
“Layla,” jawabnya pelan dengan senyum hangat karena memang ia menghormati Randy sebagai adik dari Jelita.
“Ah iya, kau tumbuh dengan baik ternyata, aku tidak menyangka akan secantik ini.”
Sungguh pujian yang membuatnya seakan terbang melayang, ucapan Randy seakan candu yang benar-benar nyaman ia dengar. Rona kemerahan itu tak mampu ia sembunyikan, sedangkan Randy yang kini berada di depannya hanya menarik sudut bibir.
“Kau mau apa?”
“Cuci piring, Tuan.”
“Tuan? Tuan apa? Tuan takur, tuan tua atau tuan apa?” Randy tak menyukai panggilan semacam itu, memangnya hidup di istana atau bagaimana, pikirnya.
Layla terdiam, ta kia duga pria ini akan berbicara lebih banyak ketika bertemu dengannya. Wajah tampannya itu sejenak menghipnotis Layla, namun kembali ia tersadar dan menunduk cepat merasa dirinya takut salah.
“Berhenti memanggilku dengan panggilan seperti itu, aku bukan tuanmu, mengerti manis?”
Randy berlalu, tujuannya untuk pergi harus ia mulai saat ini. Terlalu banyak hal yang menunda kepergiannya, mulai dari ponselnya kehabisan materai, ketiduran lantaran terlalu kenyang dan lainnya.
Menatap punggung Randy yang menjauh, ternyata ucapan Jelita memang benar adanya. Pria itu sangat baik dan ramah ke semua orang, berbeda jauh dengan Raka dan juga Gian yang ia kenal sejak dahulu.
“Jangan cepet-cepet, Kak.”
Di tengah kesendiriannya, belum sempat ia melakukan pekerjaan, suara itu terdengar di ikuti derab langkah pasangan itu. Radha dan Gian kini turun bersama, sungguh situasi menjebak dan benar-benar membuat Layla tersiksa.
Ia bingung harus apa, sedangkan memulainya saja belum. Berpura-pura tak sadar jika mereka menuju meja makan, Layla meneruskan pekerjaan dengan sangat terpaksa sebagai langkah menutupi ketakutannya.
Dari jarak yang tak begitu jauh, telinganya masih dapat mendengar apa yang Gian dan Radha bicarakan. Dan kini hatinya terasa panas mendengar bagaimana Gian bersikap pada Radha, benar-benar cara jitu mencari penyakit, hal ini harus ia tuntaskan segera. Sengaja berlalu lewat belakang karena hingga kini ia belum berani jika harus bertatap muka dengan Gian secara langsung.
********
“Jangan kebanyakan, kau pikir aku kuli?”
Ia melotot kala Radha mengambilkan nasi sebanyak itu hingga menggunung di piringnya. Benar-benar istri yang baik, dengan alasan agar suaminya semakin gemuk Radha menampilkan senyum manisnya.
“Memangnya hanya kuli yang makannya segini? Mang Udin juga makannya segini, dia bukan kuli tuh,” ucap Radha sekenanya mengingat supir pribadinya, ucapan Gian termasuk deskriminasi cara makan, pikir Radha.
“Ya apapun itu, ini kebanyakan … kembalikan sedikir, Ra. Kakak tidak selapar mang Udin, kau tau.”
__ADS_1
“Ah iyayaya, segini?” tanya Radha usai mengurangi secuil tumpukan nasi yang menggunung itu.
“Astaaga, kamu ikhlas kan nemenin Kakak makan, Ra?” tanya Gian lagi memastikan, karena sepertinya istrinya ini sedikit membuatnya ragu.
“Ikhlas, kenapa Kakak tanya gitu?” ia balik bertanya dengan bibirnya yang tak bisa di kondisikan itu.
“Yakin ikhlas?”
“100 persen.”
Gian mencebik, mendadak ragu denga napa yang keluar dari bibir istrinya. Gerakan tangan dengan jempol dan telunjuk membentuk lingkaran itu benar-benar tak bisa ia percayai. Gian mulai menyantap makan siangnya, hingga tak menyadari porsi makan yang sempat memberatkan hatinya itu hampir habis. Radha hanya duduk diam sembari menjawab jika Gian memberikan pertanyaan tentangnya.
“Besok sekolah?”
“Iya,” jawab Radha memberikan segelas air usai Gian menghabiskan makanannya.
