
"Anjrit gue gak tahan, mana masih lama lagi," batin Radha mulai tak bisa di ajak kerja sama.
"Kak turun aja deh," ujarnya menepuk-nepuk pundak Gian berkali-kali.
Ia mulai berdesir, kenapa harus di saat-saat seperti ini. Setidaknya jika dia berlari akan mempercepat tujuannya, giginya tak bisa diam. Radha memaksa untuk turun dan berjalan sendiri kali ini.
"Buruan," desaknya lantaran Gian begitu hati-hati takut wanita itu jatuh.
"Sabar, Zura," ucapnya sedikit menahan nada bicara karena tepukan Radha cukup menyakitkan.
"Tidak usah lari ... Radha!!!"
Belum selesai bicara, pria itu kehilangan dalam sekejap mata. Baru saja menyentuh tanah, Radha berlalu tanpa peduli Gian yang berada di belakangnya.
"Astaga, dia bisa berlari sekencang itu?"
Gian menganga, bagaimana bisa istrinya terlatih hingga dalam waktu singkat tubuhnya semakin terlihat kecil. Bukankah untuk berjalan saja dia sulit? Misteri wanitanya memang tak pernah mampu ia pahami.
"Tunggu aku anak kecil!!"
Hingga tak punya pilihan, terpaksa Gian juga turut mengejar dengan langkah panjangnya. Dasar pengganggu, benar-benar merusak suasana. Kali ini Gian marah akan banyak hal, namun ia hanya mampu terima dan berharap kesempatan akan datang lagi suatu saat.
Tak begitu sulit mengejar Radha, kini jarak keduanya tak begitu jauh. Namun tetap saja Radha tak mengurangi kecepatannya, manakala Gian bersuara wanita itu justru panik dan kaget hingga semakin memacu kecepatannya.
"Haaaaaaa!!! Kakak ngapain pakek ikutan!!"
"Dasar aneh, dia pikir ini lomba lari atau bagaimana?"
Gian masih meneruskan langkahnya, pria itu hanya khawatir istrinya terjungkal atau mengalami kecelakaan yang tak di inginkan. Entah seberapa tak tahannya Radha, nampaknya sangat-sangat tak kuat menahannya lagi.
"Yes!! Dikit lagi," serunya dalam hati, tak lama lagi ia akan menuntaskan keinginan yang sedikit menyiksa ini.
Radha mempercepat larinya, kebetulan pintu utama itu terbuka dan dia dapat fokus untuk tetap berlari. Namun sayang, memang rencana tak semulus kenyataan, Tuhan berkehendak lain hingga kini tragedi mengerikan itu tak dapat terelakan.
Gdubrak!!
"Aaaarrrrrrgggghhhh, Mama!!!"
"Ya Tuhan, Haidar!!"
__ADS_1
Tubuhnya yang kecil nyatanya mampu membuat Haidar terpental, ia sama sekali tak dapat mengelak kala wanita itu menghamtanya begitu kuat.
Rasanya? Tentu saja luar biasa sakit. Haidar hanya mampu terpejam, bagaimana nasib tulang ekornya, mungkin sedikit remuk. Ia belum menyadari siapa yang kini menimpa tubuhnya, karena sekujur tubuhnya terbentur lantai.
"Aaaaarrrrrggghh," rintih Haidar dengan mata terpejamnya.
Kejadian tak terduga itu terekam jelas oleh mata Jelita, jelas ia panik dan segera menghampiri dua orang itu. Radha segera berdiri walau sedikit gemetar, kejadian singkat ini membuatnya tak nyaman walau hanya sebuah kecelakaan.
"Kamu darimana, Sayang? Kenapa lari-lari?"
Jelita menghela napas panjang, Haidar terlihat kesakitan dan Radha pun sama. Mungkin lututnya juga terasa sakit, beruntung saja gelas yang Haidar bawa tidak melukainya, walau hal itu harus Haidar yang menanggung sakitnya.
"Mama, Haidar kenapa?"
Gian yang baru saja tiba kehilangan kesempatan untuk melihat tragedi tabrakan maut itu secara langsung. Sedangkan Radha yang kini berdiri di depan Jelita merasa sedikit beruntung karena setidaknya Gian tak menyaksikan dirinya dan Haidar jatuh bersama-sama.
"Ini semua pasti ulahmu kan!!! Sudah dewasa masih saja seperti anak kecil, untuk apa kau mengejar Radha hingga dia terlihat panik begitu?!!"
Aarrrgghh, sialan!! Fitnah ini sungguh kejam. Sesaat Gian merasa bagai anak tiri yang tengah mendapat deskriminasi oleh sang ibu. Gian menatap bingung Radha yang kini hanya mampu terdiam.
