Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Jangan Pergi Tanpaku (Gian Untuk Radha)


__ADS_3

"Kak?"


"Apa, Ra? Muat kan bajunya?"


Ia menekuk wajahnya, entah kemana pikiran pria itu hingga tak memastikan ukuran seragam Radha dengan benar ketika meminta sang Asisten untuk mendapatkannya tadi malam.


"Kakak bisa lihat sendiri kan?"


Gian menatap istrinya begitu teliti dari atas hingga bawah, sudut bibirnya tertahan kala tawa itu semakin berontak. Tapi sayang, lucu itu hanya sejenak ia rasakan. Pria itu mengeraskan rahang manakala lekuk tubuh istrinya terlihat sempurna dengan seragam baru itu.


"Dasar bodoh!!! Dimana dia membelinya?!!"


Pria itu mendekat dan memperhatikan dengan jelas, ia memutar tubuh Radha berkali-kali untuk memastikan bagaimana penampilan tubuh istrinya dari segala sisi.


"Ays!! Lepas-lepas, aku akan meminta Rey membelinya dengan yang baru."


Dasar perintah konyol, bahkan waktu masuk tinggal menghitung menit. Bagaimana bisa Gian merencanakan harus membeli seragam yang lain lagi. Radha membuang napas kasar, ingin rasanya ia meneriaki pria bodoh yang kini tengah menyalahkan orang lain atas kecerobohannya.


"Kakak ... aku tak punya banyak waktu, tidak apa begini aku tidak akan terlalu banyak bergerak hari ini."


Ia mencoba memberikan pengertian agar tekad Gian untuk mempersulit asistennya tak terjadi. Dengan menampilkan wajah ayu begitu ceria, Radha berharap Gian akan luluh.


Tengah mempertimbangkan ucapan Radha, Gian tak hanya diam tanpa berpikir. Ia tatap lagi-lagi penampilan istrinya dan kini ia yakin akan pilihannya. Tak ada yang harus ia lempar amarah, dan tak juga menghambat Radha, pikirnya.


Pria itu tampak sibuk sendiri mencari sesuatu di lemari pakaiannya, Radha hanya melihat bagaimana lincahnya Gian mencarikan sesuatu untukknya.


"Ck, aku rasa ini cukup untukmu," ucapnya menyerahkan jaket dengan ukuran yang cukup besar untuk menutup bagian lekuk tubuhnya.


Tak bisa membantah, Radha hanya pasrah menerima. Gian tersenyum hangat kala istrinya menerima tanpa banyak bicara. Inilah yang ia inginkan, menurut dan tak akan pernah membantah apa yang ia ucapkan.


Hari ini Gian tak ingin kehilangan Radha layaknya kemarin, pria itu bahkan menghabiskan waktu selama 2 jam ke beberapa tempat untuk mencari dimana keberadaan istrinya. Dan tak pernah terpikir jika kepergiannya adalah ulah Haidar, sang Adik.


Kemarin cukup untuk Gian sebagai pembelajaran, kehilangan Radha bahkan membuatnya kehilangan arah. Sungguh Gian tak habis pikir bahwa Haidar akan senekat itu, ia bahkan melalaikan beberapa pertemuan demi mencari istrinya.


Sebaik itu Haidar merencanakan aksinya, sengaja mematikan ponsel dan bahkan memblok nomor pribadinya agar keduanya tak dapat saling bicara lagi. Meski kemarin ia sempat menghubungi Haidar berulang kali tetap saja percuma.


"Pagi, Mama."


Sapaan manja yang Gian berikan sungguh membuat Radha tak habis pikir. Pria dengan sejuta kekasarannya begitu lembut kala berucap pada sang Mama.


"Selamat pagi, kalian nggak sarapan?"


"Enggak, Ma, Radha bentar lagi telat soalnya."

__ADS_1


Radha menjawab seadanya, memang ini ulah Dirgantara Avgian yang nyatanya tadi malam meminta ditemani main game sebelum tidur, malangnya Gian terlampau asik dan lupa bahwa hari sudah selarut itu.


"Hm, baiklah kalau begitu."


Tak dapat memaksa, Jelita hanya mengiyakan kehendak menantunya. Dengan hati yang begitu indahnya, ia menangkap secercah bahagia di mata Gian.


"Hati-hati ya."


Layaknya menyayangi putri kandungnya, Jelita begitu menghargai Radha. Ia takkan lupa bagaimana manisnya Rena ketika menyambutnya kala menjadi istri Raka.


*******


"Ma."


Ia terbangun dari lamunannya, kedua orang yang sama-sama ia cintai itu kini telah menjauh. Seketika panggilan itu membuat Jelita terhenyak.


