Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 164. Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Mencoba melupakan kejadian memalukan itu, Helena dan Radha kini masuk dengan gaya bak kaum sosialita ke klinik itu. Baru saja masuk dan Radha sudah dimanjakan oleh suasana di dalamnya. Kenapa tidak dari dahulu saja, pikirnya.


Pelayanan ternyata sangat amat baik, meski sempat mendapat banyak pertanyaan lantaran mereka masih mengenakan seragam SMA, tapi hal itu tak berlangsung lama pada akhirnya. Nyatanya jiwa tak tahu diri layaknya teman yang di traktir juga melekat dalam diri Radha.


“Ele, gapapa beneran kan?”


“Oho santai, gue nyolong kagak tanggung soalnya.”


Radha membeliak begitu Helena menunjukkan saldo M-Bankingnya. Tak main-main, wajar saja biaya perawatan sebesar itu meski telah dipotong promo tak membuat Helena khawatir sama sekali. Sebagai seorang anak yang baik, bahkan Radha belum pernah mendapat uang sebanyak itu dari Ardi.


“Gila lu, ga takut dicoret dari KK, Ele?”


“Ya tinggal buat KK sendiri aelah susah amat.”


Bisa saja gadis itu menjawab, memang terdengar sangat mudah. Tapi hal yang dilakukan Helena bukanlah hal baik. Jumlah uang yang ia ambil diam-diam tak sedikit, dan gaya slengeannya membuat Radha khawatir Helena akan melakukan hal macam-macam nantinya.


“Lagian Papa gue mana berani coret gue dari KK, orang gue sumber duitnya, warisan Mama gue itu udah atas nama gue, Papa gue noh numpang idup sama bini barunya ke gue.


Ya, memang tempat ini milik mereka berdua. Perawatan belum dimulai tapi Radha dan Helena sudah membuat keributan dan menghebohkan para pengunjung lainnya.


“Gitu ya, Le?”


“Hm, beneran, Ra … makanya deh lu jaga Papa lu bener-bener, karena zaman sekarang penculik Bapak-bapak itu lebih ngeri daripada penculik anak, Ra.”


Radha menarik sudut bibirnya tipis, tanpa Helena ketahui bahwa hatinya kini tengah terluka, Ingin rasanya ia cabik wajah Ardi dan Dewi bersamaan. Setidaknya Helena masih berhak atas papanya, berbeda dengan Radha yang Dewi batasi.


“Iya, lu bener … penculik bapaknya lebih bahaya, Le, apalagi kalau bapaknya memang pasrah dan mau diculik sama wanita gatel itu.”


“Bingo!!”


“Pokoknya jan sampe laki gue begitu!” Helena terbeliak mendengar kalimat spontan Radha, namun secapat itu Radha hilangkan kecurigaan Helena.


“Nanti maksudnya, Le.” Radha menggigit bibirnya, sungguh ia tak sengaja berucap demikian.


Ia mengepalkan tangan, rahangnya mengeras dan wajahnya menatap nanar tanpa arah. Pantulan wajahnya di kaca membuat Radha semakin membenci Dewi yang kini tiba-tiba memasuki pikirannya, andai dulu wanita itu tak masuk dalam kehidupan mereka, mungkin saat ini Maya masih akan mencium pipinya sebelum Radha ke sekolah.


Pembicaraan mereka tampak serius, dan beberapa orang di sana paham jika keduanya tengah berjulit. Sebenarnya menarik untuk ikut, tapi nampaknya Radha dan Helena tak seakrab itu pada orang baru.

__ADS_1


Menikmati pelayanan sebaik ini memang sejenak membuat Radha tenang sejenak. Dimanjakan sebaik mungkin membuat Radha merasakan bagaimana menjadi wanita sepenuhnya. Selama ini ia hanya melihat Dewi dan Celine menikmati harta papanya untuk merawat diri dan belanja sepuasnya, entahlah mengingat hal itu saja Radha terasa sakit.


