
Hingga malam tiba, keputusan untuk Randy membawa putrinya tidak bisa di ganggu gugat. Dengan sangat terpaksa dan sejenak mengalah Marthadinata mengizinkan Randy membawa Caterine bersamanya tapi tidak untuk malam ini.
Dengan syarat bahwa Randy tak boleh ikut campur perihal Harry yang di pegang Marthadinata bersama orang-orang kepercayaannya. Putra salah satu pesaing bisnisnya, sama-sama konglomerat dan sejak dahulu hubungan antara Marthadinata dan Wiratmadja tak begitu baik. Walau sudah berkali-kali, pria itu melarang putrinya untuk terlalu dekat dengah Harry namun dengan alasan pekerjaan di dunia yang sama membuat Sheina mengabaikan perintah papanya.
“Terima kasih, Pa.”
Randy meminta izin untuk kembali menemui putrinya di kamar, dengan perasaan lega ia dapat menemui putrinya dengan senyum bahagainya. Meski syarat yang Marthadinata berikan cukup berat ia terima, namun demi bisa bersama Caterine untuk saat ini pria yang telah menghancurkan putrinya terpaksa ia abaikan terlebih dahulu.
Menodorong pintu kamar perlahan, kini ia menatap putri kecilnya itu tengah di suapi oleh perawatnya. Ada Sheina di sana, tapi perempuan itu hanya menatap putrinya begitu dalam. Randy berusaha untuk tak tersentuh ataupun iba dengan air mata Sheina, karena menurutnya air mata wanita adalah sebuah senjata yang kada kala menjebak kaum pria.
“Papa darimana?” tanya Caterine dengan wajah yang kini lebih baik dari sebelumnya, terlihat jelas memang perbedaannya ketika Randy telah kembali padanya.
“Menemui kakekmu, Sayang … kamu menunggu Papa?”
Caterine mengangguk dengan senyum tipisnya, Randy mengambil alih makanan yang dipegang perawat putrinya. Dengan penuh perasaan ia mulai menyuapi Caterine sedikit demi seidkit.
“Kamu kurusan, pasti gak mau makan ya?” tebak Randy mencoba mempertahankan rona kebahagiaannya, padahal saat ini yang tengah ia rasa hanya gejolak amarah dan luka yang sebegitu perihnya.
“Gak, karena bukan Papa yang suapin,” tutur Caterine begitu polos namun berhasil membuat wanita yang duduk tak jauh dari mereka menitikkan air mata.
“Maaf ya, Papa datang terlambat.” Menatap lekat mata sembab yang mungkin sejak lama hanya menangis tiada henti.
“Iya, Papa memang terlambat, sangat terlambat.”
Bak hunusan pedang, walau memang nyata namun hatinya terasa sakit begitu Caterine membenarkan pernyataan Randy dengan entengnya. Wajah putrinya memang tak terlihat sedih, namun deretan gigi rapih yang kini ia perlihatkan pada Randy justru semakin menambah luka pria ini.
“Kamu boleh menghukum Papa, Caterine … kesalahan Papa terlalu besar, hingga membuat putriku yang cantik ini menangis.”
Bukannya menangis, Caterine hanya tersenyum sembari menatap lekat wajah papanya. Begitu lama ia menginginkan saat ini, bahkan menanyakan kepulangan Randy sejak dahulu tak pernah ia berikan menerima jawaban pasti. Hingga ketika usianya beranjak remaja, dengan bantuan social media dan segala macamnya, ia mengetahui alasan Randy yang tak pulang selama itu.
__ADS_1
“Hukuman?” tanya Caterine sedikit bingung denga napa yang Randy maksud, mana mungkin ia berpikir untuk itu. Mendapati Randy bisa kembali ke rumah ini saja sudah menjadi hadiah terbaik bagi Caterine.
“Iya, hukum Papamu ini.”
“Hm, Papa tidak boleh meninggalkan aku untuk kedua kalinya, Caterine hanya ingin hidup bersama Papa, maukah Papa aku repotkan?” tanya gadis itu dengan mata yang berkaca-kaca, seakan tak sanggup ia ucapkan namun memang keinginannya saat ini hanyalah bisa bersama Randy.
“Hm, sangat-sangat bersedia, kau akan hidup bersama Papa, dan Papa akan meninggalkan pekerjaan yang membuat kita terpisah.”
“Janji?” Ia bertanya dengan semangat, wajah teduh sang papa benar-benar mampu membuatnya merasa aman.
“Iyes, Janji.”
“Aku sayang, Papa ….”
“Papa juga sangat sangat sangat sayang kamu, tetap tersenyum anak manis,” Randy mengelus pipi mulus putrinya yang kini begitu tirus.
