
Dentingan sendok mendominasi, ruang makan tiba-tiba terasa horor. Seminggu terakhir Radha kerap terbangun Tengah malam dan meminta Gian menemaninya untuk makan, padahal ia tengah berada di puncak mimpinya.
"Kakak balik aja ke kamar, aku bisa sendirian kok."
Sebuah perintah yang nyatanya berharap Gian tolak. Mana mungkin dia berani makan sendirian, sedangkan ke kamar mandi saja ia takut sendirian.
"Nggak, kamu lanjutin aja makannya, Kakak tunggu."
Tak mengapa, meskipun matanya harus sedikit lelah setiap harinya. Beberapa orang terkadang justru fokus pada mata Gian, bukan yang lainnya.
Radha memang tak menyiksa, sama sekali tidak. Akan tetapi bagaiimana dirinya kini membuat Gian yakin bahwa wanita hamil lebih berkuasa daripada atasan.
Istrinya tak merepotkan sebenarnya, Radha hanya meminta ditemani makan. Tak meminta yang aneh-aneh, meski harap-harap cemas Gian karena memang ini baru awalnya.
"Ngantuknya ya Tuhan," keluh Gian dalam hati, ingin ia mejerit namun itu sama saja membuat Radha merasa sakit.
Sebuah mimpi indah bagi Gian jika melihat nasi yang menggunung itu telah berkurang, setidaknya harapan istri kecilnya ini akan kembali tidur telah terlihat.
"Udah?" Gian bertanya dengan sisa tenaganya, andai di ruang makan ini ada tempat tidur, mungkin dia akan betah hingga esok pagi.
"He'em, bentar temenin pipiis dulu."
Baiklah, tak mengapa lagi. Gian dengan setia mengantarkan istrinya ke kamar kecil sebelum kembali tidur.
"Ngantuk banget ya, Kak?" tanya Radha sedikit tak tega, ia dapat melihat mata Gian yang luar biasa merah, akan tetapi jika tanpa Gian dia juga tak bisa.
"Nggak, masih bisa ditahan," jawab Gian menampilkan senyum manisnya.
Keduanya kini berjalan beriringan, suasana rumah seluas itu benar-benar sepi. Dan tak seluruhnya lampu Gian hidupkan, sedangkan Radha yang memang penakut terkadang menatap sembarang arah dan mematung sesaat.
"Zura, kamu liat apa?" Gian sangat amat tak menyukai kebiasaan Radha yang seperti ini.
"Itu apaan?" tanya Radha sembari menunjuk bayangan yang telihat karena pantulan cahaya dari luar dan tirai yang terbuka.
"Bukan apa-apa, teruskan langkahmu."
Bukan hanya Radha, jika sudah begini Gian juga bisa takut sebenarnya. Belum lagi tadi ia sempat mengunjungi makam kakek dan neneknya, jelas saja jiwa penakut Gian muncul kembali.
"Bukan hantu kan?"
"Malah disebutkan ... bukan, Zura, ayo cepat," desak Gian mulai tak mampu bersabar lebih lama berada di antara anak tangga, kenapa juga drama horor seperti ini masih kerap ia rasakan.
"Aduh lupa," ujar Radha lagi setelah beberapa langkah naik tangga itu.
"Apa lagi, Ra?" tanya Gian frustasi, jika harus kembali ke dapur sungguh ia tak mau.
"Botol minum aku, ketinggalan, Kakak."
__ADS_1
Dan benar saja, dugaan itu tak meleset. Terpaksa di harus kembali ke dapur demi membawa benda keramat yang harus ada di samping Radha setiap malamnya.
"Tunggu, biar Kakak yang ambil."
Dengan langkah seribu, langkahnya bahkan lebih cepat dari laba-laba. Jantung Gian rasanya ingin copot, demi air hangat untuk menemani tidur Radha ia rela kehilangan rasa kantuknya 100 persen.
"Cepet banget, Kakak lari?" Terlalu basi sebenarnya, bahkan Radha lihat sendiri bagaimana Gian mengambil langkah.
"Iya, ayo, Sayang ... besok Kakak harus kerja."
Radha megangguk pelan, berjalan santai dan membuka pintu kamar dengan cepat. Kembali, dan ia langsung menjadikan tempat tidur sebagai tujuan utama.
-
.
.
.
"Gak bisa tidur masa?" Radha mengelus wajah Gian yang sejak tadi terjaga, apa mungkin efek lari malam-malam membuat rasa kantuk Gian ketinggalan di meja makan, pikir Radha.