-


.


.


“Waw … apa aku tidak salah lihat?”


Radha memutar bola matanya malas, kenapa harus bertemu dengan nenek sihir ini sekarang. Berpura-pura tak kenal, Radha mempercepat langkahnya diikuti Helena yang kini tampak bertanya-tanya.


“Aduh anak Mama, kamu makin cantik, Sayang … Gian mana.”


Pertanyaan wanita itu membuat Radha tersentak, langkahnya terhenti dan kini menoleh pada kedua perempuan yang sejak tadi menghantui pikirannya. Dewi, ia menyapa dengan senyum manis seperti biasa, begitupun Celine yang mengekor di belakang mamanya.


Bukan karena apa-apa, yang menjadi pikiran Radha adalah Dewi menyebut nama Gian. Sedangkan di sisinya ada Helena saat ini. Bisa-bisa temannya ini akan berpikir macam-macam dan mengetahui rahasia besarnya.


“Mama? Mama lu, Ra? Kok nggak mirip sih.”


Helena setengah berbisik, namun dapat dengan jelas Dewi dengar. Nampaknya Radha selalu berteman dengan orang-orang yang tak menyukai dia, wanita itu tetap berusaha tenang. Karena baginya, sangat penting membuat diirnya berada di posisi yang dianggap benar.


Tak terima sebutan itu keluar dari bibir mungil Radha, Celine menatapnya nyalang dan benar-benar ingin mencabik wajah saudara tirinya. Tentu saja perihal kecemburuan dan rasa iri itu belum usai, Haidar dan Gian adalah dua pria yang memiliki hubungan dengan Radha, dan ia amat tak terima kekalahannya.


“Mama kangen sama kamu, Ra.”


Sungguh pandai bersandiwara. Rasanya perawatan beberapa jam itu hilang begitu saja, bertemu Dewi setelah beberapa lama sama halnya dengan menyerang jantung Radha. Sampai kapanpun, memang Dewi akan tetap hina di mata Radha.


“Ck, udah deh Ma, ngapain ngajak ngobrol anak gak punya etika seperti dia.” Celine yang sudah terlampau panas melihat penampilan Radha semakin cantik dan memukau kini mencuri kesempatan untuk berkata kotor tentangnya.


“Celine, jangan gitu, Nak … kalian adik kakak loh.” Bak malaikat, Dewi memang benar-benar terlihat menyayangi keduanya.


“Oh lu punya Kakak, Ra? Udah nikah ya, Kak?” tanya Helena yang membuat Celine meradang, ingin ia mendaratkan telapak tangannya tepat di wajah Helena, setua itu kah dia disbanding Radha hingga orang-orang mengira mereka terpaut begitu jauh.


“Jaga mulutmu, kau belum mengenalku sama sekali,” tutur Celine berapi-api.


“Lah salah gue apa?” Helena mencebik, padahal ia hanya ingin membuat Radha terbebas, karena sangat jelas terlihat jika Radha tak menyukai kehadiran wanita yang sempat ia sebut mama itu.

__ADS_1


“Permisi.”


“Hei tunggu, Mama belum selesai bicara.” Dewi menahan kepergian Radha, entah mengapa membuat Radha bungkam dengan segala ulahnya menjadi kebahagiaan bagi Dewi.


“Lusa ulang tahun Celine, jangan lupa datang ya … dan ajak suamimu.”


“Haah?” Helena menganga, ia bingung kini tengah berada di antara siapa, sungguh mengejutkan.


Bertubi-tubi, Dewi tengah melukai dan berniat mempermalukan Radha sekaligus. Wajahnya kini memerah, begitupun matanya yang tampak membasah. Pesta ulang tahun, kapan terakhir ia meryakannya, bahkan ucapan dari sang papa hampir tak pernah ia dengar begitu Celine dan Dewi masuk ke rumahnya.


