
Seperti yang tadi Jelita katakan, ia ingin menghabiskan waktu bersama menantu dan keponakannya. Meski sempat menarik napas panjang lantaran Radha bolos sekolah, tapi tak mengapa bagi Jelita.
Perjalanan menuju rumah Randy cukup lancar, meski tadi sempat terhenti lantaran keributan antara pengendara motor, tapi tak masalah tentunya.
Radha yang kini begitu senang lantaran akan kembali bertemu Caterine tak dapat menutupi perasaannya. Sungguh drama rumah tangga yang cukup sulit kala Gian bahkan tak mengizinkannya membuka pintu untuk siapapun.
Entah apa yang Gian pikirkan, setiap usai menjumpai Radha dengan pria lain, siapapun itu Gian akan sama gilanya. Meski tak lagi kasar seperti awal pernikahan, namun tetap saja Radha merasakan bagaimana gilanya seorang Gian.
"Sayang, kamu mikirin apa?"
Jelita menyadarkan lamunannya, menatap nanar ke luar ternyata tak memberikannya jawaban. Radha tersenyum tipis, di benaknya kini sangat banyak pertanyaan, terutama tentang suaminya.
"Nggak kok, Ma ... Oh iya, Ma boleh aku tanya sesuatu?"
"Boleh, kamu mau tanya Apa?" Jelita menatap lekat manik menantunya, terselip sejuta tanya yang Jelita tahu itu takkan tuntas dengan satu penjelasan saja.
"Kak Gian, pernah kecelakaan? Atau pernah mengalami luka parah gitu, Ma?" tanya Radha sembari tampak mengingat posisi luka di perut Gian.
"Hm, iya ...."
Jelita tampak berbeda, seakan tertahan di tenggorokan. Entah apa yang wanita itu pikirkan, akan tetapi Radha merasakan dengan jelas perbedaan pada diri sang mama saat ini.
"Iya, iya yang mana, Ma?" tanya Radha lagi, karena memang apa yang Jelita katakan itu sedikit tak jelas.
"Gian menjadi korban akibat emosinya yang meledak-ledak, Ra ... kamu tau kan bagaimana suami kamu kalau marah? Dan waktu itu, Gian marah pada orang salah."
"Orang yang salah?"
"Iya, waktu itu Gian baru saja pulang ketika libur panjang, dia menemui Haidar yang waktu itu ada jadwal pemotretan, lalu salah satu penggemar Haidar datang dan memaksa Haidar untuk befoto dengannya hingga keduanya tergelincir dari anak tangga secara bersamaan."
Radha mendengar teliti cerita Jelita, membayangkan bagaimana situasi di sana sembari mengingat bagaimana Gian jika tengah marah.
"Dan Gian yang waktu itu khawatir, tidak ada yang dia pedulikan lagi karena Haidar juga terluka saat itu. Dan bodohnya Gian, dia main hakim sendiri dan menghajar pria itu hingga dilarikan ke rumah sakit."
Mendengar cerita Jelita, Radha membeliak. Ternyata memang dari dulu Gian sama, tak ada jalan untuk menyelesaikan segala sesuatu selain dengan kekerasan.
"Memang semuanya baik-baik saja, kekuasaan papamu membuat ulah Gian tak terkuak ke media, dan juga saksi yang melihat kejadian itu tutup mulut karena ancaman papa."
__ADS_1
"Tapi ...."
"Bungkamnya mereka justru menimbulkan dendam dan sakit hati pria yang Gian hakimi. Satu bulan setelah kejadian itu, pria yang sempat Gian pukul hingga babak belur itu menikam Gian saat perjalanan pulang dari rumah Erick."
Jelita menghentikan sejenak ceritanya, masih tergambar jelas dalam ingatan bagaimana kesaksian pria yang menjadi pelaku utama penyerangan Gian di ruang sidang.
Tanpa ekspresi, bahkan ia hanya terlihat puas begitu mendengar bahwa Gian koma akibat serangannya. Sejak saat itu, Jelita was-was jika Gian kembali menggila seperti semalam.
"Penjara?" Radha mengulang perkataan Jelita, tampaknya kasus Gian cukup rumit, bahkan sampai koma, artinya memang bukan main-main, pikir Radha.
"Iya ... meski waktu itu, apapun keputusan hakim takkan membuat Gian bangun lebih cepat, tapi Mama bersyukur karena setidaknya hukuman itu setimpal.
Luka yang Gian alami cukup parah, apa yang pria itu lakukan pada Gian juga lebih dari gila. Membiarkan putranya tergeletak di jalan raya, dengan harta benda yang juga ia larikan adalah hal paling hina.