Haidar, putra bungsunya kini datang menghampiri. Dengan muka bantal dan suara khas orang yang masih mengantuk Haidar terlihat tengah mencari sesuatu.


"Kenapa, Sayang?"


"Radha mana? Dah pergi ya?"


Pertanyaan sederhana yang berhasil membuat Jelita teriris meski tak ada yang Haidar lakukan. Putranya masih sibuk mengucek mata dan menguap beberapa kali, entah jam berapa ia tidur dan berapa lama ia istirahat dengan baik, sungguh Jelita penasaran.


Haidar terjaga sebegitu cepatnya. Menatap lantai dua begitu sendu, ia tak berharap disapa atau pergi bersama hari ini. Hanya saja ia ingin munculnya Radha dari sana ia telah sedia menyambut baik dan mengucapkan selamat pagi pada wanita yang ia anggap tetap kekasihnya itu.


"Sama Mama?"


Haidar memastikan perminataan Jelita, memang selama ia beranjak dewasa Haidar melupakan waktu bahkan hampir tak punya jika itu untuk Jelita. Rasa sesal itu berkecampuk dan membuatnya seakan benar-benar meminta untuk bersama.


"Iya sama Mama, Papa kamu sibuk, Gian juga sudah menikah ... Mama sendiri, Haidar."


Haidar terdiam, tak ada yang mampu ia ucapkan. Penjelasan singkat sang Mama cukup membuatnya gemetar. Manik indah sang Mama masih begitu menenangkan di mata Haidar.


"Hm, iya, Ma ... hari ini, hanya untuk Mama."


Ia tersenyum, dan kini menghambur ke dalam pelukan sang putra. Tak ia duga hari yang begitu ia harapkan sejak lama itu akhirnya tiba. Jelita tak meminta harus di bawa kemana dan berapa lama, hanya saja ia ingin Haidar tetap berada di sisinya meski itu hanya di rumah.


"Terima kasih, Haidar."


"Hem, iya, Ma."


Tatapan nanar itu terpancar dari balik manik Haidar, hanya sesederhana ini namun ia merasa telah melakukan hal istimewa untuk Mamanya. "Dan setelah ini aku takkan lagi punya waktu, Ma, bahkan untuk diriku sendiri." Meski demikian, batin Haidar masih nyata tersiksa.

__ADS_1


*******


"Kakak kenapa harus masuk?"


"Ck, memangnya kenapa? Jangan lupa aku juga guru di sekolah ini."


Radha mencebik, hanya karena alasan takut satpam takkan membukakan pintu gerbang lantaran ia terlambat Gian justru memanfaatkan keadaan.


"Huft, tapi Kakak akan membuatku mendapat banyak isu yang tidak-tidak dari mulut mereka yang melihat kita ...."


"Lalu? Memangnya kenapa?"


"Ya Tuhan tak paham juga, mereka akan berpikir kita berdua ada apa-apa, Kak ... bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi coba!!"


Kekhawatiran Radha hanya membuat Gian menarik sudut bibirnya tipis, pun harus menjadi bahan ghibah satu Provinsi pun ia tak peduli, toh benar adanya, pikir Gian.


"Kenapa kau setakut itu? Memang benar kita ada apa-apa kan?"


Sial, kini Gian menguasai, Radha hanya mampu terdiam manakala pria itu membela kebenaran dengan fakta yang memang tak dapat di pungkiri.


"Turunlah," perintah Gian usai menepuk pelan pipinya, ia terlanjur gemas dan tanpa ragu mengecup singkat sebelah pipinya.


Begitu hati-hati, Radha mencoba menyesuaikan suasana dan berharap takkan ada yang melihat ia turun dari mobil yang sama dengan Gian. Jika benar, maka nasibnya tentu habis di tangan siwa lain yang begitu mengidolakan sosok guru baru itu.


"Heey jangan lupa," panggilnya sebelum keduanya berpisah arah.


"Apa lagi, Kak?"


"Jangan pernah keluar dari sekolah jika bukan bersamaku, Ra, kau mengerti maksudku kan?"


Radha mengangguk cepat, tak ingin menyia-nyiakan waktu. Ia hanya mengejar semoga pelajaran bu Sisil belum dimulai, harapnya dalam kekacauan.


"Sonia? Yakin diem aja?"


Tanpa keduanya sadari, sejak kedatangan mereka. Tiga cewek bar-bar yang diakui sebagai geng paling menakutkan bagi siswa yang lainnya tengah mengamati gerak gerik Radha.


"Cih, nggak lah, enak aja diem. Berani-beraninya tu jallang pergi bareng sama pak Gian, pasti abis dari tempat yang gak bener!!"


"Seperti biasa, Res. Gue mau kasih dia pelajaran!!"


............... Bersambung❣️


Maaciw🐧

__ADS_1


__ADS_2