
Reyhans tak tinggal diam, dengan mudah dia mendapatkan siapa dalang dibalik kekacauan ini. Kelemahan Juan masih sama, hanya perihal uang. Pria itu tak mampu membayar keseluruhan pihak, karena bagaimanapun wanitanya juga kehabisan uang.
"Lakukan tindakan, sepertinya ada hal lain yang direncanakan pria ini," titah Reyhans dengan suara mantapnya, meringkus seorang Juan yang sudah tak memiliki dana sangatlah mudah.
Mulut orang-orang yang sebelumnya sempat ia bayar dengan mudah membuka fakta begitu Reyhans menggantinya.
Lain halnya dengan Reyhans, kini Gian hanya duduk bersandar di bahu Radha. Entah mengapa ia merasa tengah menjadi korban pelecehan, karena dia benar-benar tidak sadar apa yang ia alami ketika berada di Hotel.
"Kau yakin wanita itu Celine?"
Reyhans mengangguk pasti, CCTV menjawab dengan jelas dan tak bisa membuat mereka berpaling. Gian mengepalkan tangannya kuat-kuat, ingin ia hajar pria itu sekarang juga.
"Kemungkinan dia gay berapa persen?" tanya Gian yang membuat Radha membeliak seketika.
"Gian, kau benar-benar mengkhawatirkan hal itu?"
Reyhans sedikit heran karena Gian justru memikirkan hal semacam itu. Bagaimana kini dirinya merasa jijik pada diri sendiri, bahkan sempat meminta Radha agar mau membersihkan tubuhnya.
Lulur yang dulunya ia perdebatkan akhirnya berguna juga, walau sebenarnya Radha tak begitu percaya jika Juan menodai suaminya, anggapan Gian saja yang keterlaluan.
"Aarrghh menjijikkan, dasar gila."
Sedangkan Reyhans justru mengkhawatirkan hal lain, karena yang berada disana adalah Celine, begitupun dengan Radha, sungguh kali ini ia bertolak belakang dari apa yang Gian pikirkan.
"Jangan bercanda deh, kalau beneran gimana? Ewh," Cibir Radha mengangkat alisnya, tak bisa ia pungkiri kemungkinan itu memang ada lantaran Gian yang sama halnya seperti mati kala itu.
"Kok kamu gitu? Kakak jijik juga lah," tutur Gian mengacak rambutnya, tubuhnya disentuh Reyhans saja Gian geli, apalagi musuhnya.
-
.
.
.
"Kenapa berhenti? Lagi," titah Gian tiada sedikitpun rasa kasihan, melihat Juan yang kini tengah dalam sakitnya penyiksaan ia menarik sudut bibir tipis.
Benda tumpul itu sudah puluhan kali menghantam tubuh juan, matanya kini bengkak lantaran pukulan Mario dan Jonatan yang tak kalah kuat saling bergantian.
__ADS_1
Jebakan yang Reyhans atur dengan menggunakan Radha sebagai umpannya, dan membuat Juan menganggap hal itu sebagai kesempatan emasnya nyatanya justru jerat yang tengah membawanya ke dasar jurang.
"Aaakkkhhh!!!" jerit Juan kala kursi kayu itu menghantam punggungnya, tentu saja ulah Jonatan yang tanpa diminta justru melakukan hal lebih keji dari perintahnya.
"Telanjangi, Bos?"
"Tidak perlu, aku tidak bernafsu melihatnya," tolak Gian dengan suara lantangnya, menatap Juan yang sudah tak berdaya, barulah Gian mau menghampirinya.
Mata itu masih mampu menatap nyalang wajah Gian, dendam yang Juan miliki seluarbiasa itu. Dan bahkan ia membuang ludah dengan kasarnya di hadapan Gian.
"Kau berani sekali mengusikku, kau pikir siapa dirimu?"
"Cih, hanya karena kau kaya bukan berarti mampu melakukan segalanya!!"
Suara sudah terbata-bata, dan darah mengalir di seluruh wajahnya. Gudang sunyi itu menjadi saksi sakitnya Juan, rantai yang mengikat tubuhnya begitu erat, dan kini yang berada di hadapannya adalah ujung sepatu Gian.
"Aku tidak pernah membawa statusku dalam menyelesaikan masalah, tapi nampaknya kau mencoba untuk melakukan cara seperti cara orang kaya ya?"
