Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Jangan Hancur Sepertiku (Gian)


__ADS_3

Gemerlap cahaya dan alunan musik kini berpadu, Haidar yang memutuskan untuk ke tempat ini, nyatanya dia yang merasa tak nyaman. Meski jauh dari jangkauan orangtua, Haidar tak pernah menghabiskan waktu untuk hal semacam ini. Hidupnya dipenuhi jadwal tentang pekerjaan semata.


"Ck, Ricko!! Sampai kapan kita di sini?!"


Ia mulai kesal lantaran Ricko yang justru asik menikmati waktu bersama dua wanita seksi di sisi kanan dan kirinya. Entah mengapa Haidar merasa jijik dan tak suka, ia tak se naif itu, hanya saja Haidar memang tidak terbiasa.


Lama ia menanti Ricko bersenang-senang, niat awal dirinya mencari kesenangan, nyatanya dirinya hanya menemani sahabatnya itu. Bahkan minuman keras yang tersuguh di depannya tak ia sentuh sedikitpun.


Ke Club hanya sekedar duduk, menghabiskan waktu dengan bermain Game guna mengusir kebosananya. Jika saja wajahnya tak babak belur, mungkin ia akan melarikan diri ke tempat yang lebih baik.


"Aaah ... aku bosan."


Haidar menyerah, ia keluar dari ruangan VIP yang ia sendiri minta. Takkan mungkin ia bertahan lama dalam situasi seperti ini, aneh memang, seorang aktor yang berkecimpung di dunia hiburan tapi tak menyukai hal semacam itu, namun benar adanya jika itu seorang Haidar.


Baru saja berjalan beberapa langkah, Haidar tak fokus lantaran saat ini ia mencoba menghubungi Randy. Sang Paman yang tiba-tiba saja menghilang kala berpisah di Bandara usai kepulangan mereka.


BRUKK


Haidar terperanjat kaget kala tubuh tegap itu menabraknya cukup kuat, badannya yang tak sekokoh pria itu hampir saja terhuyung.


"Maafkan aku," ucap Haidar menundukkan wajahnya, sudah menjadi kebiasaannya mengucapkan kalimat itu meski ia tak sepenuhnya salah.


Tak ada jawaban dari pria itu, Haidar perlahan mengangkat wajahnya. Seketika ia menelan salivanya kasar kala menatap seorang pria yang di dampingi wanita seksi, jika di lihat jelas saja ia seorang penghibur.


"K-kak?"


Tidak ada kalimat lain yang mampu lolos dari bibirnya, takut, terkejut, kesal dan semua perasaan itu campur aduk kala menatap mata garang Gian seakan mencekiknya.


PLAK!!


Lagi-lagi, telapak tangan Gian mendarat di pipi mulus Haidar. Tak peduli dengan memar yang masih terlihat jelas di wajah sang Adik, Gian kehabisan kesabaran dengan tingkah Haidar yang kini menjadi-jadi.

__ADS_1


Sialnya, Haidar lupa Club mana yang jauh dari jangkauan kakaknya. Memilih jalan ini karena inspirasi Gian yang kerap berada di tempat ini kala tengah menghubunginya.


"Woah, kau benar-benar tidak waras, Haidar?"


Gian maju selangkah, semakin mendekat dan menatap tajam netra Haidar di balik kacamata hitam itu. Ia paham betul, Haidar mengenakan pakaian seperti itu demi menghindari khalayak ramai yang mungkin mengenalnya.


Dalam satu tarikan tangan, Gian kini mencekal kerah baju Haidar, mendorongnya kuat hingga tersentak ke salah satu sudut meja. Gian bak singa lapar yang hendak mencabik tubuh lawannya.


PRANK


SREK


Botol minuman juga beberapa kursi yang berada di sisi meja hancur sudah, masih dengan amarah membuncah, tak ia duga Haidar akan melangkah masuk ke tempat terkutuk ini.


"Oh my god, Honey ... kau ja_"


Ucapan wanita cantik itu terhenti kala Gian menatapnya setajam itu, perintah diam tanpa perlu membentak itu ia patuhi segera.


"Haidar, kau lupa apa yang kukatakan padamu pagi tadi? Apa telingamu tidak berfungsi dengan baik, Hah?!!"


"Pergi dan kejar karirmu jika kau mau, bukan mencoba hancur sepertiku!!"


Gian melapas kasar cekalannnya, Haidar mencoba memperbaiki kerah bajunya, kembali menyembunyikan wakah dibalik topi hodie warna hitam itu.


Sejenak ia terdiam, mencari makna di balik ucapan Gian. Pria itu belum pergi, ia masih berdiri tak jauh dari Haidar. Memasukkan telapak tangan di saku celana sembari meneliti penampilan Haidar dari atas hingga kebawah.


"Benar-benar sama,"


Gian membatin, ia sakit melihat adiknya seperti ini. Seakan cermin yang menunjukkan keadaan dia beberapa tahun lalu. Memutuskan hancur lantaran sakit yang tak berpenghujung, begitulah Gian memilih jalan hidupnya.


"Pulang selagi aku bicara baik-baik."

__ADS_1


Berucap tanpa menatap, Gian tak ingin terlihat patah di depan Haidar. Pria tampan itu memilih berlalu usai memberikan titah pada sang Adik.


******


"Ck, apa dia sudah pergi?"


Gian menatap nanar keluar mobil, jam menunjukkan pukul 02 pagi. Ia hanya ingin memastikan Haidar tak berada di depan itu lagi. Sejak tadi mencoba menghubungi Haidar, namun ponsel bocah sialan itu tak jua dapat di hubungi.


"Astaga,"


Segera pria itu keluar kala menangkap pemandangan Haidar tak sadarkan diri dalam gendongan Ricko dan salah satu bartender disana. Sejak kapan adiknya berani menegak minuman haram itu, rahang Gian mengeras, jelas saja Ricko akan menjadi sasarannya kali ini.


"Ricko!! Kenapa dengan bocah ini?"


Ricko tertahan, pria ini harus pandai memilih kata agar tak terkena amukan Gian yang bisa saja membahayakannya. Sejujurnya ia pun merasa heran kala Haidar kembali masuk ke ruangan VIP dan menegak habis minuman yang bahkan pertama kali masuk ke tubuhnya dalam jumlah banyak.


"Dia, dia mabuk, Kak."


"Berapa banyak?"


"Entahlah, aku lupa ... maafkan aku, Kak."


Ricko sempat menghalanginya, namun sayang ia justru terkena amukan Haidar yang membuat sudut bibirnya berdarah.


Benar-benar sukses membuat Gian mendidih, hal yang ia takutkan terjadi pada Haidar. Tanpa berbicara banyak, Gian meminta Ricko mengantar untuk ke Apartemennya saja. Jika di biarkan tetap tinggal bersama Ricko, jelas saja anak itu akan melakukan hal yang sama nantinya.


Tidak ada pilihan lain, Ricko hanya bisa menurut apa keinginan Gian. Benar-benar menyebalkan, umpat Ricko menatap kesal Haidar yang kini terpejam lelap.


"Raa ... Zuraa ..."


"Ck, nama itu lagi," umpat Ricko merasa bosan kala nama itu kerap lolos dari bibir Haidar dalam keadaan tak sadar, entah itu tidur dan kini dalam keadaan mabuk pun kembali nama itu ia dengar.

__ADS_1


"Serindu itukah kau kawan?" tanya Ricko menarik sudut bibirnya, ia cukup mengenal Azura kala masih duduk di bangku SMA.


Tbc


__ADS_2