“Hm, aku akan datang … suamiku akan sangat senang hadir di pesta ulang tahun saudara tiriku,” Radha menekan kalimatnya, keduanya terdiem sesaat terutama Celine.


“Oh Kakak tiri, wajar gak mirip, berarti Mama lu cantik ya, Ra,” celetuk Helena yang merasa dapat menemukan jawaban dari apa yang kini ia hadapi.


“Iya dong, bahkan cantik banget … Mama gue nggak pernah maksa Papa buat naikin uang bulanan biar bisa pasang implan.”


“Awokwkwkwk implan, udah kendor banget dong makanya pakek implan.” Mendengar bahwa kedua wanita itu adalah mama dan saudara tiri Radha, jelas saja Helena berani berkata demikian.


Niat hati ingin membuat Radha malu dengan statusnya, namun ternyata Radha justru membuat mereka bungkam. Tak dapat dipungkiri, ucapan Radha membuat Dewi benar-benar malu.


"Aaaarrrgggghhhh!!!! Ardi, anakmu benar-benar sialan." Ia mengepalkan tangan dan menatap Radha yang kini telah semakin menjauh.


"Mama juga masih mau anggep dia anak, menjijikan."


"Jaga mulutmu, Celine ... kita butuh papanya untuk saat ini."


Bersambung☺


Gaes aku mau curhat dulu ya Ehe!! Tapi sebelumnya makasih buat kalian yang dulu selalu temenin aku dari awal nulis Gian, peluk jauh. Dan kalian tau kan gimana dulu aku bahkan Hiatus sampai 3 kali, dan itu jaraknya lama-lama banget. Jujur hal paling berat buat aku itu ya bangun lagi naskah yang udah terbengkalai berbulan-bulan. Jadi, itu faktor yang buat aku jadi lupa sama nama pemeran pembantunya. Beberapa minggu ini aku seneng banget, Gian bisa lanjut dan ide aku buat nulis muncul gitu aja. Dan itu beneran naikin mood aku. Bahkan Gian sama Radha aku isi sama ketawa-ketawanya doang, ya biar efeknya bagus buat aku juga, respon pembaca juga pada baek. Tapi, hari ini ada satu komen yang buat aku downnya makjleb dan berasa muales banget buat nulis lagi. Tapi aku mikir lagi, masa karena satu orang aku lupain orang-orang yang masih mau baca karya aku, kan aneh.



Komen begini beneran sengaruh itu, aku sadar mungkin karya aku jauh dari kata baik dan sempurna. Aku adalah orang yang suka baca komen pembaca dan aku turutin, alurnya ga serta merta aku yang ciptakan tapi aku juga pertimbangkan dari komen. Makanya aku kadang tanya ke pembaca kita maunya gimana, jawaban mereka itu aku turutin. Tapi kalau masih on going ya, Wak dan eps nya masih awal-awal. Kalau udah panjang terus komen alur ya gabakal diturutin.


Haha sebenernya banyak banget yang mau aku keluhin. Please banget, duitnya ga seberapa tapi hancurnya mood luar biasa. Wajar aja dlu banyak bilang trauma buka komen, aku sebenarnya udah pernah beberapa kali liat komen negatif, kadang jijik sama tokohnya, kesel sama isi ceritanya karena tokoh yang dia dukung bukan pemeran utama, alur ga sesuai maunya dia, tapi hari ini, aku lagi di titik gabaik" aja gaes makanya kesentil langsung awww. Hadeeuh, capek ya Bond. Tapi gapapa, ingetin aja yang komen itu, kali suatu saat dia jadi penulis wkwkwk biar rasain gimana susahnya yak.


Babay💞

__ADS_1


Berkat guci koh Malih, aku akan up sore/malam nanti ya. Love You para wanita hebat🌻🤗 Pembaca Babang Gian cewek semua kan ya😎


__ADS_2