Interaksi Caterine dengan Randy saat ini membuat Sheina terharu sekaligus iri, sejak dahulu putrinya tak pernah mengungkapkan perasaannya seperti yang kini ia saksikan. Berada di ruangan itu membuatnya hanya penonton bayaran, sungguh begitu besar kesalahan papanya yang telah memisahkan hubungan semanis ini.
Kembali ke kamarnya dengan air mata yang mengalir tanpa permisi, memang ia salah pada Caterine, namun menyaksikan hal itu hatinya tak sanggup. Bagaimana nanti jika Caterine telah hidup bertahun-tahun bersama Randy, bisa jadi ia benar-benar akan kehilangan tempat di hati putrinya.
“Aku harus apa? Dia putriku juga,” ratapnya menatap langit-langit kamar.
Ingin rasanya ia nekat untuk ikut juga bersama Randy, namun bisa di pastikan kali ini Randy yang akan menolak kehadirannya. Di rundung dilema tapi dia juga tak punya pilihan, ia ingin putrinya masih tetap bersamanya hingga kapanpun itu. Hingga di saat seperti ini, salah satu orang yang bisa ia mintai saran adalah Bella, sahabatnya.
“Hah? Cara selain itu ada?” Ia menganga begitu mendengar ide gila Bella yang sangat tidak mungkin untuk ia tempuh.
“Lalu apalagi? Cuma itu jalannya, Sheina.”
“Please ya!! Itu paling gak mungkin, gimana caraku mengatakannya, Bella?!!”
__ADS_1
“Katakan saja, semua demi anak kita, Mas … bukankah kau pemeran utama yang memiliki banyak pengalaman, Sheina? Harusnya kau gunakan bakatmu saat ini.”
“Iya tapi, Bel … dia mana mau, rujuk? Artinya aku yang mengemis meminta dia kembali, Bella!! Kau lupa siapa aku?”
“Terus kau mau apa? Seperti katamu rela ikut sedangkan kau bukan lagi istrinya?”
Sheina diam sejenak, karena memang sejak tadi itu yang ia pikirkan. Jalan satu-satunya yang resikonya tak sebesar rujuk.
“Kau mau kena skandal untuk kedua kalinya? Media tau kalian serumah tanpa rujuk bagaimana, Sheina?!!"
“Media tidak akan tau, kalau tidak ada biangnya, lagipula kasus itu terjadi 20 tahun lalu, siapa juga yang masih ingat.” Ia sedikit tersinggung jika seseorang masih membahas hal itu,
“Okay, 20 tahun lalu? Dan jejak digital itu tidak 100 persen hilang, Sheina. Kau ingat itu.”
“Aku menghubungimu bukan untuk membahas masalah skandal atau apalah itu, Bella. Aku hanya meminta saranmu, itu saja.”
“Kau sudah dengar sebelumnya kan? Rujuk Sheina, bicara baik-baik pada mantan suamimu yang tampan itu, bukankah kau mampu meluluhkannya ketika dia masih muda dulu?”
Bella tertawa sumbang, mengingat bagaimana dahulu Sheina melakukan segala cara agar Randy menjadi miliknya, berawal dari sebuah kerja sama agar karirnya melejit tapi keduanya tetap memiliki pasangan masing-masing kala itu. Gaya pacaran back street Sheina bersama Mark berakibat fatal yang berujung pemberitaan negatif dan membuat namanya muncul dimana-mana.
Randy yang saat itu diketahui publik sebagai kekasih Sheina harus terkena batunya, kehamilan Sheina juga menjadi topik pemberitaan simpang siur membuat Randy tak bisa mengelak ketika dunia tak mempercayainya.
Terpaksa bertanggung jawab akan hal yang sama sekali tak ia lakukan adalah awal hancurnya Randy. Maya yang saat itu masih berstatus sebagai kekasih sungguhan Randy tidak menerima penejelasan apapun, kecewa dan patah membalutnya hingga saat itu juga Maya memutuskan untuk berhenti dan fokus menjalani pendidikannya sebagai mahasiswi jurusan kedokteran.
Maya dan Randy, ternyata tidak berjodoh memang sesakit itu. Siapa yang mengira bahwa mereka tidak akan bersatu, dari SMA bahkan bisa di katakan cinta pertamanya. Mengungkapkan cinta dengan cara konyol yang membuat Randy takut ketika melewati rumah Surti, dan kini cinta itu benar-benar konyol.
*****
Sebelum bingung, Caterine memang anak kandung Randy ya … karena usianya baru 18 tahun, jadi Caterine lahir ketika usia pernikahan mereka berjalan 2 tahun, okay!!!💋
__ADS_1
Jadi gimana? Randy mau kita labuhin kemana? Rujuk, rebut istri orang, atau nikahin pembantu Jelita?