Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 283. Perkara Kecil


__ADS_3

"Hoaam!!"


Seperti biasa, kapan Gian akan ingat jika menguap harus menutup mulut. Wajah bantalnya terlihat tak bersalah sama sekali, menggerakkan tubuhnya ke kanan ke kiri seakan benar-benar puas mendengar tulangnya berbunyi.


"Harus ya begitu?" tanya Radha yang kini tengah menghabiskan waktu dengan benda pipihnya.


Entah apa yang dia cari hingga memanfaatkan waktu sebaik ini. Kebetulan, suami dan anak-anaknya sedang tidur, tentu saja Radha merasa bebas walau sesaat.


"Kamu nggak tidur?"


Bukannya mejawab, dia balik bertanya. Sudah biasa Gian bersikap demikian. Gian mendekap istrinya dan rasa kantuk itu seakan kembali menghampiri.


Mulai, Radha sudah merasa jika waktu senggangnya mulai terancam. Gian mulai mengusik ketenangannya, dia belum selesai menghabiskan waktu untuk melihat menonton drama terbaru idolanya.


"Diem, Kak ... lagian cepet banget sih tidurnya, kenapa harus bangun sekarang."


Gian memang tidur tak begitu lama, bahkan satu episode saja belum Radha selesaikan. Bisa-bisanya Gian sudah megacaukan waktu Radha, sebagai istri yang setiap hari dibuat pusing karena ketiga makhluk tercintanya ini dia juga butuh hiburan.


"Eeeuungg memangnya kamu lagi sibuk apa? Kakak ganggu ya?"


Manik hitamnya meminta penjelasan, padahal sudah jelas memang dia sangat mengganggu. Masalahnya Gian bukan hanya tak tidur, akan tetapi sejak tadi dia memeluk istrinya dan sama sekali tak bisa diam.


"Lagi nonton, tanggung ini dikit lagi."


Sebegitu berharganya waktu, Radha takut jika nanti Kama dan Kalila bangun sementara drama yang sudah tayang tak bisa terus ia saksikan.


"Kan bisa besok-besok, Sayang, matiin dulu sana."


"Nggak mau, hari ini eps 4 tau, Kakak nggak mau nonton juga?" tanya Radha asal, padahal mata Gian kembali mengecil.


"Yang kemarin hamilin cewek terus dia dah punya istri itu ya?" tanya Gian penasaran, karena sebelumnya dia sempat menemani Radha menonton drama itu.


"Iya, mau juga? Sini gabung, Kak."


Mengetahui apa yang Radha saksikan sontak Gian bangun dan duduk di sisi istrinya. Emosinya mulai naik dan matanya sudah fokus ke layar ponsel istrinya.


"Kamu kenapa bisa suka sama manusia bentukan gini sih, Ra? Cakepan juga suamimu ini," tuturnya menatap Radha lekat, ia tak habis pikir kenapa istinya benar-benar sesuka itu pada sosok pria yang menurut dia masih kalah jauh darinya.


"Idih, pakek nanya begitu, padahal Kakak suka juga nonton dia."

__ADS_1


Radha mendorong kening suaminya pelan, masih tetap tak ingin disebut istri durhaka, Radha menarik sudut bibir begitu mendengar ucapan suaminya.


"Ya kan aku disini mau lihat neng Sunja, bukan Hansu stresnya."


Tanpa berdosa sekali, dia jelas-jelas mengatakan bahwa dirinya menyukai pemeran wanitanya. Mereka berdua sama saja, bahkan di tengah-tengah drama berlangsung Gian dan Radha berdebat dan saling menyalahkan tokoh di drama tersebut.


"Heih!! Siapa yang stres? Kakak jangan sembarangan ya," ucap Radha mendelik tak suka, sejak kemarin Gian selalu mengutuk pemeran utama laki-laki dan kata-kata seperti itu.


"Dia lah, kamu kok nanya lagi, aneh banget."


Radha terpejam sejenak, kenapa suaminya harus begini. Sedikit menyesal dia menawarkan untuk menonton juga jika belum apa-apa justru hati Radha lebih panas daripada konflik di drama tersebut.


-


.


.


.


"Kenapa drama begini semua, doyan banget selingkuh, kamu tau nggak laki-laki begini harusnya disunat dua kali, Ra."


"Hm, nggak tau, karakter laki-laki mungkin memang begini," ujar Radha dan membuat suaminya mendongak, menatap sekilas wajah Radha yang terkesan mempertanyakan keadaan.


"Iya, nggak," timpal Radha mengerti ucapan suaminya.


Dia bersandar dipundak Radha, iya posisi mereka memang kadang terbalik. Siapa yang jadi istri siapa yang jadi suami, Radha dengan sabar memegang ponselnya meski kadang hatinya terasa pegal lantaran ocehan Gian.


Meski sedikit menyebalkan, cara ini lebih baik dan Radha tak suka jika harus menonton bersama di televisi mengingat Gian kerap kesal sendiri. Takut saja jika layar televisi justru hancur karena dia melemparkan benda di tangannya.


