinya, beruntung saja aku menghentikan aksinya sebelum memijat leherku."
Dia bicara panjang lebar dan memojokkan Reyhans yang berada di posisi salah. Karena memang apa yang kini terjadi padanya sangat menyiksa, andai saja Gian tahu bahwa kemampuan wanita itu benar-benar buruk, tentu dia takkan mau menerima tawaran Reyhans.
Reyhans memintanya menjelaskan dengan cara yang baik, dan dengan polosnya Gian merekam semua lebam dan merah-merah yang terlihat nyata dipermukaan kulitnya, tak peduli akan sopan atau tidak, bahkan Gian sengaja setengah telanjang dan mengirimkan video itu pada Reyhans sebagai bukti jika dirinya memang tak baik-baik saja.
"Siapa yang tanggung jawab kalau tubuhku sudah begini? Dasar kurang ajar, saranmu kali ini benar-benar membuatku seakan gila, Reyhans!!" Pesan yang tersirat makna ancaman dan kemarahan tiada tara dalam benak Gian, sungguh dia tengah emosi tingkat dewa.
"Kau yakin itu bukan hadiah dari istrimu?"
Reyhans sempat ragu, karena sepertinya tanda kemerahan itu lebih cocok jika ia dapatkan dari Radha.
"Dasar gila, istriku tidak sekasar ini, Reyhans, tolong buka matamu," ujar Gian mulai kesal, apa yang kini terjadi padanya benar-benar membangkitkan emosi.
Gian tak bisa lebih lama menghubungi Reyhans, karena pria itu justru semakin emosi. Kembali pada istri dan kedua anaknya seperti lebih baik.
-
.
.
__ADS_1
.
Jauh dari keberadaan Gian, kini suasana di kamar Randy terlihat lebih tenang. Pria itu tengah menatap layar monitor memandangi setiap kenangan yang sempat ia abadikan dalam bentuk foto.
Segila itu memang, Randy masih terpaku pada satu hati. Apalagi semenjak Gian menikahi Radha, ia merasa sosok wanita itu seakan kembali dekat dengannya.
Namun hidup harus berlalu, Randy sudah yakin kali ini. Ruang hati selamanya akan tetap kosong jika dia terus terbelenggu masa lalu yang takkan bisa ia miliki kembali.
Sebagai pria dewasa, Randy tak ingin menjalani hubungan yang sama seperti sebelumnya. Merubah tujuan untuk hidup bersama, dan ia bukan hanya mencari sosok teman untuknya tidur, melainkan seseorang yang bisa menyayangi Caterine seperti putrinya sendiri.
"Ck, tapi apa mungkin dia mau? Aarrrggh membingungkan sekali."
Baru pertama kali Randy merasa tak pantas, jika biasanya dia akan percaya diri dalam setiap keinginan yang hendak ia gapai, namun kini berbeda.
Terlalu banyak hal yang ia rasa tak sempurna, gadis itu teramat berkelas dan lebih segalanya dibanding dia. Randy tak bisa pungkiri jika memang Hulya sempat membuatnya kagum namun malu sekaligus.
"Sulit sekali," ucapnya menghela napas pelan, sudah hampir dua jam dia menimbang keputusan, jika dia hapus secara permanen maka tidak ada yang bisa ia lihat kembali, sekecil apapun kenangan yang ia simpan rapi itu akan hilang dengan satu gerakan jari.
Belum pasti bahwa Hulya akan menerimanya, akan tetapi jarinya mendahului hati. Randy menggigit bibirnya kala proses penghapusan kenangan itu tengah berjalan.
Menjalani hubungan yang cukup lama bersama Maya, dengan segala keadaan Maya tetap memilih paham tentang dirinya walau harus sakit yang diterima. Dan kini, Randy harus rela menghapus jejaknya, demi mencoba memberikan tempat agar seseorang dapat berpijak dalam hatinya.
"Baiklah!! Berakhir di sini."
Yakin, dia yakin tidak akan ada penyesalan sama sekali. Untuk mendapatkan yang baik, ia harus rela melepaskan yang tak baik. Mencintai wanita yang sejatinya sudah menjadi istri orang adalah bencana yang tak seharusnya Randy pertahankan.
Perasaan itu adalah hal yang salah, dan dia harus mencoba untuk menghilangkan hal itu dari dalam hidupnya.
Entah bagaimana cara Tuhan nantinya, yang jelas Randy berserah pada takdir. Kalaupun tak mampu ia dapatkan wanita itu, setidaknya ia bisa melupakan Maya lebih dulu.
"Tidur!! Besok banyak hal yang harus kau kejar," ucapnya pada diri sendiri, Randy menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, menatap sisinya yang kosong bertahun-tahun, sungguh mengiris kalbu.
Malam yang tenang menjadi saksi Randy dalam memberikan keputusan, pria itu sudah terlalu lama terjebak dalam luka, dan tak bisa ia pungkiri jika memang dirinya mencintai luka itu terlalu lama.
Niatnya sudah tersampaikan, bahkan pada Jelita. Karena kali ini Randy benar-benar tak memiliki kemmpuan untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan, sebagai pria dewasa harusnya ia mampu, akan tetapi pada kenyataannya dia selemah itu.
"Bantu aku, Tuhan," ucapnya lelah, seakan tak punya semangat sama sekali, hampir putus asa namun fakta bahwa dunia harus berjalan tak bisa ia tolak, ia butuh sosok pendamping yang memang ia inginkan dari hati, bukan paksaan siapapun.
__ADS_1