Dalam keadaan berlumur darah dan sisa napas yang ada, Gian dilarikan ke rumah sakit. Beruntung ada gerombolan anak punk yang lewat jalan itu, jika tidak mungkin Gian hanya tinggal nama.
Satu bulan lebih Gian hanya terbaring lemah, dan di titik tersulitnya orang-orang yang ia harapkan akan berada di sisinya ternyata pergi begitu saja. Hanya Jelita yang memang takkan meninggalkan Gian dalam kondisi apapun.
"Lalu, bagaimana dengan kehidupan kak Gian, Ma?"
"Hancur, Ra ... pendidikannya terpaksa tertunda beberapa bulan, dia kesepian walau sesekali Erick dan lainnya datang, namun sayang, yang Gian khawatirkan justru Adinda. Bahkan ia meminta Reyhans untuk menjaga Adinda selama dia di rumah sakit."
"Bisa dibilang begitu, tapi kau jangan pikirkan ... itu hanya masa lalunya, kamu istrinya."
Radha tersenyum tipis, ia paham keadaan, dan tak mungkin juga Radha marah untuk hal yang memang terjadi jauh sebelum Gian mengenalnya.
"Dan tadi malam, Mama lihat Gian begitu lagi," tutur Jelita takut, ia menatap nanar sembari membayangkan bagaimana nantinya.
Radha menggenggam tangan Jelita, paham kekhawatiran mertuanya. Dan memang jika Radha mendengar cerita sebelumnya, apa yang Gian lakukan tadi malam bisa berakibat fatal.
"Gian masih sama, dia selalu begitu jika berkaitan dengan siapapun yang ia sayangi ... sikapnya berlebihan, itu yang membuat Mama takut."
"Mama tenang, bang Juan tidak akan sejahat itu." Ia berusaha menenangkan sang mama, tak ingin jika nanti Jelita terlalu berpikir macam-macam tentang kejadian ini.
Setidaknya, Radha bisa tuntas akan rasa penasarannya tentang bekas luka di perut Gian. Meski belum sepenuhnya ia paham bagaimana hidup Gian sebenarnya. Akan tetapi apa yang Jelita katakan cukup membuka walau pelan-pelan.
-
__ADS_1
.
.
"Hai!! Aku merindukanmu," tutur Caterine menyambut hangat Radha dan Jelita yang membawa bahan makanan cukup banyak, sepertinya cukup untuk beberapa hari.
"Aku juga sama, Kak ... Kakak cantik sekali, mau kemana?" tanya Radha menyadari Caterine terlihat lebih segar dan cantik daripada pertemuan pertama kalinya.
"Tidak, aku cantik untuk menyambut kalian ... Papa bilang kalian akan datang, makanya aku dandan."
Jawaban itu terdengar sangat tulus, hati Jelita terasa hangat dengan interaksi dua anak ini. Keinginannya untuk memiliki putri seakan terbayar dengan adanya Radha dan juga Caterine.
"Mama, kita mau masak kan?"
"Hm, iya ... mama lupa, ayo cepat bantu Mama."
Bagaikan terbang bebas, Caterine sebahagia ini mendapat keluarga barunya. Meski tadi sang Papa pamit entah kemana, rasa khawatirnya perlahan hilang kala bersama Radha dan juga Jelita.
"Mama aku tadi masak buat kak Gian," tutur Radha memulai ceritanya, layaknya seorang anak yang mencapai hal paling berharga.
"Oh iya? Masak apa?"
"Telor mata sapi," ujarnya bangga dan membuat Caterine terbahak, entah kenapa adiknya ini teramat lucu.
"Hanya itu, Ra? Haha aku pikir kamu masak apa," celetuknya membuat Radha mencebik.
"Yee setidaknya aku bisa nyalain kompor," ucapnya sarkas lantaran tadi Caterine bahkan bingung cara menghidupkan kompor.
"Ck, ayo cepat anak-anak Mama, kangkungnya jangan di potong begitu astaga." Jelita mennggeleng kala melihat cara Caterine dan Radha memotong kangkung layaknya bawang bombay.
"Kekecilan, Sayang ...."
"Biar enak, Ma ... gigitnya gak lama."
"Aduh, Radha ... teori dari mana itu, Sayang, hm?"
"Dari ilmuan bojonggede, Ma." Jawaban asal yang lagi-lagi membuat Caterine tak kuasa menahan tawanya.
__ADS_1
Dah mulai kebuka ya entu masalahnya mereka dimane, nanti kita perjelas lagi ya dari sisi Reyhansnya.