Gian tak membentak, karena jujur saja melihat Juan tersiksa seakan membuat jiwa Gian semakin menggebu-gebu. Sedikitpun ia tak menyentuh Juan, karena ia merasa jijik dengan cara kotor yang pria itu lakukan.
"Diam kau, Bangshat!! Aku akan membunuhmu setelah ini."
"Bunuh? Kau yakin mampu, Juan? Lakukan jika mau," tutur Gian mengejeknya dengan senyum merendahkan, kejadian lima hari lalu membuatnya terasa sedikit kesulitan melakukan akitivitas, tentu saja karena terlalu memikirkan apa yang ia alami.
"Menjauh dariku, Badjingan!!" teriak Juan tak takut sedikitpun, walau nyawanya sudah diujung tanduk.
"Baiklah, jika itu maumu."
"Habisi dia," titah Gian sebelum kemudian berlalu, dan Reyhans yang mendengar ucapan Gian sejenak terkejut, apa mungkin Gian akan membuat nyawa seseorang hilang begitu saja.
"Gian, apa tidak berlebihan?"
"Apa?"
"Kau mau membunuhnya, itu cukup gila, Gi."
"Kalau begitu terserah kau saja, jangan sampai dia kembali mengusikku, kalau perlu patahkan salah satu kakinya." Gian tampak berpikir, akan terlalu gila jika dia membunuh Juan.
"Sudah patah, Bos ku!! Dua-duanya!!"
__ADS_1
Reyhans menganga mendengar ucapan Mario, benar-benar perpaduan yang cocok. Gian mengangguk dan memberikan jempol untuk Mario, tugas yang baik, pikir Gian.
"Anak buahmu keren, dari mana kau dapat?"
"Entahlah, aku tidak menyangka jika mereka sesigap itu."
Meninggalkan Reyhans yang menyaksikan kegiatan anak buahnya, Gian kini kembali ke tempat dimana Radha menunggu. Istrinya memang bertugas untuk membuat janji pertemuan dengan Juan, namun jelas Gian yang justru Juan temui di tempat itu.
Dengan kecepatan tinggi seperti biasa, Gian menuju tempat itu. Karena akan terlalu lama jika Radha menantinya, dengan tatapan nyalang Gian mejadikan Radha sebagai tujuan utama.
-
.
.
.
"Kau yakin suamimu setia?"
Radha hanya menatap datar Celine yang kini tampak dengan percaya dirinya hendak berusaha membuat Radha semakin kacau, wanita itu sengaja menggunakan pakaian yang sama seperti pakaian yang ia kenakan ketika melakukan apa yang Juan perintahkan.
"Untuk apa kau bertanya? Sepertinya kita tak sedekat itu, Celine," tutur Radha menatapnya sinis, meski sudah mengetahui apa yang akan Celine katakan, akan tetapi Radha masih butuh mempersiapkan mentalnya.
"Kau harus lihat ini, buka matamu, Radha ... aku bahkan masih ingat bagaimana Kak Gian menggodaku, bagaimana? Pada kenyataannya kau kalah juga kan?"
Radha tak sudi melihatnya walau sekilas, karena sakit memang ia rasakan. Kekhawatirannya dan Reyhans benar adanya, Celine memanfaatkan keadaan untuk membuatnya pecah, akan tetapi apa yang Reyhans katakan membuat jiwa Radha seteguh itu.
"Hahah murahaan sekali, aku tidak yakin Papa masih mau mengakuimu putrinya jika tau kenyataan bahwa anak tirinya lebih rendah dari seorang pelacuur!!"
Mendengar ucapan Radha, Celine menganga tak percaya. Belum lagi disekitarnya ada banyak orang. Jemarinya bergetar begitu Radha membawa papanya dalam pembicaraan. Alih-alih menunjukkan hasil foto yang lain, Celine justru merasa malu tiada tara.
"Aku tidak menyangka, gadis manja kepercayaan Papa ternyata sebiinal ini, bahkan rela memeluk kakak iparnya dalam keadaan tanpa busana? Demi apa, Celine? Kau kehabisan uang atau apa?"
Radha bertanya dengan suara yang tak kecil, ucapannya dapat di dengar jelas oleh yang lainnya. Sontak Celine membeku, merasa ini adalah puncak keberhasilan, nyatanya justru cara jatuh paling hina.
TBC
Okay kelar!! Tidak akan ada konflik lagi, otw lahiran đ§ââ
__ADS_1