"Kenapa?" masih berusaha memberikan tanya walau tak bersuara. Namun, Radha masih diam karena mungkin takut untuk berucap.
Gian tak terima tentu saja, dirinya saja setengah mati mengejar Radha. Dan kini ia terpaksa menerima tuduhan yang sama sekali tak masuk akal.
"Hah sudahlah, Mama tau seberapa jahil dirimu," ucap Jelita tak sedikitpun menerima pembelaan.
Pria itu hanya mampu membuka mulutnya lebar-lebar. Matanya melotot dan sungguh ini adalah hal paling menyebalkan.
"Sayang, kamu masuk kamar ya, kelihatannya kamu lelah."
Walau sebegitu khawatir dengan Haidar, Jelita juga tak melupakan Radha sama sekali. Ia dapat melihat jika menantunya itu terlihat lelah, dan ia meminta Radha untuk berlalu dengan segera.
Radha mengangguk, namun maniknya tertuju pada Haidar yang kini berusaha untuk duduk. Sungguh kali ini merasa berdosa, wajah pria itu terlihat memerah dan jelas itu pasti sangat sakit.
Keduanya sempat bertemu tatap, Haidar mendongak dan mengisyaratkan Radha bahwa semua baik-baik saja. Senyum tipis namun wajahnya terlihat datar, ekspresi yang dulu kerap Haidar berikan jika ia ingin marah tapi tak bisa pada Radha.
"Sudah, Radha, masuk sana."
"Maafkan aku, Kak."
__ADS_1
Sebelum berlalu ke kamarnya, Radha berucap demikian pada Haidar. Dan hal itu jelas menimbulkan tanya di benak Gian. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Jelita menyalahkannya, dan Radha yang terlihat sangat bersalah membuat Gian berambisi untuk bertanya lebih jelas lagi.
"Heh!! Kau mau kemana? Bantu adikmu dulu," tutur Jelita menarik ujung kaos Gian hingga melebar itu.
"Istriku butuh bantuanku juga, Mama saja yang bantu Haidar ... dia juga masih bisa bangun sendiri," tolaknya sembari menatap sekilas Haidar yang kini terduduk lemas.
"Bantuan apa? Radha baik-baik saja, Haidar lebih butuh bantuanmu, Gian."
Gian membuang napas kasar, ia mengusap wajahnya kesal dan kini berlutut untuk memeriksa keadaan Haidar. Sungguh rasanya sangat kaku, sejak beberapa waktu lalu yang terjadi di antara mereka hanya perang dingin tak berkesudahan.
"Yang mana yang sakit?" tanya Gian sedikit tak ikhlas dan mulai memeriksa tubuh sang adik.
Haidar hanya tersenyum tipis, ia sedikit menjauhkan tangan yang kini berlumur darah akibat pecahan gelas yang ia pegang sebelumnya.
"Hanya itu saja? Aku pikir ada yang patan." Ucapan Gian yang tampak meremehkan penderitaan Haidar membuat pria itu terperangkap dalam bahaya.
Bugh!!
"Awww, Mama!! Kenapa kejam sekali?" Gian meringis, serangan mendadak yang diberikan Jelita cukup membuatnya keluar air mata.
"Kau yang kejam, adikmu terluka bukannya di bantu malah di wawancara."
"Iya kan sebelum bertindak aku harus bertanya lebih dulu, Ma."
Sungguh sial dia hari ini, Randy, Radha, Haidar, dan kini Mamanya seakan bekerja sama untuk menjatuhkan mental pria tampan itu.
"Kau tak mampu berdiri?" tanya Gian serius menatap wajah Haidar yang sejak tadi hanya diam.
"Hm, tulangku rasanya remuk semua," keluh Haidar terlihat sungguh nyata, Gian tak melihat kebohongan disana, tampaknya sang adik memang tidak baik-baik saja.
Tidak punya cara lain, Gian lagi-lagi menghembuskan napas perlahan. Baiklah, tidak apa jika harus ia mengangkat tubuh manusia ini ke kamarnya. Toh ini hanya sekali saja, pikirnya.
"Jangan kasar-kasar, Gian!!"
"Astaga, Mama ... Haidar tidak seringan Radha," celetuknya sedikit kesal lantaran tengah merasa di jajah negara tetangga.
"Kau juga berat sekali, apa yang makan, Haidar."
"Haha, makan hati sepertinya," jawab Haidar asal di iringi tawa sumbang yang membuat Gian terdiam tiba-tiba.
__ADS_1
............... Tbc🌻