“Yaa kenapa harus sekolah, Ra? Tambahin ya liburnya sampe besok,” ucapnya seakan tak ikhlas jika Radha harus kembali pada rutinitasnya.
“Ya nggak boleh lah, gimana aku bisa lulus kalau libur terus, Kak.”
“Bisa dong!! Apa yang tidak bisa untukmu.”
“Tapi aku tidak mau,” ucap Radha sebagai pilihan, ia tak ingin sekolah bak mainan dengan semudah itu ia jalani. Cukup dengan drama terpaksa pindah sekolah di tahun terakhir ini saja yang menjadi hal paling tak masuk akal dalam hidupnya.
“Sekolahnya di rumah aja gimana?” tawar Gian berharap istrinya akan menjawab iya.
“Gak mau, sekolahnya bagus aku suka, Kak … rugi kalau gak nikmatin fasilitasnya,” jawabnya serasional mungkin.
“Kan Kakak yang bayar, kerugianmu dimana?”
“Ya tetap saja rugi, mubazir you know?” Radha menyangkal tak ingin kalah sedikitpun.
“Hm, iya Nyonya, aku mengerti.”
Memperkecil masalah, Gian mengalah pada akhirnya. Mungkin sekolah merupakan hal yang memang menjadi kebahagiaan istrinya. Tak menutup kemungkinan jika memang Radha masih ingin bergaul dengan teman-teman sebayanya.
*******
__ADS_1
Di tempat lain, Randy yang sebelumnya mengalami banyak hambatan ketika hendak mengampiri rumah Sheinna, ternyata di jalan juga ia mendapat hambatan tak kalah menyebalkan. Macet, ia memilih jalan yang salah dan terpaksa ia memperbanyak stok sabarnya.
“Astaga, kenapa pada keluar sih hari ini?”
Ia mengutarakan kekesalannya, belum lagi tujuannya masih jauh. Sendiri dalam perjalanan panjang ternyata tak senyaman itu. Randy menatap sebelahnnya, membuang napas kasar dan kembali pasrah pada takdirnya.
Tiiin tiiin
“Sabar aelah!!”
Warga negara ini masih sama, pikir Randy. Tidak ada sabar-sabarnya, padahal memang salah dia yang mengkhayal karena macet yang sejak tadi tak kunjung usai. Baru saja melaju, ponselnya kini bergetar, cepat-cepat Randy angkat.
“Iya kenapa?”
“Dimana?”
“Sabar ya, mungkin 59 menit lagi aku tiba di sana.”
“Bisa lebih cepet gak, Mas?”
Randy terdiam sejenak kala wanita itu kini mendesaknya. Bukankah sebelumnya Randy telah mengatakan bahwa dia memang butuh waktu untuk tiba sampai di sana. Belum lagi suara Sheinna terdengar bergetar, tak setenang malam itu ketika dia mengubungi Randy untuk pertama kali.
“Mas, tolong … aku tidak bisa melihatnya seperti ini lebih lama lagi,” tutur wanita itu seperti sedang menangis.
“Aku usahakan, ada apa sebenarnya?”
“Putrimu butuh kamu secepatnya, Randy … bisakah kamu mengerti?” terdengar kecewa, ia tak mengira jika Randy akan selama ini. “… Papa.” Suara itu terdengar lembut, lebih tepatnya lemah.
“Caterine? Itu kau?”
“Kamu hati-hati ya, udah denger kan?”
“Dia kenapa, Sheinna, kau tidak menyiksanya, kan?”
“Jangan gila kamu, apa aku seburuk itu di matamu?”
Perasaan Randy jelas saja campur aduk, pria itu menambah kecepatan dan menutup sambungan telepon itu sepihak. Suara lemah putrinya menjadi alasan ia harus tiba secepat mungkin. Kerinduan yang sebelumnya mendominasi kini justru terbalut kalut lantaran khawatir putrinya tak beres.
__ADS_1
Bertahun mereka berpisah, hanya bisa berinteraksi dengan Caterine lewat mantan istrinya secara diam-diam. Dan kini, suara yang dahulu ia dengar tak selemah itu berbeda total. Berjuta tanya berkeliaran di benak Randy, apa yang terjadi selama putrinya tak berada dalam pelukannya, sejujurnya Randy tak paham secara keseluruhan.
Bersambung