"Gedein volumenya, nggak kedengeran," pinta Gian padahal meski ia bisa mendengar juga pria itu tak mengerti apa yang diucapkan.


"Kakak juga baca subtitle, ngapain harus gede volumenya."


"Mau dengar suara Sunjanya, kalau bisik-bisik gini nggak seru, Ra."


Radha menghela napas pelan, entah ini cara Gian membuat Radha panas atau memang Gian menyukai pemeran utama wanitanya.


"Nah gitu kan enak," ucapnya mulai menikmati alur,

__ADS_1


Masih awal dan dia masih tenang, namun itu tak berlaku untuk 30 menit kedepan. Biasanya Gian akan mengeluarkan kata-kata mutiara dan mengutuk pemeran utama pria sesuka hatinya.


"What?!!!! Parah-parah!! Yang begini halal untuk digoreng, Zuraa!!!"


Dia yang gemas dengan alur cerita di drama tersebut justru menjadikan Radha sasaran. Wajah istrinya kini memerah dan terdapat bekas gigitan dari gigi runcingnya. Ingin menangis, akan tetapi Radha tak ingin terkesan persis anak-anak.


"Dasar gila!!!! Kenapa harus gigit? Aku salah apa, Dirgantara!!"


Bukan hanya kali ini, hal-hal yang awalnya mereka lakukan bersama berakhir dengan hal gila semacam ini. Ribut dan bahkan cukup mengundang perhatian publik.


"Sakit ya, Sayang? Maaf, nggak tau kalau bakal begini," tuturnya selembut itu sembari mengelus pelan wajah Radha, demi Tuhan dia ingin menangis, emosinya bangkit dan hasrat ingin membalas itu pasti ada.


"Sakitlah, kalau sampai muka aku kenapa-kenapa kita operasi plastik di Korea!!" Radha serius mengucapkannya, bahkan mata itu seperti mau keluar saja.


"Operasi? Tidak bisa, kamu tau nggak dilarang merubah ciptaan Tuhan, Ra, nggak bersyukur jadi manusia." Baru beberapa menit dia berubah ganas, dan kini tiba-tiba berubah jadi ustadz dadakan.


"Nggak usah ceramah deh, ntar kalau mau ceramah pas puasa, Kakak keliling ke beberapa masjid di kota ini juga boleh kalau mau."


"Boleh juga, lumayan kalau dibayar, Kakak mau, Ra."


Radha hanya bercanda, dan bisa-bisanya dia berpikir ini sungguhan dan bisa dimanfaatkan jadi ladang rezeki. Memang yang ada di otak Gian hanya uang dan uang.


"Terserah, nanti aku sampaikan sama ustadz Azzam kalau memang mau jadi penceramah," tutur Radha seakan mendukung keputusan suaminya, benar-benar diluar nalar pasangan ini.


Lanjut dengan drama yang baru setengah ia saksikan, Radha sejenak tak peduli dengan Gian yang kini tengah menghitung sesuatu dengan jemarinya.


"Kalau puasanya 30 hari, berarti kalikan aja sekali ceramah satu juta ... lumayan dong," ungkapnya dan membuat Radha benar-benar tak habis pikir, bukannya sadar diri jika Radha hanya berusaha membuatnya berhenti ceramah dengan kalimat sebelumnya, Gian justru menganggap itu hal serius.


"Aduh, Kak ... tolong sadar diri deh, siapa yang mau bayar satu juta untuk penceramah yang imannya setipis kulit bawang sepertimu, nggak ada."


Radha menggeleng berkali dan mengungkapkan itu tanpa rasa bersalah sedikitpun, karena memang apa yang dia ucapkan adalah fakta yang tak bisa dipungkiri oleh Gian.


"Eeh, bibirnya!! Kulit bawang, kamu nggak tau kan kalau Kakak pernah menang lomba dai cilik tingkat nasional beberapa tahun lalu." Tak terima dengan ucapan Radha, dia mengungkit prestasinya di masa lalu.


"Itu kan dulu, zaman purbakala ngapain di ungkit," tutur Radha tak mau kalah, kisah masa kecil Gian yang memang menjadi satu-satunya hal yang Jelita banggakan dari Gian.


"I-iya kan sama aja, intinya Kakak pernah menang titik."


"Bodo amat, udah sana mandi, badan Kakak bau kemenyan." Radha mengakhiri perdebatan duniawi ini, karena berdebat dengan Gian hanya membuat kepalanya semakin sakit.

__ADS_1


👉👈


Hai-hai, bulan puasa masih mau ditemenin Gian atau karya yang baru? Kalau memang masih mau Gian aku akan tetap lanjut sembari karya barunya aku up juga. Dan siapin vote dan poinnya (tabung sebanyak-banyaknya) buat nampol karya baru Author nanti. Periode Give Awaynya 1 bulan sejak karya diterbitkan ya, tapi aku gamau yang becanda, konsisten sampai akhir ntar.


__ADS_2