"Hem, kamu tidur aja, nanti tidur sendiri kalau lelah," tutur Gian sembari mengerjapkan mata beberapa kali, ia memang lelah tapi matanya justru terasa segar.
"Nggak bisa, kan yang bangunin aku, yang tidurin harus aku juga."
Kalimat macam apa itu, berhasil membuat wajah gian merona. Benar-benar candu yang Gian sukai, cara Radha memperlakukannya kini persis anak-anak dalam pelukan ibunya.
Terkadang ia berpikir apa benar yang pernah Jelita katakan terjadi sepenuhnya. Meminta Gian tersiksa dengan kehamilannya, akan tetapi melihatnya begini saja Radha tak tega.
"Kencengin peluknya, Ra," pinta Gian dengan suara seraknya, bahkan kesadaran hampir hilang pun Gian masih banyak mau.
"Gini?"
"Arrgg, kekecengan, jantung Kakak penyet kalau begini."
Radha menarik sudut bibir, sengaja ia lakukan demi memenuhi keinginan sang suami. Dengan wajah yang kini menjadi fokusnya Radha, tak sedetikpun ia lepaskan sama sekali.
Wajah-wajah lelah yang kini Radha lihat, membuat hatinya menghangat. Tak pernah ia duga jika akan hadir seseorang yang benar-benar menjaganya dalam keadaan apapun.
Tak butuh waktu lama, napas Gian kini terdengar teratur. Dan pria itu tertidur dalam peluknya, menyusul dirinya yang juga berlabuh menuju alam mimpi, berharap nanti akan bertemu Gian juga.
-
.
.
__ADS_1
.
Hari berganti, mentari sudah beranjak dari tempatnya. Sedangkan Gian masih setia dalam lelapnya, nampaknya memang dirinya sangat lelah hingga kini pun ia hanya mampu terbaring walau Radha sidah menyibak tirai jendela.
"Masih tidur ya?"
Wanita cantik ini sudah selesai mandi, ia menghampiri Gian dengan hanya menggunakan kimono dan handuk kecil membungkus rambut basahnya.
Mendekati Gian, mata itu mulai mengerjap pelan. Gian menyesuaikan cahaya sekitar dan wajah Radha kini menyambutnya.
"Udah bangun? Jam berapa, Ra?" Gian bertanya sembari beranjak duduk dan sedikit heran dengan situasi yang sudah sesiang ini.
"Jam sembilan," jawab Radha singkat, ia panik dan memastikan dengan mengecek ponselnya.
"Kenapa nggak bangunin aku, Ra?"
Gian mengusap wajahnya kasar, pagi ini ada rapat yang mengharuskan dia harus berada di kantor jam delapan pagi. Sedangkan ini, sudah satu jam berlalu dan Gian masih berada di dalam kamar.
"Kakak nggak bangun-bangun, ngantuk banget sepertinya, aku gak tega." Radha berucap demikian karena memang itu alasan dia tak membangunkan Gian lebih awal.
Tak ada kemarahan Gian, ia hanya diam dan kini mencoba mengubungi Reyhans sebentar. Paling tidak ia mengatakan alasan terlambatnya.
"Sudah selesai, Bapak ... silahkan Anda beristirahat kembali, terima kasih."
Belum sempat bicara dan Reyhans telah berkata demikian, sedikit heran namun Gian tak mau ambil pusing. Karena baginya ini adalah sebuah kebaikan.
"Kakak kenapa liatin aku begitu?" Radha menaikan alisnya, menyadari tatapan suaminya ini terlihat mencurigakan.
"Morning kiss," pintanya sembari mengedipkan sebelah mata.
"Udah tadi pagi, tapi Kakak diem aja," jelas Radha singkat, padas, jelas dan tidak berasa bagi Gian.
"Sekarang dong, curang kalau cuma kamu yang ngerasain." Gian mencebik benar-benar tak ikhlas jika ia tak mendapatkannya dari Radha pagi ini.
"Tidak berlaku lagi, ini udah hampir siang ... mending Kakak mandi sana."
Brugh
"Mau kemana?" Gian menarik pergelangan tangan istrinya hingga kini terjerat dalam peluknya.
"Ganti baju, lepasin."
"Bentar, lima menit aja," tawar Gian dengan wajah yang tampak mengiba.
"Hm, cuma peluk nggak usah macem-macem," tekan Radha berharap Gian tak berbuat semaunya hari ini.
"Iya, janji cuma ini."
__ADS_1
Yah, tahulah janji Gian. Berapa persen bisa dipercaya dan janjinya akan dia tepati.
Tbc